Coretan Pagi [Tangis, maaf Yah, maaf Bu]


Benar. Begitu mudah mengatakan jika kita berhasil.

“Ma. Pak. Aku ini … itu … begini… begitu … Nanti ini  itu yaa… Boleh kan?”

Menyusun langkah selanjutnya, bercerita sambil tersenyum dan tertawa. Tapi, saat kegagalan yang terjadi. Mau apa? senyum? rasanya sakit loh. Mulut kaku tak bisa berkata apa-apa. Menatap tak sanggup. Lalu mau apa?

Entahlah. Rasanya aku sesak nafas. Sudah kutahan terlalu lama. Dan kini ini seperti hampir kadaluarsa.

Aku tau akhirnya akan sama jika aku mengatakan waktu itu atau sekarang. Aku memilih memendamnya membohongi diri sendiri dan mereka. Ah–aku memang bodoh.

Pagi ini. Segala keberanian kutumpuk setinggi gunung, ah–tidak, aku berharap keberanianku lebih dari itu saat tombol ponsel memanggil kutekan.

Basa-basi, senyum, tawa terdengar di ujung sana. Aku ikut tertawa hambar. Lalu,

Aku mulai terbata-bata, berbicara tak jelas, berputar-putar kata ayahku. Ah, mengapa aku begini. Rasanya tak sanggup menjadi anak yang mengecewakan.

Ada kata yang menusuk hatiku. Ayah tak menyampaikan langsung, tapi aku mendengarkanya.

‘AYAH AKU TAK BERBOHONG. AKU TAK PERNA SEKALIPUN INGIN MEMBOHONGIMU.’ ingin berteriak rasanya. Aku sadar tak mungkin kulakukan itu. Aku mejelaskannya lembut dan ibu menyampaikannya. Pipiku tiba-tiba hangat. Aku menangis di pagi yang gerimis.

“…. katanya itu …. bulan ini akan ….”

“Aku juga inginnya begitu Ma. Tapi mau gimana pendaftaran itu tutup bulan lalu. Aku harus gimana? aku juga gak mau seperti ini. Jangan dengarkan apapun yang orang katakan. Jangan Ma. Bilangin Bapak jangan dengarkan itu, si …. Aku sedih.”

Aku terisak. Lebih tepatnya menangis seperti anak kecil. Telingahku masih mendengar dengan jelas. Suara di ujung sana terdengar sedikit lebih serak. “Iya. Nak. Gak papa. Bapakmu hanya …”

Air mataku semakin menjadi-jadi. Aku mengigit bibirku menahan sakit di dadaku. Sesak napas. Dan tak bisa berucap lagi.  Ibu terus menenangkanku. ‘Ayah, percaya padaku. Ku Mohon.’ Batinku.

Isakku jelas. Ibu berkali-kali menenangkanku, menasehatiku. Ibu aku ingin ada di sana. Memelukmu erat.

“Mak. Pak. Jangan samakan aku dengan mereka. Jalan hidup setiap orang beda-beda. Maaf jika aku terkesan memberi harapan palsu.” Aku berucap dengan suara tak jelas karena hidungku yang mulai mampet.

Ku dengar ibu masih menjelaskan pada ayah. Kuharap ayah cepat menerima dan memaklumi dan ‘memaafkanku’. Aku sangat sedih. Ini pertama kalinya aku merasa sakit tak berguna sedikitpun, pertama kalinya aku merasa menyakiti kedua orang tuaku, murni kesalahanku.

.

“Iya. Nak. Tak apa-apa. Sudah jangan nangis. Nanti bapakmu juga …”

Ayah memang termaksud orang yang keras. Sangat dalam hal tertentu. Ku harap kali ini beliu cepat mengerti. Ayah adalah orang yang paling sabar dan penyayang yang ku kenal. Ku harap aku tak menyakitinya sedikitpun.

“Iya Mak. Sudah kalau gitu. Sampaikan sama ayah, MAAFKAN AKU DARI HATI YANG TERDALAM MAK. MAAFKAN AKU (menggunakan bahasa daerah yang sangat sopan).”

“Iya, Nak. Yang penting kamu pulang ya. Jangan menghindar. Sudah jangan nangis. Yang sabar, kerjaanya juga jangan sampe tergangu dengan masalah ini. Jaga diri baik-baik.” Suara ibu seperti seseorang yang menahan tangis. Aku mendengarkannya sambil menurup mulitku. Air mataku tak ingin berhenti.

“Iya. MAAFkan aku. Assalamualaikum,”

“Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatu,”

.

Setelah sambungan telpon itu tertutup. Tangisku menjadi-jadi. Di kamar berukuran 3×3 kos ku aku terisak, meraung seperti anak kecil. Meresapi kekecewaanku terhadap diri sendiri. Menyesali kebodohanku. Apa yang telah kulakukan setahun ini? semuanya terlintas dalam bayang dengan mataku yang berkaca-kaca dan tak bisa melihat dengan jelas. Aku menjatuhkan diri ke kasur. Menarik guling pelan dan memeluknya. Mengigit bagian atasnya agar suara tangisku tak terdengar hingga ke tetangga kamar.

Ini memang salahku. Murni salahku. Aku yang tak pernah bercerita keadaanku yang sering sakit. Aku yang berhenti dari beberapa pekerjaanku dan kekurangan uang. Lalu, tak berani untuk meminta dengan dalil tak beralasan ‘tak ingin membebani’. Bodoh kan?

Bodoh! Aku memaki diri dengan kata yang sangat tak kusukai itu. Setelahnya istigfar sebanyak-banyaknya, menyebut nama-Nya sebanyak-banyaknya. Hingga aku terlelap sebentar.

Saat aku terbangun 15 menit kemudian aku merasa lebih baikan. Kuharap di sana. Di tempat yang jauh di sana. Di pondok kecil kami. Ayah sudah menerima segalanya. Ibu tidak menangis lagi. Dan mereka yang suka ‘membicarakanku’ berhenti berkoar ini–itu yang tidak menguntungkan mereka sama sekali. Dari hati kecilku aku berdoa pada-Nya.

.

Samarinda, 08-12-13 (07:15)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s