Arsip

Liburan sekolah kesempatan untuk berwisata (Mari kita ke Air Garam)

Kamis, 19 Februari 2015

Setelah sibuk dengan KBM dan segala kegiatan di sekolah. Sebagai seorang guru tentu waktu libur salah satu hal yang di nanti.

Kali ini saya bersama teman-teman sepakat untuk menghabiskan waktu lebih menikmati wisata alam Papua (Jayawijaya), tujuan kami kali ini yaitu air terjun yang terletak di Desa Air Garam.

Menurut teman yang ditempatkan mengabdi di daerah ini, air terjun ini adalah air tenjun yang tinggi dan tidak akan menyesal jika mengunjunginya. Meskipun teman juga mengatakan bahwa butuh waktu dan tenaga ekstra untuk menuju lokasi namun kami tetap akan melakukan perjalanan ini.

Pagi-pagi sekali kami bersiap-siap di Sekretariat SM3T (Kota Wamena). Sekitar 30 orang jumlah kami, berjalan keluar gang. Alhamdulillah masih sekitar lingkungan Sekretariat, sebuah mobil truk berhenti dan beredia memberikan kami tumpangan hingga ke pasar Woma. Jangan heran teman, menumpang truk atau kendaraan yang lewat sering kami lakukan, selain untuk menghemat biaya, kata teman-teman “inilah sensasinya. Melakukan yang jarang kalian lakukan.”

“Belummm…. Bang.” Teriak kami serempak. Mobil berhenti kembali.

“Cepat.. Cepat… Cepat Wi!” Teriak kami memanggil teman-teman yang rupanya baru keluar gang. Mereka berlari cepat. Dengan dibantu teman-teman mereka berhasil naik kekedaraan.

Sorak-sorakan, dan kamera yang terarah ke sana-sini dan diikutin ocehan tentang agenda yang akan kami lakukan ini merupakan gambaran awal perjalanan kami.

Oia, perjalanan ini bukan cuma kami SM3T LPTK UNMUL loh, ada beberapa teman dari LPTK UR juga. Okey guys. Lebih rame lebih seru. 🙂

IMG_0038DSC_0503

go sogokmo

100_2124

1IMG_2746

????????????????????????????????????

????????????????????????????????????

IMG_0405

IMG_2821

kelapa hutan - papua

100_2183

go to air garam

menuju air terjun1

DSC_0546

IMG_0422

IMG_0088

Air Garam Jayawijaya

 

SAM_0897

SAM_0923

SAM_0930

SAM_0858

DSC_0860

Air garam

 

SAM_0962

pulang dari air terjun

SAM_1010

 

 

SAM_1018

SAM_1024


Hei, kita sudah sampai di pasar Woma. Sementara kordinator dan beberapa teman mengurus mobil yang akan kita gunakan. Kami menunggu di perempatan. Haha, sabar-sabar. Sambil menunggu jangan sampe lengah ya, karena di setiap bagian pegunungan tengah ini adalah rawan(?), maksudnya? Iya kriminal tinggi, jadi jaga tas kalian dan jangan embarangan menggenggam ponsel, apa lagi ini di daerah ramai.


Okey, teman. Dua mobil telah siap menghantar kita ke tempat tujuan. Melewati jembatan Woma yang membuat hati was-was (jembatan kayu yang rusak, jembatan baru masih dalam proses pengerjaan di samping jembatan lama).

Mobil kami berhenti di Megapura untuk mengambil makanan yang telah dimasak oleh teman kami (Arvan dan Darwin, sehari sebelumnya telah menyetujui dan meminta dana dari uang kas. Hehe)

Perjalanan dilanjutkan~~~

Ow, jalanan aspalnya kok gini (Longsor), terus ini runtuhan di Maima kok semakin parah. Lebih bikin menghela napas lagi, ternyata mobil kami tak bisa sampai ke Sogokmo (Desa yang menguhungkan dengan Air Garam). Mobil kami tak bisa melewati jembatan yang mulai miring dan dibawahnya terdapat sungai berbatu dengan arus yang deras.

Baiklah. Jalan kaki bukan masalah.

Stop–

Mari kita bagi-bagi makanan sebelum berjalan mendaki menuju Air Garam.


Tak menunggu lama, kami berjalan melewati jalan berbatu yang menanjak. Jika kamu tipe orang menyukai tantangan ini salah satunya. Hahaha,

Kami berjalan hingga hitungan jam. Jangan berharap bahwa kamu akan mampu menempuhnya tanpa istirahat. Kami yang memulai star bersamaan saja, setelah beberapa menit mulai terbentuk kelompok-kelompok sesuai dengan kemampuan. Heheh

—BTW, salut deh sama teman yang mengajarnya di SD Air Garam tapi tinggalnya di Sogokmo.


Tidak hanya melewati jalan berbatu yang menanjak. Kami juga melewati rumah-rumah Honai warga. Melewati hutan, dan meelususri sungai berbatu dengan arus yang deras.


Tadaaa… sampailah kita di air terjun yang di maksud. Sebelum bermain air atau sibuk foto-foto. Kami makan bersama dulu, maklum perut sudah keroncongan dan matahari semakin meninggi, sudah sewajarnya kan.

Satu hal lagi yang kalian harus ketahui. di sini matahari tidak terlalu berpengaruh. Suara air yang jatuh dari ketinggian. Dinding – dinding bebatuan yang berlumut meneteskan air. Pohon-pohon besar di sekitar. Semua itu membuat suasa di sini sejuk—lebih kedingin menurutku.

 

 

 

GOA KONTILOLA (Jayawijaya – PAPUA) #Part1

12 September 2014

kontilola3

kontilola4

Goa Kontilola

Inilah murid-murid yang menemani saya

Goa Kontilola

Pintu masuk Goa, foto di ambil dari sisi kiri goa

100_1119

Goa Lokale ( Goa Tak Berujung – Papua)

Dibanding goa lainnya di Indonesia, Goa Lokale tergolong unik dan misterius, karena hingga saat ini belum ditemukan ujungnya, bahkan diyakni menjadi salah satu goa terpanjang di dunia. Letaknya di Desa Wosilimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Untuk sampai ke pintu masuk gua, anda hanya cukup berjalan lima menit dari parkiran mobil. Kemudian anda akan melewati hutan pinus terlebih dahulu, dengan jalan setapak yang mempermudah perjalanan. Berjalan sekitar 850 meter dengan membawa senter, anda akan menemukan aula besar di dalam gua. Bila sanggup berjalan dua kilometer ada aula kedua di Goa Lokale yang jauh lebih luas. Seperti gua pada umumnya, terdapat banyak stalagtit dan stalagmit di berbagai sisi dan langit-langit gua. Selain itu, ada beberapa dinding yang seakan-akan diukir, sehingga tampak sangat indah, jika gelap seperti banyak permata di dinding goa membuat semakin keren.

Di dalam gua sangatlah gelap sehingga anda diwajibkan membawa senter atau penerangan lainnya. Di dalam gua juga terdapat dua aula besar. Di salah satu dinding gua memiliki rongga yang apabila di ketuk akan menimbulkan bunyi gendang.


Gua Lokale ditemukan pada tahun 1962 oleh tuan Kalet Entama yang secara tidak sengaja menemukan keberadaan gua saat dia sedang membabat rumput di perkebunannya ketika secara tiba-tiba keluar burung walet dari sebuah lubang di kaki bukit. Setelah diselidiki ternyata lubang tersebut cukup besar dan mencoba masuk ke dalam lubang dengan menggunakan penerangan obor dengan mengajak 3 orang temannya mereka masuk sampai kedalaman 200 meter.

Gua Lokale dibuka tahun 1992. Tahun 1996, ahli gua dari Amerika datang ke goa ini. Masyarakat setempat percaya, Goa Lokale sebagai salah satu gua terpanjang di dunia. Alasannya, karena sampai saat ini belum pernah ada satu orangpun yang berhasil mencapai ujung gua ini. Untuk menjelajahi Goa Lokale, ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh para pengunjung, seperti larangan buang sampah, buang air, dan mengambil apapun dari gua. IMG20150110121837 DSC_0995  IMG_1152 Perjalanan dimulai, kami berkumpul di rumah Mama Rais sesuai kesepakatan. Dilanjutkan menaiki angkutan ke daerah pasar baru, simpangan 3 pike tujuan utama kami untuk menunggu kendaraan (gratis/tumpangan). Karena jumlah yang lumayan banyak (25 orang), maka dibagi menjadi dua mobil angkutan. Biaya angkutan 7000/orang, yang awalnya hanya 5000. Kenaikan tarif ini dampak kenaikan BBM. Sambil menunggu mobil yang kiranya supir mau berbaik hati memberi tumpangan canda-canda terlontar diantara kami semua sebari berkenalan satu sama lain karena perjalanan ini terdiri dari 3 LPTK (UNMUL dan UR penempatan tugas Jayawijaya, UNNES penempatan Yahukimo). 20 Menit kemudia barulah ada mobil yang ingin berhenti. Truk yang berarah berjalanan sejalur dengan tujuan kami. Aku berbicara kepada sopir, dan akhirnya saya bisa mempersilahkan teman-teman untuk naik. “Teman-teman, tujuan kita pertama goa ya? Coz, kita mulai wisata kita dari tempat terjauh, pulangnya baru mampir ke Mumi dan Pasir  Putih.” “Siiippp, atur aja, kita ngikut.” “Okey. Hehehe, karena mobil ini sekalian jauh gitu, makanya kubilang tadi sama supir, kita sampai Wosi.” Aku tersenyum pada mereka. Sepanjang berjalanan terdengar jeritan kaget dan jeritan senang, tawa karena serunya perjalanan beramai-ramai menaiki truk dengan jalan yang tidak selalu mulus, meski bukan tanjakan namun jalanan lumayan berkelok. Sempat mengabadikan beberapa moment saat perjalan adalah hal yang tidak ketinggalan. Okey. Sekitar km 27, simpang 3 Wosi tempat perhentian kami. Mobil berbedah arah dengan kami yang harus berbelok ke kanan. Bukan, masalah kami akan berjalan kami karena jarak tidak terlalu jauh dari tempat tujuan.


goa lokale444


IMG_1225DSC_0381

Pasir Putih di Atas Gunung (Kurulu – Jayawijaya)

Sebuah pasir putih ternyata tidak hanya berada di pantai, di Distrik Kurulu (Jayawijaya), tepatnya di Libarek terdapat sebuah pasir putih yang banyak, keluar dari balik bebatuan di atas gunung.

IMG_1522

Jalan masuk menuju pasir putih yang berada diantara bebatuan besar berwarna abu-abu.

Sekilas terlihat dari jauh, pasir-pasir ini tidak banyak namun semakin mendekat dan naik ke atas pasir-pasir ini begitu banyak.

DSC_0316

Moment Narisss :3

IMG_1568

Pasir-pasir ini sangat putih dan halus.

Inilah pemandangan dari atas batuan besar. Tampak di bagian belakang kami daerah distrik Kurulu. Indah kan? Inilah alam negeri kita, menakjubkan.
Haha5

Teman baru bukan berarti malu-malu untuk berekspresi bersama, selfie dan menikmati hari-hari yang menyenangkan bersama.  mengenal mereka baru beberapa hari tapi rasanya seperti sudah mengenal mereka lama karena sikap welcome mereka terhadapku. Thanks—

cats

With kak (Salam, Siswanda, Budi)

Haha1  Haha2

12 Januari 2015

Siang setelah sholat Zuhur (karena kami dari Mumi Jiwika–Kami menumpang sholat disalah satu pos teman SM3T yang ditempatkan di SMP-SMA Kurulu), lalu kami menumpang kendaraan truk yang menuju ke kota. Di desa Libarek tepatnya di pasir putih, kami turun dari truk. Satu persatu kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati sang sopir.

Tanpa menunggu lama kami langsung menuju ke tempat wisata yang cukup terkenal ini. Tidak terlalu jauh dari jalan sekitar 200 m dari jalan raya, dan terlihat jelas jika kita dari kota ataupun menuju kota melewati jalan raya.

Saat teman bertanya, bayar atau tidak. Aku juga bingung, sebagian teman yang pernah kesini bilang bayar 1000/orang tapi ada juga yang bilang 50.000 atau 100.000/rombongan sesuai dengan tawaran yang berhasil di lakukan. Nyatanya, di sini tidak ada pos tempat pembayaran apa lagi orang yang menjaga. Da, kata teman lagi, biasanya orang di sekitar sinilah yang meminta bayaran semaunya.


Dari jalan pasir putih ini terlihat biasa saja, sekumpulan batu dengan garis pasir putih ditengah-tengahnya, memanjang seperti air yang mengalir turun. Namun, semakin dekat dan mendekat barulah kau menyadari bahwa batuan di sini sangatlah besar.

Masih di bagian bawah bebatuan, sibuk dengan suasana hati dan kegiatan masing-masing. Aku membuat tulisan diatas pasir memotretnya dan membuat sebuah vidio mini saat jari telunjukku menuliskan huruf satu persatu nama orang-orang yang terpikirkan begitu saja olehku.

Seolah tak sabar, beberapa menit kemudian kami mulai berjalan mendaki menaiki bebatuan besar. Jika menginjak bagian pasir maka kamu akan menyadari betapa tebalnya basir-pasir ini, selain begitu putih, pasir-pasir ini juga begitu halus.

Tidak lengkap jika ketempat keren gak narsis, heheh. Untuk kenang-kenangan dan sebagai rasa senang begitu banyak foto dengan berbagai ekspresi masing-masing, baik moment sendiri atau bersama-sama.
Semakin ke atas semakin sedikit pasir yang terlihat tetap masih ada dan masih ada lagi. Sebelum berada dibagian atas kalian akan berpikir ini hanya sebuah bukit tapi nyatanya berjalan menanjak di anatara batuan besar benar-benar membuatmu terengah-engah.

Semakin keatas dan semakin keatas. Aku berusaha mengingatkan teman-teman baruku ini untuk berhenti cukup di ketinggian itu, karena menurut berita yang saya dengar ‘Dilarang untuk naik hingga puncak karena ditakutkan akan ada orang dari balik gunung membawa parang atau hal lain yang berbahaya, entah dia mabuk atau tidak yang jelas ditakutkan akan memalak atau meminta harta benda’.

Mereka mengiyakan, aku tersenyum karena senang, meskipun begitu aku juga penasaran sebenarnya seperti apa pemandangan dibalik bukit ini, menurut hayalanku terlihat jalan ke kota bahkan mungkin isi kota, dan di kaki bukit terdapat kampus. Lalu jika mengangkat wajah lebih keatas dan keatas lagi akan merasasejajar dengan gunung-gunung yang membentang seperti pinggiran mangkuk (ditengah mangkuk adalah kab Jayawijaya ini).

with2-horz

Cewek yang pakai baju biru namanya Fresti. 🙂


Kalau kamu ke Jayawijaya, jangan lupa ya ke tempat wisata ini ‘Pasir Putih’. Dan mungkin saat kalian berkunjung sudah bayar, hehehe. Saat ini sudah di bangun tiga pos tempat peristirahatan loh. 🙂

Teman Baru Menyenangkan (Salam Kenal)

Tuhan memang tau ya apa yang hambanya butuhkan. Baru beberapa hari ini jenuhku berlebihan terlebih ingin melakukan hal-hal seru sebelum setumpuk aktivitas sekolah di mulai. Tuhan menghadirkan 12 orang baru dalam beberapa hariku, bersama mereka menyenangkan.


9 Januari 2015, menjelang magrib. Salam, Siswanda dan Budi diajak oleh Irham ke Sekretariat kami (rumah guru SM3T –LPTK UNMUL dan UR di Jayawijaya yang disediakan oleh pemerintah).  Ketiga kawan baru itu sesungguhnya sudah bertemu denganku dan teman-teman di bandara Sentani—Jayapura, bahkan saat itu kami (guru SM3T UNMUL penempatan Jayawijaya) berfoto bersama rombongan mereka (guru SM3T UNNES penempatan Yahukimo).

Sebelum mereka pulang. Aku dan teman baru ini saling bertukaran nomor telpon.  Lalu esoknya bersama mereka saatnya wisata, heheh.


10 januari 2015 tujuan kami daerah Wosi dan Kurulu.

“Dengan senang hati jika mau ikut. Semakin rame kan semakin asik”

Begitu kira-kira isi pesan semalam. Dan, sesuai pesan juga yang menyatakan bahwa tempat berkumpul di rumah ibu Rais. Pukul 9 pagi aku dan Muti menuju tempat tersebut.

Kebetulan Muti belum sekalipun pernah ke daerah Kurulu dan seterusnya, sehingga aku akan menjadi temannya karena aku yang di tempatkan di sekolah Isaima (melewati Kurulu dan sebelum Wosi).


12 Januari 2015, Hari ini hari pertama masuk sekolah lagi, pagi-pagi aku kembali ke Isaima untuk melaksanakan tugas. Sepulang sekolah aku menuju kota karena akan melakukan pemeriksaan lagi di dokter gigi.

Ternyata, eh emang ya aku gak bisa kalau cuek sama sekitar. Mobil Strada yang melaju dan kaca mobil yang tertutup tak menghalangi pandanganku menangkap sesuatu yang tak asing. Jaket mereka yang bertuliskan ‘Yahukimo’ dengan warna huruf kuning membuatku tersenyum senang.

“Di sini saja pak. Ini ada teman-teman saya ingin ke Mumi.”

“Tidak jadi ke kota?”

“Jadi. Nanti saya sama mereka, lagipula saya tidak enak merepotkan bapak karena seharusnya tidak sampai kota dan masih ada pekerjaan.”

“Baiklah.”

Aku mengucapkan terima kasih dan tersenyum kepada sosok berwibawa kebapaan dan ramah itu, seseorang yang ku kenal sejak bulan pertama aku berada di sini, btw anaknya lulusan kedokteran UI loh (hehe bocoran, senyumnya manis lagi).

­­­­­­­


13 Januari 2015, pagi-pagi sekali aku kembali menuju Isaima untuk mengajar. Disela-sela mengajar ada pesan yang masuk, bertanya apa kaha aku masih di kota. Mereka ingin mengajakku keliling kota mencari oleh-oleh tangan. Sayang aku tidak bisa, karena sungkan untuk berbicara dengan rekan sepengabdianku, semalam aku sudah meninggalkan Wira sendiri di rumah dan dia begitu panik serta pagi ini aku medapatkan imbasnya.

Tuhan memang selalu mm=emberi kemudahan, karena telpon dari seorang teman yang membutuhkan bantuan di kota (sekretariat). Aku dan Wira menuju kota  sekitar jam 1 siang.

Sore ini, aku bertemu teman baruku lagi dan mencari buah tangan, mereka membeli beberapa benda khas Papua (Koteka, Noken, dll).


14 Januari 2015, mereka kembali ke Yahukimo. Enggak sempat ngucapin selamat jalan di bandara, tapi senang deh karena dapat sms info kalau mereka udah nyampe dengan selamat.


Ini dia beberapa moment bersama mereka :

DSC_0995

Numpang kendaraan yang lewat (cari gratisan, seru juga)

DSC_0381

Di dalam Goa Lokale

Haha5

Pasir Putih (Kurulu – Jayawijaya)

IMG_1152

Foto bareng sebelum masuk ke Goa.