Archive | 3 Februari 2014

03/02/2014 (Dihibur anak kecil)

390024_10150505817263600_1919040279_n

Kursi panjang di luar toko menjadi tempat untukku duduk sendiri memikirkan banyak hal, sesekali membalas senyum orang yang lewat. Hingga sosok anak kecil di kursi lain di ujung sana bersama ibunya menjadi fokusku. Aku tersenyum saat dia menatapku sambil malu-malu. Anak yang manis.

Aku tak lagi fokus padanya. Aku menatap deretan toko bertingkat dan menawarkan berbagai hal yang kau inginkan. Kecuali uang, justru kau harus punya uang. Hehe—

“Kak. Mau ini?” Anak yang kira-kira berumur empat tahun itu berdiri di sampingku menyodorkan tangannya yang memegang es krim rasa coklat. Aku tak langsung mengambilnya malah menoleh mencari jawaban dari sang ibu. Sang ibu tersenyum. Aku menangkap, ia berharap aku tak mengecewakan sang anak. Bagaimana ini aku sedang puasa.

“Kakak mau, tapi buat ade aja deh. Mama kan belinya untuk ade.” Jawabku lembut dan tersenyum.

“Aku punya dua. Tadi beli rasa vanila juga. Ini untuk kakak ” Celotehnya sangat lucu dengan gaya bicara khas anak kecil. Caranya mirip sekali dengan adikku di kampung. Si Syifa yang sering ku panggila Nana, nama belakanganya.

“Tapi, kakak lagi gak bisa makan es krim.”

“Kenapa? kakak gak suka? padahal enak.” Raut wajahnya penasaran.

“Enggak.  Kak suka. Suka banget. Tapi kakak lagi puasa.” akuku berharap dia menyerah

“Loh. Kok puasa? kan sekarang bukan bulan puasa. Kakak ngapain puasa.” Aku bingung baimana menjelaskan pada anak kecil begini. Jika kuberitahukan ini itu, apa pertanyaannya akan berhenti? Kurasa tidak.

Aku membujuk sang anak untuk duduk di sampingku. Saat ia mau aku mengangkatnya dan ia duduk tenang. Aku berpaling ke sang ibu. Ibu muda dengan jilbab hijau toska itu hanya memberi jawaban dengan senyum. Memang aku tak mengatakan apa-apa tapi sepertinya dia paham, aku memikirkan apa boleh aku berinteraksi dengan anaknya seperti ini.

“Kak, itu apa?” Tanyanya penasaran isi plastik berwarna putih terletak di sampingku.

“Hm… ini.” Aku meraih seluruhnya dan meletakkan ke pangkuanku. “Ini bahan untuk membuat kue.” Ucapku tersenyum berharap ia tak bertanya lagi. ” Sini kakak buka kan es krimnya nanti jadi cair, rasanya pasti gak enak.” Lanjutku cepat.

“Ini untuk kakak.” Aku meraihnya. Ia tersenyum. Aku membuka bungkus es krim lalu memberinya lagi.

“Ini untuk ade. Kak puasa.” Ucapku tersenyum. “Ayo makan, nanti cair loh. Kan sayang. Gak boleh buang makanan kan. Pasti mamanya pernah bilang begitu.” Bujukku. Aku mengelus kepalanya karena anak itu penurut.

“Kakak. Mau buat kue untuk buka puasa nanti ya.”

“iya.”

“Kue apa? Mama juga sering buat kue.”

“Hm…”

“Putri. Ayo sayang— ayah sudah datang.”  Panggil sang ibu.

“Kak. Nanti kalau ketemu lagi. Jangan puasa ya. kita makan es krim sama-sama.” Ucapnya cepat karena ibunya sudah menunggu. Aku tak mengiyakan, aku tersenyum sambil membalas lambaian tanganya. “Dadahhh kak.” Teriaknya memasuki mobil. Sang ibu tersenyum, dan mengucakan beberapa kata dan  terima kasih. Aku hanya berucap “Tidak apa, saya malah senang. Tidak terganggu sama sekali.” Jawabku membalas senyum.

Aku yang harusnya berterima kasih. Anak sekecil itu datang mengampiri tanpa mengenalku, lalu berhasil menghiburku. Setidaknya mengobati sedikit kerinduaku terhadap rumah dan adik-adikku.

Sepuluh menit yang berharga. Setelah setengah hari kuhabiskan waktu berlutik dengan leptop, printer, dan kertas lalu terburu-buru menuju bank. Ternyata tak berhasil menyelesaikan masalah hari ini. Dua tempat yang berbeda dan jarak yang jauh sama-sama menyuruhku kembali esok hari. Lelah, dan masih banyak hal lain yang membuatku ingin lari saja. lari yang jauh untuk sementara.

Aku tersenyum. Bersyukur anak itu hadir membuyarkan lamunanku,  aku yang resak mengingat -ingat ultimatum bapak kos semalam. Ah, bisakan aku menciptakan bayangan diri seperti naruto lalu bekerja sana sini untuk lebih banyak menabung.

Sebentar lagi azhar. Aku harus kembali ke kost. Aku mengendari motor hijau-putih milikku dengan pelan. Memarkir dengan santai, lalu berjalan lamban menuju pintu kos dan menaiki tangga dengan punyi besi-besi bergesekan dengan tasku membuat telingah sakit mendengarnya. Aku tak perduli.

“Assalamualaikum” Tak ada jawaban.

“Ah– cape pikiran.” Keluhku mengampas tas ke kasur. Buka jilbab menggantungnya rapi. Meraih kembali tas, mengeluarkan isinya dan menggantungnya juga.

Baru saja aku ingin melanjutkan bermain dengan tumpukan kertas, azan azhar terdengar. Aku bangkit dan berwudhu.

===

Samarinda- 03/02/2014

02/02/14 (Minggu Pagi)

Camera 360

Kesibukan di pagi hari sama ade. Berisik, gaje, cekcok (?) mulut, meskipun begitu hidup berdua di kota ini harus saling perduli satu sama lain. Hehe—^^ === Aku mengucek mataku yang terasa sedikit bengkak. Mungkin aku kebanyakan tidur! pasalnya aku semalam tak menangis dan terlelap sebelum pukul sebelas. Beruntung aku tak meninggalkan sholat subuh. Aku terbangun saat azan masjid berkumandang, lalu kembali terlelap setelah menghadapa sang pencipta. Aku meraba sekelilinngku mencari ponsel. Benda putih milikku itu mati. Semalam aku lupa mematikan radionya, terbukti aku memang ketiduran. Jika tidak mana mungkin aku terlelap sebelum jarum jam menunjukan pukul 1 malam. Beberapa kali aku menarik udara lebih banyak dan menghembuskannya berlahan agar perasaan mengantukku sirna. Hari ini sepertinya akan cerah, lihat saja diluar sudah terang padahal ini belum pukul tujuh. Aku berdehem, duduk di pinggir ranjang, menggetak-gerakkan kepala karena leherku sedikit sakit. Aku meletakkan ponsel putihku di atas meja di sisi ranjang dan mencolok kabel untuk menyisi dayanya, lalu berjalan keluar kamar menuruni tangga ke kamar mandi. Membasuh wajah, menggosok gigi. Karena ini hari minggu mandi biasanya setelah bersih-bersih setiap inci bagian kost. Memasak nasi dengan rice cooker, lalu mencuci beberapa pakaian. Menyapu bagian dalam hingga teras kost, itu melelahkan tapi aku suka mengerjakannya karena aku senang sesuatu yang rapi dan bersih. Meski sesekali mengeluh karena hanya akulah penghuni kost satu-satunya yang melakukan itu. “Bangun de!” Gurutku di depan pintu membangunkan adikku. Dia tak bergerak apa lagi berdiri lalu membereskan tempat tidurnya. “Kamu.gak kerja hari ini? kamu lagi off? sudah jam 9 noh!” panjang lebar aku bertanya dia hanya ber’hm’ dan masih belum ada niat menikmati hari. Aku ber’uh’ dan membiarkannya. Aku beralih ke meja dapur untuk memotong beberapa jenis sayuran. Dua puluh menit semua menu sudah siap disantap. “De.” “hm…” “Bangun.” “Entar.” “Bangun mandi lalu makan.” ucapku lembut sedikit membujuk. “Gak lapar. Masih ngantuk.” “Astaghfirullah de, ini sudah hampir jam 9.” “AHH—masa, aku bisa telat dong!” paniknya berteriak, sedikit berlari keluar mengambil handuk dan keranjang peralatan mandi. *** “Bentar banget mandinya? mandi bebek ya?” “Ah. kamu sih gak bangunin” rasanya mau kujitak adikku yang hanya berbeda dua tahun dariku itu, tidak sopan tapi itu yangg membuat kami akrab dengan ketidak formal itu. “Yee, ade yang tidur kaya kebo.” aku duduk di ranjang memperhatikan ia memakai seragam kerja dengan terburu-buru. “Dasiku. Dasiku mana?” “Loh kok tanya sama aku? mana kutau semalam ade taruh mana?” “Ah telat! diomelin bos.” “Lagian hari minggu tetap kerja.” “Namanya juga resiko kerja. Dari pada aku leha-leha gak jelas.” “Ah, iya sih.” Ucapku membenarkan. “Ini, aku menyodorkan sebuah kain panjang kecil berwarna biru tua.” Aku mencarinya di setiap sisi lemari dan menemukannya hanya tergeletak di bawah selimut di tempat tidur. “Lain kali dibagusin biar gak pusing. Sekalian itu alarm buang aja gak fungsi sih.” ocehku menyindir kebiasaannya. “Udah deh kak. Jangan ngocek. Susah rapi nih masangnya” Aku berdecak dan meraih kerah bajunya. “Begini aja gak bisa rapi” Omelku membentuk dasi itu seperti pita. “Thanks” ia tersenyum setelah berkaca. “Ayoo makan dulu sebelum pergi.” “Nanti lebih telat.” “Belum. masih 20 menit kan?” “Iya deh. Lapar juga. Sekalian dibuat bekal nanti sore.” “Ih cerewet. Makan! biar aku yang sediakan bekalnya.” Aku memberikan piring dan sendok lalu sibuk membungkus makanan. … “Ade cepetan. Nanti telat beneran loh!” Aku menghidupkan mesin motor, ia berlari menenteng helem. “Ah, iya sabar coba.” Sebenarnya yang mau kerja dan sudah telat itu siapa, kok terkesan aku yang salah. Ah, tau ah gelap.