Archive | Februari 2014

Kenangan

Untuk kenangan dipindahkan dari FB, karena FBnya mau di delete. Hehe

[Thanksgiving]

Misi PA Rai [Thanksgiving]

—p1_z_Minato : aku kasi buku ini, karena nasehat hidup seperti buku sangat menyentuh hati.
” hidup seperti buku..dan bla..bla..blaa”
aku suka nasehat itu. Arigatoo.
Oia ini balasan dariku untuk puisi/ nasehat itu :

Di tengah catatan buku ini ada ragu
tertawa ku melihat ke belakang
lembaran perjalananku
belasan tahun
ribuan asa dan ribuan harap
adakah peduli di sana menemani hari- hariku?

Ya…., akhirnya kulanjutkan juga
lembar berikutnya, entahlah…
yang pasti di tengah catatanku masih ada goresan.

Menangis ku melihat ke belakang
lembaran nafasku
ribuan langkah
tertawa, menangis, isakan.
masihkah kulihat ada tanya di sana?

Di lembaran ini.
meski masih ada ragu, aku berlari juga.
Di tengah catatan buku ini masih ada asa dan sedikit harap.
dan kupastikan itu….!

—PA R/Raihan.
Aku kasih boneka ini karena biar kamu bisa ingat aku, hotaru, sama strings. terserang mau PA anggap kami yang mana..hehheh..Mianhae kalau enggak suka aku bingung si mau ngasih apa J

—p1_b_Hotaru : aku kasih gitar biru ini, awalnya mau ngasih motor yang keren dan bannya ada 3, tapi enggak jadi sudah J
aku kasih ini buat Hotayoon sayoong, biar kita bisa belajar gitar bareng ya, kita bisa nyanyi dan main gitar sama2..
” Gomawoo udah jadi sahabat mie, dan sering banget ngerecokin aku, Gomawo perhatiannya selama ini, Gomawo udah mau jadi tempat berbagi suka duka,kayanya mie baginya duka mulu,,hehheh.mianhae , ayoo kita berjuang bersama untuk bisa lulus dengan Nilai yang memuaskan, cayoo HotaMie. You is the best ”
(^_^)

—p2_z_sanji : Gitar ini aku kasih, karena dirimu suka sekali dengan musik, dan terutama kamu seorang gitaris.
mianhae kalau tidak suka, ” Terus semangat ya, sumpa aku tidak menyangkau dirimu lahir beberapa hari setelahku,,*plakk ”

—p2_me_Strings : saeng aku bingung mau ngasih apa
aku kasih lampu belajar ini biar dirimu rajin belajar, bentuk lovenya menandakan kalau aku sayang saeng .
” gomawoo udah mau jadi saengku yang sepel dupel cerewet, aku suka itu dapat menghiburku, satu lagi, jangan ngolokin aku galau mulu dong ”
~~> Hadiah ini aku bagi juga deh buat semua saeng2ku, biar kalau malam mati lampu mereka mau belajar enggak gelap (^_^)

—p1_z_rui : sebenarnya aku bingung mau ngasih apa, tapi ini aku kasih basket dan setumpuk buku. mianhae kalau tidak suka. basket, karena kamu suka basket, hahah..sebenarnya karena aku kangen banget main basket makanya kepikiran bola basket
aku kasih setumpuk buku biar rui semangat belajarnya,
” semangat semoga SNMPTNnya nanti lancar.Amin”

—p1_b-donakyu : Aku kasih se-rak komik untukmu Nad,
” gomawoo meski baru, tapi kau sudah bisa jadi teman yang klop buat aku ” (^_^)

—ASTRAFF : aku berikan cinta buat astraFF dan seluruh penghuni astra,
” para saeng tercinta, terus semangat dan tersenyum ya”
” untuk semunya, mianhae kalau selama ini mie ada salah, merepotkan, menyebalkan, bikin kesel, bikin bete, munyak, atau apa ajalah, yang buat kalian kurang nyaman. Mianhae”

~~> kalau kartu ucapanya itu untuk semuanya :
didalamnya tertulis gini, “life ends when you stop dreaming, hope ends when you stop believing, love ends when you stop caring, friendship ends when you stop sharing”

Thanks ALL 🙂

#NB : PA Rai ko terbatas si boleh ngash berapa orang, padahal kan aku mau ngasih banyk *plakkkk.
( tapi ini sudah menwakili ko)

P1_B-MIAMIE

3/02/12

Astraff

Sebagian komen

===

Astraff

Paling siMpel banget, enggak Bisa gambar… :”(

Se_adanya, tadinya mau gambar yang lain tapi enggak sempat kayanya…

ini adalah saya, seorang penghuni blossom yang kalem dan simpel
transformasi yang terjadi tak begitu kentara, karena saya lebih mengandalkan skill daripada sihir.
ketika astra diserang, di musim dingin, maka saya akan menggunakan syal dan coat untuk mencegitu adah dingin, dengan sepatu boots untuk memudahkan menapak.
seragamnya lebih girly soalnya saya kan blossom :”)
pedang saya gunakan adalah pedang redwindsword, yang mampu memantulkan cahaya merah ketika berayun, dan akan mampu memotong dengan sekali tebas dalam radius 2 meter. bukan hanya karena ketajamannya, tetapi juga karena adanya perisai angin yang bahkan mampu membelah lautan selama 5 detik dalam 1 tebasan.

sekian deskripsi saya

nb: maaf itu ada penciltic numpang eksis, terlanjur, gak bisa re-upload..

p1-b-miamie

5-01/12

===

KTS

===

Jangan tanyakan berkali-kali hal yang sama

15: 23

===

Aku kesal. Rasanya ingin membanting ponsel tapi tak boleh, bagaimanapun jika rusak itu akan membuatku semakin pusing.

“Kak Umi. kapan pulang?”

Pesan itu membuatku muyak seketika. Jika sekali saja menanyakan hal yag sama tidak masalah. Ini sudah kujelaskan berkali-kali. Aku sangat ingin Pulang cepat, namun urusan di kota ini belum juga usai. Menunggu hal yg tak pasti, hanya utuk hasil selembar kertas. Sial. Aku kesal.

“Belum tau. Ini juga mau pulang cepat tapi masih ada yang harus diurus.” jawabku tiga hari lalu, dan berlanjut hingga beberapa pesan.

“Iya. nanti juga pulang. Tapi belum bisa mastikan. Kenapa sih, nanya pulang terus. Bapak sakit kah? atau Azmi yang sakit? jawab dan tanyaku kemarin pagi.

“Hah. Nanya terus. Gak tau kah, kak pusing di sini.” Jawabku semalam. Aku tak bermaksud ketus atau marah, tapi adikku yang baru duduk di bangku kelas 6 SD itu membuatku jenuh. bingung. dilema.

Hari ini aku tes TOEFL, kamis jilidan skripsi baru usai. Dan aku belum bisa mengurus SKL (Surat Keterangan Lulus, untuk ambil ijasah dan starnskipn nanti setelah wisuda) jika belum ada penyerahan skripsi 7  rangkap itu ketempat yang berbeda + 2 cd berisi data skripsi. Jika ingin menyerahkan tentu harus mendapatkan tanda tangan dosen dan pejabat kampus yang itu aku harus nunggu paling cepat tanggal 10.

Lalu tanggal 9 atau 10 ada acara Lesehan Cendikia UNMUL, dan aku paniatian Cendikia Fair 2013. Acara itu pembubaran panitian lama dan acara lain. Mau ikut tapi lihat keadaan, aku tak fokus kesana.

Jalan lain. pulang lalu nanti kembali lagi mengurusi semuanya. Setelahnya balik lagi ke kampung, dan kembali lagi ke Samarinda untuk wisuda. Ah rempong.

Hello pulang kampung bukan biaya sedikit loh. Setidaknya 120 di kantong. lalu jika bolak balik. Ah, itu duit lumayan di simpan untuk daftar wisuda kan. Lagian sekarang lagi krisis, kost juga udah masuk bulan baru. And tadi ke bank, gak berhasil ngeberesin suatu hal, itu juga butuh duit cin dan nunggu semingguan. Ah pusing.

Aku tau sih kamu masih SD, belum peka. Anggap deh aku yang lagi sensitif. Soalnya lagi cape dan banyak pikiran, mood hancur makin hancur.

Yee, emang iya sih aku gak suka sesuatu hal yang di ulang terus menerus. Toh, aku ini peka, dan gak usah di ingetin terus-terus, peduliku itu cuma susah nunjukinya. Aku ini gak bertindak tanpa pertimbangan, tapi ya gitu, sayanya suka ngedumen sendiri kalau lagi jengkel.

Siapa sih yang gak mau pulang. Hah?

Siapa yang enggak mau menghabiskan waktu sama keluarga yang bertahun -tahun sudah jauh. Tapi ya ga usah gitu ade. Itu malah nambah beban pikiran buat aku. Aku ini suka mikirin hal-hal, semua hal, jelas enggak jelas nempel aja gitu di otakku.

Kan… aku jadi banyak ngoceh. Ini gak bagus ni, ngoceh kaya gini. Tapi, yaweslah.

….

Ku ingat aku belum sholat azhar dan ini sudah 16:35. Aku mengambil air wudhu, dan sholat. Setelahnya berasa tenang.

Ku raih ponselku. Lalu mengirim pesan ke beberapa orang termaksud adikku.

“Assalamualaikum kak… Bagaimana acara LC jadikah?” Balasanya akan dirapatkan ulang. Akhirnya aku izin tidak ikut serta.

“Assalamualaikum. Neng. Gimana, ada kabar kapan bapaknya pulang?” Tidak ada balasan.

“Assalamualaikum de. Tau bapak …. Kapan pulang dari Surabaya?” Dijawab belum pasti kapan.

“Assalamaulaikum, Neng. Nanti tolong lihatkan hasil tes TOEFLku tanggal … Bisa?” Alhamdulillah dijawab bisa.

“Assalamualaikum. Dek. Aku jadi deh, pulang kamis. Kamu bisa kan ambilkan skripsiku yang sudah di jilid. Nanti aku kasi deh, notanya.” Tentu percuma mengiriminya pesan. Ia sedang kerja. Nanti sajalah di bicarakan jika ia sudah di kost.

“Iya. Aku pulang kamis. Bilangin sama mama-bapak ya. Terus tanyain ada yang mau dititip kah?” Balasku ke adikku di rumah.

===

Samarinda : 04/02/2014

Ngebet TOEFL – Over Serious

36belajar

“Ya Allah matahari.  TOEFLku.” pekikku bangkit dan dengan cepat membuka pintu kamar. Bukan ingin keluar tapi ingin masuk ke dalam kamar memastikan saat ini jam berapa. Mengapa aku berada di luar? terlelap di kasur depan TV yang sudah setahun rusak? Mengapa tidur tanpa sarung, selimut, atau kain yang bisa menghindarkan dari nyamuk? Mengapa aku tertidur menggenggam ponsel yang mati? Jawaban semua itu adalah, aku malas tidur kembali setelah sholat subuh karena esok tes. Tapi nyatanya, aku malah panik karena ketiduran.

“Ah. Kenapa sih mi, ribut banget?” Tanya adikku setengah sadar.

“Jam? jam berapa? jam berapa?” tanyaku cepat seperti kereta api, sambil meraih handuk merah yang menggantung. Ini resiko jika jam dinding tak pernah di ganti batrainya (lagi hemat–alasanya, hehe), lalu ponsel mati.

“Tau ah, liat sendiri.” Tanggapan yang menjengkelkan dari adikku. Lalu ia berbalik dan memeluk guling.

“Ihh nyebelin.” kesalku, menuruni tangga sedikit berlari menuju kamar mandi.


“Baru jam 6:45 kok. Tesnya jam 8 kan?” Jelas adikku saat aku kembali memasuki kamar. Kali ini dia sudah menyisir rambutnya dan merapikan tempat tidur.

“O…walah.” Ucapku legah.

Aku mengisi daya HP, setidaknya terisi 15% sebelum aku meninggalkan kost. Kostum hari ini, suram dipadukan ceria. Baju hitam , rok hitam garis kecil, dan jilbab baru motif bunga pink sedikit keunguan hadiah dari adik Wahyu–Nama depan (Cewek–Ayu)  semalam.

“Helem” Teriak adikku dari lantai dua kost. Ah, iya aku lupa membawa helem karena terburu-buru.

“Makasih.” Ucapku meraih dengan tangan kanan dengan cepat.

“Ih, buru-buru banget sih, kaya di kejar polisi aja. Ini masih 7:35 juga.”

“Yee. Tempatnya jauh. Belum lagi kalau macet anak sekolah atau apa kek gitu. Belum lagi harus lewatin 6 lampu merah.” celotehku memasang helem di kepalaku yang sedikit terasa pusing.

“Ya. Lewat jalan tikus dong.”

“Ini juga niatnya gitu. Udah, ah. Aku jalan, nanti telat 2 menit aja gak boleh masuk. Assalamualaikum.”

Sesuai rencana lewat jalan tikus. Lumayan lancar dan sanpai tempat tujuan sesuai perkiraan (7:50). Di sana sudah ada peserta test lain. Kurang dari 15 orang. Duduk menunggu dan sepertinya baru pertama kali ke ‘Balai Bahasa UNMUL’ meskipun mereka mahasiswa UNMUL, aku mengenali enam orang dari mereka. Ah, mereka menyapaku. Aku tersenyum sebelum mendekat.

“Lah, tes juga de?” Ucap ibu yang sedikit lebih muda.

“Lah ini kan mahasiswa Fisika juga.” Tambah suaminya. Aku menyengir sebelum menjawab sedangkan yang lain memperhatikanku.

“Iya. Ini mau test TOEFL juga. Padahal daftarnya sudah dua minggu lalu.”

“Ow. Ruangan berapa? Kalau satu ruangan jangan lupa ya!” Aku mengerutkan kening, mendapati maksudnya. Lalu ternyum dan menjawab tanpa memberi harapan.

“Ruangan 1 bu. Kalau sempat ya. Karena biasanya soalnya susah sedangkan waktunya singkat. Baru pertama tes kah?” Belum mendapatkan jawaban, fokus mereka beralih ke sosok wanita yang baru datang. OMG, ini kan mba yang ke marin pendadaran harinya sama denganku.

“Lah. Kamu baru mau tes juga?” Aku hanya mengangguk.

Dan dilanjutkan percakapan lain. Sesi tanya jawab, tanya jawab yang membahas banyak hal, dari pendaftaran wisuda, mengurusan berkas, dan trik memjawab tes TOEFL. Ya, ku usahakan menjawab dengan baik dari apa yang ku ketaui sebagai fakta.

Mereka itu adalah mahasiswa kerja sama di kampusku, dan di prodi yang sama. Mereka sudah menjadi guru tetap di sekolah, sesungguhnya. Hehe.

Di dalam ruangan tes~~~

Sosok itu tersenyum padaku lalu duduk di sebelahku. Angka mejaku 6. Sang hijau toska (Ibu…. Entah siapa namanya).

“De, ini berapa lama?” Tanya melirik temannya yang terpisah-pisah di ruangan ini. Ada di depan, belakang, sudut, bahkan ada di ruangan sebelah.

“Listeningnya  kalau enggak salah 35 menit untuk 50 soal. Tructure 25 menit 40 soal, nah yang bikin bosan itu readingnya bu 55 menit untuk 50 soal. Itu kalau enggak salah ingat. Saya tesnya udah pas SMA.” Jelasku panjang lebar, entah ibu itu mengerti atau tidak.

Ingin bertanya lagi. Namun, keburu petugas (yang masih mudah dan ganteng itu) masuk dan memeriksa kelengkapan peserta.

‘Wah—baru, pantes naik 10 ribu’ batinku melihat lembar soal yang kinclong, dan mengingat perkataan teman bahwa tes bulan lalu itu hanya 50 ribu, dan sekarang jadi 60 ribu untuk mahasiswa.

Tes dimulai—tereng-tereng, PUYENG!!!

Waktu berlalu begitu cepat. Sisa 30 menit. Dan–Ah sesi ketiga ini bikin bosan. Paragrafnya panjang-panjang yang dibahas gak jelas lagi. Aku gak suka, meskipun ada 2 topik yang ngebahas soal seni musik.

“Mba duluan ya.” Kata gadis berjilab dan baju orange, tas dan rok hitam, anggun.

“AH-Iya mba, silahkan.” Ucapku tersenyum. Dan— Aku menjama seluruh isi ruangan dengan mataku yang setengah merem. Eh? sisa aku sendiri ternyata dan ini lembar jawaban masih kurang 12 soal. Hueee 😥

Dengan santainya tersenyum kepada mas ganteng saat dia menatapku .  (Mungkin nganggap aku bodok kali—Negative thinking)

Nomor 44 okey. Lalu 3 nomor di koskan, dan menjawab 3 nomor terakhir. Mata kembali ke nomor yang di lewati tadi, isi sembarangan. Hahaha,

===

Apapun hasilnya biar aja deh. Toh udah usaha, dan serius amat gitu ngerjainya. Ckckc

===

Samarinda 04/02/14

03/02/2014 (Dihibur anak kecil)

390024_10150505817263600_1919040279_n

Kursi panjang di luar toko menjadi tempat untukku duduk sendiri memikirkan banyak hal, sesekali membalas senyum orang yang lewat. Hingga sosok anak kecil di kursi lain di ujung sana bersama ibunya menjadi fokusku. Aku tersenyum saat dia menatapku sambil malu-malu. Anak yang manis.

Aku tak lagi fokus padanya. Aku menatap deretan toko bertingkat dan menawarkan berbagai hal yang kau inginkan. Kecuali uang, justru kau harus punya uang. Hehe—

“Kak. Mau ini?” Anak yang kira-kira berumur empat tahun itu berdiri di sampingku menyodorkan tangannya yang memegang es krim rasa coklat. Aku tak langsung mengambilnya malah menoleh mencari jawaban dari sang ibu. Sang ibu tersenyum. Aku menangkap, ia berharap aku tak mengecewakan sang anak. Bagaimana ini aku sedang puasa.

“Kakak mau, tapi buat ade aja deh. Mama kan belinya untuk ade.” Jawabku lembut dan tersenyum.

“Aku punya dua. Tadi beli rasa vanila juga. Ini untuk kakak ” Celotehnya sangat lucu dengan gaya bicara khas anak kecil. Caranya mirip sekali dengan adikku di kampung. Si Syifa yang sering ku panggila Nana, nama belakanganya.

“Tapi, kakak lagi gak bisa makan es krim.”

“Kenapa? kakak gak suka? padahal enak.” Raut wajahnya penasaran.

“Enggak.  Kak suka. Suka banget. Tapi kakak lagi puasa.” akuku berharap dia menyerah

“Loh. Kok puasa? kan sekarang bukan bulan puasa. Kakak ngapain puasa.” Aku bingung baimana menjelaskan pada anak kecil begini. Jika kuberitahukan ini itu, apa pertanyaannya akan berhenti? Kurasa tidak.

Aku membujuk sang anak untuk duduk di sampingku. Saat ia mau aku mengangkatnya dan ia duduk tenang. Aku berpaling ke sang ibu. Ibu muda dengan jilbab hijau toska itu hanya memberi jawaban dengan senyum. Memang aku tak mengatakan apa-apa tapi sepertinya dia paham, aku memikirkan apa boleh aku berinteraksi dengan anaknya seperti ini.

“Kak, itu apa?” Tanyanya penasaran isi plastik berwarna putih terletak di sampingku.

“Hm… ini.” Aku meraih seluruhnya dan meletakkan ke pangkuanku. “Ini bahan untuk membuat kue.” Ucapku tersenyum berharap ia tak bertanya lagi. ” Sini kakak buka kan es krimnya nanti jadi cair, rasanya pasti gak enak.” Lanjutku cepat.

“Ini untuk kakak.” Aku meraihnya. Ia tersenyum. Aku membuka bungkus es krim lalu memberinya lagi.

“Ini untuk ade. Kak puasa.” Ucapku tersenyum. “Ayo makan, nanti cair loh. Kan sayang. Gak boleh buang makanan kan. Pasti mamanya pernah bilang begitu.” Bujukku. Aku mengelus kepalanya karena anak itu penurut.

“Kakak. Mau buat kue untuk buka puasa nanti ya.”

“iya.”

“Kue apa? Mama juga sering buat kue.”

“Hm…”

“Putri. Ayo sayang— ayah sudah datang.”  Panggil sang ibu.

“Kak. Nanti kalau ketemu lagi. Jangan puasa ya. kita makan es krim sama-sama.” Ucapnya cepat karena ibunya sudah menunggu. Aku tak mengiyakan, aku tersenyum sambil membalas lambaian tanganya. “Dadahhh kak.” Teriaknya memasuki mobil. Sang ibu tersenyum, dan mengucakan beberapa kata dan  terima kasih. Aku hanya berucap “Tidak apa, saya malah senang. Tidak terganggu sama sekali.” Jawabku membalas senyum.

Aku yang harusnya berterima kasih. Anak sekecil itu datang mengampiri tanpa mengenalku, lalu berhasil menghiburku. Setidaknya mengobati sedikit kerinduaku terhadap rumah dan adik-adikku.

Sepuluh menit yang berharga. Setelah setengah hari kuhabiskan waktu berlutik dengan leptop, printer, dan kertas lalu terburu-buru menuju bank. Ternyata tak berhasil menyelesaikan masalah hari ini. Dua tempat yang berbeda dan jarak yang jauh sama-sama menyuruhku kembali esok hari. Lelah, dan masih banyak hal lain yang membuatku ingin lari saja. lari yang jauh untuk sementara.

Aku tersenyum. Bersyukur anak itu hadir membuyarkan lamunanku,  aku yang resak mengingat -ingat ultimatum bapak kos semalam. Ah, bisakan aku menciptakan bayangan diri seperti naruto lalu bekerja sana sini untuk lebih banyak menabung.

Sebentar lagi azhar. Aku harus kembali ke kost. Aku mengendari motor hijau-putih milikku dengan pelan. Memarkir dengan santai, lalu berjalan lamban menuju pintu kos dan menaiki tangga dengan punyi besi-besi bergesekan dengan tasku membuat telingah sakit mendengarnya. Aku tak perduli.

“Assalamualaikum” Tak ada jawaban.

“Ah– cape pikiran.” Keluhku mengampas tas ke kasur. Buka jilbab menggantungnya rapi. Meraih kembali tas, mengeluarkan isinya dan menggantungnya juga.

Baru saja aku ingin melanjutkan bermain dengan tumpukan kertas, azan azhar terdengar. Aku bangkit dan berwudhu.

===

Samarinda- 03/02/2014