Lari dari Mantan


“Ya Tuhan bolehkah aku membunuhnya sekarang. Ku mohon karena aku tak tahan lagi!” Aku berteriak tak karuan dengan pipi basah kuyup terbanjiri butiran bening yang tak mampu terbendung lagi. Aku benar – benar putus asa dengan rasa yang semakin hari menggerogoti seluruh jiwaku. Aku yang tak bisa melupakannya. Ya, itu kusadari baru – baru ini. Setelah usahaku bertahun – tahun membiarkan waktu menghapusnya dari hidupku. Aku baru menyadarinya setelah melihatnya pagi tadi. Hatiku bergetar. Tangan dan bibirku kaku tak bisa menyapanya. Entah rasa sakit yang masih tersisa atau karena rasa kagum padanya yang tampak berbeda. Aku berdiri begitu lama memperhatikannya, tak kusadari ia tersenyum padaku. Sungguh menyesal tak membalas senyumnya malah menoleh dan berlalu pergi.

“Ya Tuhan. Apa yang kulakukan. Bodoh sekali diriku.” Aku mulai menghakimi diri bahkan kursi tak bersalah menjadi sasaran tendangan sebelum aku mendudukinya. Taman tempatku menangis sekejap menjadi tempat yang menyuramkan. Tak terlihat bunga atau dedaunan melambai- lambai tertiup angin. Semua hening. Alampun mengerti. Seakan ikut merasakan sakitnya terjerat kenangan masa-lalu.


“Hai, Selamat pagi !”

“Pagi,”

Sapaan itu awal perkenalanku dengannya yang semakin lama semakin memahami sebagai seorang teman hingga menjadi seorang sahabat bahkan perasaan sayang itu berlebihan. Membuat kami menodai arti persahabatan dengan perasaan cinta remaja. Begitu yang sering kali diistilahkan oleh kebanyakkan orang.

“Sebenarnya kita ini sahabat atau bukan !”

“Kenapa tiba – tiba nanya gitu kak?”

“Hanya saja rasanya aneh. Aku tak bisa membedakannya. Rasanya berlebihan. Hawatir dan cemburu bahkan ingin marah. Aku tak tau, apakah ini wajar sebagai seorang sahabat atau seorang yang kau anggap kakak.”

“Aku tak mengerti maksud percakapan ini kak,”

“Baiklah. Cukup ade jawab. Apa aku pantas menjadi bagian hidup ade tapi bukan sebagai sahabat ade ? Bukan seseorang yang ade anggap sebagai teman atau kakak yang selalu datang mengomel saat kau menangis. Tapi aku ingin menjadi seseorang yang special sebagai kekasih. Apa boleh ?”

Aku hanya meremas tangan kiriku. Aku gugup. Aku tak percaya. Tentu saja aku tak tau cara  mengungkapkan apa yang ada di benak, hati, dan sesuatu yang sudah ingin loncat keluar dari bibirku. Ku pikirkan baik –baik dalam lamunanku beberapa saat. Terlihat raut wajahnya yang begitu gelisah menunggu jawaban. Aku menarik nafas dan memutuskan menjawab dengan senyum lalu berkata “Boleh”.

Sahabat telah berubah status menjadi kekasih. Banyak hari telah terlalui. Banyak kejadian yang mewarnai. Tapi tak seindah lima tahun persahabatan yang telah berlalu. Selama tiga tahun ini. Perihnya menahan amarah bisa membuat mati berdiri. Hujan kadang menjadi penyamar air mata. Kadang pula lelah tak terasa tergantikan senyum indah. Tak luput tawa tulus menghapus air mata. Kadang juga pengorbanan waktu dan perasaan tak terhindarkan. Tapi rasa sayang mencairkan kejenuhan. Serta cinta itu menghantarkan pada titik puncak tertinggi yang membuat remuk saat terjatuh. Hingga aku berteriak, mencerit, dan menyeret hatiku dari permukaan terendah agar tak terendam rasa kecewa lalu membusuk dan sirna.


“Apa bila cinta sudah tertutup, aku akan tetap mencoba membukanya.”

“Cintaku bukan pelangi di senja hari, yang datang bersama hujan. Indah namun akan redup juga.”

“Cinta itu seperti jantung yang berdetak setiap saat.”

“Maafkan aku yang tak menjaga komitmen kita.”

Senja saat aku sedang melamun. Ya, aku melamun tentang kami yang dulu. Saat aku terbuai dengan ke indahan kenangan itu. Tiba – tiba curahan perasaannya berani mengisi pesan di HPku. Membuat remuk jantungku. Memecahkan seluruh tubuhku menjadi serpihan kaca – kaca penuh darah lalu beruba menjadi abu dan tetiup angin. Rasanya sakit. Sangat sakit menusuk hingga bagian terdalam.

“Ketika aku mulai merindukanmu. Mulai belajar lebih mencintaimu. Lebih dan lebih. Kau mulai menjauh dengan alasan yang tak ku ketahui. Itu membuatku sakit. Aku benci kamu. Tapi masih mencintaimu.  Ya, begitulah bisik batinku beberapa hari sebelum aku memutuskan bersikap sepertimu. Tak peduli. Berlahan menjauh tanpa ku tau sebabnya. Hingga ku belajar melupakanmu, karena kurasa kau tak mampu mencintaiku.” Meskipun aku sangat ingin membalas pesan itu. Tapi ku urungkan niatku. Rasanya percuma. Toh itu hanya masa lalu. Aku sekarang. Atau dia yang sekarang. Bukan kami yang dulu. Ku biarkan pesan itu membusuk di sana. Tak tega juga menghapusnya. Tapi tak sanggup untuk membalasnya.


“Assalamualaikum,”

Sapaan itu mengejutkanku yang asik membaca novel. Aku menoleh pada sumber. Tak tersenyum dan kembali fokus.

“Salam itu wajib dijawab loh !”

Protes pemuda bersenyum manis itu. Ya, kali ini aku harus menjawabnya dengan lantang agar dia mendengar. Tapi tampak begitu tidak tulusnya diriku saat itu.

Lima belas menit kami terdiam. Aku tak ingin memulai, dia sungkan untuk menegur aku yang terkesan cuek padanya. “Apa kabar?” terdengar sangat hati – hati dari nada suaranya. “Baik,” jawabku seadanya. “Ternyata banyak yang berubah ya. Kampus ini sekarang terasa lebih menyejukkan dengan hiasan taman – taman. Ade tau, mereka juga punya cerita unik yang kadang – kadang mereka bisikan pada pengunjungnya. Entah itu menyenangkan atau malah membuat terharu. Tapi sayang tak ada yang ingin mendengarkannya. Tapi mereka tetap melakukannya.”

Kalimat – kalimat itu terkesan hanya cerita semata untuk obrolan. Meskipun begitu aku tetap memahami maksudnya. Ya, memahami hanya sedikit saja. Tapi lagi – lagi terkesan cuek. Aku tak akan merespon itu. Tiba – tiba dia menanyakan pesan yang beberapa hari lalu sudah berani bersarang di Hpku.

“Pasanku masuk?”

“Maaf ya, aku lagi ada kelas.”

Aku meninggalkannya. Dia hanya tersenyum saat aku menoleh untuk memastikan reaksinya. Hari – hari berikutnya aku terus menghindar. Bahkan berpura – pura sedang mengobrol dengan teman saat dia menyapa atau sekedar tersenyum padaku. Keadaan itu bertahan hingga satu bulan. Dan aku malah merasa kehilangan tak melihatanya lagi. Saat aku ingin menghadap dosen pembimbing, di depan pintu prodi (program studi) beberapa anak sedang menyebut namanya. Aku berharap hanya sebuah nama yang kebetulan sama. Aku mengabaikan berita kecelakaan itu. Seberapa kuat ku mencoba tak hawatir tetap saja tak bisa. Aku bersungguh – sungguh menyelesaikan tugas untuk seminggu dalam tiga hari demi sebuah tujuan pribadi.

Aku berkunjung ke kontrakkannya. Hasilnya nihil. Kata sahabatanya, sudah tiga hari dia tak ada. Mungkin dia sedang pulang kampung. Rasa sedih, semakin hawatir, ditambah berita beberapa hari lalu bercampur di dalam kepalaku. Suasana panas kota membuat pikiranku semakin kacau. Tak bisa berpikir cepat dan tepat. Macet membuatku mencaci dalam hati.

Keringat bercucuran membuatku terlihat begitu menyedihkan. Itu tak berarti apa –apa bagiku. Dalam lima menit aku kembali menuruni tangga kosku.  Baju yang ku pakai, sepatu, dan tas tetap sama. Tampak teburu-buru. Tak membalas senyum atau sapaan teman yang kebetulan berpapasan.

“Mba, sudah sampai!”

Suara supir angkot membuat lamunanku terhenti. Rupanya ini di teminal. Suara pengamen dan beberapa pedagang hanya terdengar samar – samar olehku. Fokus pada keberangkatan tercepat. Bus itu melaju menuju kota Balikpapan. Bersamaan rasa takut yang mulai memenuhi perasaanku. Takut kehilangan untuk kedua kalinya. Kehilangan selamanya. Tiga jam rasanya seperti berhari – hari di bus itu. Sungguh konyol dan kekanak – kanakkan perasaanku. Namun itu begitu nyata.

Perjalanan itu belum selesai. Aku masih harus naik kapal ferry. Naik ojek. Naik angkutan antar kabupaten. Lalu menunggu kakak menjemput. Benar – benar melelahkan, tapi tak selelah hatiku yang selama ini menahan gejolak rindu di antara kekecewaanku yang berlebihan.

Sampai di rumah. Terburu – buru masuk kamar mencari kotak berwarna biru. Terlihat begitu berdebu namun masih kuat dan isinya tersusun rapi. Berbagai kenangan itu ku kubur di dalamnya. Setidaknya begitu niatku dahulu. Tapi aku tak bisa benar – benar membuangnya. Hanya tersimpan di terdalam di sudut tergelap lemari itu. Aku hampir menangis memeluk kotak itu, tapi ku sadari ibu sedang berdiri di pintu. Saat aku menoleh dia tersenyum padaku. Lalu berkata “Hati itu bukan memilih tapi dipilih. Cinta itu seperti sebuah harapan. Jika kita ragu dia akan menjadi bayang – bayang. Jika kita yakin dia akan menjadi kenyataan.” Ibu menghampiriku lalu memelukku. Mengusap kepalaku. Kini aku benar – benar tak menahan tangisku. Saat itu ibu bilang jika pria itu sedang terbaring di rumah sakit. Dua hari lagi akan di oprasi. Ibu juga bilang dia sering datang kerumah mencariku sebelum menyusulku ke Samarinda. “Pergilah, Nak. Kau terima atau tidak sampaikanlah isi hatimu dengan kata – kata. Ibu percaya padamu.” Kalimat penutup ibu. Beliau kembali mengusap kepalaku, melepasakan pelukanku, mengusap air mataku. Aku melihat senyumnya. Aku sendiri lagi di sana. Di luar senja mulai menyapa. Aku tak keluar kamar sekalipun hingga kegelapan menguasai dunia. Sengaja tak kuhidupkan lampu kamar. Kubuka jendela dan memandang langit penuh bintang dari sudut kamarku. Berkali – kali terdengan suara ketukan dan bujukan untuk mandi serta mengisi perut. Tak ku hiraukan. Aku kembali menangis dan tertidur di tengah kegelapan.

“Kak, bangun sudah jam 8 pagi loh. Kalau gak mau aku dobrak ni!” Adikku berteriak dari luar pintu. Aku tau dia bercanda. “Emmm” suara itu yang membalas.

“Kak, gak mau ikut ya ? Kami mau ke rumah sakit.”

“Enggak- ah,”

“Beneran ? Gak nyesel nanti ?”

“Iya, Enggak.”

“Ya, udah kami pergi duluan. Kalau kakak mau nyusul. Dandan yang cantik dan isi perut dulu ya. Ada alamat rumah sakitnya juga di atas meja makan. Daaah kakak.”

Setelah itu begitu hening. Tak terdengar suara siapapun atau apapun di luar kamar.

“Assalamualaikum,” Seseorang sedang bertamu. Tak menghilang juga suara itu sudah setengah jam lamanya aku tak menghiraukannya.

“Walaikumsalam,” jawabku lesuh membukaan pintu. Seorang pria putih bersih dangan pipi cabinya tersenyum melihatku.

“Boleh aku masuk de ?”

“Eh, iya kak. Silahkan masuk,”

“Mau minum apa kak ?”

“Tidak usah. Ade mandi saja. Lalu ikut denganku!”

Aku sempat terpaku. Aku berpikir menurutinya atau membiarkan masalah ini begitu saja.

“Jangan biarkan menunggu terlalu lama, De. Seperti harapannya. Aku dan semuanya berharap ade ingin ikut denganku.”

Aku ikut. Aku tak tau bagaimana mungkin dia menderita penyakit yang dapat merenggut nyawanya. Begitu menyedihkannya aku tak tau apapun dari dulu. Aku malah menuduhnya mencampakkanku. Kini aku merasa yang mencampakkannya.

“Terimah kasih, Suster.”

“Tolong dijaga dan jangan dibangunkan ya.”

“Iya suster.”

Begitu menyejukkan hati melihatnya tertidur pulas. Bahkan nampak di wajahnya tidak ada kesedihan dan kekecewaan terhadap hidup.

“Maafkan aku. Aku begitu bodoh. Aku menutup telingah dan mataku. Aku tak pernah tau yang sebenarnya. Maafkan aku, aku yang tak pernah mengerti tapi aku juga yang merasa dikecewakan lalu terkubur bersama rasa itu.” Masih duduk di sana. Ingin menggenggam tangannya takut membuatnya terbangun.

“Ya, aku sadar. Kini percuma. Percuma aku terus berlari. Percuma aku menenggelakan perasaan ini. Karena kenyataannya aku tak pernah sanggup. Hati ini tetap menginginkanmu. Bahkan selalu merindukanmu hingga detik ini.” Aku menangis.

“Ku mohon. Kakak harus sembuh. Itu akan mengobati kekecewaanku dua tahun perpisahan ini.”  Aku menggenggam tangannya.

Aku terbangun saat sebuah tangan mengusap kepalaku dengan lembut. Dia tersenyum padaku. Aku sedikit merasa malu dengan wajahku yang tampak lebih lusuh darinya. Aku berharap dia tak mengdengarkanku saat mengutarakan perasaanku tadi atau mungkin ingoanku saat tertidur. Tapi faktanya lain. “Aku janji sembuh,” katanya dan tersnyum lagi. Itu membuat wajahku memerah. Dia mengulurkan kedua tanganya. Aku memeluknya. Dia mengusap kepalaku. Membiarkan aku menikmatinya beberapa detik. Dia mencium keningku. Bahagianya terasa hingga ketulang – tulangku. Ini membuat senyum di hatiku.

=====

Alamat imail saya miamie1010@gmail.com

Alamat facebook saya http://www.facebook.com/nurmie.virgirls.cynk.m

Alamat twitter saya https://twitter.com/mie_nurmie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s