Dear My Family


Jujur aku tak tau harus menulis apa karena perasaan ini tak mampu di ungkapkan dengan kata – kata. Aku yang sulit memahami diri sendiri ini, yang engois dengan keingin untuk sukses ini tak bisa mengungkapkan rasa sayang yang terbendung di hati dan hampir – hampir meledakkan diriku ini.
Tapi boleh-lah CURHAT sejenak,
Dan untukmu yang ku sayangi seumur hidupku, disetiap detak jantungku, yang ku rindu di setiap hela nafasku, yang kuharapkan selalu bahagia, kuimpikan disetiap tidurku. Ku doakan di setiap waktuku. Keluarga kecil-ku (yang selalu bertahan dikelilingi caci dan maki ‘mereka’, ku harap kita tetap selalu bergenggaman tangan erat saat badai ini dan nanti menerpa kita).
Ibu- Ayah-semuanya aku tau aku selalu menyalahkan keadaan dan nasip yang kurasa tak pernah adil pada-ku dan kita. Bukanya aku tak bersyukur. Aku tau harusnya aku tak pantas merasa seperti itu, namun sayang itulah nyatanya sampai saat ini itu masih melekat di benak dan jiwaku seperti kulit yang membalut daging ini.
Aku tau aku memang bodoh !
Hanya karena merasa “Kekurangan kasih sayang” membuatku semakin menutup diri. Bahkan dengan kalian aku tak pernah bercerita tentang keinginan terbesar yang ada di lubuk hatiku. Iya memang keadaan yang membuat semua seperti ini. Jangankan bercerita. Bertemu kalian saja sangat sulit. Bahkan mendengar suara kalian lewat HP saja bisa terhitung dalam setahun. Ibu aku tak perna ingin jauh dari kalian, namun aku tak ingin kalian terus dicaci dan dimaki oleh mereka yang harusnya peduli dengan kalian. Aku harus membuktikan bahwa aku memang mampu mengubah semua ini. Tapi ibu maafkan aku, entah mengapa belakangan ini semangat-ku mengilang. Aku seperti berada dalam kegelapan. Aku butuh cahaya-itu “penyemangat”.
Ibu
Aku sempat memiliki keluarga yang nyata tapi tak nyata. Aku bingung mengceritakanya. Yang jelas di sana aku sempat mendapatkan semangat yang luar biasa. Aku mendapatkan pelajaran hidup yang lain. Yaitu rasa peduli meski tak pernah bertemu. Rasa sayang meski tak tau kapan takdir akan mempertemukan. Di sana aku mendapat perhatian yang tak kudapat di dunia nyata. Ibu- aku tak pernah menyalahkan keluarga kita yang memang keadaannya seperti ini. Memiliki keluarga yang banyak tapi seperti hanya kita yang ada di dunia ini. Memiliki mereka tapi ternyata, yang tak memiliki hubungan darah sama sekalipun lebih terasa kasih sayang dan kehangatannya.
Ibu- ayah. Sudahlah jangan risaukan kehidupan kita yang keras ini. Aku ingin di hari tua, kalian tersenyum dan tak bekerja keras seperti sekarang. Tapi aku takut aku tak sanggup mewujudkan itu. Ayah, jangan sakit ! ku mohon jangan bekerja terlalu keras. Jangan dengarkan mereka ! Kami bahagia. Percayalah ayah, perlukah aku mengatakanya setiap saat bahwa KAMI BAHAGIA. Kami bahagia asal kita semua terus bersama.

Ibu- ayah. Bukan hal yang luar biasa yang kuharapkan. Semua berkumpul, tertawa dan tersenyum bersama. Menjalani hari bersama. Ku mohon Tuhan jangan kau buat kami semakin jauh. Ku mohon padamu jangan buat Orang tuaku merisaukan kami yang belum bisa memjadi “Manuasia”.
Ibu dan semuanya,
Teruslah menjadi tertegar yang kukenal. Meski aku tak pernah mengungkapkan perasaanku. Tapi percayalah AKU SELALU MENYAYANGI KALIAN.
Kakak, janganlah buat ayah dan ibu risau. Jenguklah mereka, setidaknya kalian menanyakan keadaan dan apa yang mereka rasakan.
Ibu
Di keluargaku yang nyata dan tak nyata itu “Dunia Maya”. Aku mendapatkan banyak hal yang luar biasa. Tak bisa ku ungkapkan dengan kata – kata. Tapi entah mengapa saat ini aku malah mengasingkan diri juga sama halnya yang kulakukan di sini. Di kota ini. Di kota yang ku harap kelak bisa mengubah takdir dan semua beban batinku.
Jujur aku merindukan banyak orang. Aku merindukan keluarga, teman, sahabatku yang kini tak pernah komunikasi lagi. Begitu juga keluarga yang mulai asing bagiku itu. Sebenarnya aku sering melihat mereka dari kejauhan tapi entah apa yang ada di benakku hingga niatku mendekat tiba – tiba terbawa angin.
Ibu
Aku rindu masa- masa di mana aku tegar menghadapi segalanya. Aku rindu diriku yang dulu. Tak kenal putus asa. Tersenyum meski batinku menangis. Rasanya aku ingin “Amnesia saja sejenak”.
Ibu
Di keluarga itu aku pernah memperoleh kalimat luar biasa dari seseorang yang ku anggap memang luar biasa. Dan itu terus ku ingat namun sayang tak cukup untuk membuatku berjuang gigih lagi.
Maaf, malam ini aku menjadi anak lemah lagi. Aku menangis, Bu.
Ibu
Satu lagi yang membuatku semakin bersedih belakangan ini. Mengapa orang – orang yang kusayangi semakin menghilang dan menjauh. Mengapa semakin hari cobaan serasa makin berat. Tapi seperti biasa aku bersabar dan mencoba untuk melalui semuanya. Dan biarkan waktu yang menjawab semuanya.
Ibu. Sekarang aku tak bodoh lagi !
Meskipun aku seperti ini. Tapi aku tau aku berarti untuk seseorang, bahkan orang yang tak kukenal sekalipun. Aku belajar untuk mempercayai itu.
Sekarang aku mengerti mengapa kita harus mengeluarkan air mata dan mengapa kita harus tegar.
Karena itu yang mampu menunjukan dunia pada kita.
Kini aku sadar. Tak perlu berbahagia tapi cukup merasa bahagia dengan kebahagian orang – orang yang kita sayang.
I Miss U, I Love U All.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s