Archive | November 2014

BBM naik? Perduli?

10171712_869067006466610_1812379382445735079_n

#CurCol
#SM3T
#Papua

Yang lain pada sibuk mikirin BBM. Tapi saya masih setia mikirin kemajuan anak didik saya. Buka gak perduli hal lain sih, tapi lebih fokus sama tugas negara yang saya embang. Ha ha ha

Mau BBM naik atau gak, di sini emang apa-apa sudah mahal, sudah susah. Ya, kalau BBM naik jelas berdampak di sini juga. Pusing-pusing mikirin percuma, gak ngerti seluk beluk keputusan pemerintahan, gak ngerti politik, gak ngerti sistem ekonomi dengan baik, mau ngoceh ini itu takutnya salah mending diam dan nikmati, setidaknya hati berdoa dan bersabar.

Yang saya mengerti saat ini. Menebar senyum, menularkan semangat, berbagi suka cita dan pengetahuan. Belajar dan mengajar. Belajar banyak hal dan mengajarkan banyak hal sederhana yang lebih bermakna serta berguna.

Bukan gak perduli atau tak satu rasa dengan orang-orang yang eksis dengan perkembangan ini itu. Saya orang yang kadang merasa cukup tau, toh saya tau mana yang bisa saya rubah dan tidak. Hahaha, saya PD atau pesimis sebenarnya, saya gak tau.

Miris? Iya tapi gak terlalu kok. Saya lebih miris kalau anak-anak negeriku ini tak pandai dan banyak yang putus sekolah, terabaikan, merasa disia-siakan.

Sedih? Iya pastinya, keluargaku juga bukan orang mampu kok, petani, bukan orka.Tapi, positif thinking boleh.

Kesal? Ah, biasa aja. Sepertinya saya lebih kesal kalau anak-anak negeri ini suka berbicara seenaknya tanpa tau pasti, tidak sopan apalagi mencaci—sok tau.

Jadi maunya apa? Gak tau maunya apa. Mau saya banyak, banyak banget. Sama dengan mau kalian, susah menjelaskannya. Ah, lupakan, saya tidak mau berbicara banyak tentang itu.

Sekilas info tentang foto ini:

Anak-anak ini sedang menggambar sesuatu dan mewarnainya, setelah pulang sekolah. Yang punya pewarna, anak berpakaian pramuka–siswi kelas 3. Sepatunya pemberian, hari itu sebenarnya hari kamis, tapi anak itu tidak memiliki seragam selain pramuka. Jadi itulah yg ia kenakan, kadang ia hanya memakai roknya, seperti anak berpakaian biasa di sebelahnya. Anak itu siswi kelas satu yang selalu masuk sekolah meskipun tidak memiliki baju putih dan baju olahraga. Dia selalu semangat.

Perhatikan anak yang memakai pando. Namanya Maria, anak yang bisu, tapi tak sekalipun ia tidak masuk sekolah selama saya di sini. Hari itu kebetulan ia meminjam pakaian kakaknya, padahal hari biasanya ia tak memakai seragam sama sekali. Saya tau karena setiap pagi ia berbari paling depan. Di kelas ia tak bisa bernyanyi, bersorak, membaca dan mengungkapkan apa yang ia rasakan. Meski begitu ia selalu menjadi anak yang ceria, tersenyum padaku bahkan tertawa saat aku berusaha berinteraksi dengannya. Ah, dia selalu setia menulis tanpa disuruh, setia mendengarkanku menjelaskan, ikut bertepuk tangan saat kami semua bernyanyi. Saya selalu ingin tau apa yang ia rasakan, tapi bagaimana caranya. Ah, saya tak tau. Selama ini dia hanya menjawabku dengan senyum dan tatapan yang samar-samar kumengerti. Aku tidak tau, apakah dia mengerti atau tidak pelajaran yang kusampaikan. Tapi, kakaknya sangat pandai—diantara yg lain.

*

“Hallo,” Sapaku disaat melangkah menuju rumah dan mendapati mereka sedang duduk direrumpitan samping kamar mandi. Jika anak kelas lima akan menjawab ‘Hai’. Anak-anak ini akan menjawab kata yang sama yang saya ucapkan ‘Hallo’.
“Kalian sedang apa?” Tanyaku penasaran sambil mendekat dan duduk diantara mereka. Anak-anak itu tersenyum malu-malu menutupi gambar mereka.
“Kalian menggambar? Ibu guru boleh lihat tidak?” Godaku sambil mengganggu.
“Ah, tidak baik ibu guru.”

“Tidak. Ibu tidak akan bilang begitu. Ibu guru boleh lihat toh? Boleh? Sedikit saja” Mungkin kali ini saya terkesan memaksa dengan senyum mengembang tapi nyatanya anak-anak ini malah memasukkan buku mereka ke tas rajutan tali mereka.
“Ah, tidak papa. Besok-besok ibu guru boleh lihat toh?” Kecewaku memaklumi.

“Boleh. Tapi ibu guru ajar kami dulu, baik.”

“Bisa. Kalian tidak lapar? Tidak pulang?” Aku mengalihkan setelah mengiyakan. Anak-anakku banyak yang rumahnya jauh bahkan hingga 4 km, termaksud anak-anak ini. Terik matahari sudah tepat di atas kepala, aku yakin perut mereka mulai sakit. Bahkan saya perna mendapati salah seorang muridku berbaring dirumput belakang sekolah, ternyata ia sedang kesakitan karena lapar. Oh Tuhan, mereka jarang sekali sarapan, sarapanpun mungkin hanya dengan ubi rebus atau bakar. Sedihnya lagi si Desi, yang sering tak makan seharian karena orang tua yang tak bertanggung jawab. Kasihan. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa selain berbagi senyum, sesuatu semampu dan semauku.

Kelima anak itu tak menjawab. Malah bertanya hal lain.
“Ibu guru? Mengajar kami banyak boleh? Bapak guru tidak baik.” Aku terdiam memikirkan jawaban yang tepat dan dapat dimengerti oleh mereka.
“Ibu guru tidak mau kah?” Lanjutnya menanti jawabku
“Ah, tidak toh. Ibu guru mau sekali mengajar kalian semua setiap hari. Mau sekali. Tapi, bapak kepala sekolah kasi ibu guru tugas kelas lima toh. Lalu jika ada bapak guru, tidak mungkin ibu masuk kelas kalian begitu, nanti bapak guru marah kan.” aku terkesan serius. Harusnya kujawab dengan jawaban lain, tapi aku tak bisa berbohong terutama pada diriku sendiri.
“Bapak guru masuk sebentar saja.”
“Tapi ada toh? Biasa kalau trada, ibu guru masuk kan. Makanya, kalau ibu masuk belajar baik boleh. Mau jadi pintar kah tidak?”

“Mau.” Aku merangkul anak di sampingku dan menyuruh yang lain lebih mendekat.
“Bagus. Ini janji kalian sama ibu guru kan, jadi tidak boleh malas ke sekolah.” Kami duduk berderet, mata-mata itu menatapku serius menanti kalimatku berikutnya tapi aku terdiam menatap balik ke kiri lalu ke kananku.
“Ah, kalau mau pintar senyum dulu. Ayo dekat-dekat sini. Di belakang ibu guru boleh.”

Aku mengeluarkan ponsel dari sakuku, memilih ‘camera’ dan mengarahkannya ke kami. Mereka mulai tertawa-tawa melihat wajah mereka dilayar.

“Ayo siap. Senyummm… Tidak baik banyak gerak. 1 2 3” Hahah. Anak-anak, diberitahupun pasti tak sepenuhnya mengerti. Mereka goyang sana-sini, dari sekian banyak foto, hanya ada 4 yang bagus.
“Ah… Bagus toh? Setelah ini pulang boleh. Belajar di rumah baik. Nanti mama cari.” Aku menunjukan semua foto-foto kami, mereka tertawa melihatnya.


Murid-muridku sayang. Jangan pernah merasa aku membeda-bedakan kalian. Justru aku ingin kalian mengerti bahwa, kalian memiliki hak dan kesempatan yang sama, sama dengan mereka di sana—yang katanya lebih baik.

Aku ingin kalian paham. Setiap orang di dunia ini, setiap anak Indonesia berhak untuk hidup yang lebih baik.

Anak-anak harapan bangsaku. Abaikan kata dan pandangan mereka tentangmu—yang mereka tak tau kenyataannya. Tak perduli jalanmu berkelok berkerikil bahkan berduri sekalipun. Kau harus terjatuh dan bakit berkali-kali demi harapan dan cita-citamu, tersenyum dan semangatlah sayang! Aku akan selalu mendoakanmu dan mengharapkan hari-hari cerahmu.

Pelajaran Kecil

05/09/2014SM3T UNMUL
Hari jumat. Hari ini jadwal seluruh murid belajar agama. Dulu ada suster yang mengajar mereka, jika suster tidak datang ada satu guru tertua di sekolah ini yang menggantikan. Tapi? Pagi ini sudah pukul 7 lewat dan belum ada suara-suara murid berbahasa ibu lalu tertawa di sekitar sekolah.

Aku memakai pakai rapi lalu mengintip dari jendela kamar. Mungkin hari ini mereka tidak masuk, gumamku agar tamanku merespon.

“Hari ini mereka tidak ada yg mengajar.” jawabnya.
“Kenapa?”
“Bapak Wiliem tidak masuk juga tadi pagi beliau titip kunci dengan murid dan menyuruhnya menaikkan bendera.”
Mendengar itu samangatku kendor. Terlebih kemarin kepsek sudah tidak masuk dan menurut informasi dari guru, kepsek hanya datang sampai hari kamis. Keajaiban jika datang hari ini.

Pukul 7.45 pagi, aku memakai topi dinasku serta sepatu putih favoritku sambil tersenyum, melangkah pasti menuju sekolah.

“Selamat pagi.”
“Pagi ibu guru.” jawab beberapa siswa itu tersipu-sipu.

Aku memasuki ruang kantor, yang menurutku sangat butuh penyusunan ulang letak-letak meja ataupun hal lain yang ada di dalam ruangan sempit itu.

“Sepertinya hanya kita berdua yang mengajar hari ini?!” Tanyaku sambil membuka gorden yang mulai sobek termakan usia.
“Iya. Mau bagaimana lagi…” Jawab kawanku kecewa dan pasrah.


Aku memukul bel sekolah. Temanku menggantikan karena menurutnya kurang keras. Aku meraih kunci-kunci di atas meja lalu berjalan ke pintu-pintu, membuka.

Murid-murid berbaris di depan ruang kelas enam. Aku melirik sekejap memastikan seberapa banyak mereka. Sedikit. Anak kelas 2 hanya 2 orang saja, kelas lain juga hanya separuh dari biasanya.

“Sementara ibu Nurmi membuka seluruh kelas, ayo baris rapi. Ketua kelas enam maju.” kawanku mengarahkan mereka. Aku tersenyum dari jauh. Kegiatan rutin itu sudah menjadi yang ke empat tapi masih saja kurang. Berkali-kali kata siap dan luruskan diucap masih saja belum rapi.

“Ulangi. Ibu guru sudah bilang toh? Kalau temannya memimpin dengarkan baik-baik. Yang memimpin bagaimana sikap?”

Ku dengar dari kejauhan, volume suara kawanku lebih dari biasanya.

“Pemimpin itu jadi contoh. Jadi suara harus keras toh? Harus lihat teman yang lain. Jika belum lurus jangan siapkan. Kalau masih ada yang berbicara tegur, sebut nama. Bisa toh?” Ia mulai berbicara banyak, murid-murid belum disiapkan.

“Ayo dicek temannya. Kalau ditegur berkali-kali tidak berubah. Datangi.”

Langkah kaki hitam berlumpur tanpa sepatu itu menuju barisan dan mengatur satu persatu anak kelas 1 dan 2. Aku mendekati kawanku, berjalan pelan tak bersuara apa lagi berani berpendapat.
“Iya begitu. Yang lain bisa toh atur diri sendiri?” sambungnya.


Barisan sudah disiapkan lalu diistirahatkan.

“Cape?” Tanyaku.
“Iyo ibu.”
“Kalau cape harus baris bagus toh biar ibu guru tidak lama suruh berdiri. Paham?”
“Paham ibu.”
“Setuju?”
“Iyo. Setuju.”
“Semangat!”
“SEMANGAT” jawab mereka serentak dan mengepalkan tangan kanan ke atas.

Aku memberi kode pada kawanku yang baru kembali dari ruangan kantor untuk meneruskan.


Aku merekam dari belakang kegiatan itu. Kawanku sepertinya lebih lembut sekarang. Ku dengar ia memberikan nasehat-nasehat penting, sesekali bernyanyi untuk menyindir mereka yang malu-malu.
“Pemberani tidak boleh menunduk…
Pemberani tidak malu-malu. Pemberani…”

Aku keluar pagar sekolah, melihat ke arah jalan dari kota, tak ada murid yang datang. Kemudian arah lain, ku lihat 2 bapak guru yang berjalan tak jauh dari sekolah. Jauh di belakangnya banyak murid-murid berlarian agar lebih cepat sampai. Senyumku mengembang. Setidaknya mereka masih ingin bersekolah.

“Ayo cepat. Sudah lewat jam delapan.” Teriakku lalu masuk untuk menanti mereka.


“Eh, yang terlambat barisnya di sana.” ucap temanku menunjuk sisi lapangan di depanku. Yang terlambat kembali berhambur dari barisan dan menujuku. Aku tersenyum seolah memberi isyarat bahwa aku tidak akan menghukum mereka, jadi mereka tak perlu takut.
“Baris seperti biasa yo” Beberapa detik setelah perintahku, 2 anak kelas satu langsung mengambil posisi. Yang lain sedikit lambat.
“Bagus.” Ucapku menunjukan jempol pada dua murid mungil itu.
“Ayo yang lain masa kalah sama adiknya. Malu toh?”
“Frans. Boleh pimpin? Murid kelas limaku itu langsung maju. Ia melakukan tugas dengan baik.
“Tidak usah menoleh, lihat kedepan. Sikap siap toh? Lihat Frans. Bukan temannya yang berbaris di sana.”
Mereka mengikuti perintah.
“Jauh rumah kan? Atau bantu mama dulu? Jadi hari ini masih terlambat?”
“Jauh ibu.”
“Ibu tidak marah kalian terlambat, tapi tidak senang juga kalian terlambat. Boleh besok- besok tidak terlambat?”
“Iyo.”
Jawaban mereka membuatku terdiam. Menunggu kawan yang masih menanti kesempurnaan barisan di hadapannya.
“Ibu tidak akan suruh turunkan tangan kalau masih ada suara apa lagi garuk kepala.”


Setelah barisan digabungkan dan dalam posisi istirahat. Aku membuka dengan semangat.
“Selamat pagi…”
“Pagi ibu guuru”
“Kurang keras. Selamat pagi semua…”
“PAGI IBU GURUU.”
“Bagus. Pagi-pagi harus semangat toh? Tepuk tangan dulu untuk kalian. Ibu guru tidak marah toh? Ibu guru hanya ingin kalian disiplin, perduli dengan teman. Jangan kira ibu marah ya!”
“Iyo.”
“Bagus toh kalau rapi? Terus, teman sudah bagus baris tapi yang lain masih ribut dan goyang sana-goyang sini. Kasihan toh temannya? Satu salah semua kena. Besok-besok baris bagus yo.” Mereka mengiyakan.

“Ibu Wira mau tambahkan?”
“Apa kabar?” Teriak kawanku semangat.
“Luar biasa.” Teriak semangat murid membalas dan mengacungkan kedua jempolnya.

Kawanku mulai berbicara ini dan itu membuat murid-murid itu lebih ceria lagi. Yel2 dan lagu serta gerakannya kami lakukan bersama-sama.

Doa bersama sebelum kegiatan bersih-bersih dimulai. Aku mendapat tanggung jawab mengawasi, memandu siswa kelas 3 dan 4 membersihkan ruangan. Luar biasa mereka siswa yang aktif dan menyenangkan.

Seluruh sisi disapu termaksud pelapon dan dinding yang mulai banyak sarang laba-laba. Bangku disusun ulang dan foto presiden serta wakilnya dilap bersih. Burung garuda bahkan dibersihkan dengan air. Begitu juga dengan papan tulis yang menggunakann kapur, harus menggunkan kain basah.

Tidak hanya dalam ruangan, sampah-sampah di sekitar sekolah dipunguti dan dikumpulkan menjadi satu dan akan dibakar saat pulang sekolah.


Paling menggemaskan saat membantu siswa kelas satu membersihkan kelas. Bayangan mereka yang mengambil rumput di sekitar sekolah untuk menyapu kelas. Aku tersenyum kaget melihat itu.

“Halo.”
“Ibu guru.” ucapnya lalu berlari masuk kelas.
“Sudah bersih?” ucapku pura-pura bertanya karena kelas malah penuh rumput.
“Bapak guru mana?”
“Di sebelah.” rupanya beliau mengawasi kelas 2 lebih dulu. Aku meminta izin mengambil alih kelas 1.
“Tidak ada sapu?” bukannya menjawab mereka malah berlari keluar dan membuang sapu rumput mereka lalu kembali masuk.
“Ibu guru boleh ambil sapu dulu?”
“Iyo.”

Kembali dengan 3 sapu di tangan. Mereka berlomba ingin menggunakan. Mereka berdiri mengelilingiku dan mendongak dengan harap diberi. Ku berikan yang ku anggap mampu, ternyata mereka bertengkar.

“Hallo.” ucapku di tengah-tengah ruangan sambil tepuk tangan agar dapat perhatian.
“Yang pegang sapu menyapu. Yang lain bantu ibu angkat meja kursi. Bisa?”

Mereka langsung bergerak kecap. Aku yakin mampu mengangakat hanya berdua. Tapi ingin hal lain.

“Berhenti.” mereka menatapku heran. Aku tersenyum.
“Angkatnya berempat biar lebih ringan dan harus kompak jalannya. Boleh?” mereka hanya tersenyum malu-malu. Rasanya ingin tertawa puas saat melihat kelas rapi dari biasanya.

“Ayo. Duduk dulu.” Mereka mulai mengambil posisi.
“Ini kenapa duduk bertiga?” Tidak ada jawaban hanya ada cengir-cengir dan mata-mata coklat menatapku.
“Boleh pindah satu?” Mereka saling tatap.
“Masih ada toh kursi kosong. Masih ada juga teman duduk sendiri. Boleh pindah?” yang lain menjawab iya namun ketiga snak itu tidak. Bagusnya meski tak menjawab, satu orang berdiri dan pindah ke sebelah.
“Nah. Pintar. Ayo tepuk tangan untuk temannya.”
“Ada yang masih ingat lagu kemarin?” Semua bungkam.

Aku menaikkan 3 jariku kedepan.

“3” sebut mereka serentak. Ku lanjutkan untuk mempermainkan jari-jari menguji kemampuan menghitung mereka. Luar bisa menghitung sampai 10. Semua benar meskipun ku acak angkanya. Selanjutnya aku ingin mereka bernyanyi.

“Satu satu saya sayang Mama… Dst” Aku mulai bernyanyi diikuti mereka. Yang membuat gemas lagi mereka mengikuti gerakkan yang ku ajarkan.
“Sekali lagi. Setelah itu foto bersama dan kita kumpul di lapangan sama kakak-kakak yang lain.”

Suara mereka makin keras dan saat berfoto mereka senyum manis. Bulu mata lentik itu menggodaku. Aku suka sekali. Hahaha.


Mereka semua duduk melingkar, sesekali berdiri. Kami melakukan beberapa permainan. Menyanyikan beberapa lagu agar lebih semangat. Dan sebelum pulang aku bergantian dengan teman.

Kawanku memandu mereka menyanyikan lagu-lagu keagamaan mereka. Aku menjauh sedikit, ku lihat bapak Wiliem duduk di kursi depan kantor ikut bertepuk-tepuk tangan sama dengan murid-murid. Aku tersenyum menyaksikan itu.

Sebelum pulang mereka berdoa. Aku masih berdiri 5 meter dari mereka berdoa dengan caraku sendiri.

“Amiin.” semua Siswa berdiri. Kawanku mengarahkannya keluar pagar dengan berbaris rapi.


Pelajaran kecil yang begitu berarti. Kami ingin mereka menjadi generasi penerus bangsa yang kuat, gigih, disiplin, serta berwawasan luas tanpa merasa berbeda.

Pelajaran kecil untuk perubahan besar.

“…. Tunggulah wahai negeriku. Baktiku padaku.” Begitu lirik lagu yang sering kami nyanyikan dan siap membagun tembok janji dalam hati kami. Pendidik generasi bangsa, duta pendidikan nasional.

AyuMi

599738_299396063498955_1975213696_n 1u1

Wahyu Puspita Sari —Biasa kami panggil Ayu

Adalah sosok ade yang ku kenal dari bangku kuliah. Meskipun kami berbeda jurusan dan tahun masuk kuliah. Tapi dengan Ayu, aku bisa merasanya nyaman dan akrab dengan mudah.

….

Kak Junot

Yamie1

Aku sering memanggilnya kak Junot atau kak Hesa. Nama itulah yang pertama ku tau saat mengenalnya. Aku mengenalnya 2010, awal tahun.
Saat itu aku telah menghapus Facebook lamaku dan membuat yang baru. Saat mencari teman-temanku aku menjadikannya teman.  3 Hari dikonfirmasi dan ternyata aku salah orang.

Grafik onlinenya dia itu titiknya berjauhan. Seminggu sekali baru chat denganku. Kami memutuskan untuk berkomunikasi lewat ponsel saja. Dan Alhamdulillah sampai sekarang. Meskipun dia tidak menggunakan FBnya lagi, atau telah membuat ulang lalu tak terurus lagi, namun komunikasi itu masih terus ada. Semoga nanti 2014 aku akan bertemu dengannya mendengarkan suaranya secara langsung, dan mengobrol denganya secara langsung. Amin

===
Kak Junot kuliah di Jakarta. Jika liburan ia akan ke Surabaya dan sekitarnya.


12/01/2014

Kak junot minat baanget sih ke Kaltim.
Nanya mulu gimana caranya jadi pengajar di daerah terpencil, lulus juga belum kak. Hehe. Alasanya simpel “Kakak pengen aja. Biar gak cuma hura2 bareng temen di kota. Apa lagi Jakarta bikin bosan.”

“Serius kak? yakin? milihnya yg terpencil lagi.”

“Yakin dong. Kenapa enggak? kayanya ada tantanganya banget deh kalau daerah terpencil. Menemukan kehidupan yang lain. Hehe”

“Kenapa Kaltim kan banyak daerah lain kak?”

“Pengen ke sana lagi.”

“Tapi kan kak Junot waktu itu ke Banjar bukan Kaltim itu kak.”

“Ah. Iya ya. Tapi kakak maunya di daerah terpencil. Tempat Mi aja ya.”

Hahaha, kak junot sesuatu sekali.


Oktober 2014

 

 


10/11/2014

Hari ini aku bicara banyak dengan kak Junot. Berbagi hal jadi topik. Terkhusus ‘Hari pahlwan’.

Sisilia

Sisilia. Murid kelas 5 SD Inpres Isaima. Lahir 1997

Sisilia. Murid kelas 5 SD Inpres Isaima. Lahir 1997

#SM3T – Nurmiati, S. Pd #SD Inpres Isaima “Sisilia sering bantu mama?” Aku tersentak. Pertanyaan ibu guru tentang kehidupan sehari-hari kami memang sering terlontar begitu saja. Tapi, aku tak tau harus menjawab apa. Aku takut ibu guru marah nanti. “Sisilia melamun?” Suara ibu guru terdengar lagi, suara tak marah itu membuatku bersalah. Ibu guru tak menatapku, ibu guru sibuk memeriksa tugas kami. Teman-teman menatapku lalu sibuk membaca buku masing-masing lagi. Aku masih diam. “Kalian boleh bantu mama tidak?” “Boleh kata ibu guru, tapi harus izin dulu.” Jawab murid lain. “Iya. Tapi sisilia punya Alpa sudah 7. Bagaimana ini?” “Ibu guru saya berapa?” Tanya Tresia, aku masih diam memikirkan pertanyaan ibu guru. “Nanti saya bacakan hasil absen bulan lalu. Sekarang, ibu mau tanya Sisilia dulu.” ibu guru belum mengangkat kepala, belum memalingkan tatapannya dari tumpukan buku kami. “Sisilia, boleh duduk samping ibu guru? Yang lain lanjutkan membaca. Baca keras tidak papa, melatih mengucapkan dengan benar toh. Saling belajar teman sebangku tidak apa. Bergantian, saling mengoreksi yang lancar dan tidak.” Teman-temanku sibuk lagi, aku melangkah mendekat, ibu guru geser sedikit. Kali ini ibu guru menatapku tersenyum. Aku semakin gugup tapi sekejap aku mudah menjawab semua pertanyaannya. Seperti biasanya, ibu guru hanya mampu menasehati kami, ibu guru bilang ia tidak memaksa kami untuk harus dan harus bersekolah, katanya masa depan kami hanya kami yang menentukan bukan ibu guru atau orang lain yang menyuruh ini dan itu. Hanya saja, saat menatapnya aku sadar ibu guru berharap padaku. Ibu guru tak pernah mengatakan kami bodoh atau tak pintar. Ibu guru hanya bilang, semua anak di dunia ini pintar hanya yang membedakan seberapa dia punya kesempatan dan seberapa kuat usaha mereka untuk pintar. Tapi, aku? Di kelas akulah yang paling besar tapi membaca saja aku belum lancar. Sebenarnya aku malu dan selalu ingin sekolah. Keadaan memaksaku absen. Ku harap ibu guru memaklumi, aku janji untuk lebih rajin lagi. Aku sudah ketinggalan banyak pelajaran. *** Hari ini, ibu guru memujiku. Dia senang karena aku sudah bisa membaca, meskipun sesekali salah menyebut huruf j dengan y. Ah, ini kebiasaan kami anak-anak papua membuat sulit berubah. Bangganya aku punya ibu guru yang berbeda dari guru-guru di sini, ibu tak habis akal melatih kami menyebutka huruf dengan benar. Aku dan teman-teman sekarang semakin rajin ke sekolah. Jika dulu kami akan masuk kelas tak tentu, kadang pukul 9 atau lewat, bahkan tak belajar sama sekali, selama lebih sebulan ini kami teratur masuk pukul 8. Bahkan teman-teman ada yang datang pukul 7. Datang lebih pagi, menyapu dan merapikan kelas, berbaris sesuai kelas, dan saling mengingatkan dengan teman tentang kerapian pakaian dan kebersihan kuku menjadi hal biasa. Kata ibu guru, dia senang. Aku tau itu, ibu guru memang sering senyum dan sekarang semakin sering. *** Dari jauh ku perhatikan ibu guru yang duduk di ruang tamu di dekat jendela, di rumah tinggalnya dekat sekolah. Apa ibu guru melamun? Tak seperti biasanya, tersenyum menatap ke arah sekolah. Hari ini, ibu guru sepertinya sedih. Kami berlari memasuki ruangan, ibu guru datang dengan langkah lemasnya. “Tidak ada bel dari tadi?” Tanya ibu guru melewati pintu. Memang tak ada. Kami berdoa dan memberi salam pada ibu guru. Tapi suara ibu guru pelan, tak seperti biasanya. Hari ini kelas damai tentram. Tak ada nyanyian, permainan, dan suara lantang ibu guru. “Ibu guru, sakit?” Tanya temanku, Kelena. “Tidak. Ibu hanya belum sarapan. Jadinya lemas. Seperti belajaran IPA kita kemarin kan? Kalau tidak makan tidak akan punya tenaga.” Kami tau ibu guru berbohong, ibu guru ingin terus mengawasi kami belajar dan memastikan kami tak berlari-lari mainan di luar kelas. Ibu guru menyuruh kami membaca apa saja semaunya, di halaman mana saja di buku bahasa, lalu bergantian menceritakan apa yang kami baca. Mekipun ada yang hanya membaca dua kalimat saja selama setengah jam, ibu guru tak protes apa lagi marah. Setelah pelajaran bahasa, kami belajar Matematika. “Sudah selesai?” “Sudah.” “Belum.” “Yang sudah kumpulkan!” Aku dan beberapa teman mengumpulkan buku. Yang lain menyusul setelah selesai. “Ada yang mau maju duluan? Ibu tidak mau tunjuk-tunjuk.” Aku mau maju tapi tak berani. Teman-temanku juga tak ada yang mau bergerak. “Tidak ada yang mau? Ya sudah ambil kembali bukunya lalu kalian tak punya nilai. Mau?” “Saya saja ibu guru.” Irwan mengangkat tangan, setelahnya kami semua bergantian. Payah. Aku tak hapal perkalian 7. Mengapa ibu guru malah senyum padaku? Aku jadi merasa bersalah. *** “Selamat… Siang… Ibu… Guru… Nurmi.” “Siang. Selamat pulang dan hati-hati.” “Ibu guru hari ini tidak usah les ya?” Kata Paska. Kami sudah menyepati saat ibu guru tadi keluar kelas sebentar. “Kenapa?” “Ibu guru sakit. Jadi, boleh istirahat biar besok bisa mengajar kami lagi.” Jawabku jujur. “Tapi, ibu guru tidak papa. Masih kuat, ini masih bisa berdiri dan jalan.” “Ah, ibu guru. Tidak boleh, ibu guru sakit.” Aku sedikit memaksa agar ibu guru setuju. Semenjak ibu guru datang, baru kali ini aku melihat wajahnya pucat, lemas tak bersemangat. Kata teman-teman kasihan, dan kami sedih. Kami memaksa sepulang sekolah membantu menimbah air bersih untuk ibu guru. Aku juga berkata pada ibu guru, aku tidak akan malas (bolos) ke sekolah lagi. Teman-teman juga. — Ungkapan : Aduh, murid-muridku perhatian sekali. . . Gak nyangka sebenarnya kalau perkembangan sikap mereka cepat berubah. Tapi, aku suka mereka yang sekarang. Rajin, lebih sopan, rapi dan ingin belajar banyak hal, tidak pemalu lagi, tentunya memiliki kesadaran yang tinggi. He he he