Sederhana, apa adanya tapi penuh kasih sayang. Kebersamaan yang tak tergantikan. #Keluarga


#Lagi ngoceh gaje…

Mau kemana, bagaimana keadaanmu-nya, sosok-sosok itulah yang selalu setia mengakuimu. Sosok yang dulu kuat terkena hujan dan terik panas demi anak-anak tercinta. Kini mungkin mereka telah renta, kulitnya mulai berkeriput, mulai jalan berbungkuk atau bahkan tak mampu berjalan sama sekali. Sadarkah kamu bahwa mereka hal yang harusnya tiada hentinya kau syukuri. Merekalah tempat kasih sayang yang tak bisa kau cari dengan harta berlimpah, jabatan, atau hal lain.

Mereka sosok tulus yang merawatmu dengan cinta berlimpah. Iya, memang. Terkadang,kau mendengarnya mengoceh, bahkan mendektemu melakukan ini itu, tapi semua demi kebaikanmu, telusurilah maksud tujuan mereka, tidakkah kau sadari. Mereka sayang padamu.

Ibu yang mempertaruhkan nyawa untukmu. bla bla bla yang tak bisa dibuat daftar kebaikan belau. Lalu kau pikir kau bisa membalasnya? Tidak. Meski kau menangis darah. Tapi ibu tak mengharapkan apa-apa selain kebahagianmu.

Ayah. Ayah rela menerjang badai sekalipun demi menghidupimu. Lalu, apa kau pikir berbuat baik saja padanya sudah cukup? Tidak.  Ayah menginginkanmu tumbuh menjadi insan yang kuat, bermanfaat, berahlak mulia.

Mungkin ayah-ibumu pemarah (Bagimu), atau justru pendiam tak pernah mendektemu. Tapi coba pikirkan baik-baik. Jangan berharap orang tua yang selalu mengerti kita. Kitalah yang seharusnya lebih paham. Mereka menyekolahkanmu agar kelak kau belajar banyak hal dan memenuhi cita-citamu dan juga cita-citanya.

—Dan,

Ada saat keadaan membuatmu jauh dari mereka. Kau rindu? Syukur jika iya, karena sewajarnya. Jika tidak, itu keterlaluan. Sadarlah, bahkan mereka selalu mendoakan yang terbaik untukmu di setiap sujud beliau tanpa kau minta.

Jika kau sudah berkeluarga, memiliki rumah sendiri, anak. Tengoklah mereka sesering mungkin. Jika kau sedang bekerja, tolong jangan beralasan sibuk untuk mengabaikan mereka. Dan ketika kau sedang menuntut ilmu di luar kota, jangan sekali-kali membuat alasan-alasan terhadap diri sendiri untuk tak pulang. Kebersamaan itu tak tergantikan dengan apapun. Melihatmu baik-baik saja, tertawa dan berada bersamanya adalah harapan mereka. Mereka mungkin tak mengatakan, tapi apa kau tak menyadarinya?

—Mereka masih ada. Jangan tunggu nanti dan nanti. Kalau bukan kini lalu kapan? Saat nanti kau akhirnya menyesal? Semoga tidak.

Mereka sosok sederhana yang mendambakan kebahagianmu. Sosok apa adanya, yang rela memberimu makan dan menahan perut keroncongnya. Sosok  ayah yang tetap mencangkul sawah meski mengigil. Sosok Ibu yang rela semalaman tak tidur karena tangismu. Da hal-hal lain yang tak habisnya tercurahkan dari mereka.

—Kamu merasa sudah hebat? ketika ini itu yang kau inginkan sudah terpenuhi. Sadarlah. itu bukan apa-apa jika kau mengabaikan mereka. Mengapa? belajarlah! belajarlah lagi tentang  semua ini. Belajarlah lagi tentang kehidupan.

Belajarlah dari mereka, dari alam, dari segala hal yang menuntunmu dalam kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s