Terima Kasih Cinta


aaaa

Ah, banyak kata-kata yang terasa kurang pas. Tetep senang deh, bisa buat ini dalam 1 jam.


Harusnya aku mengenalnya sejak kami masih baru mulai belajar berlari. Namun kenyataanya dari seluruh anggota keluarganya, dia orang yang terlambat mengetahui keberadaanku di dunia ini. Aku resmi tersenyum padanya saat aku sudah mengenakan seragam putih-abu-abu. Saat itu hanya berpapasan ketika pulang sekolah. Sekolah kami berbeda jarak dan latar belakang, setidaknya kami memiliki tingkatan yang sama. Aku sedang berdiri di jembatan menunggu kakakku, menatap jauh mengikuti arah sungai. Sontak aku menoleh dan tersenyum saat suara kendaraannya melintas di belakangku. Aku tak percaya cinta pandangan pertama, saat itu aku hanya merasa senang karena ia membalas senyumku. Tiga minggu berikutnya, kembali bertemu dan duduk berdampingan di acara pernikahan sepupuku, aku mulai meliriknya diam. Ada rasa penasaran mulai menghantuiku. Sosok tak banyak bicara, melahap makanan dengan cara unik dan tidak banyak bergerak. Tidak mengacuhkanku saat bertanya, itu sudah cukup. Berbeda dengan pemuda di sebelahnya. Aku lebih mengenal kakaknya.

Seorang sahabat wanita mengirimiku  nomor ponsel seseorang. Tak kusangka itu miliknya. Aku hanya butuh teman diskusi tentang pelajaran dari sekolah lain. Aku sangat suka belajar hingga dikatai kutu buku oleh kakak kelasku. Awalnya aku ragu hingga kubiarkan nomor itu hanya menjadi penghuni kontakku. Di sore yang super sibuk ponselku bergetar dan berdering, dua panggilan tiga pesan membuat keningku mengkerut berpikir. Ia menghubingiku, aku senang karena aku tak harus penasaran lebih lama.

Semangatku bertambah satu lagi. Aku menyadari mulai menyukai dan membutuhkannya. Seperti suatu malam ketika aku mengurung diri di kamar merasa sedih kehilangan kakekku yang pergi kesurga. Aku terlelap setelah mendengar suaranya  dua jam menghiburku, menasehati dan bernyanyi untukku melalui ponsel. Semakin hari semakin banyak hal menyadarkanku, ia begitu berarti.

Tiga tahun berlalu saat aku pertama kali tersenyum padanya. Hari ini kami akan menuju kota saksi perjalan hidup kami empat tahun kedepan. Tempat diujinya ke mampuan kami bertahan dan menjadikan hidup ini lebih berarti demi masa depan yang cerah dan berukir senyum. Perjalanan yang ramai, antri, letih  dan kehausan menjadi hal biasa setelah musim liburan berakhir. Ia selalu baik. Hari ini aku semakin berdebar. Bahkan ketulusannya membuatku tak ragu sedikitpun. Pagi tadi aku menangis sedih, siang ini menunggunya sejam, menunggu angkutan umum bersamanya dua jam dan menunggu untuk menjadi penumpang bus hingga azan magrib terdengar. Lelah membuatku terlelap.

Aku terbangun dari tidurku. Kepalaku tersandar pada bahunya, tubuhku hangat tertutup jaket besar miliknya, tanganku terperangkap dalam genggamannya. Aku terkesiap. Lalu tersenyum antara malu dan senang. Kurasa pipiku mulai panas. Astaga! Ini terasa konyol. Embusan udara keluar dari mulutku. Segera kutahan serangkaian tuntutan perasaanku padanya. Kita saling terdiam. Bus yang kita tumpangi melewati jembatan sepanjang tiga km. Sungai ini, kota ini, dan cahaya lampu-lampu itu, menjadi saksi. Aku merasa bahwa dia mulai menyukaiku. Sama seperti aku yang terus mencintainya. Oh, Tidak aku terperangkap. Apapun yang terjadi, aku tak ingin kehilangannya.

Sesederhana pemikiran kita yang selalu memberi tanpa letih. Perhatian, motifasi, pikiran, dan perasaan sayang. Kau mengajarikan cara bersabar, dan kau usap air mata ini saat aku menangis, meskipun aku tak perna sengaja menangis di hadapanmu kau selalu mengerti perasaanku. Kau akan selalu ada untuk menghibur dan melakukan apa saja untuk menciptakan senyumku. Terima kasih cintaku.”

-2007->2010-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s