Dia dan Dia [Kenangan RP-an TH]


KHJ JJ Mi

 

Miamie Yuents
PA Red Rose
KAG-nim

===

“Kenapa janjian sepuluh menit lebih awal? Ini masih pukul 08.45 pagi!” Lelaki itu terus menerus menikung wajah masam dengan kedua tangan bersidekap di depan dada. Kakinya berselonjoran melewati kaki-kaki meja restoran Odditycentral yang khusus menyediakan makanan Itali. Restoran itu lelaki pirang yang memilih, dan pria yang didepannya setuju asal yang ia makan bukan sejenis Seafood.

*
Hari ini hari yang cerah. Well, tak sia-sia usaha lelaki pirang itu semalaman, memohon kepada langit di samping menyatroni berita perkiraan suaca tengah malam.
“Yippiee!” Itulah kata-kata pertamanya menyambut pagi ketika matahari menerpakan sinar hangatnya pada tubuh lelaki ideal itu.

*
“Tidak sopan membuat seorang Lady menunggu, Sir~” Jawabnya sopan untuk membuat binatang buas di hadapannya tenang.
“Kalau dia sampai terlambat akan kucekik dia!” Sungutnya berapi-api.
“Sir…” Baru saja Red hendak membujuk pria itu lagi, seorang gadis tiba dengan dres sederhana. Sangat sederhana, tapi entah mengapa kesederhanaan itu malah membuatnya memancarkan pesona dewasa.
Tak ada raut wajah cemas akan kemarahan sang pangeran dan pria tampan yang menunggunya. Tak ada rasa bersalah. Dengan gaun sederhana yang dikenakan ia tampak mempesona. Langkah anggun memasuki restoran, menyapa dan Red dengan cepat menyambutnya.
“My Lady~” Red Sontak berdiri untuk menyambut.
“Sudah lama menunggu? Oh. I’am Sorry~” Suara lembut itu tak dibuat-buat, yang salah hanya permintaan maaf yang tak tulus.

*
Ketika langkah sepatu khas gadis itu berderap di lantai. Ketika ia mulai mencari sipembuat janji, manik matanya berpendar dan sumberingah senyum terakai dalam penampilan bersahaja.
Ketika Gadis itu mulai menggerakan bibirnya dan kata-kata permintaan maaf meluncur lancar, lelaki berisik di sebelahnya langsung mengulurkan tangan dan berucap, it’s okey sambil mengecup lembut punggung tangan gadis itu. Seolah menuai kebaikan dalam bujuk rayu sikap pecinta ulung. Leher lelaki satunya berjengit, tetap menatap dalam diam.

“Bodoh! Aku juga ada di sini, apa matamu buta?” Ia akhirnya bersuara dengan perasaan yang sudah tak terhalaukan lagi. Ia agak marah.

Tingkah Red memang selalu manis. Gadis yang sering disapa Miamie itu, tak pernah menolak. Ia biarkan Red marik perhatiannya. Miamie melirik pria yang diam lalu mengeluarkan beberapa kata yang mencengangkan itu, terlihat jelas pria itu kesal namun berusaha menyembunyikannya.
“Cukup Red.” Miamie menarik tangannya lembut.

“Are you jealous, Sir?” Senyum kemenangan Red tertawar dengan gratis.
“Jika cemburu, lakukan sesuatu dong!” Red menarik pinggang Miamie dengan lembut, lalu menuntunnya duduk di antara dirinya dan Pria beraura gelap di hadapanya.

“Thanks, Honey.” Miamie tersenyum dan duduk dengan manis, menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya.

*
Pria itu menatap dua orang di hadapanya dengan pandangan tajam. Dia ingin tak perduli. Kendati demikian, Ia tetap memandang Miamie dalam diam.
Ubun-ubun surai coklatnya beriap kala ia membuka halaman menu satu persatu. Ia menangkap sesuatu yang janggal pada gadis itu.

“Sebentar,” ia berujar. Tangannya terulur lalu menggapai pelan, menyisir satu persatu rambut coklat gadis itu yang menatapnya dengan tatapan rikuh. “Kau habis jalan di bawah pohon elm?”

“Iya,” Jawab Miamie pelan. Pria itu tersenyum padanya.

“Apa ada sesuatu di rambutku?” Pertanyaan itu hanya pertanyaan polos untuk menutupi kikuknya. Ada perasaan senang yang menghampiri Miamie dengan sikap manis pria itu. Apa pria itu juga menyukai hal manis-manis, makanan contohnya. Ah, itu hanya terlintas begitu saja di benak Miamie membuatnya tersenyum kecil. Ia tak berani menatap dalam mata pria dingin di hadapannya, ketika mata mereka tak sengaja bertemu Miamie dengan cepat membenarkan letak duduknya. Tertunduk membuka buku menu. Sesekali ia tersenyum kemudian berucap.

“Red, mau pesan apa? Honey~”

“Red mau pesan yang sama dengan yang dipesan olehmu, Dear~” Red memamerkan senyum termanisnya lalu menatap Miamie dengan tatapan penuh maksud.

“Serius?” Miamie kembali bertanya untuk memastikan maksud pria keren dan idaman banyak gadis cantik. Miamie beralih ke pria di sebelah kanannya. Pria itu juga tampan, namun Miamie tak tau apakah selama ini banyak gadis yang mendekatinya dengan sifatnya yang sedingin salju kutub itu.

“Dan—em—mau pesan sesuatu?” ucap Miamie sedikit ragun namun terlontar juga pertanyaan atau tawaran itu.

“Kopi hitam,” pria itu meletakkan menu yang sedari tadi terapit jemarinya dengan kasar ke atas meja, lalu bersandar pada kursi putih yang menjadi alas duduknya. Pria itu tak melihat wajah sentimental Miamie yang memandangnya dengan semburat rasa heran. “Pesankan saja itu.” Lanjutnya.

Kopi hitam. Apa suasana hatinya sedang kacau sehingga memesan menu yang …. Kening Miamie mengkerut. Ingin bertanya ulang tapi tak jadi. Biar saja pria itu menikmati menu kesukaannya.
“Honey, pesankan menu yang kau mau, aku sama denganmu,” Miamie melemparkan senyum pada Red yang sedang duduk santai dan menikmati suasan restoran yang nyaman.
“Jangan lupa kopi hitam, Honey~” Lanjut Miamie tersenyum lagi pada Red.
Kini Miamie tak menatap pria itu lagi. Ia hanya lirik, ingin tau ekspresi wajah sang pria tak banyak bicara itu.

“Anything for you, My Love~” Red mengangguk dan meraih tangan Miamie, setelah mengedipkan mata Red memanggil pelayan yang berlalu di depan.
“Kami pesan dua buah Crepess dan dua gelas minuman dari Pir yang direndam dalam Grand Marnier,” Si pelayan mengangguk tanpa mencatat pesanan. Mereka pengingat hebat!
“Anything else, Sir?”
“And one black coffice, Please.”
“Thank you,” Pelayan itu tersenyum, membungkuk, lalu mundur menjauh untuk melayangkan pesanan menja yang baru ia singgahi.

*
“Red. Your special,” Miamie memuji dan membalas kedipan mata itu. Sedikit hawatir dengan pria bertubuh tegap dan kacamata yang membuatnya tampak menarik, namun selalu bersikap dingin dan terkesan serius membuat orang lain penasaran. Termaksud Miamie yang belum begitu menganalnya. Meraka sudah sempat bertemu beberapa kali namun tak pernah banyak mengobrol. Miamie memberanikan diri berucap santai sebagai pembukaan obrolan.
“Kenapa tak bersemangat begitu? Apakah awan hari ini sangat gelap?” Pertanyaan tak penting yang benar-benar basi. Jelas masih pagi dan di luar sana sangat cerah. Matahari bersinar tak sedikitpun ragu. Biarlah, itu kalimat tersirat sigadis berkulit putih dan halus itu.

“Ya, sangat gelap. Terutama blonde yang ada di sebelahmu,” racau pria itu pelan.

Miamie tersenyum kecil memaklumi. “Apa lain kali kau ingin jalan denganku saja? Tapi aku tak ingin pergi ke cafe, restoran atau sejenisnya, Aku lebih suka alam,” Gadis itu terlihat mulai berani dan sedikit agresif. Entah virus apa yang sedang bersarang pada dirinya. Biarkan, ia sedang belajar memilih sekarang.

Red mendengar perbincangan pelan Miamie dengan jelas. Sebelum pria itu menjawab, Red mendahului menjejaki sebuah protes. “Red juga ingin ikut! Kalian curang! Kenapa tidak dia yang ditinggal, My Ledy?” Red cemburu. Miamie membalik pandangannya dan menenangkan pria pirang yang sudah sewajarnya protes. Pria satunya hanya menarik napas dalam melihat tingkah dua orang di hadapannya. Kali ini dia merasa menjadi orang ketiga saja. Tak berselang lama ketika Red sedang melancarkan kata-kata rayuan pada Miamie, seorang pelayan membawa makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Menu tiba di meja membuat mata Miamie membesar.
“I so Hungry,” Gadis itu menjajah makan itu dengan lahap. Entah memang karena lapar seharian kemarin tak makan karena virus gila—kecanduan membaca novelnya kambu atau ia memang gadis rakus. Oh, jangan katakan rakus. Bukan gadis cantik dan anggun lagi jika ada kata itu melekat padanya. Miamie tau Red menatapnya lembut, Miamie tersenyum padanya, mata Miamie yang ikut tersenyum membuat Red tak henti menatapnya. ‘Sungguh manit melihat seorang Lady sedang makan’ Pikir Red. Tanpa sadar Red mendekat, lalu menyeka sisa makanan yang berada di sekitar bibir Miamie.

“Santai saja, My Love~” Ia tersenyum untuk gadis istimewa yang merenggut hatinya.

“Hungry, Honey~” Miamie tau dengan jelas nasehat Red itu sebuah perhatian dengan sedikit hawatir Miamie tersendak dan akan mati.

“Delicious. Honey~” Miamie selesai melahap seluruh isi piringnya. Wajah senangnya terpancar dari senyum kecilnya dan semangatnya yang bertambah.

“Please, Honey~” Miamie sedikit merengek berharap Red menghabiskan makananya.

“I want to go. Honey~” Miamie menatap makan Red yang belum habis kemudian beralih melirik jam tangannya.

*
Ia hanya menyaksikan kehebohan dua orang di hadapannya. Sesekali ia mereguk kopi yang besuaka di depannya, lalu kembali bersandar sambil bersilang tangan memerhatikan tingkah Red dan Miamie.
Kadang saling menyuapi, kadang tertawa. Terus seperti itu sampai makan dan minuman keduanya habis.

Brak!

Bunyi geseran kursi yang beradu dengan lantai tiba-tiba terdengar. Kedua pasangan mata itu kali ini menjarah sosok itu dengan tatapan heran.
Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya pada si gadis. “Bukannya mau pergi, ayo.”

*
Red dan Miamie saling tersenyum setelah makanan keduanya telah habis. Tapi tidak untuk ‘kopi hitam’ milik pria dengan karakter tenang berkacamata yang masih tersisa setengah. Sudah terlalu lama mereka membunuh waktu di restoran yang cukup ramai pengunjung itu. Miamie tak bermaksud namun yang terlintas di benaknya adalah hal licik.
“Red~, Honey~. Can you help me?” Red spontan cuek terhadap ponselnya yang baru beberapa detik menarik fokusnya.
“Anything for you, My Ledy~” Sikap manis Red yang selalu dinanti Miamie. Miamie meminta Red membayar semuanya. Miamie mengecup pipi Red dengan lembut.
“Thanks, Honey~ “ Bisik Miamie.
“No problem, My Lady~” Red dengan senangnya membalas.

*
Bunyi geseran kursi yang beradu dengan lantai tiba-tiba terdengar. Kedua pasangan mata itu kali ini menjarah sosok itu dengan tatapan heran.
Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya pada si gadis. “Bukannya mau pergi, ayo.”

Miamie menggigit bibirnya pingung. Red menatapnya tajam. Beberapa detik Miamie tampak bergantian menatap Red kemudia Pria yang sudah berdiri dengan tangan terulur.
“I am Sorry, Honey. But, I have to go.” Kalimat perpisahan dan ungkapan bersalah itu tak berarti apa-apa bagi Red. Ia ingin mencegah namun tak mampu. Gadis pujaanya telah memilih Pria tegas yang menawarkan tangannya untuk digenggam. Red hanya bisa melihat keduanya pergi. Semakin jauh. Tatapan kecewa Red masih mengekor hingga kedua sosok itu tak terlihat lagi.

“Padahal Red ingin memberikan hadiah, “ Red menarik nafas pelan dan menghembuskanya. Ia mengurungkan niatnya, lalu kembali menyembunyikan kado dengan pita merah yang terbungkus sebuah kalung coklat di antara kaki kanannya.
“Mahkota ini, ternyata tidak ditakdirkan untukmu. My Lady~” Kekehnya hambar.

Fin—

====

–Ini sebenarnya saya hanya menerima tantangan PA Red untuk melakukan RP ber3. Waktu itu tugas TH adalah memperoleh Mahkota yang entah staff siapa yang memegangnya. Jadi, kita para TH disuruh untuk merayu staff dengan cara apapun agar memberikan Mahkota itu. Entah dengan Battle, RP-an, dsb~ Sesuai permintaan staff tersebut. Awalnya saya sempat RP-an dengan PA Hyowon juga, ke panti asuhan, dan Akhirnya dia mengaku tidak memiliki mahkota. Tapi saya senang dari RP-an kami PA Hyowon punya ide untuk membuka tempat magang di beberapa tempat, termaksud panti asuhan. Sayang saya tak boleh magang lagi, karena sudah di Perpustakaan dan TH. Saya sempat mengajar KA, PA Raihan dan Eyang Kaktus juga dan ternyata sampai waktu tugas TH berarhir mereka tak memiliki waktu untuk online bebas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s