Thanks [Part I]


1469872_268829876599567_1898459825_nDia masa laluku membuatku bertemu dia yang di masa depanku. Dia dan dia berbeda namun mereka memiliki kesamaan yang sama persis hingga membuatku sulit menentukan arah vektor perasaanku yang sesungguhnya. === Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah yang begitu teduh dan selalu tersenyum. Duh, dia membuatku selalu menjadi orang beruntung yang bisa menghabiskan hari – hariku bersamanya. Dia seperti cahaya di malam hari. Aku tersenyum dalam hati. Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Matahari membidik seluruh seisi ruangan. Mataku terbuka berlahan, menyipit melirik korden yang lagi – lagi tak tertutup semalam. Maklum saja aku begitu senang menatap bintang dari meja belajarku. Tanganku meraba  seluruh sekelilingku mencari HP. “Ah–Hari minggu!” Gumamku lalu kembali memeluk Dolphine biruku. Beberapa menit kemudian ponselku berdering, sesungguhnya aku sangat malas membuka pesan itu namun nada dering yang begitu keras membuatku meraih dengan cepat. “Selamat pagi, jelek! Ayo semangat. Gak pake ngeluh dan protes. 15 menit lagi pangeran ganteng ini akan menjemput!” Siapa lagi yang mengirim pesan itu jika bukan dia yang membuatku tersenyum sendiri belakangan ini. Sudah habis sebelah jariku menghitung tahun bersamanya. Di tempat inilah kami biasa bertamasya. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang menghabiskan waktunya tanpa pengetahuan. Kami berada di perpustakaan. Beginilah kegiatan kami saat ada kesempatan bersama, mengerjakan tugas bersama. Terkadang memasak dan makan bersama, sekali – kali olaraga bersama, atau bahkan melakukan hal-hal sosial bersama. Ia selalu berkata ‘Inilah gunanya kita hidup untuk membantu sesama dengan apa yang kita mampu’. Matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya, namun begitu manis dan tulus. Apa jadinya manusia tanpa hati. Apa jadinya tanpa cinta. Bagaimana memiliknya selamanya, katanya. Dan, bagaimana Tuhan menciptanya. Aku ingin tertawa mendengar pernyataan spontannya, hanya ingin. Aku malah tersenyum dan mengacak rambutnya dengan lembut. Matanya terpejam menikmati sejenak, detik kemudian bibirnya tersenyum miring dan matanya terbelalak membuatku terdiam menatapnya heran dengan bibir yang terlipat kedalam. Tawanya terdengar juga, pipiku tak luput dari tarikan kedua telunjuk dan jempolnya. Wajahku memerah, mataku menyipit menahan sakit. Ia mengusap rambutku dan merapikan poniku. . Suatu hari, Aku heran, apa yang terjadi, hati yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan perasaan  kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba membuatnya tersenyum lagi  dan berbaring di rerumputan. Kami saling bertatapan. Tapi malah merasakan tatapan yang bukan diharapkan. Angin pun datang, mengiris-iris tulang kami. Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Perasaan kami masih ragu dan dilema di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja hingga alarm jam tangan memaksa untuk pulang. *** Sudah lama aku tak bertemu dia. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan hanya sekedar tau kabarnya meski sesungguhnya aku sangat merindukan senyumnya. Kini aku belajar mengacuhkan keingananku, jauh berbeda saat awal perpisahan itu.  Aku sibuk kuliah dan kembali bekerja beberapa minggu ini. Dan belakangan ini gengsiku meningkat, sampai aku tak ingin menghubunginya. . Kulempar semua kertas dan buku- buku yang memang sudah berhamburan di kamarku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Aku melemparkannya hingga membentur dinding. Kubuka kaca jendela  kamarku. Tampak pemukiman di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang kamarku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku harus pergi kecewa atas petolakku. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur memeluk lututku di ranjang dukaku. . Tampak matahari sudah tinggi. “ Sial! Aku terlambat” Kesalku dengan suara sangat keras saat melihat jam dinding menunjukan pukul 09.00. Ah, kepalaku begitu sakit. Aku memaksakan diri bangkit. . Suatu malam lain. Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari hatiku yang kesakitan. Samar-samar kudengar suara hatiku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap. Aku mengelus dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku merasa hatiku  seperti  mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan buku-buku kuliahku yang berantakan di lantai ruangan kamar biruku. Aku membuka, mengunci pintu dan menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di malam menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan ada pula yang seperti sengaja menabrak tubuhku dan meminta maaf padahal aku yang tak begitu memperhatikan arah langkahku. Aku jengkel dan berteriak memaki dalam hatiku meskipun ku tau aku hanya melapiaskan jeritan hatiku karena sebab lain. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. “Ampun, suara apa lagi ini?” Samar-samar aku seperti melihat bayanganya sedang menyapa dan tersenyum padaku. Ku balas senyum itu, tapi seketika dia menghilang. Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu hatiku begitu sulit mengikhlaskan semuanya dan kini sedang berteriak. Aduh, manusia. Mengapa kau harus mengenal cinta namun harus merana. Mengapa kau memiliki hati namun kau biarkan hatimu menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu yang menyedihkan. Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung. Aku menatap rupa patung itu yang penuh amarah. Mataku berkaca – kaca. Hatiku terus mengoceh sekali – kali berteriak namun suaranya terbawa angin. “Aku ingin bertemu! Aku merindukanmu!” Tak ada jawaban bahkan bulan dan bintang terdiam menontonku terisak. . Seminggu kemudian, Matahari bersinar tanpa ragu,  Aku berdiri di depan kaca, pakaian yang kukenakan begitu formal. Aku tersenyum merapikan tataan brosku. Titt…Tittitttt… Klakson yang mengganggu pendengaran membuatku terburu-buru menuruni tangga kos. Hari ini adalah hari di mana aku akan menjadi seseorang yang penting dalam acara penting. Dak-dik-duk jantungku berdetak lebih cepat tak sabar untuk sampai di tempat acara. Motor kami harus memutar karena ada kegiatan orasi mahasiswa. Huh, lima menit lebih lambat dari yang di perkirakan untuk menginjakkan kaki di tempat acara. Sambutan panitia tetap ramah dan patut dipuji. Wow, ruangan terasa seperti taman bunga lalu sedetik kemudian seperti gurun pasir. Aku tak bisa bernafas, tercekek mendadak, tenggorokanku kering, tak mampu berucap. Beruntung ada seseorang di sampingku yang menyadarkanku. Seseorang yang selalu menantiku membuka hati untuknya. Aku tetap tersenyum, hanya itu yang mampu kulakukan untuk sekian banyak orang di kursi peserta terutama beberapa di sekelilingku dan special untuk yang berada tepat dihadapanku, hingga acara dimulai. Ia menatapku dalam lalu tersenyum. Acara memang luar biasa, berjalan lancar, antusias peserta menambah ramai suasana membuatmu melupakan hanyalan bodoh yang sempat terlintas di benakku. . Aku sudah memasang helm saat seseorang datang mendekat, menghampiri lalu tersenyum pada kami. Ia menjulurkan tangan. Aku lama tak membalas malah menaikan alis tanda berpikir dan tanya tanya didalam kepalaku, hal tersirat yang terbaca dari raut wajahku. Ia mengerti itu, menarik kembali tangannya. Aku paham maksudnya, bukan pura –pura hanya saja entah mengapa sulit membalas jabat tangannya. Aku melirik pria lain yang berdiri di sebelahku, ia hanya sedang menatapku lalu menatap pria di hadapanku, tak berucap apa-apa, ia begitu sabar tak ingin mencampuri urusanku, aku sedikit tak nyaman dengan kejadian ini. Pandanganku kembali fokus pada pria di hadapanku, aku berucap. Terima kasih dan maaf. Hanya itu, dan ia mengangguk. Sepertinya ia masih paham dengan maksud-maksud tersirat dari setiap tindakanku meskipun dua tahun berlalu. Ia melangkah lebih dekat, membenarkan letak helm dan menarik pipiku. “Pulanglah! Baik-baik ya!” Pesannya dan aku hanya mengangguk. Saat pria masa-laluku pergi dan tak memoleh lagi, pria yang tiada hentinya menantiku meraih tanganku dan membawaku jauh dari sana, menikmati sejuknya air terjun, mendengarkan dan menyaksikan ombak di seja hari. Dia membujukku meneriakkan seluruh perasaanku kepada angin yang bertiup kencang di pantai Sabtu sore itu. Aku letih, suaraku mulai tak terdengar. Kakiku lemas dan aku terisak. Ia mendekat, berdiri sejajar denganku, meraih bahuku pelan dan menuntunku berbalik arah berhadapan dengannya. Aku tertunduk malu, ia tetap menatapku, detik kemudian menggenggam tanganku lembut. Ada kata maaf yang ingin terucap dariku namun tertahan, ia tak berkata apapun. Ia memelukku. “Menangislah,” Ucapnya lembut mengusap rambutku. Aku terperangkap dalam peluknya. Aku berdiri dengan kedua telapak tangan menutupi wajahku. Masih ada sisa-sisa isakkan. “Menangislah, lalu berpalinglah padaku,” Ia kembali berucap. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Aku merasa bersalah tapi aku tak bisa mengatakan apa-apa. “Aku akan menunggumu. Jadi belajarlah menatapku,” Aku masih terdiam mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan. Tangisku mulai surut. “Aku tak memiliki kunci hatimu, tapi harusnya kau tau aku sangat ingin memilikinya. Jika memang aku tak akan perna memilikinya, kuharap suatu hari tak terkunci lagi,  hanya terbuka untukku, dan aku bisa masuk kesana tanpa memaksa pemiliknya.”  Aku masih membisu. Hening. Suaranya tak terdengar lagi. Dia melonggarkan pelukannya dan berlahan lingkaran lengan itu terlepas. Ada sedih  tiba-tiba terasa. Apa aku takut dia pergi dariku. Aku tak menginginkan itu terjadi. Aku hanya tak ingin menyakitinya. Dia terlalu–, Aku tak bisa menjelaskannya. Aku mengigit bibirku memutar otak untuk mengatakan sesuatu. “Ma—aaff,” Ucapku terbatah. Ia menelan ludahnya. Aku mendongkak menatapnya. Ada kesedihan dari sorot matanya. Ini pertama kalinya aku melihat kedalam mata coklatnya. Aku tak bisa mengatakan sesuatu lagi selain satu kata itu. Kupikir dia akan berbalik dan meninggalkanku. Ia malah memelukku. “Tidak apa-apa. Aku akan menunggu.” Tanpa sadar aku membalas pelukkannya. Rasa takutku berevolusi menjadi rasa tenang, senyum mengembang begitu saja. Aku menangis tanpa suara. === Jangan protes jika ini ceritanya jelek. Saya cuma iseng saja, tapi saya berharap saran ya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s