Archive | 3 Maret 2014

Sederhana, apa adanya tapi penuh kasih sayang. Kebersamaan yang tak tergantikan. #Keluarga

#Lagi ngoceh gaje…

Mau kemana, bagaimana keadaanmu-nya, sosok-sosok itulah yang selalu setia mengakuimu. Sosok yang dulu kuat terkena hujan dan terik panas demi anak-anak tercinta. Kini mungkin mereka telah renta, kulitnya mulai berkeriput, mulai jalan berbungkuk atau bahkan tak mampu berjalan sama sekali. Sadarkah kamu bahwa mereka hal yang harusnya tiada hentinya kau syukuri. Merekalah tempat kasih sayang yang tak bisa kau cari dengan harta berlimpah, jabatan, atau hal lain.

Mereka sosok tulus yang merawatmu dengan cinta berlimpah. Iya, memang. Terkadang,kau mendengarnya mengoceh, bahkan mendektemu melakukan ini itu, tapi semua demi kebaikanmu, telusurilah maksud tujuan mereka, tidakkah kau sadari. Mereka sayang padamu.

Ibu yang mempertaruhkan nyawa untukmu. bla bla bla yang tak bisa dibuat daftar kebaikan belau. Lalu kau pikir kau bisa membalasnya? Tidak. Meski kau menangis darah. Tapi ibu tak mengharapkan apa-apa selain kebahagianmu.

Ayah. Ayah rela menerjang badai sekalipun demi menghidupimu. Lalu, apa kau pikir berbuat baik saja padanya sudah cukup? Tidak.  Ayah menginginkanmu tumbuh menjadi insan yang kuat, bermanfaat, berahlak mulia.

Mungkin ayah-ibumu pemarah (Bagimu), atau justru pendiam tak pernah mendektemu. Tapi coba pikirkan baik-baik. Jangan berharap orang tua yang selalu mengerti kita. Kitalah yang seharusnya lebih paham. Mereka menyekolahkanmu agar kelak kau belajar banyak hal dan memenuhi cita-citamu dan juga cita-citanya.

—Dan,

Ada saat keadaan membuatmu jauh dari mereka. Kau rindu? Syukur jika iya, karena sewajarnya. Jika tidak, itu keterlaluan. Sadarlah, bahkan mereka selalu mendoakan yang terbaik untukmu di setiap sujud beliau tanpa kau minta.

Jika kau sudah berkeluarga, memiliki rumah sendiri, anak. Tengoklah mereka sesering mungkin. Jika kau sedang bekerja, tolong jangan beralasan sibuk untuk mengabaikan mereka. Dan ketika kau sedang menuntut ilmu di luar kota, jangan sekali-kali membuat alasan-alasan terhadap diri sendiri untuk tak pulang. Kebersamaan itu tak tergantikan dengan apapun. Melihatmu baik-baik saja, tertawa dan berada bersamanya adalah harapan mereka. Mereka mungkin tak mengatakan, tapi apa kau tak menyadarinya?

—Mereka masih ada. Jangan tunggu nanti dan nanti. Kalau bukan kini lalu kapan? Saat nanti kau akhirnya menyesal? Semoga tidak.

Mereka sosok sederhana yang mendambakan kebahagianmu. Sosok apa adanya, yang rela memberimu makan dan menahan perut keroncongnya. Sosok  ayah yang tetap mencangkul sawah meski mengigil. Sosok Ibu yang rela semalaman tak tidur karena tangismu. Da hal-hal lain yang tak habisnya tercurahkan dari mereka.

—Kamu merasa sudah hebat? ketika ini itu yang kau inginkan sudah terpenuhi. Sadarlah. itu bukan apa-apa jika kau mengabaikan mereka. Mengapa? belajarlah! belajarlah lagi tentang  semua ini. Belajarlah lagi tentang kehidupan.

Belajarlah dari mereka, dari alam, dari segala hal yang menuntunmu dalam kebaikan.

Perjalanan hari ini (basah, sendiri, berduka, berdoa)

Senin, 03 Maret 2014

===

Bismillahirohmanirohim…


Kulirik jam dinding yang menunjukan pukul 8.00 pagi. Matahari tak bersinar sesemangat kemarin namun semangatku tetap bahkan lebih, setelah memastikan rupiah-rupiah yang ku harapkan kuperoleh kemarin, rupiah-rupiah itu hasil kerja kerasku seminggu lebih.

“Salimmm… salim..” ucapku menjulurkan tangan pada adikku yang berumur setahun lebih 2 bulan. Ia meraih dan mencium tanganku lembut. Ah, aku gemas. Ia manis sekali, meskipun setiap kali ia berkata-kata aku tak paham, namun tingkahnya selalu membuatku mengerti apa yang ia maksud.

“Aku juga kak Umiii…” Antri adikku yang syukur sudah baikan dari sakitnya seminggu ini. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah kami. Sedangkan ayah sudah ke kebun merawat padi-padi yang berada di belakang pondok kami (rumah kami sekarang). Ayah tadi sudah menuturkan pesan-pesannya yang sebenarnya sudah aku hapal.

“Mak… Jalan ya. Assalamu’alaikum.” Ucapku menciup tangan beliau.

Langkahku menuruni tangga yang lebih mirip papan seluncuran.

“Dadah… Dadah kak…”

“Dadah Azmi… Nanna… Jalan ya mak. Assalamualaikum…”


Jalanan berbatu desaku ku lalui dengan pelan. Lalu, jalanan berbatu sebelum aspal membuatku sedikit merasa prihatin. Jalanan itu baru saja beberapa bulan diperbaiki namun kondisinya kembali memprihatikan. Jalan itu bukan tanggungan kabupaten di mana alamat rumahku berada meski jaraknya hanya di pisahkan sepanjang sungai.Jalan itu berkisar 5 km.

Aku hanya memperkirakan saat itu 8.25, aku tak menggunakan jam tangan. Ponsel di dalam tas, aku tak ingin lagi menyimpan barang-barang dalam kantong ketika perjalanan jauh.  Aku membelokkan kendaraanku ke arah kiri di simpang 3. Aspal hitam yang juga mulai rusak membuatku sedikit lega karena terhindar dari hetakan keras batu-batu besar.

Aku tak tau jarak pasti dari desaku ke jalan raya (Jalan kabupaten yang juga menjadi jalan provinsi–Kab PPU ke Kab Paser–KalTim ke KalSel), aku juga tak pernah bertanya pada siapapun untuk memuaskan rasa penasaranku akan hal itu. Kalau ada yang nanya sih, aku cuma bilang ‘lebih dari 20 km deh kayanya, hehe’.


Oia, sebelumnya karena teman adikku ingin titip sesuatu dan temanku ingin titip sesuatu juga ke Samarinda tapi mereka siapnya di posisi masing-masing jam 9, jadinya aku mampir memandikan motorku sekaligus bisa ngobrol sama yang mandiin (hehe, teman SMA). Emm—eh, Ibuku lewat (Guru SMA tempatku tinggal), yeee kecewa deh karena rencananya mau mampir kerumahnya.

Semua titipan sudah di ambil di tempa berbeda. Hah? di titipin buah segalah 🙂 Tak apa deh, namanya juga pahala. Heheh,

Bismillah… Kini perjalanan yang sesungguhnya barulah di mulai. Berbekal doa orang- orang terkasih. Aku melaju dengan hati-hati, sendiri, dan selalu tetap fokus dan berdoa.

Matahari enggan menerangi, jutru gerimislah kini yang menjadi pengiring. Uh, aku mulai hawatir. Teringat tadi mama dan teman sempat menanyakan tentang mantel, dan ternyata aku memang tak membawanya. Langit belum begitu gelap aku terus melanjutkan perjalanan, basah sedikit tak apalah menurutku. Toh,

*

Hoaaammm—aku ngantuk lanjut besok2 deh jika urusan pendaftaran wisuda sudah beres. Waktunya istirahat, lumayan letih perjalanan kali ini. 😐