Archive | 14 Februari 2015

Maaf, aku tak bermaksud menyakiti

Banyak yang mulai mendekat, aku juga tak tertekan lagi. Mereka menawarkan begitu banyak kebahagiaan, tapi perasaan raguku masih sama seperti dulu. Tak seorangpun yang mampu membuatku yakin untuk memulai hari berjalan berdampingan dengannya dan tersenyum menatapnya lekat.


Aku tak pernah ingin benar-benar melupakanmu, tapi aku tak ingin hanyut dalam rasa diakhir persimpangan kita. Aku berhasil. Aku tak menatap kelam masa itu, aku juga tak mengharapkan ada sosokmu kembali meminta genggaman tanganku. Aku mulai biasa, perasaanku terhadapmu sudah binasa. Maaf, aku tak ingin berputus asa karena rasa yang hampir membuat gila. Aku benar-benar bisa kini. Air mata tak ada lagi untukmu, bukankah kau yang menginginkan tak boleh sebutirpun air bening itu di sudut mataku. Kau pergi untuk masa depan dan memintaku merelakan, saat itu aku hanya mengangguk padahal hatiku berada didua samudra, antara mengerti dan kecewa yang mendalam.

–Kita duduk bersebelahan menatap bintang malam yang terang, aku tau itu yang terakhir. Tanpa sadar aku mulai menangis sedih dan dengan cepat kau memelukku. Aku terisak, leherku terasa tercekik dan dadaku terasa sakit, sesak sekali. Kau semakin memelukku erat, aku menikmatinya sejenak lalu tersadar ini salah. Aku tak boleh menahanmu untukku, pergilah. Pergilah! Harusnya itu yang ku katakan, kita tak perna tau takdir dan tak boleh memaksakannya. Perlahan tanganku yang melingkar memelukmu melonggar, aku duduk tegak menatap ke atas, mengusap air mataku cepat, menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.

Tiga menit kita tanpa kata dan tanpa balasan tatapan dariku. Meski keluh mulutku mulai terbuka mengucapkan kata, sebuah ungkapan keikhlasan dan harapan untuk saling hidup bahagia apapun yang terjadi.


Hari dimana aku merasa terganggu, kau hadir kembali mengusik hari yang mulai terukir senyum tanpamu. Aku semakin kecewa atas kata-katamu yang seolah meminta luka lamaku tak berarti dan aku akan menerimamu lagi.  Aku ingin berteriak! Aku ingin mengusirmu jauh, sekuat apa kucoba lakukan itu tapi perasaanku tak ingin membalas kecewa dengan menyakiti. Aku ingin kau menarik diri karena mengerti, aku membiarkanmu mendekat tapi kuharap batasan yang kuciptakan tak pernah kau lewati.

Aku bersamamu. Sama seperti dulu, tersenyum dan tertawa tapi tidak untuk hatiku yang tercurah untukmu. Aku membiarkannya kosong tak ingin memiliki siapapun, kamu ataupun satu diantara mereka. Bolehkan? Aku butuh meyakinkan diri, aku menikmati kesendirianku, kuharap ini yang terbaik.


Hari terlalui, aku memberanikan diri memintamu memastikan perasaanmu. Aku ingin tau! Apa arti diriku kini? Kau bilang aku masih sama seperti lima tahun lalu bagimu. Aku tertawa, aku tak tau harus berbicara apa. Sia-sia usahaku membuatmu mengerti, aku kecewa lagi. Aku ingin menjauh, kataku padamu karena kau tak bisa melakukannnya.

Akhirnya aku membalas kecewaku dengan memberikan rasa sakit yang sama. Jika saat itu aku mengerti alasanmu, tidak dengan dirimu yang tak mengerti alasan sederhanaku pergi. Aku benci keadaan ini, memaksa diri untuk membuatmu mengerti, terlalu optimis untuk tak menyakiti, dan tetap terjadi.


Aku masih tersenyum padamu saat bertemu, aku masih tertawa saat ada lelucon yang terlontar dari, kini aku tak perduli perasaanmu, aku sudah mengungkapkan semuanya, aku sudah tak menginginkanmu dan tak pernah mengharapkanmu, lukakupun sudah sembuh. Aku jahat? Iya sangat! Aku sangat sadar akan hal itu.

Mereka, orang-orang mengetahui tentang kita sudah terbiasa dengan keadaan ini. Mereka mengerti tak harus masuk dalam problem kita. Kakakmu, ibumu, dan yang lain paham ketika mereka harus diam membiarkan kita untuk memilih jalan kita yang kini benar-benar berbeda. Maaf, aku ak bermaksud membalas lukaku padamu, hanya saja tak ada yang tersisa untukmu kini. Aku berharap kita benar-benar memiliki seseorang dikehidupan kita dan hidup bahagia. Amien.

Samarinda, Feb 2014