Archive | 4 Februari 2014

Jangan tanyakan berkali-kali hal yang sama

15: 23

===

Aku kesal. Rasanya ingin membanting ponsel tapi tak boleh, bagaimanapun jika rusak itu akan membuatku semakin pusing.

“Kak Umi. kapan pulang?”

Pesan itu membuatku muyak seketika. Jika sekali saja menanyakan hal yag sama tidak masalah. Ini sudah kujelaskan berkali-kali. Aku sangat ingin Pulang cepat, namun urusan di kota ini belum juga usai. Menunggu hal yg tak pasti, hanya utuk hasil selembar kertas. Sial. Aku kesal.

“Belum tau. Ini juga mau pulang cepat tapi masih ada yang harus diurus.” jawabku tiga hari lalu, dan berlanjut hingga beberapa pesan.

“Iya. nanti juga pulang. Tapi belum bisa mastikan. Kenapa sih, nanya pulang terus. Bapak sakit kah? atau Azmi yang sakit? jawab dan tanyaku kemarin pagi.

“Hah. Nanya terus. Gak tau kah, kak pusing di sini.” Jawabku semalam. Aku tak bermaksud ketus atau marah, tapi adikku yang baru duduk di bangku kelas 6 SD itu membuatku jenuh. bingung. dilema.

Hari ini aku tes TOEFL, kamis jilidan skripsi baru usai. Dan aku belum bisa mengurus SKL (Surat Keterangan Lulus, untuk ambil ijasah dan starnskipn nanti setelah wisuda) jika belum ada penyerahan skripsi 7  rangkap itu ketempat yang berbeda + 2 cd berisi data skripsi. Jika ingin menyerahkan tentu harus mendapatkan tanda tangan dosen dan pejabat kampus yang itu aku harus nunggu paling cepat tanggal 10.

Lalu tanggal 9 atau 10 ada acara Lesehan Cendikia UNMUL, dan aku paniatian Cendikia Fair 2013. Acara itu pembubaran panitian lama dan acara lain. Mau ikut tapi lihat keadaan, aku tak fokus kesana.

Jalan lain. pulang lalu nanti kembali lagi mengurusi semuanya. Setelahnya balik lagi ke kampung, dan kembali lagi ke Samarinda untuk wisuda. Ah rempong.

Hello pulang kampung bukan biaya sedikit loh. Setidaknya 120 di kantong. lalu jika bolak balik. Ah, itu duit lumayan di simpan untuk daftar wisuda kan. Lagian sekarang lagi krisis, kost juga udah masuk bulan baru. And tadi ke bank, gak berhasil ngeberesin suatu hal, itu juga butuh duit cin dan nunggu semingguan. Ah pusing.

Aku tau sih kamu masih SD, belum peka. Anggap deh aku yang lagi sensitif. Soalnya lagi cape dan banyak pikiran, mood hancur makin hancur.

Yee, emang iya sih aku gak suka sesuatu hal yang di ulang terus menerus. Toh, aku ini peka, dan gak usah di ingetin terus-terus, peduliku itu cuma susah nunjukinya. Aku ini gak bertindak tanpa pertimbangan, tapi ya gitu, sayanya suka ngedumen sendiri kalau lagi jengkel.

Siapa sih yang gak mau pulang. Hah?

Siapa yang enggak mau menghabiskan waktu sama keluarga yang bertahun -tahun sudah jauh. Tapi ya ga usah gitu ade. Itu malah nambah beban pikiran buat aku. Aku ini suka mikirin hal-hal, semua hal, jelas enggak jelas nempel aja gitu di otakku.

Kan… aku jadi banyak ngoceh. Ini gak bagus ni, ngoceh kaya gini. Tapi, yaweslah.

….

Ku ingat aku belum sholat azhar dan ini sudah 16:35. Aku mengambil air wudhu, dan sholat. Setelahnya berasa tenang.

Ku raih ponselku. Lalu mengirim pesan ke beberapa orang termaksud adikku.

“Assalamualaikum kak… Bagaimana acara LC jadikah?” Balasanya akan dirapatkan ulang. Akhirnya aku izin tidak ikut serta.

“Assalamualaikum. Neng. Gimana, ada kabar kapan bapaknya pulang?” Tidak ada balasan.

“Assalamualaikum de. Tau bapak …. Kapan pulang dari Surabaya?” Dijawab belum pasti kapan.

“Assalamaulaikum, Neng. Nanti tolong lihatkan hasil tes TOEFLku tanggal … Bisa?” Alhamdulillah dijawab bisa.

“Assalamualaikum. Dek. Aku jadi deh, pulang kamis. Kamu bisa kan ambilkan skripsiku yang sudah di jilid. Nanti aku kasi deh, notanya.” Tentu percuma mengiriminya pesan. Ia sedang kerja. Nanti sajalah di bicarakan jika ia sudah di kost.

“Iya. Aku pulang kamis. Bilangin sama mama-bapak ya. Terus tanyain ada yang mau dititip kah?” Balasku ke adikku di rumah.

===

Samarinda : 04/02/2014

Ngebet TOEFL – Over Serious

36belajar

“Ya Allah matahari.  TOEFLku.” pekikku bangkit dan dengan cepat membuka pintu kamar. Bukan ingin keluar tapi ingin masuk ke dalam kamar memastikan saat ini jam berapa. Mengapa aku berada di luar? terlelap di kasur depan TV yang sudah setahun rusak? Mengapa tidur tanpa sarung, selimut, atau kain yang bisa menghindarkan dari nyamuk? Mengapa aku tertidur menggenggam ponsel yang mati? Jawaban semua itu adalah, aku malas tidur kembali setelah sholat subuh karena esok tes. Tapi nyatanya, aku malah panik karena ketiduran.

“Ah. Kenapa sih mi, ribut banget?” Tanya adikku setengah sadar.

“Jam? jam berapa? jam berapa?” tanyaku cepat seperti kereta api, sambil meraih handuk merah yang menggantung. Ini resiko jika jam dinding tak pernah di ganti batrainya (lagi hemat–alasanya, hehe), lalu ponsel mati.

“Tau ah, liat sendiri.” Tanggapan yang menjengkelkan dari adikku. Lalu ia berbalik dan memeluk guling.

“Ihh nyebelin.” kesalku, menuruni tangga sedikit berlari menuju kamar mandi.


“Baru jam 6:45 kok. Tesnya jam 8 kan?” Jelas adikku saat aku kembali memasuki kamar. Kali ini dia sudah menyisir rambutnya dan merapikan tempat tidur.

“O…walah.” Ucapku legah.

Aku mengisi daya HP, setidaknya terisi 15% sebelum aku meninggalkan kost. Kostum hari ini, suram dipadukan ceria. Baju hitam , rok hitam garis kecil, dan jilbab baru motif bunga pink sedikit keunguan hadiah dari adik Wahyu–Nama depan (Cewek–Ayu)  semalam.

“Helem” Teriak adikku dari lantai dua kost. Ah, iya aku lupa membawa helem karena terburu-buru.

“Makasih.” Ucapku meraih dengan tangan kanan dengan cepat.

“Ih, buru-buru banget sih, kaya di kejar polisi aja. Ini masih 7:35 juga.”

“Yee. Tempatnya jauh. Belum lagi kalau macet anak sekolah atau apa kek gitu. Belum lagi harus lewatin 6 lampu merah.” celotehku memasang helem di kepalaku yang sedikit terasa pusing.

“Ya. Lewat jalan tikus dong.”

“Ini juga niatnya gitu. Udah, ah. Aku jalan, nanti telat 2 menit aja gak boleh masuk. Assalamualaikum.”

Sesuai rencana lewat jalan tikus. Lumayan lancar dan sanpai tempat tujuan sesuai perkiraan (7:50). Di sana sudah ada peserta test lain. Kurang dari 15 orang. Duduk menunggu dan sepertinya baru pertama kali ke ‘Balai Bahasa UNMUL’ meskipun mereka mahasiswa UNMUL, aku mengenali enam orang dari mereka. Ah, mereka menyapaku. Aku tersenyum sebelum mendekat.

“Lah, tes juga de?” Ucap ibu yang sedikit lebih muda.

“Lah ini kan mahasiswa Fisika juga.” Tambah suaminya. Aku menyengir sebelum menjawab sedangkan yang lain memperhatikanku.

“Iya. Ini mau test TOEFL juga. Padahal daftarnya sudah dua minggu lalu.”

“Ow. Ruangan berapa? Kalau satu ruangan jangan lupa ya!” Aku mengerutkan kening, mendapati maksudnya. Lalu ternyum dan menjawab tanpa memberi harapan.

“Ruangan 1 bu. Kalau sempat ya. Karena biasanya soalnya susah sedangkan waktunya singkat. Baru pertama tes kah?” Belum mendapatkan jawaban, fokus mereka beralih ke sosok wanita yang baru datang. OMG, ini kan mba yang ke marin pendadaran harinya sama denganku.

“Lah. Kamu baru mau tes juga?” Aku hanya mengangguk.

Dan dilanjutkan percakapan lain. Sesi tanya jawab, tanya jawab yang membahas banyak hal, dari pendaftaran wisuda, mengurusan berkas, dan trik memjawab tes TOEFL. Ya, ku usahakan menjawab dengan baik dari apa yang ku ketaui sebagai fakta.

Mereka itu adalah mahasiswa kerja sama di kampusku, dan di prodi yang sama. Mereka sudah menjadi guru tetap di sekolah, sesungguhnya. Hehe.

Di dalam ruangan tes~~~

Sosok itu tersenyum padaku lalu duduk di sebelahku. Angka mejaku 6. Sang hijau toska (Ibu…. Entah siapa namanya).

“De, ini berapa lama?” Tanya melirik temannya yang terpisah-pisah di ruangan ini. Ada di depan, belakang, sudut, bahkan ada di ruangan sebelah.

“Listeningnya  kalau enggak salah 35 menit untuk 50 soal. Tructure 25 menit 40 soal, nah yang bikin bosan itu readingnya bu 55 menit untuk 50 soal. Itu kalau enggak salah ingat. Saya tesnya udah pas SMA.” Jelasku panjang lebar, entah ibu itu mengerti atau tidak.

Ingin bertanya lagi. Namun, keburu petugas (yang masih mudah dan ganteng itu) masuk dan memeriksa kelengkapan peserta.

‘Wah—baru, pantes naik 10 ribu’ batinku melihat lembar soal yang kinclong, dan mengingat perkataan teman bahwa tes bulan lalu itu hanya 50 ribu, dan sekarang jadi 60 ribu untuk mahasiswa.

Tes dimulai—tereng-tereng, PUYENG!!!

Waktu berlalu begitu cepat. Sisa 30 menit. Dan–Ah sesi ketiga ini bikin bosan. Paragrafnya panjang-panjang yang dibahas gak jelas lagi. Aku gak suka, meskipun ada 2 topik yang ngebahas soal seni musik.

“Mba duluan ya.” Kata gadis berjilab dan baju orange, tas dan rok hitam, anggun.

“AH-Iya mba, silahkan.” Ucapku tersenyum. Dan— Aku menjama seluruh isi ruangan dengan mataku yang setengah merem. Eh? sisa aku sendiri ternyata dan ini lembar jawaban masih kurang 12 soal. Hueee 😥

Dengan santainya tersenyum kepada mas ganteng saat dia menatapku .  (Mungkin nganggap aku bodok kali—Negative thinking)

Nomor 44 okey. Lalu 3 nomor di koskan, dan menjawab 3 nomor terakhir. Mata kembali ke nomor yang di lewati tadi, isi sembarangan. Hahaha,

===

Apapun hasilnya biar aja deh. Toh udah usaha, dan serius amat gitu ngerjainya. Ckckc

===

Samarinda 04/02/14