Coretan malam [Aku salah-Aku tau]


Ah, aku tak seharusnya begini. Andai aku masih setegar dan setegas dulu. Nyatanya memang kini aku mahluk dilema. Ku akui itu.

Sulit memilih, sulit memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan panjang. Jadi ingat siang tadi aku tertawa sambil menangis. Aku berbicara tak beraturan mengenang kekonyolan dulu bersama adikku. Ku kira tadi itu adikku akan tertawa. Tapi, nyatanya yang ia katakan membuatku menyadari dulu itu bukan dia yang harus iri padaku. Tapi aku yang harus iri padanya.

.

Tadi siang–

“Awas jika nanti malam nangis lagi!”

“Gak akan de, aku gak akan nangis lagi. Hahaha, lucu kan. Ingat kan saat terakhir kita bertengkar di hari ke berapa lebaran itu?”

“Yang mama sampe nangis itu?” bertanya dengan ekspresi datar.

“Iya, kamu sih, banting pintu. Gara-gara jaket juga. Kan kan itu jaket harapan satu-satunya biar aku gak sakit perjalanan jauh. Kamunya kagak rela aku pake. Waktu itu aku juga nangis loh, pas kamu pergi bawa motor dan akhirnya aku harus tertunda beberapa jam ke Samarinda. Hahaha–, Sebenarnya bukan itu yang bikin nangis, tapi mama yang diam di tempat terisak itu, bikin aku sakit sampe ke hati. Sedihnya luar biasa ya, apalagi saat aku nyium tanganya pamitan itu, belau ngusap kepalau terus bilang ‘jangan hiraukan kata-kata ademu, belajar yang bener, sudah jangan nangis lagi’. Hah, waktu itu pertama kali aku nangis depan mama loh. Hahaha”

“Apa sih, gak ada yang lucu ketawa terus. Nanti malam nangis loh.”

“Gak akan de. Aku sudah kuat kok. Oia, waktu itu kamu belum pulang kan aku pergi, nah itu aku nangisnya sampe berjam-jam loh sepanjang jalan. Aneh ya, padahal emang aku sudah lama memang merasa kalau yang kamu bilang waktu itu bener. 100% bener.”

“Sudah gak usah dibahas. Lagi mikir apa sih. Sampe ngenang kaya gitu, ketawa gitu lagi, itu rotinya habiskan aja. Itu susunya dari rotimu tumpah tu.”

“Gak apa-apa. Cuma kangen dulu aja. Sekarang rasanya lebih bahagia tapi begitu datar. Hahaha, aku bodokkan?”

“Sudah. nanti keselek loh. Jangan ketawa lagi. Awas kalau nanti malam aku pura-pura tidur tapi nyatanya gak bisa tidur karena dengerin  orang nangis.”

“Gak akan. Aku gak akan nangis nanti malam. Hehehe…”

“Tapi kamu nangisnya sekarang!”

.

—Lah iya, aku mengunyah roti itu dengan air mata di sudut mataku, terdiam tak bergerak, tak bersuara lagi, tak berucap apa-apa lagi, tak bisa berpikir lagi. Aku menangis diam. Tak berani menoleh pada adikku yang kutau menatapku. Ia baru tinggal dua bulan denganku, sekamar denganku. Tapi aku merasa malu padanya, seolah dia tau seluruh isi hatiku, lebih mengerti diriku, lebih bisa tegar dariku.  Aku tak bercerita apa-apa yang ku alami 10 tahun aku jauh dari rumah, tapi kurasa dia mampu membaca setiap hal yang hadir dalam benakku dalam tingkahku, segitu cepatkan dia menganalisa semuanya. Atau, aku yang begitu mudah terbaca.

–Dulu, ia selalu merasa iri denganku. Dan pertengkaran terakhir itu. ‘Mama, pilih kasih. Selalu begitu. Dia saja. Dia terus. Dia boleh ini itu. Dia. Dia. Dia’ itu yang ia ucapkan dan menatapku dengan kebencian. Sekarang aku malu padanya, sangat malu. Aku yang sampai saat ini memiliki banyak beban dalam hati ini. Aku yang terperangkap perasaan-perasaan tak penting. Perasaan terbebani, peasaan bersalah pada mereka, perasaan tak berguna, perasaan putus asa, perasaan dilema yang berlebihan.

–Aku yang sering di bilang ini -itu (positif), tapi nyatanya aku tak merasa begitu. Lalu, aku yang bodoh atau tak bersyukur. Entahlah.

–Benar. Benar kata kak Dedy dan kak Safar (penyiar favorite saya) malam ini. Tak penting memenuhi diri dengan perasaan masa lalu. Karena kenangan yang mampu bertahan lama itu karena hal yang mendalam. Biasanya kesedihan, rasa bersalah lah yang menggoreskan penyesalan hingga membuat seseorang terperangkap dengan rasa-rasa yang akan merugikan dirinya.

–Aku membuang banyak kesempatan. Aku merugi. Aku tau itu, aku tak mau itu, tapi aku membiarkan itu. Bodoh sekali!

–Aku tak suka dengan kata bodoh. Tapi aku memaki diriku dengan hal itu.

.

“Aku salah…”

–Lihatlah aku yang tak bisa menjaga kesehatan ini. Tak bisa berbicara pada siapa-siapa apa yang ku alami. Tak bisa bercerita pada siapa-siapa apa yang kurasakan. Termaksud keluargaku sendiri. Kurasa aku terlalu sombong, sok kuat, dan sok tak ingin menghawatirkan  tapi yatanya aku bersembunyi di balik ketakutanku sendiri. Itulah aku kini,  sangat rapuh tapi berpura-pura tangguh.

–Lihat aku yang berhenti pada pekerjaanku hanya karena kurang merasa nyaman. Berkerja itu, itu, itu, lalu itu. Ah, akhirnya saat mendapatkan pekerjaan yang nyaman dan sayang pada orang-orangnya. Berhenti lagi. Sekarang kesulitan keuangan karena tabungan mulai habis. Tak akan  bilang sama ortu. Itu salah satu ego besarku.

–Berhenti kerja, salah satu alasanya karena sering sakit dan pengen fokus sama skripsi. Lah, aku tetap sakit. Berarti bukan letih alasannya sakit. Lah, aku juga belum wisuda hingga kini. Dan bodohnya itu sepenuhnya bukan karena sakitku. Bukan karena hal lain yang begitu sulit jika dijalankan sepenuh hati. Sudahlah! jangan bahas skripsi saya jadi sensitif.

–Katanya pengen pola hidup sehat lagi, tapi makan ta teratur, olaraga gak perna lagi, parahnya lagi insomnia menjadi-jadi. Jadilah makluk kurus yang selalu ditegur orang-orang yang jarang bertemu. ‘Aku memang tak pernah gemuk,’ Itu alasanku.

–Lebih parahnya, sudah sendiri. Malah membiarkan diri sendiri terus-terusan. Terpuruh, meratapi diri yang tak memiliki sahabat lagi. Harusnya acuhkan saja mereka yang sudah pergi tak perduli itu, masih banyak yang lain yang perduli denganmu, asalkan kau tak acuh seperti saat ini. Tapi itu hanya sugesti, aku tetap saja sendiri. Jadi ingat kata Hairullah kemarin.

”  —- Sama mereka (nama tema-teman saya yang selalu sama-sama pas kuliah, saya temenin ke mana-mana dan bantu ini itu),”

“Mana mereka sekarang? kamu ditinggal sudah. Sibuk sudah. Lulus sudah.”

“Iya eh Rul. Itulah hidup. Masih ada kamu kok, nanti bareng kita. Hehehe–”

Saya cuma bisa jawab gitu sambil nyengir sok biasa aja. Padahal itu nusuk. Terus, teman saya yang dari kelas 1 smp, dan kelas 1 sma yang sudah saya anggap kakak. Sejak setahun ini sudah tidak perna komunikasi lagi. Bukan saya tak menghubungi dalam bentuk media apa saja, tapi aku sudah jerah. Mereka seperti menghindar. Baiklah. Aku tak apa-apa.

Teman ini sudah begini, teman itu sudah begitu. Dan saya tetap begini-begini saja.

–Yah, sudahlah semuanya itu sudah terjadi. Seperti biasa, harapan saya simpel tapi mewujudkanya yang butuh perjuangan keras.

Gak muluk-muluk, sama seperti dulu–malam hari ini–malam ini–esok–dan esoknya–

“Allah memberikan kesehatan, rasa syukur, dan kebahagiaan kepada keluarga tercinta saya. Hari-hari yang semakin BAIK. Amiiin ya Allah—.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s