Archive | 2 Februari 2014

Dia Ada [Kadang-kadang]

Tak perduli anjing menggonggong. Aku tetap duduk di teras kost menatap langit. Tak sedetik saja berhenti menatap bintang terterang yang arah ke 3 jarung jam dariku.

Bintanya yang bercahaya terang, namun kesepian. Miris. Langit memang gelap. Angin berhembus membawa aroma hujan. Ku harap jika hujan turun, langit tak menggebu-gebu dan hanyut dalam tangisan hingga air matanya yang berlebihan melautkan segalanya.

Lima belas menit aku menikmati angin yang menembus jaket dan menusuk-nusuk tubuhku. Tak lagi mendengar suara nyanyian favoriteku lewat haedset yg melekat di sisi kiri telingahku.

Aku menekan-nekal layar ponselku. Tak bergerak. Angin berhembus lebih kencang. Akankah akan badai? pikirku terasa konyol.

Bosan bergelut dengan ponsel aku memasukkannya ke dalam katong jaket besarku. Aku memeluk lulut meredam dingin, kepalaku kuputar sembilan puluh derajat ke kiri lalu ke kanan. Ah, sial ini tidak menyenangkan. Aku menemukan sesuatu di sudut sana. Dengan pelan aku beralih menatap langit. Masih gelap. Aku semakin memeluk lututku, kali ini bukan karena dingin lebih ke menguatkan diri, menyuntikkan keberanian agar tak berteriak. Antara frustasi dan takut.

Aku tersentak saat suara burung tekukur atau entah burung apalah milik tetangga terdengar. Aku tak suka aura ini. Aku ingin berbalik, dengan cepat membuka pintu lalu berlari masuk kamar, menutup diri dengan selimut. Tapi, percuma! Aku yakin dia ada di samping pintu. Menjengkelkan keadaan ini!

Tolol! makiku pada diri sendiri. Aku yang telah memancing. Apa yang kulakukan diteras jam 1 lewat begini. Aku yang mengundangnya. Aku yang bersenandung tak tak jelas tadi, bernyanyi tanpa sadar karena mendengarkan musik. Ah, pergilah cepat. Maaf, aku tak bermaksud.

Lama aku berucap dalam hati. Lama aku menenangkan diri. Aku merasa dia sudah pergi. Kuberanikan diri untuk kembali memperhatikan sekitarku. Tak ada.

“Maaf ya.” Ucapku cepat beranjak dari sana.

Di kamar ini, kamar sederhanaku ini lah tempat aman bagiku dari seluruh bagian bangunan bertingkat ini. Dua minggu lalu aku terusik saat menuruni tangga menuju kamar mandi, sebulan lalu di dapur, dan tadi—Ah, aku dulu terbiasa dengan hal seperti itu. Tapi saat aku tersiksa, aku merasa tidak normal dengan keadaan ini.

Menolak kenyataan akan semakin menyiksa dan menyakitkan. Jadi ku coba lalui tanpa memperdulikannya. Lama berlalu aku tak mengerti mengapa, aku tak merasa bahkan melihat sosoknya. Aku senang, sangat.

Kini, beberapa bulan ini, aku kembali seperti tersedot kedunia itu, aku muyak, kesal, mau marah, tak tahan. Tapi, tak mengerti cara untuk bisa menghindar selamanya.

Ini menyiksa, bisa membuat gila, dan bisa mempertaruhkan segalanya. Aku takut, tapi aku coba bersikap biasa agar dia jerah dan pergi dengan sendirinya.

Huh, Fuhhh– hu