Archive | 4 Desember 2014

Sumber air Isaima (SM3T)

Air salah satu kebutuhan yang sangat penting. bla bla bla

====

*SUMBER AIR BAGI WARGA

Bagi warga Isiama atau sebagian besar di distrik-distrik se-Jayawijaya, yang kesulitan air bersih. Mereka menggunakan air kolam yang–

–Kolam dangkal, merupakan kolam ikan, di situ mencuci baju dan piring, dan diambil untuk mandi juga. Kadang malah langsung mandi di pinggir kolam dan air kembali ke kolam tersebut lagi.

Selama di Isaima, saya melihat warga mengambil air bersih hanya untuk minum saja, selebihnya keperluan air digunakanlah air yang seperti saya sebutkan tadi.

===

Inilah keadaan air setelah hujan. Bisa untuk berenang karena dalam hingga leher. Warna sedikit coklat. Tetap bersyukur sih. Banyak teman yang lain yang kesulitan air. Habis hujan begini saja masih tergolong bersih dari pada air mereka.

100_1568 100_1567 100_1566 100_1563

Inilah warga yang sedang mengambil air—

Feronika

Feronika sedang mengambil air

Ke Yalimo ikut peresmian (Seru–Senang) #1

02/12/2014

Hari ini setelah mengajar, pulang kerumah tak seorangpun yang ada. Wira masih berada di Bandung sejak seminggu lalu–jadi saya harus mengajar 4 kelas setiap harinya seminggu ini. Mama Maria sepertinya sudah jalan, kemarin mama memberitahuku bahwa dia akan pergi ke Wedangku karena di sana ada peresmian. Aku memang tidak berjanji ikut saat mama mengajakku karena dari hari Sabtu aku kurang sehat, syukurlah hari ini aku bisa mengajar.

Aku duduk di ruang depan, menatap ke jalan. Mama Maria berjalan mendekat ke rumah.

“Loh. Saya kira mama sudah jalan? Lalu kenapa tidak hujan begini pake payung?”

“Ah. Ibu guru, tidak ada mobil stop ini. Tunggu mobil cape sekali. Ibu guru Nando mana?”

“Ah. Nando tadi sama teteh pergi.”

“Ibu guru. Itu teteh kemarin saya kasi tau toh. Suruh datang ambil Nando, saya mau ke Wedangku. Tapi tidak datang pagi, saya tunggu cape sekali.”

“Lalu bagaimana ini mama? sudah mau jam 12. Nanti mama pergi acara sudah selesai.”

“Tidak tau. Orang-orang di sana tunggu banyak itu. Saya cape, pulang.”

–Sepertinya aku jadi tempat curhat (pikirku), ku lihat wajah mama yang kecewa dibalik keinginanya yang sangat ingin pergi.

“Ah, mama saya temani sudah. Tapi kita sempat pulang toh, besok saya mengajar. Itu tempat jauh toh, nanti kita pulang ada mobilkan?”

“Ah ibu guru bisa. Ada toh.”

Aku brgegas masuk kamar mengisi tas dengan beberapa cemilan, mengambil topi dan siap pergi. Sebelum pergi aku harus mengganti sepatu sebagai persiapan–kali saja harus berjalan atau melewati jalan yang sulit, pikirku.

–Aku tau mama memang mengharapkanku pergi. Mama tau aku sering ke kota dengan tumpangan gratis, entah mobil trak atau starada


Sayang sekali siang ini jarang kendaraan. Satu berhenti.

“Mama. Ini tidak sampai Wedangku. Bagaimana? Mau kah? atau kita tunggu yang lain?”

“Ah ibu guru biar sudah. Nanti kita  stopkan mobil lain lagi di sana.”

Aku naik dibagian depan dan mereka semua naik di bagian belakang. Tapi sayang memang tidak sampai, hanya km 41, sedangkan kami harus menuju km 47. Sial, aku harus berjalan kaki. Jika jalanan lurus bagiku tak masalah ini tanjakan yang tinggi dan tak ada kendaraan yang lewat.

100_1645 100_1659

Jauh berjalan, akhirnya tinggal beberapa puluh meter lagi berjalan menanjak. Ha ha ha, ingin tertawa keras rasanya saat aku membaca patok ditengah jalan yang bertuliskan ‘Gendaraan Gurangi kecepatan ada acara’. Satu hal lagi yang kusadari. Bukan hanya murid-muridku yang masih SD yang sering salah menulis, membaca, dan salah mengenali huruf. Awalnya kupikir mereka hanya sulit membedakan ‘J’ dan ‘Y’ ternyata memang sulit membedakan huruf lagi, bahkan sebagian muridku kadang terbalik p,b,d.

Akhirnya sampai juga. Aku berjalan duluan dari mama Maria yang sedang menjual Hanom (Rokok) pada seorang pemuda papua. Aku berjalan pelan, karena jalan sangat miring dan tidak ada tempat berpegangan tangan. Aku mencari posisi untuk menfoto jalan. Ah, sulit karena ada pagar.

100_1667 100_1669

Semakin naik, naik dan naik. Terlihatlah sebuah sekolah dengan 3 ruangan dan sebuah bedera merah putih di depannya. Yang menjadi perhatianku dari jauh, loncengnya dan nama kelas yang terpasang vertikal.

Sekolah lama

Naik hingga kedekat sekolah. Yes. Itu acaranya. Aku langsung berjalan mendekat. Sebelum benar-benar dekat, aku bertemu salah satu pak Polisi dari Distrik Kurulu, ditrik tempatku mengajar. Kami bersalaman dan berbicara tentang acara dan masalah keamanan di distrik kami.

100_1678 100_1684

Ada delapan hal yang diresmikan (Pemerintahan Kab Yalimo Distrik  Abenaho) jln. Trans Rimba Yalimo antara lain :

  1. Pasar Ndosima di Wileroma
  2. Puskemas Pembantu (Postu) di Abenaho

  3. BBI (Bangsalan Benih Ikan) di Abigima

  4. Kantor Kampung Abagima

  5. Kantor Kampung Wileroma

  6. Kantor Kampung Obabin

  7. Kantor Kampung Waghasilimo

  8. Kantor Kampung Pabin

100_1688 100_1691

Setelah berkenalan, ijin dan berbicara ini dan itu. Memperkenalkan diri lalu bertanya-tanya tentang acara, saatnya aku berkeliling semauku mengambil gambar atau rekaman vidio, atau sekedar bertanya kepada warga yang ku mau.

Yalimo presmian1

Yalimo - Peresmian4

Yalimo - peresmian5

Oia, acara bakar batu yang merupakan adat masyarakat Papua. Kali ini tidak ada ayam, hehe. Enggak berharap ada juga sih, cuma mau foto – foto dan senang-senang aja ikutan acara ini.

” Ibu guru maaf e. Kami tidak masak ayam. Terima kasih sudah datang.” Kata seorang bapak panitia sambil senyum-senyum serius.

“Ah. Tidak papa bapak. Saya hanya mau foto-foto saja. Mau ikut senang. Ikut tau tentang masyarakat Papua. Wa wa wah, sudah ijinkan saya. Masyarakat juga buat saya senang karena sambut saya baik.”

Ha ha ha. Jangan heran bahasa saya aneh. Tapi, itulah cara saya berbicara dengan mereka, bukan sengaja atau berpura-pura mengikuti cara mereka tapi untuk lebih mengakrabkan diri dan menghormati serta agar mereka loadingnya gak lama untuk balas saya. ckckkc

Ada yang sudah mengerti kalau aku enggak bakalan nyentuh apapun karena dalam acara ini segalanya di jadikan satu dalam proses ‘Bakar Batu’. Tapi, ada juga yang sengaja bercanda denganku, untuk menawarkan agar aku memakan sesuatu. Oh, no. Jika 3 acara bakar batu yang ku ikuti di distrik memang hanya memasak Hipere (Ubi), keladi dan sayuran, okey aku pasti akan memakan ubi yang banyak dan memilik-milik ubi warna apa dan sebesar apa yang ku mau.

Untuk kali ini, TIDAK akan aku memasukkan apapun kedalam mulutku. Kecuali, air minum yang diberikan mas dan bapak supir truk yang kutumpangi tadi.

bagi Wam Yalimo - Peresmian2

Yalimo7

He he berani foto saya, saya juga harus ambil foto mas wartawannya dong untuk kenang-kenangan. Ha ha

Yang seru banget itu, cara mereka membagikan hasil bakar batu.

Masyarakat duduk melingkar berdasarkan asal kampung mereka, di sekitar lingkaran ada patok lalu di ujung patok tersebut terdapat kertas nama kampung yang dibikan oleh panitia. Yang bertugas membagikan sayuran dan ubi adalah para panitia wanita dibantu beberapa laki-laki, setiap ingin menuju lokasi yang mereka beri, mereka berlari dipandu oleh panitia yang memegang semacam sula putih—berasal dari bulu burung. Ada juga mama-mama yang memegang hal yang sama, menggunakan noken di kepala yang memanjang menutupi seluruh bagian belakangnya, wajah yang di lukis dengan pasta gigi–sebelum tau kukira itu kapur, hehehe.

Tidak hanya saat pergi, namun saat kembali mereka juga berlari atau berjalan cepat sambil meneriakan semangat dengan bahasa mereka.

Pembagian Wam (Babi) dilakukan oleh sepenuhnya oleh panitia laki-laki dan para kepala suku atau tetua. Mereka menggunakan hiasan bulu-bulu di kepala, ada bulu berwarna hitam dibagian punggung yang talinya terkait ke leher mereka. Dan, kepala adat (kepala suku) ada 3 orang yang menggunakan aksesoris dasi. Jangan kira dasi mereka seperti dasi orang pada umumnya, dasi itu panjang hingga kepusat, berwarna putih dan lebarnya kira-kira sejengkal. Lalu satu di antara mereka hanya menggunakan Koteka.

Sebenarnya saya sudah terbiasa melihati orang-orang tanpa pakaian seperti ini. Tapi, jika aksesoris lengkap saya senang sekali, di bagian lengan, dibagian kepala, dasi, dan aksesoris lainnya. Lebih senang bisa berfoto dengan mereka. Tapi, meringis sedih saat ternyata foto itu lenyap dengan satu tekan karena ketidak tauan. Dorkas oh Dorkas kenapa kau hapus. :/

Puas foto-foto dan berbicara banyak sama mama – mama, remaja, anak-anak, sampe bapa-bapa dan teteh-teteh. Saya berasa artis, di panggil sana sini, lalu mereka minta foto. Hehe,

Terus kalau ada sesuatu aksesoris yang unik aku pasti disuruh pake sama mereka. Di akhir acara mereka berteriak-teriak (Bernyanyi–senang) dan menari. Rame sekali. Aku ikutan juga, awalnya iseng. Eh, malah di suruh terus sama mereka lalu di vidio.

Aku juga sempat foto dengan deretan panitia, deretan pejabat pemerintah dan beberapa kepalas suku lengkap dengan seragam mereka. Tapi, sayangnya yang di kamera saya tanpa sengaja terhapus oleh salah satu murid yang memegang. Lalu jika mau minta dengan panitian. Sunggu tidak tau caranya bagaimana, 😦

Info :

‘Bakar Batu’ merupakan tradisi. Dimana batu dibakar. Makanan yang akan dimasak dalam proses di lapisi oleh daun dan rumput-rumput khusus (saya gak tau namanya), lalu di beri batu panas tadi.

Selama saya mengikuti proses bakar batu, ada beberapa cara memnyatukan batu panas dengan makanan tersebut.

*menggunakan drum yang telah dipotong. Rumput, batu, rumput, Ubi yang di bungkus daun, rumput, batu, sayuran yang dibungkus daun, batu. Biasanya kalau ada keladi, di tempatan berpisah, atau paling bawah.

*Tanpa drum. Di susun melingkar, agar nanti setelah dibungkus dengan rumput keseluruhan bisa di kat, lalu di tambahkan batu yang panas di atasnya

*Di bungkus dengan terpal.

*Menggalih tanah. Lalu memasukkan rumput, batu, dan seterusny hingga terakhir rumput lalu di tindis batu lagi.

–Yang jelas semua proses ini memerlukan batu, rumput, daun, dan makanan yang ingin disajikan. Dan, butuh waktu yang lumayan lama.

Bonus foto :
Yalimo - Papua

NASEHAT SEORANG PENULIS

NASEHAT SEORANG PENULIS

Salah satu kesalahan fatal penulis pemula adalah menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah pekerjaan yang iseng, tidak serius, dan hanya untuk mengisi kekosongan saja. Mereka akan menulis ketika ada waktu luang, lalu berhenti menulis ketika kesibukan mendera hari-hari mereka.

Penulis pemula sering kali beranggapan bahwa aktivitas menulis adalah aktivitas iseng-iseng berhadiah. Tidak dijalani serius, setengah-setengah saja. Maka, lihatlah, banyak sekali orang-orang yang awalnya berkeinginan kuat menjadi penulis, lalu berguguran di tengah jalan karena merasa menemukan jalan buntu.

Selain Telling not Showing, menjadikan aktivitas menulis sebagai kegiatan iseng juga sebuah kesalahan fatal.

Ingatlah satu prinsip, sesepele apapun aktivitas yang anda lakukan, jika dilakukan dengan konsisten dan fokus, maka akan menghasilkan buah yang manis dan menggembirakan. Orang yang hobi memasak, cobalah tekuni hobinya. Beberapa tahun lagi, tidak menutup kemungkinan ia akan menjadi koki handal. Orang yang hobi menggambar, cobalah fokus dan tekuni, nanti, boleh jadi ia akan menjadi pelukis ternama Indonesia.

Begitu juga dengan menulis. Anda ingin menjadi novelis? Ingin menjadi penulis yang karya-karyanya disukai dan dinanti oleh khalayak ramai? Maka fokuslah menulis. Fokus itu tidak menjadikan menulis sebagai pekerjaan iseng-iseng berhadiah. Ada target dan jadwal yang tersusun rapi. Ada indikator-indikator keberhasilan dan evaluasi.

Jadi, jika sudah bekerja dan ingin menjadi penulis, kita harus resign ya?

Tidak harus. Saya hanya menganjurkan untuk fokus dan konsisten. Jangan iseng-iseng. Jika anda sudah bekerja dan mempunyai keinginan kuat menjadi penulis, maka cukup mencari waktu-waktu yang menurut anda luang dan bisa dimanfaatkan. Pakai waktu ini untuk menulis setiap hari. Tidak perlu lama-lama, satu jam saja setiap hari dan konsisten.

Saya benar-benar tidak punya waktu luang untuk menulis dan ingin menjadi penulis, bagaimana dong?

Ya sudah, jika anda percaya pada mimpi anda, punya keinginan kuat mewujudkannya, maka resign menjadi pilihan terbaik. Tapi, ingat, menjadi penulis tetap butuh waktu, tidak ada yang sim salabim.

Jadi, keputusan tetap di tangan anda. Ingin menjadi penulis, sediakan waktu minimal satu jam saja setiap hari untuk fokus menulis. Satu jam itu sudah sangat minimal. Jika menyediakan waktu satu jam saja tidak bisa, maka mungkin lebih baik berhenti bermimpi menjadi penulis handal.


Kata Om Koko : https://www.facebook.com/koko.a.saputro?fref=nf

–yang diposting di KMB : https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/

Nasehat ini seperti menampar kesadaranku. Selama ini aku banyak menulis hanya sebagai ekspresi dan hobi saja, mirip yang dikatakan di atas “telling not showing”, Sejak remaja aku memang suka menulis apa saja yang berkecamuk dalam pikiran maupun perasaan. Bahkan pada jaman itu belum ada alat alat secanggih jaman sekarang, sehingga aku banyak menulis di buku buku tulis. Entah sudah berapa puluh buku, sebagian ada yang hilang bercampur buku pelajaran yang diloakkan.

Sampai saat ini akupun hanya menulis di notes sosial media, dan baru baru ini kadang menulis di Grup KBM yang luar biasa ini. Belum jelas keputusan diriku apakah aku akan menjadi seorang penulis, sehingga menjadi rancu apakah aku pantas disebut penulis pemula.

Ada sebagian orang yang memutuskan diri seutuhnya menjadi seorang penulis. Banyak pula yang masih mempunyai karir dan pekerjaan di luar penulisan tetapi mampu menghasilkan buku. Dalam dunia nyata aku mempunyai beberapa orang teman yang karirnya di luar penulisan tapi berhasil menulis beberapa buku. Salah satu temanku dokter umum di Jakarta, sampai saat ini telah menghasilkan lima buku, dua buku di antaranya bahkan tak berhubungan dengan dunia kesehatan. Satu lagi temanku mengaji waktu SMA sekarang menjadi seorang dokter spesialis bedah, di antara kesibukannya melayani pasien ternyata masih mampu menghasilkan sebuah novel islami.

Aku hanya ingat sebuah ungkapan yang hebat
JIKA ENGKAU INGIN MENGENAL DUNIA BANYAKLAH MEMBACA BUKU
JIKA ENGKAU INGIN DUNIA MENGENALMU BANYAKLAH MENULIS BUKU

Bagaimana dengan anda?

===

Dan, kata saya :

Aduh, ngerasa banget saya. Baru beberapa hari ini mempertanyakan kediri sendiri tentang keinginan menjadi penulis atau hanya pelampiasan kebosanan sehingga jadi hobby iseng-iseng (menulis).

Aku selalu suka menulis, tapi tidak PD dan sering kali menjadikan kesibukan sebagai alasan.

Baca ini menyadarkanku, benar-benar menampar kata-katanya.