27/01/2014 [Think]


DSC00493Hanya sebuah ungkapan tetang hari ini.  Menulisnya sebagai ganti bercerita. Yah, aku tak tau harus berkisah pada siapa selain kepada-Nya dan menuangkan dalam tulisan sebagai perasa legah. Berhentilah membaca, karena sesungguhnya ini tak penting sama sekali bagimu, kecuali kau ingin belajar sesuatu yang entah apa sebenarnya yang bisa dipelajari dari cerita (curcol) tak jelas ini. Hehe–

===

Gadis mungil itu bangkit sambil menguap. Itu aku. Rupanya semalam aku tertidur di lantai depan ranjang lagi. Sebentar aku melirik kejendela sebelum keluar kamar. Diluar msih gelap, bahkan mesjid belumb erbunyi. Aku nenuruni tangga dengan langkah pelan, kepalaku sedikit sakit, begitu pula dengan perut dan kerongkonganku. Dehidrasi dan kelaparan. Terakhir kali menyuap nasi kemarin pagi, lalu galon di kostan yang sudah kosong 3 hari membuatku harus menghemat air sebotol yang kubeli kemarin.

“Ahh–seger” Aku menyapu wajahnya dengan air.

Cukup lima menit aku berada dalam ruangan warna putih dan sempit itu. Aku kembali ke kamar. Kamar sederhana itu, kamar yang terdapat ranjang dan rak-rak buku, menjadi saksi tangisku dalam sujud. Lalu suara serak melantunkan ayat-ayat Allah yang tertulis sejalas dalam Alquran.

Allahuakbar aku menangis lagi. Hatiku gunda hingga membuatku merasa hina. Tak bisa bersabar, tidak ikhlas, dan lemah terhadap cobaan. Aku merasa tak beguna dan malu pada sang pencipta.

Aku sudah terbiasa, tak akan tidur kembali hingga pagi. Bahkan jika aku terbangun sebelum jam 4 subuh. Aku bersandar pada ranjang memangku sebuah buku tebal yang tercetak jelas tulisan ‘Fisika Universitas’ di halaman sampul buku. Aku menjejalkan rumus-rumus rumit ke otaknya sebari menunggu azhan subuh. Tepat saat bosan belajar menyerang, panggilan untuk sholat begitu merdu terdengar. Aku bangkit dan melaksanakan kewajiban sebagai hamba.

Seperti hari-hari yang sudah-sudah, aku sudah siap sebelum pukul 6 pagi. Pagi ini aku sengaja mengguyur kepalanya agar menghilangkan penat kepalanya jika memikirkan masalah-masalah yang datang bersamaan.

Matahari mulai bersinar, embun di atap rumah-rumah mulai hilang. Aku dengan baju hitam, rok dan jilbab biru langit tersenyum di depan kaca. Ada apa? Aku terlihat tidak tulus. Senyum yang dipaksakan. Aku menarik pipi dan mensugesti diri agar mempertahankan senyumku. Wajah mendungku harus disembunyikan.

Masih pukul 7 pagi. Aku sedang puasa hari ini jadi tak ada menu sarapan pagi di meja. Aku hanya memasak nasi untuk adikku lalu kembali ke kamar. Terserah ia ingin membuat menu apa anti, toh dia pandai memasak juga. Berkutik dengan benda biru yang aku beli 3 tahun lalu demi mata kuliah ‘Aplikai Komputer’ yang menuntut agar memilikinya. Aku membuka beberapa file skripsi, surat-surat persyaratan dan beberapa lampiran. Aku berbalik menekan tombol on pada printer dan mencetak beberapa lembar surat dan hasil revisi skripsi. Setelah semua siap didalam tas, lima menit kemudia aku menuruni tangga kost dengan cepat pada pukul 8 lewat 12 menit.

===

Dengan pelan dan hati-hati, aku memarkir motor hijauku di sela-sela motor lain. Aku tersenyum pada seseorang yang menyapa lalu berjalan menuju ruang Pembantu Dekan II. Menyebalkan, faktanya aku gagal Verifikasi berkas. Sesungguhnya aku sudah yakin harus membayar spp lagi meskipun sisa 3 hari lagi aku akan pendadaran. Aku juga sudah lama ingin membayar tapi aku tak punya cukup uang. Bahkan kostanku sudah memasuki bulan baru, lalu motorku harus sudah dibayar karena batas pembayaran 2 minggu lalu. Aku duduk sejenak di kursi pinggiran luar ruangan itu, menenangkan diri, memutar otak mencari solusi.

“Ah, nyebelin” Gerutuku kesal. Berkasku sudah kulengkapi dari tahun lalu, bulan Desemberlah rencananya aku akan wisuda. Namun apa daya bulan November tahun lalu gagal menjadi bulan kelulusanku. Kini 27 Januari, aku harus diusingkan dengan 1 lembar kertas bukti pembayaran yang bahkan aku tak akan mengikuti perkuliahan apa-apa lagi.

Lima menit sudah aku duduk di sana, namun tak ada solusi yang terlintas di benakku. Memintah pada orang tua tak mungkin, terakhir aku pulang dua minggu lalu karena adikku libur kerja, aku tau ibu hanya punya uang 400 ribu dan itu untuk  pupuk dan keperluan sawah lainnya, lagipula jika ibu punya uang siapa yang akan pergi ke bank lalu mengirimkannya padaku, rumah kami lumayan jauh. Tak ada senyum dalam wajahku. Aku membuka akun twitter dan facebooknya untuk menghilangkan bosan.

Teringat percakapan dengan teman tadi pagi. Dengan cepat ia load out, dan mencari daftar nama teman tersebut di kontak. Bersamaan itu, sosok itulah lebih cepat menelponku. Ponselku bergetar dalam genggamanku.

“Assalamualkum. Neng?”
“Wa’alaiksalam, Mi. Dimana?”
“Di kampus neng.”
“Gimana?”
“Nah. Bapaknya masih bisa pulang sepertinya.”
“Terus gimana?”
“Ini baru mau ditelpon untuk memastikan”
“Okey. Kabarin ya.”
“Iya…. Assalamualaikum.”

Yah, dosen pengujiku itu sudah dua minggu di Surabaya dan minggu lalu aku harus was-was membujuk ketua prodi menggantikannya pada ‘Pra Pendadaranku’ dan jumat kemarin aku gagal untuk maju ‘Pendadaran’. Aku mendaftar paket telpon, sekalian nanti mau nelpon orang tua nanti. ‘Dosen Pak …’ begitu nama kontak itu.

Tuttt… tut. Alhamdulillah di angkat.

===

Tak lama percakapanku dengan beliau. Kurang dari 3 menit. Intinya Beliau belum bisa kembali ke kota ini, ke kampus apalagi hadir di pendadaranku hari kamis 30 januari 2014. Aku terdiam setelah mengucap salam dan menutup sambungan terlpon.

“Bagaimana Mi? oia aku lagi di depan Lab.” Pesan dari temanku yang sudah menunggu dosen yang sama. ia butuh tanda tangan untuk skripsi yangg sudah di jilid. Dua minggu sudah ia bolak balik membawa 7 buah skripsi tebal. Beruntung ada kembarannya yang kuat, maklum cowok.

Aku tak membalas. Aku berdiri melangkah menuju motor, menggunakan kaos tangan dan helm lalu menghampirinya. Setelah berbicara sebentar aku pergi lebih dahulu menuju prodi dengan tujuan meminta keputusan sesuai perintah sang dosen.

Tak ada satupun dosen di sana. Hanya ada temanku yang kini menjadi staff. Ah, aku lupa kan dosen fisika libur sampai hari rabu. Bagaimana ini?

Aku pergi meninggalkan lantai dua gedung itu. Duduk sebentar di depan bangunan biru-putih itu, berpikir apa yang harus kulakukan. Lulu putuskan untuk pulang ke kost saja.

Tak ada satupun orang di kost. Kulirik kamar Hotaru terbuka lebar, kuintip tak ada orang. Adikku juga tak ada di kamarku maupun di kamar mandi. Pantas saja tak ada yg menjawab salamku. Ini sudah jam 11 lewat mungkin adikku sudah berangkat kerja.

===

Aku duduk di ranjang, meletakkan tasku yang super berat di sampingku. Aku menghebuskan napas keras. Mengelus dada menyabarkan diri. Aku mencari ponselku di bagian kantong tas. Kutekan tombol memanggil ke nomor ponsel adikku. Rupanya dia sedamg berada di kontakan temannya karena off kerja hari ini. Panggilan berikutnya ke ponsel adikku di kampung. Semalam ia mengirim pesan menyuruhku menelpon, namum pikiranku sedang kacau, salah satu penyebabnya masalah adikku yang kuceritakan (kutulis dua hari lalu). Aku juga ingin mendengar suara mama. Tiga panggilan tak terjawab moodku bertambah rusak.

Kutekan tombol panggilan pada seorang sahabat yang akan mengirimkan uangku dua hari lalu. Tak sekali saja dijawab atau membalas pesanku. Bagaimana ini aku membayar sppku? uang di domperku sisa 2 lembar, ATMku sudah kosong. Tabungan kecilku di kamar sudah kosong. AHHH, ini menyebalkan. Aku harus lulus Verifikasi, meminta tanda tangan Pembamtu Dekan III, lalu mengurus urus undangan yang ditandatangani bagian Kasubag Kemahasiswaan dan Dekan. Ah, besok itu semua harus usai dan undangan harus diserahkan di tangan para dosen. Ah, aku pusing memikirkan ini. Bagaimana memhibur diri selain mengucap istighfar dan Allahuakbar.

===

Kulirik jam dinding yang mati. Pukul 1 lewat. Aku beralih melihat jam pada ponselku. Baru akan pukul 1 siang 20 menit lagi. Kunekatkan diri untuk menekan panggilan yang ditujukan ke Ketua Prodi.

“Assalamualakum Bu.”

“Wa’alaiukumsalam. Nurmi. Iya ada apa?”

“Bla bla bla …”

“Hm…”

“Bla bla bla … “

“Hm…”

“Jadi bagaimana bu? Bla bla bla…”

“Iya. Bla bla bla …”

“Jadi bla bla bla ….”

“Iya. Bla …”

“Makasi Bu. Assalamualaikum.”

*Bla bla bla (Percakapan disamarkan. Hehe)

Keputusan dari percakapan itu, Alhamdulillah ujian Pendadaran saya tak perlu di tunda. Masalah belum selesai karena aku belum memiliki uang. Aku geram, ini pertama kalinya aku ingin meminjam sesuatu dari kakak laki-lakiku yang dulu sempat tidak merestuiku meneruskan pendidikan hingga sejauh ini. Hasilnya nihil, ia tak memiliki uang yang kubutahkan, aku butuh 1 juta agar uang spp lunas, uang komsumsi pendadaran aman, dan keperluan lain terkendali. Tapi, aku harus bersabar, karena kakak memang tak memiliki uang, anaknya baru saja sakit.

Aku melarang kakakku memberi tahu mama-bapak dirumah, tapi sepertinya harapanku tidak akan terwujud, cepat atau lambat mereka akan tau, tetap saja aku tak ingin mengharapkan penyelesaian itu dari mereka, yang selalu kuharap dari beliau hanya doa terbaik, doa tulus.

Panggilan sholat Zuhur terdengar jelas karena sunyi kost begitu terasa. Aku bangun dari ranjang dan menghadap sang Ilahi.

===

Aku menelpon dua orang teman untuk mengobrol, namun mereka tak ada yang menjawab. Aku beralih ke nomor ponsel rumahku. Sebelumnya menelpon adikku yang sedang bersama temannya untuk memastikan keputusannya berpisah denganku (tempat tinggal).

“Hallo de. Sudah bilang bapak-mama?”

“Soal apa?”

“Soal yang kemarin-kemarin?”

“Belum. Kamu habis nelpon mama?”

“Belum. Baru akan. Mau aku kasi taukan mama kah?”

“Gak usah. Kan katamu gak usah pindah. Tinggal sama kamu aja sampe kamu wisuda. Lagipula alasanmu kayanya bener.”

“Okey. Mau salam sama mama?”

“Iya.”

“Ya sudah. Assalamualaikum.”

Alhamdulillah, satu lagi masalah selesai. Terima kasih ya Allah.  Tapi lima panggilan tak terjawab lagi. Sepertinya orang tuaku sedang di tengah sawah, ini jam 2 siang. Biasanya aku menelpon sore atau pagi. Aku menyerah dan menyimpan ponselku di atas meja.

===

Kost ini begitu sunyi, hanya ada suara radio dari ponselku. Aku tak bisa fokus belajar, yang terngiang selalu uang di kepalaku. Dan, kesal pada diri yang sempat melintaskan pikiran “Uang segalanya”. Huh, Bagaimana tidak aku selalu memiliki masalah yang sama. Teringat saat aku menangis sepanjang malam karena takut tak bisa membayar spp, waktu itu esoknya adalah jadwal hari terakhir pembayaran namun tabunganku sudah habis, uang di tangan hanya 1/4 dari yang kubutuhkan, aku yakin ibu tak punya, lalu aku belum memperoleh gajiku. Polosnya aku yang takut dikeluarkan dari kampus. Memang jika dalam situasi kalut sulit berpikir positif. Allah menolongku dengan perpanjangan pembayaran.

Tapi kali ini aku harus menyelesaikannya dalam sehari. Ah, mana teman yang menjanjikan uangku? aku mulai munyak padanya yang selalu mem PHP dan mengingkari janji.

Dari pada aku menangis. Kuraih tasku, kukeluarkan skripsi dan surat-surat lain. Kusisakan pulpen, penggaris, dan buku kecil, dan kumasukkan sebuah buku pelajaran serta beberapa lembar kertas sebagai coretan. Aku meninggalkan kost menuju taman di samping perpustakaan kampus. Aku belajar di sana, hanya sekitar 40 menit. Kembali ke kost yang masih sepi, aku Sholat Ashar setelah itu kembali mengotak atik ponselku. Bosan. Aku mencuci 2 pasang pakaian yang ku sisakan tadi pagi. Lalu merebahkan diri, namun enggan terlelap karena 5 menit lagi pukul 5 sore.

===

Malam tiba. Aku mulai santai dan tenang. Kuserahkan segalanya pada Allah bagaimana esok. Bersamaan dengan aku usai sholat magrib. Kak Usna datang, untuk melakukan sesuatu (….)

Kamarku jadi ramai karena Hotaru juga ikut bergabung berguling-guling di kasur dengan boneka hijau besar milikku, sambil sesekali menyahut tentang pertanyaan kak Usna. Aku sibuk belajar (mencoret-coret kertas, menganalisis bagaimana rumus satu berhungungan dengan yang lain.)

Setelah Isyah, ade Ayu juga pulang dari acara ulang tahun temannya. Makin ramai, gadis yang lebih mudah dua tahun dariku itu memang suka sekali bercerita, suasana jadi penuh candaan. Aku menutup buku dan merapikan kertas-kertas yang berisi coretan abstrakku, toh aku sudah tidak bisa kosetrasi karena bully mereka.

Hangatnya kebersamaan malam ini, di temani cemilan pisang aroma yang super manis hingga membuat gigiku mengilu. Ah, ada yang kurang. Adikku, dia tak pulang lagi malam ini, ia mengnap di kontarakan temannya. 😥

“Ya Allah. Maaf karena hari-hari hamba tak pernah luput dari keluhan. Maaf karena hampa tidak mensyukuri karuniaMu dengan benar. Terima kasih atas segalanya. Semoga esok menjadi hari yang lebih baik dengan penuh rahmatMu, semoga semuanya membaik dan teruslah jadikan kami hamba yang  senantiasa bertakwa dan tiada hentinya rindu akan surgaMu. Aaamin.”

Samarinda 27/01/2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s