Aku Kecewa


Aku mencintaimu , aku sangat menginginkan kau tetep disini.

Tak bisa kah kau bertahan demi diriku…

Sungguh aku tah bisa membayangkan hari –hariku tampamu….

Terik matahari siang itu dapat membuat mata semua orang silau, namun seorang cewek tetap saja meneruskan langkahnya demi bertemu seseorang yang sangat dia sayang.

“ Hai, Mie. “ seseorang menyapanya, dia hanya menolah dan membalas sapaan seseorang itu dengan senyuman manisnya. Keringat kecil mulai muncul di balik poninya.

“ ah, panas sekali !” keluhnya sambil menoleh kanan kiri. Dia menyadari matahari yang sangat cerah hari ini saat sinar matanya terhalang sinar dan hampir saja dia tertabrak mobil tadi. Dia mengelus – elus dadanya yang masih kaget.

” Aku tak boleh terlambat.” Ucapnya menyamangati diri sendiri.

Dia melirik jam tanganya yang berwarna biru. Jam itu memberian seseorang yang dia sangat sayang. Di kepak – kepakkannya jaketnya, dia mulai gerah menunggu taksi yang tak kunjung datang. Sedangkan telinganya tak perna istirahat mendengarkan lagu – lagu kesukaanya. Sesekali di goyang – goyangkannya  tangan kirinya yang pegal menenteng sesuatu.

.

.

“  Kak, baik – baik saja?“  tanya Miamie pada cowok itu yang terbaring lemas karena sakit yang menggrogoti semangatnya.

“ Iya ade. “ Cowok kurus itu hanya bisa mejawab iya dan menatap Miamie  lekat – lekat untuk meyakinkannya. Cowok itu tersenyum , dan  hati Miamie sedikit legah dengan itu.

“Maaf, Kak. Sini aku pebaiki letak bantalmu.” Izin Miamie agar cowok itu dapat bersandar.

“ Makanlah sedikit agar kakak cepat sembuh.“ Nasehat Miamie menyuapi, namun belum sebeberapa makanan yang masuk kedalam tubuhnya. Cowok itu tidak ingin lagi. Miamie  hanya memakluminya.

“ Tidurlah, aku akan tetap disini! ” Miamie sedih menatap orang  yang di sayanginya terlihat pucat. Namun cowok itu begitu tegr, membalas tatapnya Miamie. Tersenyum menutupi  rasa sesak di hatinya. “ Aku tau ini salahku, tapi ku mohon bertahanlah.”

Setengah jam sudah cowok itu tertidur namun Miamie masih tak beranjak sama sekali dari sisinya. Miamie bahkan menggenggam erat tangannya serasa takut kehilangan. Saat cowok itu terbangun malah Miamie yang tertidur. Joongsa tersenyum menatap kekasihnya itu, lebih tepatnya mantan kekasihnya dahulu.

“ Kau tak pernah berubah “ batin cowok itu dan senyum  tipis terukir di bibirnya.

“Terimah kasih atas cintamu.” Gumam cowok berinisial M itu. Rupanya dia  masih merasakan perhatian Miamie yang tak pernah berubah, dia tersenyum karena dia bahagia di saat – saat dia merasakan pertarungan hidup dan matinya seseorang yang sangat dia cintai berada disisinya dan menjadi penyemangat barunya untuk terus bertahan.

.

.

Saat Miamie terbangun cowok itu tak berada di ruangan rumah sakit itu tempatnya di rawat, malah sebuah jaket biru Miamie yang berada di tasnya kini berada di pundaknya.

“ Suster, Sus..Suster “ teriak Miamie panik.

Karena tak ada jawaban dia berlari keluar mencari. Lama tak menemukan dia tertunduk di taman rumah sakit, air matanya tak tertahan, dia benar – benar sedih. Banyak hal yang menghantui pikiranya. Nafasnya yang tak teratur membuat dadanya sesak.

Tiba –tiba seseorang dengan kursi roda, mendekat tampa Miamie sadari.
“ Ini untuk gadis imut yang cengeng! ” dia  menyodorkan  seikat bunga tepat disamping wajah Miamie. Tampa berkata apa –apa Miamie memeluknya.

“ Beraninya kakak meninggalkan aku! “ ucap Miamie dengan isaknya tampa melepaskkan pelukannya.

“ Aku tak akan meninggalkanmu. Mana berani aku membuat gadis manis jadi jelek seperti ini. “ cowok itu malah tersenyum dan berusaha membuat suasana hati Miamie membaik.
“Kak, mau janji padaku “ Pinta Miamie  masih dengan suara seraknya di sisa – sisa tangisnya.

“Percayalah padaku “ Jawab  cowok  pecinta buku itu menyakinkan.

“Kau tak mau bunga ini ?” Tanya cowok itu mengalihkan pembicaarn mereka.  Miamie melepakan pelukannya dan menatap bunga yang masih di genggaman cowok itu.

“ Sebenarnya aku tak butuh itu.  Yang aku butuhkan itu kakak!“

“ Ya sudah. Buang saja kalau begitu “ geretaknya bercanda.

“ Jangan ! “ Miamie dalam sekejap langsung mengambil bunga itu.

“Kau memang lucu, dan seindah bunga itu, mampu membuat sejuk hatiku seperti aku selalu di taman bunga “ batin cowok itu dan tatapanya tak pernah lepas dari Miamie. Gadis di hadapanya itu terus membuatnya semakin tak rela untuk meninggalkannya.

“Kau tidak pulang ade? Sekarang sudah sore !” cowok itu mengingatkan Miamie bahwa esok pagi di akan ujian jadi harus pulang cepat dan belajar malam ini.

“ Tidak ah, aku mau menemani di sini.” Miamie tersenyum agar  diijinkannya.

“ Pulanglah, aku akan baik – baik saja.” mebalas senyum gadis keras kepala di hadapanya itu.

“ Baiklah kak, aku percaya padamu! “

Setelah mengantar kembali kekamar rawat, Miamie meninggalkan rumah sakit dan berjanji sepulang ujian besok akan kembali untuk menemani.

.

.

“ Ade,“

“ Iya, Kak?”

“ Kau ingat tempat yang 2 mgu lalu aku ceritakan padamu ?“

“ Tempat kau selalu merasakan ketenangan, tempat yang selalu kau kunjungi saat kau bersedih, dan tempat kau melihat taman bunga yang luas dan seseorang selalu tersenyum padamu “  Miamie berbicara panjang lebar sambil mengingat – ingat cerita kekasihnya.

“Bisakah kau menemaniku kesana?”

“Tapi kakak kan masih sakit ?” tanya Miamie heran.

“Aku tau, tapi sekali ini saja !” terkesan memaksa.

“Baiklah.” Miamie bersedia dan  meminta izin rumah sakit.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s