Me and my sister [Bingung]


Camera 360Umur kami tak jauh berbeda. Aku lahir 2 tahun 1 bulan lebih awal darinya. Secara fisik tinggi sama, namun sekilas banyak orang akan mengira akulah yang adik. Yah, itu kumaklumi karena dia terlihat lebih besar. ­čÖé

=== Sudah beberapa bulan ia berada di kota ini. Di kota aku sudah tinggal 4 tahun menjalani pendidikanku yang belum juga usai. Yah, aku memiliki banyak kendala untuk memperoleh gelar ‘S. Pd’ku sesuai rencana. Abaikan! aku tak akan hentinya menyeluh jika menceritakan hari-hariku. Dan aku tak ingin mengeluh. Hehe Kembali mengenai adikku. Tahun lalu (2013) ia gagal masuk perguruan tinggi. Mungkin karena ia setengah hati menjalaninya. Maksudku tidak terlalu yakin, antara mau atau tidak menjadi seorang mahasiswa. Lalu ia meminta izin pada orang tua bekerja saja di kota ini. Aku meyakinkan orang tua kami agar dia mendapatkan izin. Yah, ia bekerja atas rekomendasi temanku. Berhenti dua bulan kemudian karena ia ingin pulang dan menghabiskan waktu 2 minggu di kampung. Kembali, ia bekerja menggantikanku di salah satu pekerjaanku.┬áSaat itu saya mulai membatasi pekerjaanku, hanya menyisahkan mengajar private, niatnya sih mau fokus penelitian skripsi, eh nyatanya saya tetap sakit-sakitan dan skripsi saya tetap tertunda. Tetap bekerja di sana. Ia juga mulai bekerja di tempat lain dengan gaji yang lumayan. Di dua tempat itu jika di gabungkan ia bisa mendapatkan lebih 2… Saya tidak bermaksud merepotkan, namun ada keadaan membuatku membiarkannya menggunakan uangnya demi kepentingan kami berdua. Harusnya aku yang bertanggung jawab, tapi aku sudah tak punya tabungan lagi dan aku sudah tak bekerja lagi sekarang. Au berniat menggantinya nanti, tanpa mengungkit apa-apa. === Aku percaya padanya. Sangat. Tapi aku terkadang tak suka ┬ádengan tindakan cerobohnya atau tindakannya yang tak berpikir panjang,tidak mempertimbangkan banyak hal. Aku senang ia memiliki banyak teman yang sangat dekat, jangan sepertiku yang asik dengan kehidupan sendiri, tapi aku tak suka dengan hobbynya yang bertindak semaunya. Aku tau aku tak boleh melarang terlalu keras, jadi kubiarkan, tapi aku geram, meski begitu masih kubiarkan selama sewajarnya. === Aku kasihan padanya. Aku tak ingin ia mengalami hal yang sama denganku. Bekerja terlalu keras, aku sangat ingin dia melanjutkan pendidikannya seperti semangatnya tahun lalu. Tapi kini ia terlalu asik dalam dunia kerjanya. Dan kini ia memutuskan untuk mengajukan kontrak kerja. Oh, Tuhan aku ikut senang namun aku juga hawatir, sama hawatirnya dengan ayah yang beberapa lalu menyuruhku memberitahukan padanya agar tidak usah menerima atau mengajukan kontark kerja. Ayah ingin dia tetap kuliah tahun ini. Ya–Tuhan. Aku terkejut tadi pagi ia mengatakan bahwa ia akan berpisah denganku. Ia akan mengontrak dekat dengan tempat kerjanya. Akan melepas satu kerja yang di dekat kosku. Lalu, aku hanya diam saja. Aku tak tau harus bagaimana, aku tak rela tapi dia menginginkan itu. Aku bingung, menghargai keputusannya atau tetap menahanya bersamaku. Jika jujur aku sangat ingin menahanya. Tak lama hanya untuk 2 bulan kedepan. Alasanku : 1. Aku ngekos dari smp, sangat jarang bersama keluarga. Dan saat ini aku memiliki saudara di kota yang sama jelas aku ingin selalu bersamanya. Tau keadaannya dan memastikan dia selalu baik-baik saja. 2. Mama-bapak memberi amanah padaku agar aku bisa menuntun ade menjadi sosok yang berpikir dewasa, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, tidak diharapkan, dan mengajarinya lebih mengetahui banyak hal tentang bersikap. #AMANAH ….┬áJika sudah begini aku harus bagaimana. Mau bilang orang tua tapi tak mau nanti mereka berprasangka buruk. Aku tak berani, aku sakitpun selama ini saya tidak mengatakan apa-apa, aku tak ingin mereka hawatir. Alasan lain ayah tak selalu hawatir berlebihan padanya. Sejak smp ayah sulit percaya padanya. 3. Hemat. Jika ia kos bersama saya. Aku hanya menambah 100rb, nah dia malah mau ngekos yang seharga kos kami. Sedangkan saya minggu depan akan ‘Pendadaran’ setelah itu pulang kampung sebari menunggu wisuda bulan 3 nanti. Siapa yang menempati kosku? ditempati atau tidak akan tetap harus dibayar. Lagipula kami sama-sama dalam masa krisis, dompet tipis, atm tak berisi. 4. Nanti jika saya wisuda. Maksudnya di kos saya sekarang lebih nyaman untuk mama-bapak-adik2 untuk menginap karena dekat sekali dari kampusku. Dan aku tak akan repot menjawab pertanyaan-pertanyaan ayah tentang masalah ini dan itu tentang hal ini, kenapa ade begini begitu. 5. Aku tak mau dia seperti sekarang. Lebih mementingkan teman. Buktinya sudah beberapa malam ini dia menginap di kontarakn temannya yang tak jauh dari kosku. Ah— ini berasa gimana gitu. Bukan kesepian karena saya sudah kebal dengan rasa itu. Hanya tak ingin dia sakit. Di sana tak ada tempat tidur, lingkunganya kurang sehat, dll. ┬áDi kos yang baru nanti entah bagaimana keadaan lingkunganya. Aku juga belum pernah lihat. Aku tak tau teman-teman kerjanya seperti apa, dan ia memilih tinggal di sana dengan alasan di sana ada teman kerja juga. Ah–Aku masih memikirkan hal lain. Di sini, kami bisa masak dan makan bersama, air tidak pernah habis, jika PDAM mati bapak kos akan membelikan air. Di sini, ada dua tempat tidur. Di sini aku bisa mengingatkannya untuk ibadah [yang mulai tidak teratur sekarang ==’]. Dan banyak alasan lain yang membuatku melarangnya. Aku memang terlalu banyak berpikir. Berbeda dengannya yang santai menjalani hidup. Itulah yang membuatku sedikit tak nyaman jika melarangnya ini-itu. Lagipula aku selalu mengingat kata-katanya 4 tahun lalu. Waktu pertengkarang pertama dan terakhir kami. Saat itu ibu sampai menangis. “Dia. Dia. Dia aja terus. Pilih kasih. Semuanya dia. Dia! Dia pintar. Dia boleh ini, boleh itu, boleh! Dia rajin. Dia sabar. Dia … Semua dia. Kesayangan sekali!” Dia berteriak, membanting pintu dan pergi. Kami memang berbeda dari SD. Dari segi prestasi, cara berinteraksi, mungkin cara berpikir. Bahkan dia sering sekali membuat ayah geram saat SMP dan SMA. === #Aku sayang sama kamu de. Sayang banget. Tapi aku gak tau harus bagaimana. Aku takut menjadi kakak yang egois tapi aku hawatir padamu. Aku ingin berbicara banyak sama kamu, tapi aku tak tau caranya. Bagaimana ini de? Bagaimana? Kami sayang kamu! doa kami dan harapan kami selalu yang terbaik untukmu, hanya saja sulit menunjukannya dengan cara yang tepat (mungkin). ┬áKamu tau de. Kota ini bukan adem ayem seperti yang sekilas kau lihat. Bahaya tidak kita sadari berada dekat dengan kita. Kota ini termaksud kota kriminal de. Baru saja beberapa hari yang lalu aku mendengar berita radio sekarang kota ini semakin para pengedaran narkobanya, belum ┬álagi kriminal lain. Ah- saya semakin banyak pikiran kan. Mikir yang tidak-tidak lagi! === #Kamu ingat tahun baru kemarin de? Kamu begitu ingin melihat kembang api di kota ini (di sepanjang pinggiran sungai mahakam), yang bahkan aku tak pernah melihatnya dan tak berminat melihatnya selama 4 tahun aku di kota ini. Demi kamu de. Aku temani. Aku rela menemanimu menjadi salah satu di barisan kendaraan yang macet di mana-mana, padahal saat itu sedang gerimis. Aku rela menahan sesak nafas karena seluruh udara tersebar asap membahayakan. Lalu aku rela sakit beberapa hari karena semua itu. Itu demi kamu de. Karena aku tak akan membiarkanmu pergi sendiri, atau dengan teman-temanmu yang juga baru berada beberapa bulan di kota ini. #Kamu ingat waktu kamu smp dan SMA de? Kamu hampir berhenti sekolah karena ayah marah. Lalu kau bertahan dan lulus. Kau bersikeras de, pengenya sekolah di tempat … dan itu menentang ayah. Kamu kalah, dan tidak sekolah. Aku sedih ngelihat itu de. Aku bujuk ayah hingga kau bisa masuk SMA di tahun berikutnya. Aku rela ninggalin beberapa perkuliahan cuma buat ngurus berkasmu de. Dan kamu berhasil melalui segalanya dengan baik di tahun pertama. ┬áLalu kembali bermasalah. Kamu bohong de. Bohong yang bikin guru tempatmu tinggal sedih, mengadu padaku, lalu membuat ayah geram hingga hampir kau berhenti sekolah. Ya-Allah de, Allah sayang sama kamu, Ayah dan kami semua sayang sama kamu, kamu boleh sekolah dan ngekos sesuai keingananmu. Tapi yah, selama itu aku terus memantaumu diam-diam, aku sempat geram tapi tak mengatakannya pada orang tua kita ataupun kakak (keras kepala) kita. Cuma demi menyelesaikan sekolahmu de. Meski begitu aku senang kau mendapatkan prestasi yang wah dalam beberapa bidang. Dan kamu lulus de. Kamu bandel de, tapi itu selalu kumaklumi. Saat ini aku tak ingin kamu bandel lagi. Di kota ini kamu masih baru, kamu masih belum mengenal seluk beluknya, dan belum tau seluruh situasi kehidupannya. Aku takut de. Mungkin aku egois, sangat egois dengan pikiranku sendiri, tapi kamu yang membuatku begini de. Kamu tak menunjukan sesuatu yang ┬ámeredahkan rasa hawatir. Banyak hal yang membuatku semakin menghawatirkanmu. Ah–Siapa saja yang suka menelponmu hingga membuatmu sering sekali menjauh dariku, kau takut aku mendengar? Kau takut aku mengaduh pada Ayah? Ya ampun de. Aku tak akan melakukan itu karena aku tau kau akan di paksa pulang. Situasi sekarang membuatku bingung de. Bagaiamana┬áini de? Bagaimana aku ingin berbicara baik dan banyak jika kau hanya menumpang mandi di sini sekarang. Aku kesal de! kesal sekali denganmu, aku sayang. #Kamu ingat de, saat kau sakit? Aku hawatir bukan kepalang. Tiba-tiba kau menaiki tangga sambil menangis memegangi dada, mebuatku kaget, panik tidak karuan. Kupikir kau habis kecelakaan. Wajahmu merah dan … Lalu kau memburuk. Ya-Allah de. Kulakukan yang terbaik untuk menyelamatkanmu. Bahkan aku menangis tak karuan, dan takut bukan main. Orang tua kita jauh. De, aku takut kau mengalami hal yang sama, bagaimana jika tak ada siapa-siapa di sana. Maaf deh de, aku terlalu hawatir. ­čśą === Samarinda-25/02/2014

2 thoughts on “Me and my sister [Bingung]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s