Sabar | Berjuang | Hehe


 

Gadis itu menarik napas pelan, memutuskan jalan mana yang akan ia pilih. Membiarkan dua lembar merah itu tetap di dompet untuk keperluan seminggu yang akan datang. Itu hal sangat penting. Atau menggunakannya sekarang. Nyatanya, ia tak bisa ke mana-mana tanpa kendaraan warna hijau-putih itu.

#

Gadis itu duduk melepas lelah di salah satu bangku depan rumah pinggir jalan, usahanya mendorong kendaraannya yang ngambek tak mau bersuara belum usai. Keringat terlihat di sekitar wajahnya. Bodoh! kenapa tak melakukannya kemarin. Bikin malu saja! gerutu batinnya. Ia kembali berjalan. Matahari bersinar terang. Kira-kira saat itu jam 2 siang.

“Kenapa mba?” tanya seseorang yang lewat. Gadis itu hanya tersenyum tanpa suara untuk menjawab.

Cukup jauh. 300m mendorong belum lagi menunggu jalan sepi untuk menyebrang, sungguh menguras tenaga terlebih saat perut belum terisi apa-apa. Ia baru sembuh dari beberapa hari sakit jadi wajar jika hal itu benar-benar membuatnya lelah.

“Kenapa mba?” Tanya pemuda berkaos abu-abu itu tersenyum. Miamie menggigit bibir menahan kesal atas pertanyaan basa-basi itu.

“Gak tau mas. Gak bisa nyala dari kemarin. Lakukan apa saja biar bisa yah!” Miamie duduk di salah satu kursi sambil mengeluh dengan suara sangat pelan karena letih, persis berbisik pada diri sendiri.

“Mau ditunggu mba? atau ditinggal saja?”

“Bagusnya gimana?” Tanya balik Miamie masih dengan napas tak beraturan.

“Tunggu aja mba? nanti baru sampai depan pintu rumah balik lagi.” Sahut pemuda satunya yang berkaos hitam sedang bermain dengan ponselnya.

“Tinggal saja ya mba. Kalau ditungguin gak kosentrasi ngerjainnya. Ini juga akan lama. Lalu itu mash harus menyelesaikan punya orang dulu.”

“Selesai jam berapa ya? diambilnya jam berapa maksud saya?” Miamie memperhatikan jam dinding yang lumayan jauh darinya.

“Tinggalkan nomornya saja mba nanti dihubungi.”

“Okey.”

#

Berjalan pulang membuatnya semakin menyadari akan lapar yang melanda. Perih perutnya makin terasa. Keningya mengkerut mengingat-ingat berapa isi dompetnya saat ini. Masih cukupkan ia membayar perbaikan motor jika ia membeli makan saat ini? Ah, kasian dia mulai bingung. Tapi perusnya mulai menyiksa.

Sebuah penjual cemilan berpapasan dengannya. Ia berpikir lebih hemat jika membeli satu, lagipula ia penasaran rasanya, belum pernah memakan sebelumnya. Miamie membeli satu yang ternyata bisa dibuat menjadi dua rasa.

Miamie kembali berjalan. Langkahnya berbelok ke salah satu warung makan. Dia hanya memesan es jeruk. Ia tak malu karena sudah kenal baik dengan penjual di sana.

Ia duduk santai melahap cemilan rasa coklat-kacang yang ia beli tadi, sesekali meneguk es jeruk. Tangan kirinya sibuk mengentuh layar ponsel mencari berita di internet atau sekedar mencari makna kata yang terlintas di pikirannya.

Sisa setengah gelas minumannya dan setengah potong cemilan yang krispi miliknya. Ketika seorang pengamen masuk dan memainkan gitarnya.

Miamie tersenyum melirik. Ia mengenal sosok itu. Awalnya Miamie menikmati suara gitar itu. Dan kemudian semenit kemudian menggerutu. Ada apa dengan suaranya? Tak sebagus dulu? Wajahnya juga sedikit kusam dan tidak terawat? Batin Miamie, seolah tak mau diketahui memperhatikan Miamie tetap menggeluti aktifitasnya dari awal. Miamie meraih dompetnya di kursi sebelahnya. Memberikan selembar 2000-an.

#

“Bule berapa? Es jeruk aja.” Miamie memberi 2 lembar uang kepada penjual itu setelah mendengar jawabannya.

“Loh kok sendiri? dari mana?” Tanya sosok tua itu.

“Habis dorong motor bule. Ngambek. Dari kemarin.” Keluhku

“Kasian. Pasti kena banjir ya. Saya juga kaget pas sudah tinggi masuk rumah…”

“Ah, iya Bule. Lagian banjirnya pas mati lampu dan belum pagi. Gak berani turun. Eh tau-tau sudah dua tangga dalam rumah kerendam. Motor sudah jadi bebek-bebekkan. Heheh,” Curhatku lagi sambil tertawa hambar.

” …. dan ini sudah mendung lagi mba.” Wanita tua itu menatap langit yang mulai gelap.

Sepuluh menit Miamie berdiri mengobrol di sana. Ia berpamitan karena ingat harus menyelesaikan sesuatu.

Lima menit Miamie duduk di depan leptop dan mengerjakan sesuatu dengan teliti. Rintik hujan terdengar di atap. Makin lama makin jelas dan banyak. Langit menangis lagi. Miamie berdiri dan mengamati langit dari jendela.

“Benar-benar awal tahun yang sulit.” Ucapnya dengan pikiran dipenuhi hal tak menyenangkan. Terlintas tugas yang tak kunjung usai, kosan yang sudah lewat tanggal, tubuh yang mulai lelah menahan sakit, dan dompet serta tabungan yang tak berisi. Ia tersenyum dan kembali berkata sesuatu, ” Masih ada Allah yang selalu sayang padaku. Masih ada Allah yang akan menolongku.” Miamie tersenyum.

Langit mulai cerah kembali dan masih ada sisa rintik hujan yang turun. Miamie meraih ponsel dan mengirin pesan singkan ke seseorang.

“Bank BRI atas nama …. dengan nomor …. Maaf merepotkan lagi dan erkesan mendesak. Terima kasih. ”

#Curhat
-SMD-06/01/14-Me Nurmie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s