Archive | Maret 2014

Buku Nikah (Akta Nikah)

Kali ini guwe pengen cerita penggalaman guwe soal nolongin orang dalam hal (baca judul) demi persyaratakan naik haji.

Sebenarnya hal ini hanya hal kebetulan, namun menjadi sangat berarti untuk pasangan kakek -nenek yang merupakan sahabat bapak guwe.

Jadi …

 

Dituntut Sabar

Samarinda 06/03/14

Banjirnya setinggi paha atas. Cowok lewat tadi itu aja sudah kelihatan kalau airnya dalem. Apalagi aku yang nekat, pasti udah basah semua rok.

Nah, itu motor juga kelelep begitu ==’. Butuh 3 lembar biru lagi tu biar nyala. Aih, kan lagi butuh nyimpan uang untuk keperluan wisuda nanti, kok malah jadinya boros begini. AHHH, gak rela.

Kan saya baru datang ke kota ini kemarin, terus besok mau pulang lagi, cuma mau ngurus berkas wisuda dan kostum nanti. Eh, malah banjir begini. #Nasib.

Rencana hari ini tertunda… 
–Mau ke kampus (mau ngambil berkas yang di tungguin kemarin dri pagi sampe siang belum di tanda tanganin, terus di atara ke Rektorat).

–Mau ngantar toga teman yang dititipkan ibunya dari kampung.

–Tadinya mau beli jilbab yang menyesuaikan kebaya. Bagaimana mau pergi, kalau dalam kos aja airnya sampe tangga kedua kelelep. Dan sekarang, sudah pukul 10.53. Mau mandi kamar mandi di bawah, mau ke WC juga di bawah. Kan banjir ==’

–dll

Akhirnya ngeram di kos aja sampe itu air benar-benar surut dalam kos dan di jalan. Lalu dorong motor ke bengkel yang jaraknya 200 meter.

AHHH #nyebelin ini semua, tapi mau ngimana lagi, cuma bisa sabar… toh ini sudah sering terjadi di Samarinda. Makin hari makin parah pula. Hujan bentar aja banjir, pas hujan enggak banjir tar tu air lama-lama tinggi meskipun hujan sudah redah.

DAN, itu salah satu alasan agar ingin cepat-cepat pergi dari sini. . .
Menjadikan kota ini, kampus ini, kos ini #kenangan. . .

100_0586

Hari ini.

Miam Banjir

 

Kalau tahun lalu banjirnya masih batas selutut dan bakalan nekat pulang atau pergi ke kampus (dengan menyediakan cadangan rok dan kaos kaki di tas.

Tahun ini sudah sampe sepaha (Makin parah). Dan bakalan ngeram di kos aja. Nahan Lapar dll. Sambil ngedumel gaje, bentar-bentar ngeliat ke bawah (apa dalam kos udah surut), lalu ngeliat keluar (apa di jalan masih tinggi airnya). Kalau enggak surut-surut ya di kos aja, kelaparan paling juga makan mie atau masak bagi yang rajin, kalau gak bisa tidur palingan dengerin lagu sambil natap dompet yang udah tipis bakalan makin tipis, ngegalauin lembaran dalam dompet yang bentar lagi bakalan melayang demi sang kendaraan yang mogok.

–Hal biasa yang terjadi di Pramuka. SMD.

Setelah ini semua, dari ini akan dimulai kembali. Semangat. Senyum.

Samarinda, 04/03/2014

u=3956765482,4230418559&fm=0

#Berasa  ngebet mau ninggalin ini kos, padahal wisuda aja akhir bulan tapi udah beres-beresin barang. Sebagian malah udah di rumah dari awal januari kemarin. Hehehe. Pulkam dari awal tahun. Balik ke sini cuma buat beberapa hari dan untuk ngurus berkas dan ngurus ini barang-barang. #Ngepackin barang-barang itu capenya kaya olahraga dua jam. Huh, udah berkerdus-kerdus tapi masih banyak yang perlu di kerdusin. Terutama buku, sudah 4 kerdus dan sepertinya masih butuh 3 lagi. Terus ada satu kerdus lagi sumbangan dari Divapress bulan lalu (iseng ikutan, beneran dikirimin dari jawa, alhamdulillah), 1 kerdus lagi pemberian ibu angkat (Ibu yang baik banget sama aku, dulu pas aku KKN malah nyumbang buku sampe 2 koper, malah sama kopernya sekalian, baik banget kan?). Ah, modal buku-buku ini aja sudah bisa buka perpustakaan mini untuk anak-anak di desaku. Semoga tahun ini diberi rejeki lebih banyak biar bisa terwujud. Amiin. Semoga setelah wisuda, bisa menjadi pengajar tetap yang tak jauh dari rumah, sambil mewujudkan harapan2 dan rencana-rencana yang terulis dalam buku impian. Kurelakan pekerjaanku di kota ini bersama selesainya studiku. Semoga nantinya bisa lebih gigih dalam meraih ilmu, berbagi ilmu, dan memperbaiki diri dari segala aspek. Amiiinn.   #Buku itu penting. #Membaca itu hal yang bermanfaat. #Berbagi ilmu itu hal baik. —Insyallah berpahala jika tulus melakukannya. 😀 “Railah ilmu, dan untuk meraihnya belajarlah untuk tenang dan sabar. Nothing Imposibble. Lakukan dengan hati maka hasilnya akan baik. Smile.”


Setelah semua yang terlalui, suka duka, tawa canda, menahan rindu dengan keluarga selama 10 tahun (SMP, SMA, kuliah) karena harus ngekos atau bahkan tinggal dengan guru, menyibukan diri dengan bekerja di sela-sela kegiatan kuliah yang penuh tugas dan laporan menumpuk, memperkuat kesabaran saat dilema menguasai diri harus memilih tetap KKN atau tidak karena rumah keluarga tercinta telah rata dengan tanah sebulan sebelum tanggal keberangkatan, dan ibu menguatkanku untuk tak menyerah dan menerima semuanya dengan lapang dada. Lalu kondisi saat KKN jauh di sana (Kalatara-Tana Tidung) tak apa-apa, pulang sakit dan tak dapat mendaftar kembali untuk PPL 2 di sekolah. ‘Tertunda sudah kelulusanku 1 semester’ Batinku. Dan nyatanya memang iya. Masih banyak lagi hal-hal yang terlalui yang memberikan pelajaran berarti bagi diri ini, melatih untuk terus bersabar dan mempertahankan diri. Yah. Masih ingin rasanya melanjutkan untuk meraih ilmu (melanjutkan pendidikan), tapi tahan dulu. Semoga suatu nanti bisa. Amin. Bagiku, belajar bisa di mana saja, kapan saja, dari hal sekecil apapun. Belajar itu tergantung diri sendiri. Semuanya akan tetap menjadi garis kehidupan ini. Masa yang berarti, perih kadang merajai namun wangi selalu menciptakan senyum terpancar. Dan itu sudah berlalu. Masa lalu yang akan menjadi kenangan, kenangan yang selalu ku syukuri. Terimah kasih Tuhan, atas segala cobaan dan nikmatMu.Tuntun hamba untuk terus memperbaiki diri untuk lebih dekat denganMu. Mudahkan harapan-harapan ini terwujud jika memang yang ku anggap baik, baikpula bagiMu. Amiinn. –bla bla bla—mau ngomong nulis banyak tapi nanti jadinya malah curcol konyol gaje lagi, heheh


Intinya mari mulai semangat baru. Setelah ini, insyaAllah mulailah lembaran baru. Setuju Nurmi? Sepakat? Senyum dan lalui semua dengan baik!   (^^)

Sederhana, apa adanya tapi penuh kasih sayang. Kebersamaan yang tak tergantikan. #Keluarga

#Lagi ngoceh gaje…

Mau kemana, bagaimana keadaanmu-nya, sosok-sosok itulah yang selalu setia mengakuimu. Sosok yang dulu kuat terkena hujan dan terik panas demi anak-anak tercinta. Kini mungkin mereka telah renta, kulitnya mulai berkeriput, mulai jalan berbungkuk atau bahkan tak mampu berjalan sama sekali. Sadarkah kamu bahwa mereka hal yang harusnya tiada hentinya kau syukuri. Merekalah tempat kasih sayang yang tak bisa kau cari dengan harta berlimpah, jabatan, atau hal lain.

Mereka sosok tulus yang merawatmu dengan cinta berlimpah. Iya, memang. Terkadang,kau mendengarnya mengoceh, bahkan mendektemu melakukan ini itu, tapi semua demi kebaikanmu, telusurilah maksud tujuan mereka, tidakkah kau sadari. Mereka sayang padamu.

Ibu yang mempertaruhkan nyawa untukmu. bla bla bla yang tak bisa dibuat daftar kebaikan belau. Lalu kau pikir kau bisa membalasnya? Tidak. Meski kau menangis darah. Tapi ibu tak mengharapkan apa-apa selain kebahagianmu.

Ayah. Ayah rela menerjang badai sekalipun demi menghidupimu. Lalu, apa kau pikir berbuat baik saja padanya sudah cukup? Tidak.  Ayah menginginkanmu tumbuh menjadi insan yang kuat, bermanfaat, berahlak mulia.

Mungkin ayah-ibumu pemarah (Bagimu), atau justru pendiam tak pernah mendektemu. Tapi coba pikirkan baik-baik. Jangan berharap orang tua yang selalu mengerti kita. Kitalah yang seharusnya lebih paham. Mereka menyekolahkanmu agar kelak kau belajar banyak hal dan memenuhi cita-citamu dan juga cita-citanya.

—Dan,

Ada saat keadaan membuatmu jauh dari mereka. Kau rindu? Syukur jika iya, karena sewajarnya. Jika tidak, itu keterlaluan. Sadarlah, bahkan mereka selalu mendoakan yang terbaik untukmu di setiap sujud beliau tanpa kau minta.

Jika kau sudah berkeluarga, memiliki rumah sendiri, anak. Tengoklah mereka sesering mungkin. Jika kau sedang bekerja, tolong jangan beralasan sibuk untuk mengabaikan mereka. Dan ketika kau sedang menuntut ilmu di luar kota, jangan sekali-kali membuat alasan-alasan terhadap diri sendiri untuk tak pulang. Kebersamaan itu tak tergantikan dengan apapun. Melihatmu baik-baik saja, tertawa dan berada bersamanya adalah harapan mereka. Mereka mungkin tak mengatakan, tapi apa kau tak menyadarinya?

—Mereka masih ada. Jangan tunggu nanti dan nanti. Kalau bukan kini lalu kapan? Saat nanti kau akhirnya menyesal? Semoga tidak.

Mereka sosok sederhana yang mendambakan kebahagianmu. Sosok apa adanya, yang rela memberimu makan dan menahan perut keroncongnya. Sosok  ayah yang tetap mencangkul sawah meski mengigil. Sosok Ibu yang rela semalaman tak tidur karena tangismu. Da hal-hal lain yang tak habisnya tercurahkan dari mereka.

—Kamu merasa sudah hebat? ketika ini itu yang kau inginkan sudah terpenuhi. Sadarlah. itu bukan apa-apa jika kau mengabaikan mereka. Mengapa? belajarlah! belajarlah lagi tentang  semua ini. Belajarlah lagi tentang kehidupan.

Belajarlah dari mereka, dari alam, dari segala hal yang menuntunmu dalam kebaikan.