Archive | Januari 2014

30/01/2014

Hm… Pengen nulis banyak tapi bingung mau nulis apa dulu. Kalau gitu tar aja deh, sekarang waktunya istirahat dulu. Intinya Thanks for Allah, my family, and thanks all. Thanks a lot ^^

===

By LC UNMUL

Ucapan : Congraduation ,♥ | Selamat ya sahabat dan pengurus Lesehan Cendekia Mulawarman,..
smoga bertambahnya gelar maka semakin bermanfaat bagi masyarakat,..

28/01/2014 [Thanks]

scooter_anime_girl-1600x900

Apa yang kutunggu? sejak pagi aku melakukan aktifitas rutin tanpa semangat. Lalu sekarang sudah pukul 9, matahari sudah bersinar dari tadi tanpa ragu. Pakaianku sudah rapi sejam sejak embun masih terlihat. Tapi, mengapa aku duduk terdiam merenung seperti menunggu sesuatu.

Ini hari yang harusnya menyenangkan. Semakin dekat hari pertempuran yang selalu ku nantikan, namun mengapa aku malah was-was dengan semua itu. Masih masalah yang sama dengan kemarin dan kemarin-kemarinnya. Masih terganggu dengan bukti pembayaran yang tak bisa kuperoleh pagi ini. Aku tak punya cukup lembaran untuk membayar. Ini payah. Benar-benar payah!

Ini resiko jika sudah tak memiliki tabungan lalu sudah tak bekerja lagi. Payah. Ini sangat payah!

Sudah satu jam aku duduk di depan meja mungil yang di atasnya ada sebuh leptop. Aku tidak senang mengotak atik isi benda biru itu. Aku hanya duduk memegang ponsel, tasku terpasang di kedua bahuku, berat tapi aku tak perduli. Aku resah, tiba-tiba rasanya ada cairan yang memaksa keluar dari mataku. Kutahan segala rasa menyedihkan yang mulai mempengaruhiku. Kulepas tasku. Kurapikan buku-buku di sekelilingku yang susungguhnya memang sudah rapi. Aduh, perasaan apa ini. Aku takut gagal lagi, aku tak mau semuanya tertunda lagi. Ya, Allah. Tolonglah. Batinku memohon.

Aku berharap ada hujan uang, setidakknya berikan aku beberapa yang berwarna merah. Nanti akan ku kembalikan jika memang harus ini terjadi.

“Sudahlah. Gak bisa diharap lagi. PHP! ingkar janji! Munyakkk!” Kesalku sudah jengkel kepada temanku yang janji mengirimkan uangku. Andai kami berada di kota yang sama, ku datangi dirinya. Huh, kecewa menjalar dalam diriku, aku lemas perutku mulai sakit. Aku belum memakan apapun, dan belum meminum setegukpun dari pagi. Payah.

Aku sedih, mengingat niat baikku menolong kawan saat ia mengalami masalah sepertiku meski aku juga membutuhkan lembaran-lembaran saat itu, tapi kurelakan untuknya. Lihatlah aku yang terbelenggu hal tak pasti begini, tak adakah niatmu kawan berbaik hati padaku.

“Maaf, Ma.” Ucapku pada diri sendiri, takut mengecewakan orang tuaku lagi. Bulan lalu aku pertama kalinya menangis di hadapan mereka karena merasa bersalah, ingkar janji untuk lulus kuliah secepatnya. Ah–aku tak seburuk ini dulu, aku tak sepesimis ini dulu.

Ya Allah, tolonglah. Sudah lebih 10x aku menekan tombol panggilan tapi tak ada jawabn dari kawanku. Ya Allah berikan alternatif jalan keluar. Hanya beberapa detik aku menangis, kuusap dengan cepat air bening yang mengalir di pipiku saat kusadari adikku datang dari kerja paginya di dekat kost.

“Gak jadi ke kampus?”

“Ah? iya ini mau jalan kok. Sudah makan?”

“Sudah tadi tempat ibu (tempat kerjanya)”

“Oh. Hari ini kerja jam berapa lagi?” aku melirik jam di ponselku

“Kena jadwal siang. Sudah makan?”

“Sudah tadi.” Aku berbohong.

===

Aku memilih pergi dari kostku.  “Oia, nanti kalau di antar kerja sms aja. Kali aja aku sempat gantar.” Ucapku berbalik dan benar-benar pergi setelah dia menjawab “Iya,”.

Aku pergi. Bingung mau kemana dan melakukan apa sebenarnya. Banyak yang harus diurus, tapi kuncinya bayar spp dulu. Aku duduk di kursi  di sekitar kolam di fakultasku.

Apa yang kutunggu? Menghayal hujan uang? Atau ada orang kaya yang bisa membaca pikiranku dan dengan baiknya memberikanku uang? Ah, kedua hal itu mustahil terjadi.

Aku sedikit menyesal menggunakan tabungan terakhirku untuk ke dokter. Harusnya aku beli saja beberapa obat di apotik, sakit seminggu belum tentu matikan. Ah, itu tak harusnya terpikirkan dan disesali. Itu sudah jalannya.

Aku bosan berada di sana, mendapat lirikan bahkan tatapan aneh dari beberapa orang yang lewat. Aku kembali ke kost. Tadi saat lewat depan bank di kampus, masih seperti hari-hari 3 minggu ini, antrian begitu banyak. Aku lagi-lagi tidak mood memikirkan masalah uang, tapi ini harus dipikirkan…. Dan kini sudah pukul 11.12 di Selasa super panas ini.

===

Aku bermalas-malasan, tidur di lantai masih dengan kostum formal yang ku pakai ke kampus. Tengkurap-terlenang-gerak sana-sini, menatap plafon. Pukul 12: 15, ponselku berdering, membuatku spontan merasa senang.

“Thanks ya–” Balasku kepada pengirim pesan.

Dengan cepat kuraih kunci motor yang tergantung di sisi kanan mading kamarku. ATM di depan pintu gerbang kampus sedang tak bisa digunakan, aku harus mencari ATM lain yang lumayan jauh dan antri. Sebelum kembali ke kost, aku membeli sebungkus makanan, maklum dengan keadaan mood hancur aku tidak memasak apa-apa hari ini. Berbarengan dengan langkahku menaiki tangga kost, azan zuhur tendengar. Aku mengisi perut dulu sebelum sholat.

Pukul 13:23.

Langkah cepatku (sedikit berlari), menghidupkan motor dan menuju kampus.

“Wah, antrian banyak banget…” Aku mengambil nomor antrian dan keluar ruangan memilih menunggu di luar, di dalam tak ada tempat duduk dan terlalu banyak orang.

“Di mana?” Pesan masuk.

“Di Bank. Lagi Antri.”

“Nomor antrian berapa? Masih lama kah? maaf ya tadinya enggak perna angkat telpon.”

“266. Masih sekitar 37 dari sekarang. Iya gk papa.”  Meskipun aku membalas begitu aku masih sedikit kesal. Sekitar 10 menit kemudian. Pesan dari gadis itu  ada lagi.

“Mi, sudah aku kirim. Semangat ya—” Ia menyisipkan emot senyum di sana.

“Okey. Thanks.” Balasku cepat lalu lebih memilih belajar lewat ponsel.

===

13:47

Masih sekitar 20 nomor antrian. Kurasa aku tidak akan sempat bertemu Pembantu Dekan II hari ini. Bosan menunggu di luar, aku masuk kedalam. Duduk sambil main game. Seorang gadis melangkah mendekat dan dengan wajah manisnya tersenyum padaku.

“Nur,” Sapanya berdiri di depanku.

“Loh. Yu, kamu belum lulus?”

“Sudah baru tanggal 16 kemarin. Kamu belum kah?”

“Ow. Terus ngapain di sini? Bayar spp lagi? Aku dua hari lagi baru pendadaran.”

“Ini nah aku lagi nemenin Novan. Ow–Semangat ya! Kamu terus ngapain? Bayar spp lagi?”

“Iya nah, padahalkan cuma dua hari lagi. Lumayan kan uangnya bisa di simpan untuk wisudaan.”

“Loh, aku enggak bayar loh.” Mendnegar itu langsung bad mood. Memang fakultas kami berbeda namun tetap saja satu universitas. Dan ruginya jika bernasip seperti aku ini.

“Iya, kemarin sudah minta ke dekanat tapi tetap gak bisa.”

“Wah, sabar ya Nur. Yang penting bareng nanti Maret wisudanya.” Aku hanya menggangguk, seorang pemuda dengan kemeja hitam menoleh ke arah kami. Itu Novan.

“Yu–Di tunggu tu.”

“Ah, Iya.”

Gadis yang ku kenal karena satu SMA serta selalu satu kelas dulu itu berjalan kembali ke tempat duduknya. Beberapa menit kemudia ia menoleh dan berbicara pake bahasa isyarat. Bertanya nomor antrian. Lalu kembali menghampiri.

“Nur. Titip boleh.”

“Iya.”

“Aku harus nemuiin dosen. Janji jam 2 tapi ini sudah lewat. Mau ngurus SKL.”

“Iya. Mana uangnya.” Ia memberikan uang lembar biru entah berapa jumlahnya. Nama legkap Novan, fakultas, dan NIM tertulis di belakang nomor antrianya dia. Pasti ia akan mengantri hingga jam 15 nanti jika mengikuti nomor itu. Nomor 287.

“Kami nunggu kamu aja deh, Nur. Nanti slipnya gimana?”

“Iya Terserah aja.” Ia kembali duduk di depanku. Aku duduk di barisan kedua dari belakang menekan-nekan layar ponselku menghabiskan daya bantrainya dengan main game.

“Yu,” Panggilku. Ia menoleh. “Ini, uangnya kamu aja yang pegang, bareng aja maunya.” Ucapku mengulurkan tangan.

===

A0266.

Aku maju, gadis dengan kostum hijau toska itu beridir di sampingku. Aku lah yang terlebih dulu, namun sedang gangguan jadi terasa begitu lama. Aku lebih dulu pergi dari sana. Ku harap aku masih sempat fotocopy dan menyerahkan semap berkas untuk verifikasi. Ternyat TIDAK.

Baiklah. Aku pulang ke kost. Setidakknya hari ini aku sedikit tenang. Lalu menyusun rencana untuk menyelesaikan seggalanya besok. Harus selesai besok, termaksud menyerahkan undangan kepada para dosen.

Thanks for—

Allah SWT…

Mama-Bapak yang ku tau selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya yang jauh darinya ini.

Kedua kakakku beserta istri dan keponakanku yang ganteng, yang cantik… Hehe

Adeku. Yang di kota ini dan di rumah. Love u de.

Semuanya deh. Thanks a lot. 😀 😀 😀

===

Samarinda – 28/01/14

27/01/2014 [Think]

DSC00493Hanya sebuah ungkapan tetang hari ini.  Menulisnya sebagai ganti bercerita. Yah, aku tak tau harus berkisah pada siapa selain kepada-Nya dan menuangkan dalam tulisan sebagai perasa legah. Berhentilah membaca, karena sesungguhnya ini tak penting sama sekali bagimu, kecuali kau ingin belajar sesuatu yang entah apa sebenarnya yang bisa dipelajari dari cerita (curcol) tak jelas ini. Hehe–

===

Gadis mungil itu bangkit sambil menguap. Itu aku. Rupanya semalam aku tertidur di lantai depan ranjang lagi. Sebentar aku melirik kejendela sebelum keluar kamar. Diluar msih gelap, bahkan mesjid belumb erbunyi. Aku nenuruni tangga dengan langkah pelan, kepalaku sedikit sakit, begitu pula dengan perut dan kerongkonganku. Dehidrasi dan kelaparan. Terakhir kali menyuap nasi kemarin pagi, lalu galon di kostan yang sudah kosong 3 hari membuatku harus menghemat air sebotol yang kubeli kemarin.

“Ahh–seger” Aku menyapu wajahnya dengan air.

Cukup lima menit aku berada dalam ruangan warna putih dan sempit itu. Aku kembali ke kamar. Kamar sederhana itu, kamar yang terdapat ranjang dan rak-rak buku, menjadi saksi tangisku dalam sujud. Lalu suara serak melantunkan ayat-ayat Allah yang tertulis sejalas dalam Alquran.

Allahuakbar aku menangis lagi. Hatiku gunda hingga membuatku merasa hina. Tak bisa bersabar, tidak ikhlas, dan lemah terhadap cobaan. Aku merasa tak beguna dan malu pada sang pencipta.

Aku sudah terbiasa, tak akan tidur kembali hingga pagi. Bahkan jika aku terbangun sebelum jam 4 subuh. Aku bersandar pada ranjang memangku sebuah buku tebal yang tercetak jelas tulisan ‘Fisika Universitas’ di halaman sampul buku. Aku menjejalkan rumus-rumus rumit ke otaknya sebari menunggu azhan subuh. Tepat saat bosan belajar menyerang, panggilan untuk sholat begitu merdu terdengar. Aku bangkit dan melaksanakan kewajiban sebagai hamba.

Seperti hari-hari yang sudah-sudah, aku sudah siap sebelum pukul 6 pagi. Pagi ini aku sengaja mengguyur kepalanya agar menghilangkan penat kepalanya jika memikirkan masalah-masalah yang datang bersamaan.

Matahari mulai bersinar, embun di atap rumah-rumah mulai hilang. Aku dengan baju hitam, rok dan jilbab biru langit tersenyum di depan kaca. Ada apa? Aku terlihat tidak tulus. Senyum yang dipaksakan. Aku menarik pipi dan mensugesti diri agar mempertahankan senyumku. Wajah mendungku harus disembunyikan.

Masih pukul 7 pagi. Aku sedang puasa hari ini jadi tak ada menu sarapan pagi di meja. Aku hanya memasak nasi untuk adikku lalu kembali ke kamar. Terserah ia ingin membuat menu apa anti, toh dia pandai memasak juga. Berkutik dengan benda biru yang aku beli 3 tahun lalu demi mata kuliah ‘Aplikai Komputer’ yang menuntut agar memilikinya. Aku membuka beberapa file skripsi, surat-surat persyaratan dan beberapa lampiran. Aku berbalik menekan tombol on pada printer dan mencetak beberapa lembar surat dan hasil revisi skripsi. Setelah semua siap didalam tas, lima menit kemudia aku menuruni tangga kost dengan cepat pada pukul 8 lewat 12 menit.

===

Dengan pelan dan hati-hati, aku memarkir motor hijauku di sela-sela motor lain. Aku tersenyum pada seseorang yang menyapa lalu berjalan menuju ruang Pembantu Dekan II. Menyebalkan, faktanya aku gagal Verifikasi berkas. Sesungguhnya aku sudah yakin harus membayar spp lagi meskipun sisa 3 hari lagi aku akan pendadaran. Aku juga sudah lama ingin membayar tapi aku tak punya cukup uang. Bahkan kostanku sudah memasuki bulan baru, lalu motorku harus sudah dibayar karena batas pembayaran 2 minggu lalu. Aku duduk sejenak di kursi pinggiran luar ruangan itu, menenangkan diri, memutar otak mencari solusi.

“Ah, nyebelin” Gerutuku kesal. Berkasku sudah kulengkapi dari tahun lalu, bulan Desemberlah rencananya aku akan wisuda. Namun apa daya bulan November tahun lalu gagal menjadi bulan kelulusanku. Kini 27 Januari, aku harus diusingkan dengan 1 lembar kertas bukti pembayaran yang bahkan aku tak akan mengikuti perkuliahan apa-apa lagi.

Lima menit sudah aku duduk di sana, namun tak ada solusi yang terlintas di benakku. Memintah pada orang tua tak mungkin, terakhir aku pulang dua minggu lalu karena adikku libur kerja, aku tau ibu hanya punya uang 400 ribu dan itu untuk  pupuk dan keperluan sawah lainnya, lagipula jika ibu punya uang siapa yang akan pergi ke bank lalu mengirimkannya padaku, rumah kami lumayan jauh. Tak ada senyum dalam wajahku. Aku membuka akun twitter dan facebooknya untuk menghilangkan bosan.

Teringat percakapan dengan teman tadi pagi. Dengan cepat ia load out, dan mencari daftar nama teman tersebut di kontak. Bersamaan itu, sosok itulah lebih cepat menelponku. Ponselku bergetar dalam genggamanku.

“Assalamualkum. Neng?”
“Wa’alaiksalam, Mi. Dimana?”
“Di kampus neng.”
“Gimana?”
“Nah. Bapaknya masih bisa pulang sepertinya.”
“Terus gimana?”
“Ini baru mau ditelpon untuk memastikan”
“Okey. Kabarin ya.”
“Iya…. Assalamualaikum.”

Yah, dosen pengujiku itu sudah dua minggu di Surabaya dan minggu lalu aku harus was-was membujuk ketua prodi menggantikannya pada ‘Pra Pendadaranku’ dan jumat kemarin aku gagal untuk maju ‘Pendadaran’. Aku mendaftar paket telpon, sekalian nanti mau nelpon orang tua nanti. ‘Dosen Pak …’ begitu nama kontak itu.

Tuttt… tut. Alhamdulillah di angkat.

===

Tak lama percakapanku dengan beliau. Kurang dari 3 menit. Intinya Beliau belum bisa kembali ke kota ini, ke kampus apalagi hadir di pendadaranku hari kamis 30 januari 2014. Aku terdiam setelah mengucap salam dan menutup sambungan terlpon.

“Bagaimana Mi? oia aku lagi di depan Lab.” Pesan dari temanku yang sudah menunggu dosen yang sama. ia butuh tanda tangan untuk skripsi yangg sudah di jilid. Dua minggu sudah ia bolak balik membawa 7 buah skripsi tebal. Beruntung ada kembarannya yang kuat, maklum cowok.

Aku tak membalas. Aku berdiri melangkah menuju motor, menggunakan kaos tangan dan helm lalu menghampirinya. Setelah berbicara sebentar aku pergi lebih dahulu menuju prodi dengan tujuan meminta keputusan sesuai perintah sang dosen.

Tak ada satupun dosen di sana. Hanya ada temanku yang kini menjadi staff. Ah, aku lupa kan dosen fisika libur sampai hari rabu. Bagaimana ini?

Aku pergi meninggalkan lantai dua gedung itu. Duduk sebentar di depan bangunan biru-putih itu, berpikir apa yang harus kulakukan. Lulu putuskan untuk pulang ke kost saja.

Tak ada satupun orang di kost. Kulirik kamar Hotaru terbuka lebar, kuintip tak ada orang. Adikku juga tak ada di kamarku maupun di kamar mandi. Pantas saja tak ada yg menjawab salamku. Ini sudah jam 11 lewat mungkin adikku sudah berangkat kerja.

===

Aku duduk di ranjang, meletakkan tasku yang super berat di sampingku. Aku menghebuskan napas keras. Mengelus dada menyabarkan diri. Aku mencari ponselku di bagian kantong tas. Kutekan tombol memanggil ke nomor ponsel adikku. Rupanya dia sedamg berada di kontakan temannya karena off kerja hari ini. Panggilan berikutnya ke ponsel adikku di kampung. Semalam ia mengirim pesan menyuruhku menelpon, namum pikiranku sedang kacau, salah satu penyebabnya masalah adikku yang kuceritakan (kutulis dua hari lalu). Aku juga ingin mendengar suara mama. Tiga panggilan tak terjawab moodku bertambah rusak.

Kutekan tombol panggilan pada seorang sahabat yang akan mengirimkan uangku dua hari lalu. Tak sekali saja dijawab atau membalas pesanku. Bagaimana ini aku membayar sppku? uang di domperku sisa 2 lembar, ATMku sudah kosong. Tabungan kecilku di kamar sudah kosong. AHHH, ini menyebalkan. Aku harus lulus Verifikasi, meminta tanda tangan Pembamtu Dekan III, lalu mengurus urus undangan yang ditandatangani bagian Kasubag Kemahasiswaan dan Dekan. Ah, besok itu semua harus usai dan undangan harus diserahkan di tangan para dosen. Ah, aku pusing memikirkan ini. Bagaimana memhibur diri selain mengucap istighfar dan Allahuakbar.

===

Kulirik jam dinding yang mati. Pukul 1 lewat. Aku beralih melihat jam pada ponselku. Baru akan pukul 1 siang 20 menit lagi. Kunekatkan diri untuk menekan panggilan yang ditujukan ke Ketua Prodi.

“Assalamualakum Bu.”

“Wa’alaiukumsalam. Nurmi. Iya ada apa?”

“Bla bla bla …”

“Hm…”

“Bla bla bla … “

“Hm…”

“Jadi bagaimana bu? Bla bla bla…”

“Iya. Bla bla bla …”

“Jadi bla bla bla ….”

“Iya. Bla …”

“Makasi Bu. Assalamualaikum.”

*Bla bla bla (Percakapan disamarkan. Hehe)

Keputusan dari percakapan itu, Alhamdulillah ujian Pendadaran saya tak perlu di tunda. Masalah belum selesai karena aku belum memiliki uang. Aku geram, ini pertama kalinya aku ingin meminjam sesuatu dari kakak laki-lakiku yang dulu sempat tidak merestuiku meneruskan pendidikan hingga sejauh ini. Hasilnya nihil, ia tak memiliki uang yang kubutahkan, aku butuh 1 juta agar uang spp lunas, uang komsumsi pendadaran aman, dan keperluan lain terkendali. Tapi, aku harus bersabar, karena kakak memang tak memiliki uang, anaknya baru saja sakit.

Aku melarang kakakku memberi tahu mama-bapak dirumah, tapi sepertinya harapanku tidak akan terwujud, cepat atau lambat mereka akan tau, tetap saja aku tak ingin mengharapkan penyelesaian itu dari mereka, yang selalu kuharap dari beliau hanya doa terbaik, doa tulus.

Panggilan sholat Zuhur terdengar jelas karena sunyi kost begitu terasa. Aku bangun dari ranjang dan menghadap sang Ilahi.

===

Aku menelpon dua orang teman untuk mengobrol, namun mereka tak ada yang menjawab. Aku beralih ke nomor ponsel rumahku. Sebelumnya menelpon adikku yang sedang bersama temannya untuk memastikan keputusannya berpisah denganku (tempat tinggal).

“Hallo de. Sudah bilang bapak-mama?”

“Soal apa?”

“Soal yang kemarin-kemarin?”

“Belum. Kamu habis nelpon mama?”

“Belum. Baru akan. Mau aku kasi taukan mama kah?”

“Gak usah. Kan katamu gak usah pindah. Tinggal sama kamu aja sampe kamu wisuda. Lagipula alasanmu kayanya bener.”

“Okey. Mau salam sama mama?”

“Iya.”

“Ya sudah. Assalamualaikum.”

Alhamdulillah, satu lagi masalah selesai. Terima kasih ya Allah.  Tapi lima panggilan tak terjawab lagi. Sepertinya orang tuaku sedang di tengah sawah, ini jam 2 siang. Biasanya aku menelpon sore atau pagi. Aku menyerah dan menyimpan ponselku di atas meja.

===

Kost ini begitu sunyi, hanya ada suara radio dari ponselku. Aku tak bisa fokus belajar, yang terngiang selalu uang di kepalaku. Dan, kesal pada diri yang sempat melintaskan pikiran “Uang segalanya”. Huh, Bagaimana tidak aku selalu memiliki masalah yang sama. Teringat saat aku menangis sepanjang malam karena takut tak bisa membayar spp, waktu itu esoknya adalah jadwal hari terakhir pembayaran namun tabunganku sudah habis, uang di tangan hanya 1/4 dari yang kubutuhkan, aku yakin ibu tak punya, lalu aku belum memperoleh gajiku. Polosnya aku yang takut dikeluarkan dari kampus. Memang jika dalam situasi kalut sulit berpikir positif. Allah menolongku dengan perpanjangan pembayaran.

Tapi kali ini aku harus menyelesaikannya dalam sehari. Ah, mana teman yang menjanjikan uangku? aku mulai munyak padanya yang selalu mem PHP dan mengingkari janji.

Dari pada aku menangis. Kuraih tasku, kukeluarkan skripsi dan surat-surat lain. Kusisakan pulpen, penggaris, dan buku kecil, dan kumasukkan sebuah buku pelajaran serta beberapa lembar kertas sebagai coretan. Aku meninggalkan kost menuju taman di samping perpustakaan kampus. Aku belajar di sana, hanya sekitar 40 menit. Kembali ke kost yang masih sepi, aku Sholat Ashar setelah itu kembali mengotak atik ponselku. Bosan. Aku mencuci 2 pasang pakaian yang ku sisakan tadi pagi. Lalu merebahkan diri, namun enggan terlelap karena 5 menit lagi pukul 5 sore.

===

Malam tiba. Aku mulai santai dan tenang. Kuserahkan segalanya pada Allah bagaimana esok. Bersamaan dengan aku usai sholat magrib. Kak Usna datang, untuk melakukan sesuatu (….)

Kamarku jadi ramai karena Hotaru juga ikut bergabung berguling-guling di kasur dengan boneka hijau besar milikku, sambil sesekali menyahut tentang pertanyaan kak Usna. Aku sibuk belajar (mencoret-coret kertas, menganalisis bagaimana rumus satu berhungungan dengan yang lain.)

Setelah Isyah, ade Ayu juga pulang dari acara ulang tahun temannya. Makin ramai, gadis yang lebih mudah dua tahun dariku itu memang suka sekali bercerita, suasana jadi penuh candaan. Aku menutup buku dan merapikan kertas-kertas yang berisi coretan abstrakku, toh aku sudah tidak bisa kosetrasi karena bully mereka.

Hangatnya kebersamaan malam ini, di temani cemilan pisang aroma yang super manis hingga membuat gigiku mengilu. Ah, ada yang kurang. Adikku, dia tak pulang lagi malam ini, ia mengnap di kontarakan temannya. 😥

“Ya Allah. Maaf karena hari-hari hamba tak pernah luput dari keluhan. Maaf karena hampa tidak mensyukuri karuniaMu dengan benar. Terima kasih atas segalanya. Semoga esok menjadi hari yang lebih baik dengan penuh rahmatMu, semoga semuanya membaik dan teruslah jadikan kami hamba yang  senantiasa bertakwa dan tiada hentinya rindu akan surgaMu. Aaamin.”

Samarinda 27/01/2014

Me and my sister [Bingung]

Camera 360Umur kami tak jauh berbeda. Aku lahir 2 tahun 1 bulan lebih awal darinya. Secara fisik tinggi sama, namun sekilas banyak orang akan mengira akulah yang adik. Yah, itu kumaklumi karena dia terlihat lebih besar. 🙂

=== Sudah beberapa bulan ia berada di kota ini. Di kota aku sudah tinggal 4 tahun menjalani pendidikanku yang belum juga usai. Yah, aku memiliki banyak kendala untuk memperoleh gelar ‘S. Pd’ku sesuai rencana. Abaikan! aku tak akan hentinya menyeluh jika menceritakan hari-hariku. Dan aku tak ingin mengeluh. Hehe Kembali mengenai adikku. Tahun lalu (2013) ia gagal masuk perguruan tinggi. Mungkin karena ia setengah hati menjalaninya. Maksudku tidak terlalu yakin, antara mau atau tidak menjadi seorang mahasiswa. Lalu ia meminta izin pada orang tua bekerja saja di kota ini. Aku meyakinkan orang tua kami agar dia mendapatkan izin. Yah, ia bekerja atas rekomendasi temanku. Berhenti dua bulan kemudian karena ia ingin pulang dan menghabiskan waktu 2 minggu di kampung. Kembali, ia bekerja menggantikanku di salah satu pekerjaanku. Saat itu saya mulai membatasi pekerjaanku, hanya menyisahkan mengajar private, niatnya sih mau fokus penelitian skripsi, eh nyatanya saya tetap sakit-sakitan dan skripsi saya tetap tertunda. Tetap bekerja di sana. Ia juga mulai bekerja di tempat lain dengan gaji yang lumayan. Di dua tempat itu jika di gabungkan ia bisa mendapatkan lebih 2… Saya tidak bermaksud merepotkan, namun ada keadaan membuatku membiarkannya menggunakan uangnya demi kepentingan kami berdua. Harusnya aku yang bertanggung jawab, tapi aku sudah tak punya tabungan lagi dan aku sudah tak bekerja lagi sekarang. Au berniat menggantinya nanti, tanpa mengungkit apa-apa. === Aku percaya padanya. Sangat. Tapi aku terkadang tak suka  dengan tindakan cerobohnya atau tindakannya yang tak berpikir panjang,tidak mempertimbangkan banyak hal. Aku senang ia memiliki banyak teman yang sangat dekat, jangan sepertiku yang asik dengan kehidupan sendiri, tapi aku tak suka dengan hobbynya yang bertindak semaunya. Aku tau aku tak boleh melarang terlalu keras, jadi kubiarkan, tapi aku geram, meski begitu masih kubiarkan selama sewajarnya. === Aku kasihan padanya. Aku tak ingin ia mengalami hal yang sama denganku. Bekerja terlalu keras, aku sangat ingin dia melanjutkan pendidikannya seperti semangatnya tahun lalu. Tapi kini ia terlalu asik dalam dunia kerjanya. Dan kini ia memutuskan untuk mengajukan kontrak kerja. Oh, Tuhan aku ikut senang namun aku juga hawatir, sama hawatirnya dengan ayah yang beberapa lalu menyuruhku memberitahukan padanya agar tidak usah menerima atau mengajukan kontark kerja. Ayah ingin dia tetap kuliah tahun ini. Ya–Tuhan. Aku terkejut tadi pagi ia mengatakan bahwa ia akan berpisah denganku. Ia akan mengontrak dekat dengan tempat kerjanya. Akan melepas satu kerja yang di dekat kosku. Lalu, aku hanya diam saja. Aku tak tau harus bagaimana, aku tak rela tapi dia menginginkan itu. Aku bingung, menghargai keputusannya atau tetap menahanya bersamaku. Jika jujur aku sangat ingin menahanya. Tak lama hanya untuk 2 bulan kedepan. Alasanku : 1. Aku ngekos dari smp, sangat jarang bersama keluarga. Dan saat ini aku memiliki saudara di kota yang sama jelas aku ingin selalu bersamanya. Tau keadaannya dan memastikan dia selalu baik-baik saja. 2. Mama-bapak memberi amanah padaku agar aku bisa menuntun ade menjadi sosok yang berpikir dewasa, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, tidak diharapkan, dan mengajarinya lebih mengetahui banyak hal tentang bersikap. #AMANAH …. Jika sudah begini aku harus bagaimana. Mau bilang orang tua tapi tak mau nanti mereka berprasangka buruk. Aku tak berani, aku sakitpun selama ini saya tidak mengatakan apa-apa, aku tak ingin mereka hawatir. Alasan lain ayah tak selalu hawatir berlebihan padanya. Sejak smp ayah sulit percaya padanya. 3. Hemat. Jika ia kos bersama saya. Aku hanya menambah 100rb, nah dia malah mau ngekos yang seharga kos kami. Sedangkan saya minggu depan akan ‘Pendadaran’ setelah itu pulang kampung sebari menunggu wisuda bulan 3 nanti. Siapa yang menempati kosku? ditempati atau tidak akan tetap harus dibayar. Lagipula kami sama-sama dalam masa krisis, dompet tipis, atm tak berisi. 4. Nanti jika saya wisuda. Maksudnya di kos saya sekarang lebih nyaman untuk mama-bapak-adik2 untuk menginap karena dekat sekali dari kampusku. Dan aku tak akan repot menjawab pertanyaan-pertanyaan ayah tentang masalah ini dan itu tentang hal ini, kenapa ade begini begitu. 5. Aku tak mau dia seperti sekarang. Lebih mementingkan teman. Buktinya sudah beberapa malam ini dia menginap di kontarakn temannya yang tak jauh dari kosku. Ah— ini berasa gimana gitu. Bukan kesepian karena saya sudah kebal dengan rasa itu. Hanya tak ingin dia sakit. Di sana tak ada tempat tidur, lingkunganya kurang sehat, dll.  Di kos yang baru nanti entah bagaimana keadaan lingkunganya. Aku juga belum pernah lihat. Aku tak tau teman-teman kerjanya seperti apa, dan ia memilih tinggal di sana dengan alasan di sana ada teman kerja juga. Ah–Aku masih memikirkan hal lain. Di sini, kami bisa masak dan makan bersama, air tidak pernah habis, jika PDAM mati bapak kos akan membelikan air. Di sini, ada dua tempat tidur. Di sini aku bisa mengingatkannya untuk ibadah [yang mulai tidak teratur sekarang ==’]. Dan banyak alasan lain yang membuatku melarangnya. Aku memang terlalu banyak berpikir. Berbeda dengannya yang santai menjalani hidup. Itulah yang membuatku sedikit tak nyaman jika melarangnya ini-itu. Lagipula aku selalu mengingat kata-katanya 4 tahun lalu. Waktu pertengkarang pertama dan terakhir kami. Saat itu ibu sampai menangis. “Dia. Dia. Dia aja terus. Pilih kasih. Semuanya dia. Dia! Dia pintar. Dia boleh ini, boleh itu, boleh! Dia rajin. Dia sabar. Dia … Semua dia. Kesayangan sekali!” Dia berteriak, membanting pintu dan pergi. Kami memang berbeda dari SD. Dari segi prestasi, cara berinteraksi, mungkin cara berpikir. Bahkan dia sering sekali membuat ayah geram saat SMP dan SMA. === #Aku sayang sama kamu de. Sayang banget. Tapi aku gak tau harus bagaimana. Aku takut menjadi kakak yang egois tapi aku hawatir padamu. Aku ingin berbicara banyak sama kamu, tapi aku tak tau caranya. Bagaimana ini de? Bagaimana? Kami sayang kamu! doa kami dan harapan kami selalu yang terbaik untukmu, hanya saja sulit menunjukannya dengan cara yang tepat (mungkin).  Kamu tau de. Kota ini bukan adem ayem seperti yang sekilas kau lihat. Bahaya tidak kita sadari berada dekat dengan kita. Kota ini termaksud kota kriminal de. Baru saja beberapa hari yang lalu aku mendengar berita radio sekarang kota ini semakin para pengedaran narkobanya, belum  lagi kriminal lain. Ah- saya semakin banyak pikiran kan. Mikir yang tidak-tidak lagi! === #Kamu ingat tahun baru kemarin de? Kamu begitu ingin melihat kembang api di kota ini (di sepanjang pinggiran sungai mahakam), yang bahkan aku tak pernah melihatnya dan tak berminat melihatnya selama 4 tahun aku di kota ini. Demi kamu de. Aku temani. Aku rela menemanimu menjadi salah satu di barisan kendaraan yang macet di mana-mana, padahal saat itu sedang gerimis. Aku rela menahan sesak nafas karena seluruh udara tersebar asap membahayakan. Lalu aku rela sakit beberapa hari karena semua itu. Itu demi kamu de. Karena aku tak akan membiarkanmu pergi sendiri, atau dengan teman-temanmu yang juga baru berada beberapa bulan di kota ini. #Kamu ingat waktu kamu smp dan SMA de? Kamu hampir berhenti sekolah karena ayah marah. Lalu kau bertahan dan lulus. Kau bersikeras de, pengenya sekolah di tempat … dan itu menentang ayah. Kamu kalah, dan tidak sekolah. Aku sedih ngelihat itu de. Aku bujuk ayah hingga kau bisa masuk SMA di tahun berikutnya. Aku rela ninggalin beberapa perkuliahan cuma buat ngurus berkasmu de. Dan kamu berhasil melalui segalanya dengan baik di tahun pertama.  Lalu kembali bermasalah. Kamu bohong de. Bohong yang bikin guru tempatmu tinggal sedih, mengadu padaku, lalu membuat ayah geram hingga hampir kau berhenti sekolah. Ya-Allah de, Allah sayang sama kamu, Ayah dan kami semua sayang sama kamu, kamu boleh sekolah dan ngekos sesuai keingananmu. Tapi yah, selama itu aku terus memantaumu diam-diam, aku sempat geram tapi tak mengatakannya pada orang tua kita ataupun kakak (keras kepala) kita. Cuma demi menyelesaikan sekolahmu de. Meski begitu aku senang kau mendapatkan prestasi yang wah dalam beberapa bidang. Dan kamu lulus de. Kamu bandel de, tapi itu selalu kumaklumi. Saat ini aku tak ingin kamu bandel lagi. Di kota ini kamu masih baru, kamu masih belum mengenal seluk beluknya, dan belum tau seluruh situasi kehidupannya. Aku takut de. Mungkin aku egois, sangat egois dengan pikiranku sendiri, tapi kamu yang membuatku begini de. Kamu tak menunjukan sesuatu yang  meredahkan rasa hawatir. Banyak hal yang membuatku semakin menghawatirkanmu. Ah–Siapa saja yang suka menelponmu hingga membuatmu sering sekali menjauh dariku, kau takut aku mendengar? Kau takut aku mengaduh pada Ayah? Ya ampun de. Aku tak akan melakukan itu karena aku tau kau akan di paksa pulang. Situasi sekarang membuatku bingung de. Bagaiamana ini de? Bagaimana aku ingin berbicara baik dan banyak jika kau hanya menumpang mandi di sini sekarang. Aku kesal de! kesal sekali denganmu, aku sayang. #Kamu ingat de, saat kau sakit? Aku hawatir bukan kepalang. Tiba-tiba kau menaiki tangga sambil menangis memegangi dada, mebuatku kaget, panik tidak karuan. Kupikir kau habis kecelakaan. Wajahmu merah dan … Lalu kau memburuk. Ya-Allah de. Kulakukan yang terbaik untuk menyelamatkanmu. Bahkan aku menangis tak karuan, dan takut bukan main. Orang tua kita jauh. De, aku takut kau mengalami hal yang sama, bagaimana jika tak ada siapa-siapa di sana. Maaf deh de, aku terlalu hawatir. 😥 === Samarinda-25/02/2014

With Ade Ayu

Pindahkan kesini catatan dari FB. Hehe FBnya mau di hapus. Buat kenang-kenangan save di sini 🙂

===

1u1

Foto Awal 2013

Diary…

PERASAAN itu  bisa berubah secepat kilat, juga bisa menjadi NANO_NANO seperti semalam dan hari ini. Sesungguh aku bingung bagaimana berceritanya denganmu. Tapi baik-lah akan kuceritakan, semoga kau tak bosan dengan ceritaku. Untuk ade Ayu.  Thanks  dah ngasih pengalaman yang lucu. Ehm “Luar Biasa” kata yang lebih tepat sepertinya.

Diary…. ini perasaan semalam~

Semalam kau “Bersedih”. Aku tau sepantasnya merasakan itu karena aku juga pernah merasakanya.  Siapa yang tak ingin bersama dengan keluarga. Apalagi saat salah satu di antara mereka sedang berulang tahun. Tentu tak puas jika hanya mengucapkan dengan kata dan terhalang jarak. Tapi percayalah meski kau tak bersamanya dia yakin kau menyayanginya. Serta harus terus percaya doa tulus itu lebih bermakna.

Hai, ade manis. Jangan bersedih ! Nanti aku akan ikutan galau. Itu yang harusnya aku katakan agar melihat wajah ceria yang kulihat siang dan malam. Tapi sayang aku hanya terdiam dan membiarkan kau menenangkan diri.

Aku pergi meninggalkan kamar itu, ehm maksudnya kos kita. Aku bingung harus kemana untuk mencari sesuatu yang special untuk dirimu. Eh, untuk “Kalian”. Ya, sepantasnya memang aku memberikan sesuatu yang special untukmu dan qoqo (Sahabat depan kamar). Aku melirik “Rumah Kue” begitu tertulis di plang. Aku perpikir untuk memelikan, tapi karena terlalu lama mengantri aku memiliki alternatif lain. Aku menuju sebuah toko yang lumayan JAUH. Aku membeli sebuah hadiah berwarna merah. Sebenarnya aku ingin membeli empat (Ayu, Qoqo, Icha, dan aku) karena tahun depan sepertinya kita sudah tak bisa melewati hari – hari bersama. Tapi sayang aku hanya mampu membeli dua. Tadi belum sembat gesek atm, aku sedang buruh – buruh.

Kecepatan 70km/jam di tengah kota. Membuatku hampir melupakan amanah. “Mba, tolong belikan……..” Pesan singkat Ayu. Memasuki 3 toko, ketemu juga. Belum sampai di kos. Perutku bernyanyi meminta jatah. Putar haluan. Beli makanan, mereka pasti belum makan pikirku. Ehm, lagi-lagi belum sampai kos harus memutar balik. Helemku tertinggal.

Sampai kos, KECEWA tingkat dewa. Aku sudah membeli dua kue dan makanan untuk dihabiskan bersama, membeli dua hadia untuk qoqo yang ulang tahun 12 Oktober dan Ayu beberapa hari lalu. Ayu sih langsung memeluk hadiahnya (warna kesukaannya). Tapi qoqo tidak ada. Lagi – lagi makanan itu tidak habis karena aku dan ayu jadi kehilangan selera makan. Kue dan boneka ku simpan di depan kamar Qoqo. Aku semalam bermain game menghilangkan rasa kesal. lagipula aku juga bosan belajar (tidak patut dicontoh)  . Tidak bertemu Icha sama sekali juga Huh….

 

Diary… perasaan hari ini~

“Mba, nurmi!” Suara imut menyebut namaku, terkesan manja tapi bersemangat itu selalu aku dengar setiap hari jika si anak maba pulang dari kampus.

“Ehm,” Cuma itu tanggapku.

“Mba, mau ikut! Ambil paket di terminal.” Ajaknya

“Boleh!” Jawabku karena sudah bosan bermain dengan kertas dan CD yang berserakan.

Kami meluncur. Tiba – tiba kepikiran es kelapa muda. Mampir sejenak menyegarkan tenggorokan. Eh, ada taman untuk numpang narsis. Sesampai terminal antar kota yang dicari sudah tak ada.

“Maaf, Mba. Saya sudah di Samarinda seberang!”

 

Kami menyusul melewati jembatan MAHAKAM yang super macet karena sudah jam4. Belok sana-sini, justru malah sampai ke terminal antar Provinsi. Dengan muka tembok bertanya pada petugas.

“Bus Cahaya Bumi, di depanya ada tulisan Cinta Allah, No KT….” cerewet kami bertanya. Semua tak tau. Rupanya Ayu salah, harusnya “Cahaya Bone”. Ucpakan “Thanks” dengan muka MALU.

Perjuangan itu berhasil setelah mencari kesana-sini, tanya sana-sini, dan mengerjar bus tapi SALAH. Pulang dengan senyuman.

Kebiasaanku saat digonjeng toleh kanan kiri. “Ih, senyumnya manis!” Celetukku saat melihat seseorang yang tersenyum dibalik helemnya. Karena penasaran dengan wajahnya, kami pelan – pelan.

“Pelan banget dia mba!” Gerutu ayu. Sampi lampu merah malah jadi ekornya nyelip-nyelip di antara mobil. Tapi tetep saja tak tau bagaimana rupanya. Aku malah berkomentar helm teman yang menggoncengnya. Hehhehehe…Helemnya unik dan antik. Btw…Kami hampir jatuh karena ada pengendara yang menghidari anak kecil di pinggir jalan. Kehilangan Jejak si“senyum manis deh.”. Lampu merah simpang empat berikutnya ada pak polisi berlari. Kami pikir bakalan nilang kami yang di klaksonin mobil karena hamir ketambrak. Eh, pas noleh kebelakang. Kami muka bengong dan beberapa detik kemudian tertawa. Si“senyum manis kena tilang gara – gara helem antik temannya”.

Kami makan dan minum jus. BETENYA saat mas  pnjul jusnya mengolokku karena menyum Alpukat dengan ALFUKAT (Nada baca Alquran). Duduk santai mau sms, Eh dicari Hpnya ILANG dan ternyata jatuh saat mondar-mandir di sebrang sana. PANIK pasti, ditelpon, diangkat, disuruh ngambil sekarang tapi begitu jauh jadi makan dulu sudah terlajur pesan.  TENANG sedikit. Setelah itu GALAU, nomor tak aktif.

“Coba aja dulu, mba, OPTIMIS

“Ok, kita ambil.” Padahal tak tau alamat dan tak punya nomor Hp yang mungut. Aku mengirim pesan ke nomorku. SYUKURLAH, dibalas dengan nomor lain. Disuruh menunggu didepan pengadilan setelah sholat magrib. Ok, kami juga mencari mushola, kebetulan aku ingat rumah seseorang yang kukenal di sekitar situ. ALHAMDULILLAH, KALAU REJEKI TAK KEMANA. Hpnya sudah ditangan dan lagi – lagi PULANG DENGAN TERSENYUM.

Samarinda, 13 Oktober 2012