Lapar by Mie Nurmie


Gaje. Hanya iseng.

====

Mia mengelus perutnya merasakan sakitnya menahan lapar. Ia pintar memasak tapi tak ada sesuatu yang bisa diolah menjadi makanan enak. Cemilan sudah tak punya. Tak mungkin juga penjual makanan lewat. Jika ada patut dicurigai itu hantu, lihat saja jam dinding sekarang sudah pukul 00:00 malam.

Dengan cepat gadis itu mengeluh di jejaring sosial. ‘Nasib. Insomnia sering kelaparan. Kangker, bahan gak ada. Jadilah anak kos yang merana ditengah malam.’

Mia melangkah menuju rancang dan menghampaskan diri. Mata yang enggan terlelap. Perut yang terus bernyanyi membuat moodnya hancur.

Pdipp…

Suara dari leptop yang masih dengan layar menyala dan posisi online. “Siapa sih. Sudah malam juga.” Gerutunya.

Pdipp…

“Ah, jengkelin banget.” Keluhnya menyeret kaki dan duduk di depan benda biru itu. Matanya melebar tak percaya membaca nama pengirim pesan itu. Mia tersenyum. Lebih tersenyum membaca pesan singkat itu.

“Belum tidur? Insomnia?”

“Belum kak. Lapar nggak bisa tidur.”

“Makan dulu.”

Hanya dua kata yang tak bertanya malah terkesan menyuruh salah diartikan oleh Mia. Ia mengetik cepat menjelaskan semua. Bercerita seolah orang itu ada di hadapannya dan mengerti curhatannya.

“Hm…” Hanya itu balasan dari Andra membuat Mia menggerutu kesal.

“Kak Andra lembur lagi?” Mia mengalihkan. Tak ada balasan hingga 5 menit berlalu.

“Kak Andra sudah tidur ya?” Lagi, 5 menit berlalu. Mia mematikan leptop dan mencoba memejamkan mata. Tak bisa. Mia menghela napas panjang. Meraih ponsel dan mulai mengetik imail dan pasword.

“Saya baru balik dari beli nasi goreng.” Pesan masuk dari Andra 3 menit lalu.

“Bagi dong kak. Pasang wajah melas kelaparan.”

“Nih. Sodorin nasi goreng.” Ada emot yang disisipkan di sana.

“Ih baiknya. Mau ngambil gak jadi, kan Kak Andra juga lapar.”

“Saya memang baik.”

“Tapi tidak ikhlas kan?” ada emot cemberut dan senyum di sana.

“Ikhlas. Mumpung masih satu suap.”

“Beneran kak? senyum lirik makanan. Ambil sendok sekalian piring?”

“Terserah. Bebas.”

“Kalau mau semuanya? boleh?”

“Tidak boleh.” Lagi, emot di sana. Mia Tersenyum sebari mengetik balasan.

“Kalau gitu bagi dua ya kak (Jalan ke dapur, ambil sendok dan 2 gelas).”

“Iya de.”

Mia tertawa. Entah apa yang terlintas di kepalanya. Jelas ia sediki mengharapkan itu nyata.

Tak perduli dengan wajah aneh seseorang di sana. Beberapa detik berlalu Mia menepuk pipinya tersadarkan perut yang keadaannya masih sama. Perut yang meraung.

“Aduh. Andai beneran bisa dimakan kak.” Ada tambahan mengeluh lainya di sana.

“Coba jalan ke dapur.”

“Ngapain? (pertanyaan sok polos)”

“Nyari makan.”

“Nyari(?) Adanya buat makan kak. Bukan nyari karena bukan tikus. Hehe”

“Ya sudah. Makan yang ada.”

“Garpu(?)” Tidak ada yang lucu, Mia terkekeh puas. Mia tak percaya dia bisa bercanda dengan Andra. Jika di tesuri ini pertama kalinya. Mia selalu terbawa serius jika berinteraksi dengan Andra. Itu mungkin karena memang Andra yang terkesan serius dan menlarkan pada gadis serba salah itu. Mia lebih tersenyum puas ketika emot suram yang dipersembahkan Andra untuknya.

“Makanan manusia.”

“Iya kak. Ini lagi di dapur kok. Nunggu nasi masak. Mau buat nasi goreng juga.”

Andra hanya membalas dengan senyum. Mia melirik tak membalas karena fokus memasak di tengah malam. Sambil berharap penghuni asrama yang lain tidak terbangun dan menyangkanya maling hingga menggebuki.

Pdipp…

Pesan Andra terabaikan hingga dua menit kemudian Mia meletakkan nasi goreng di atas meja. Mengambil posisi duduk yang nyaman dan melahap makanan dengan santai. Sesekali meletakkan sendok di sisi piring lalu jemarinya sibuk mengetik balasan. Banyak hal yang menjadi topik malam itu, termaksud jenis musik dan lagu favorite.

“Hua. Kenyang (lapor pak Rt, Rw, Camat, hehe)”

“Hm…”

“Senyum. Kak Andra masih lembur?” Mia tak tau ingin bertanya hal apa lagi. Lagi pula ini sudah larut malam takut ada setan lewat terus menggoda untuk mengatakan hal yang tak layak.

“Saya sedang tidak kerja.”

“Itu maksudnya kerja. Okey. Semangat. Saya tidur duluan kak.” Mia menguap kecil. Terbukti perut kenyang ngantuk menjadi-jadi.

“Oke.”

“Selamat malam. Eh, selamat pagi kak. Sudah berubah tanggalkan. Hehehe” Mia mengklik keluar setelah membaca balasan terakhir Andra. Mia menuruni tangga, mencuci wajah, tangan dan kakinya. Menggosok gigi dan kembali ke kamar. Menepuk-nepuk bantal, menarik selimut dan boneka besar sebagai gulingnya. Berdoa, tersenyum dan terlelap.

======

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s