Arsip

19 April 2015

Semakin super sibuk akhir bulan ini…

-Jurnal pembelajaran (jan, feb, maret) untuk dikumpul di dinas P dan P Jayawijaya.

-Masih ada waktu seminggu untuk melatih anak-anak SD Inpres Isaima yang ikutan lomba PGEJ.

-Laporan :
.Cover dan kata pengantar, Dftr Isi
.Bab 1 – Bab 5
.Lampiran : foto dan vidio kegiatan, tertimoni, rpp, silabus, catatan harian, profil sekolah, kalender pembelajaran, dll

-Monev kedua untuk LPTK UNMUL (3 dosen datang tanggal 26/4/2015)

-Kegiatan PGEJ (Pekan Generasi Emas Jayawijaya)
.TM, 25/4/2015

Sesibuk apapun itu harus tetap semangat

10175986_1566071613633740_503445702509168517_nSemakin super sibuk akhir bulan ini…

 

-Jurnal pembelajaran (jan, feb, maret) untuk dikumpul di dinas P dan P Jayawijaya.

-Masih ada waktu seminggu untuk melatih anak-anak SD Inpres Isaima yang ikutan lomba PGEJ.

-Laporan :
.Cover dan kata pengantar, Dftr Isi
.Bab 1 – Bab 5
.Lampiran : foto dan vidio kegiatan, tertimoni, rpp, silabus, catatan harian, profil sekolah, kalender pembelajaran, dll

-Monev kedua untuk LPTK UNMUL (3 dosen datang tanggal 26/4/2015)

-Kegiatan PGEJ (Pekan Generasi Emas Jayawijaya)
.TM, 25/4/2015
.Seleksi CC (Cerdas Cermat SD, SMP, SMA), 27/4/2015
.Pembukaan PGEJ, 29/4/2014
.Acara PGEJ terdiri dari 9 perlombaan bidang pendidikan, seni dan gerak jalan. Acara terlaksana sampai 2/5/2015

*Semangattt Miam!!! Smile.

Hai, Desember (tiga bulan berlalu) – SM3T

Postingan dari blogku di sebelah, karena blog itu mau dihapus–


Selamat datang Desember. Kuharap Desember kali ini lebih bersahabat. Lebih menyenangkan dan lebih menghadirkan sesuatu yang amazing.
Satu hal yang jelas membedakan kali ini adalah keberadaanku. Jika selama hidupku, setiap akhir tahun ku lewati di Kalimantan. Kali ini aku berada di ujung timur bangsa ini, Jayawijaya–Papua.

Jangan tanya apa yang kulakukan di sini. Jangan berpikir kalau aku sedang liburan.
Aku sedang menjadi harapan bangsa sekarang. Haha,
Menjadi salah satu peserta SM3T angkatan IV, maju bersama mencerdaskan bangsa. Mau tau banyak tentang program SM3T dll, silahkan ketik di google pasti akan banyak berita dan apapun yang kamu butuhkan tentang SM3T.
Oia, jangan tanya tentang apa-apa saja yang kulakukan di sini. Banyak. Kalau mau tau ya, ikutin saja postingan yang ada di blog ini, atau di blog kami (sm3tunmul.blogspot.com)

Menjadi peserta SM3T benar-benar pengalaman yang luar biasa. Banyak pelajaran yang diperoleh, khususnya tentang sisi unik bangsa ini, sisi terpuruknya pendidikan anak bangsa di pelosok, dan pelajaran hidup yang berarti.

Hai, Desember. Tiga bulan telah berlalu sejak Agustus mengenalkanku pada dinginnya kota ini, dan 1 September menjadi saksi upacara penyerahan kami pada pemerinta dan dinas daerah. Dan September menjadi awal hari-hariku berkenalan dengan semua susah senang menjadi guru di pedalaman. Dengan segala keterbatasan sarana, keadaan anak yang—aduh, sesuatu, bikin geram dan ingin minggat dari sini.

Haha, banyak hal telah terlalui. Tak sedikitpun penyesalan berada di sini. Dan, rasa syukur dan bangga itu akan terus memompa semangat ini.


Ditulis 1 Desmber 2014

Kembali ke Sekolah (Liburan telah Usai)

Liburan telah usai, kebersamaan ini melelahkan namun menyenangkan. Berbagai hal hadir diantara kita semua, canda dan tawa, keseriusan rapat dan agenda penting. Hehe, katanya liburan tapi kok malah sibuknya over ya?

Bagaimanapun aku bersyukur atas segala yang telah terlalui. Akhir tahun yang super sibuk. Dimulai dari ulangan semester di sekolah pengabdian masing-masing. Perayaan ulang tahun kota Wamena, sesi diskusi dengan bapak Bupati, peresmian Sekretariat SM3T, Open House bapak Bupati dan kerumah-rumah para pejabat pemerintahan (sebagai silaturahmi), menjadi panitian Open House bapak Wakil Bupati, agenda rapat untuk kelompok LPTK, agenda rapat untuk gabungan LPTK (UNMUL dan UR–SM3T penempatan Jayawijaya) untuk program kerja yang skalanya besar (tunggu nanti kegiatan kami yang melibatkan hingga lebih seribu anak Jayawijaya). Oia, ada acara tukaran kado akhir tahun juga dan acara syukuran sekretariat.

Oia, sekretariat kami berada di jalan Patimura, masih di sekitar kota, sekitar 10 menit jalan kaki. Rumah kami ini, terdiri dari 8 kamar tidur dan akan menjadi hak untuk 66 guru SM3T, termaksut saya. Fasilitas yang diberikan bagi saya pribadi cukup baik. Tempat tidur, TV, dan beberapa kursi dan meja. Dari sekian banyak kamar ini, aku memilih kamar paling belakang, sebenarnya tidak harus di kamar yang tetap, hanya saja penghuni kamar ini sudah merasa nyaman berada di dalamnya, saya bersama 7 lainnya merasa ini seperti kamar kos. Ha ha ha

Oia, banyak canda dan kebersamaan terlalui selama berada dalam rumah kami ini, dua LPTK menyatu. Bahkan, kami welcome terhadap guru SM3T lain, misalnya senior SM3T LPTK UR yang masih bertugas perpanjangan di Lany Jaya datang ke Wamena selama liburan menghabiskan hari-hari bersama kami. Dan juga, saat syukuran rumah kami ini, teman-teman dari SM3T Unesa (penempatan Membramo Tengah) hadir. Terkadang para bapak guru SM3T antar LPTK (UNMUL, UR, UNESA, UNIMED) bermain futsal bersama.

Di rumah kami ini, selalu saja ada kehangatan yang tercipta, saling bercanda–bahkan hingga keterlaluan menurutku, tapi dari hal yang jarang ditemukan dalam keseharian masing-masinglah yang membuat kami mengerti satu sama lain, memehami bukan dari cara pandang sendiri tapi dari kebersamaan yang terlalui.

Hei, janga sangka di sini yang masak cuma cewek dan cewek, begitu juga dengan tugas cuci piring atau hal lain. Kebersamaan bro, kebersamaan itu berarti semua harus bersama. Saling membantu, dan kesadaran diri bahwa kita sama-sama perantauan, sama-sama memiliki hak dan tanggungjawab yang sama. Asikkk, ckckkc

Dan, selalu ada seniman di rumah kami. Suara Piano, gitar, atau sekedar suara nyanyian di dalam kamar, atau saat mencuci pakaian. Ha ha ha, meskipun ribut tapi tau waktu loh, nggak sampe tengah malam banget kok karena sadar banyak tentangga, mungkin memilih untuk menonton TV atau melakukan hal lain, ada yang berkubu ada juga yang sibuk masing-masing dengan leptop. Seperti kamar kami yang sering jadi bahan candaan (kamar pembantu karena letaknya paling belakang dan pintunya dekat dari meja makan), penghuninya adalah orang-orang paling kaya (begitu kami membela diri) karena jika sudah tengah malam atau malas keluar kamar, semua sibuk dengan leptop masing-masing, ada yang menonton dan ada yang mengerjakan laporan atau bahkan ada yang cuma sibuk menggoyang-goyangkan krusor. Lalu kamar kami jadi tempat favorite berkumpul di rumah bersama ini, para cewek memang sukanya yang rame-rame, hahah. Kamar kami penghuni tetapnya 8 orang namun terkadang lebih dari itu, dan perlengkapan didalamnya lebih lengkap dibandingkan yang lain. Paling banyak cemilan dan paling komplite watak orang-orangnya. Ckckc. Kamar kami juga bisa di bilang musholah dalam rumah, banyak yang numpang tempat sholat.

Masak apa? makan apa selama di rumah bersama (Sekretariat)?

Banyak. Macem-macem, berbagai hal dengan koki yang bergantian. Berkreasi dengan bahan yang ada, jika habis tentu harus iuran bersama untuk kepentingan bersama. BTW, aku sering terganggu loh dengan mereka yang kelaparan tengah malam, para pak guru yang masak tengah malam atau sekedar membuat kopi lalu mengobrol. Namanya cowok, kalau mengunakan peralatan dapur pasti bersuara (gaduh) belum lagi suara tawa mereka yang besar.

Paparan saya yang diatas hanya sekian dari banyak hal yang terlalui, bagaimana pun syukur ini selalu terucap. Memiliki banyak teman dan melalui hari bersama itu sebuah rasa bahagia yang sederhana namun sulit menceritakannya dengan baik, satu kata yang selalu terucap ‘Senang’. Terima kasih atas kebersamaan ini, terima kasih semuanya.

Pemerintahan yang mendukung, murid-murid yang selalu mengharapkan kami, masyarakat yang menyambut kami dengan baik, para sesama pendatang yang turut membantu dan menganggap kami keluarga, terima kasih teman-teman guru SM3T. Special Thanks, Allah yang selalu melindungi kami, yang memberikan kesehatan dan semoga selalu memberikan kemudahan kepada kami dalam pengabdian ini dan segala agenda kami berjalan dengan lancar. Amien,


Hari ini, rumah bersama akan sepi lagi, kita harus kembali ke sekolah masing-masing, melakukan aktivitas di desa pengabdian masing-masing. Terus semangat kawan, jangan lupa agenda besar kita, prosesnya dimulai dari sekarang.

Dan, kita semua akan sering bertemu pastinya karena banyak hal yang akan kita lakukan bersama hingga masa pengabdian kita di Jayawijaya ini usai.


Oia, tanggal 3 Januari 2015 kami berlibur ke danau Habema bersama bapak Bupati. Sesuatu yang W O W. Satu kata lagi ‘Senang’ meskipun tantangan yang dilalui tidak mudah, ceritanya di lain kesempatan ya, saat ini saatnya sarapan.

Wamena, 5 Januari 2015 (Nurmi)

Catatan Harian (12-16 Januari 2015)

Isaima, Distrik Kurulu – Jayawijaya

12 Januari – 16 Januari 2015

000_0008

Ditemani segelas susu coklat dan cemilan aku harus menyelesaikan tumpukan-tumpukan ini. Tangan mulai keram, penggaris jatuh terinjak—patah, suasana bosan mulai terasa, di luar angin kencang dan mendung serta suara-suara langit membuatku menggerutu karena tak turun hujan, setidaknya jika turun hujan aku tak perlu mengambil air jauh ke kali.

Belum lagi panggilan telpon dan sms yang membuatku ‘bad mood’, pertanyaan-pertanyaan yang membuatku marah. Sekolah sudah masuk sejak senin kemarin, karena suatu hal aku harus datang pagi sekali dari kota dan kembali siang,  lelah sehingga kuputuskan bermalam di posko (rumah yang disediakan sekolah).

Empat hari bolak-balik kota dengan jarak hampir 30 km bukan  hal yang muda,  lalu kenapa terlalu mengkhawatirkanku menginap sendirian di sini? Lalu kenapa kau tak ingin kesekolah sepertiku? Rasanya sia-sia kau bertanya dan terus bertanya seolah menyuruhku mengikuti langkahmu.

Abaikan saja. Aku jenuh mengalah, aku bukan sombong tapi memang tak ada yang harus ditakutkan, Tuhan akan menjaga kita yang percaya perlindunganNya. Aku tau persis apa yang kau rasakan saat aku meninggalkanmu semalam saja di sini waktu itu, mengertilah itu keterpaksaan dan keadaan tak mendukung, aku tak bermaksud, berbeda dengan kali ini yang atas keinginanku sendiri.  Mari kita jangan terlalu merisaukan sesuatu. Bukankah kamu sering bilang “hidup sudah susah ngapain dibuat susah, hehe”. Setiap kamu berkata itu dan tertawa, aku mengangguk menginyakan sependapat.

Btw, semalam empat muridku setia kok belajar dan menemaniku, orang tua mereka malah senang dan memperbolehkan.

000_0007


Masih duduk di ruang tamu dengan meja penuh benda-benda memusingkan (aku harus mengisinya dengan angka-angka yang menjadi penentu, lalu membubuhkan kalimat penyemangat di setiap kolom yang tersedia.

Jam di layar ponselku sudah menunjukan pukul 15.20  waktu Isaima (Indonesia Timur),  kuletakkan ponselku dan memperhatikan masyarakat yang lewat beramai-ramai.  Para bapak yang menggendong atau memikul babi dan para mama yang membawa noken berisi banyak. Aku tau  mereka ingin kemana, mereka ingin kerumah duka. Berdasarkan info dari muridku semalam dan info dari bapak guru tadi, salah seorang di kampung ini telah berpulang. Duka itu di rumah kepala kampung (kepala suku)—salah satu keluarga mereka, aku ingat saat kemarin Kemai (murid kelas enam, cucu kepala suku datang membawa kertas bertuliskan permintaan izin).

“Pergi rumah ibu guru, izin untuk tidak masuk sekolah satu dua hari karena ada duka.”

Begitu tulisan yang kuperkirakan ditulis oleh salah satu anggota keluarga Kemai. Setia ada duka aku sangat ingin datang, namun apalah daya aku selalu ragu. Bukan tak ingin menghargai mereka dan turut berbelasungkawa. Seperti halnya awal bulan aku berada di sini, kepala suku yang lama telah perpulang, aku tak datang.

Oia, jika ada yang meninggal di sini tidak dikubur tapi di bakar. Salah satu teman saya punya vidio prosesinya, dan ada juga yang punya fotonya. Menurutku setelah menonton proses tersebut, mereka kasihan. (kapan-kapan saya posting tentang proses pembakaran jenazahnya).

Pelajaran Kecil

05/09/2014SM3T UNMUL
Hari jumat. Hari ini jadwal seluruh murid belajar agama. Dulu ada suster yang mengajar mereka, jika suster tidak datang ada satu guru tertua di sekolah ini yang menggantikan. Tapi? Pagi ini sudah pukul 7 lewat dan belum ada suara-suara murid berbahasa ibu lalu tertawa di sekitar sekolah.

Aku memakai pakai rapi lalu mengintip dari jendela kamar. Mungkin hari ini mereka tidak masuk, gumamku agar tamanku merespon.

“Hari ini mereka tidak ada yg mengajar.” jawabnya.
“Kenapa?”
“Bapak Wiliem tidak masuk juga tadi pagi beliau titip kunci dengan murid dan menyuruhnya menaikkan bendera.”
Mendengar itu samangatku kendor. Terlebih kemarin kepsek sudah tidak masuk dan menurut informasi dari guru, kepsek hanya datang sampai hari kamis. Keajaiban jika datang hari ini.

Pukul 7.45 pagi, aku memakai topi dinasku serta sepatu putih favoritku sambil tersenyum, melangkah pasti menuju sekolah.

“Selamat pagi.”
“Pagi ibu guru.” jawab beberapa siswa itu tersipu-sipu.

Aku memasuki ruang kantor, yang menurutku sangat butuh penyusunan ulang letak-letak meja ataupun hal lain yang ada di dalam ruangan sempit itu.

“Sepertinya hanya kita berdua yang mengajar hari ini?!” Tanyaku sambil membuka gorden yang mulai sobek termakan usia.
“Iya. Mau bagaimana lagi…” Jawab kawanku kecewa dan pasrah.


Aku memukul bel sekolah. Temanku menggantikan karena menurutnya kurang keras. Aku meraih kunci-kunci di atas meja lalu berjalan ke pintu-pintu, membuka.

Murid-murid berbaris di depan ruang kelas enam. Aku melirik sekejap memastikan seberapa banyak mereka. Sedikit. Anak kelas 2 hanya 2 orang saja, kelas lain juga hanya separuh dari biasanya.

“Sementara ibu Nurmi membuka seluruh kelas, ayo baris rapi. Ketua kelas enam maju.” kawanku mengarahkan mereka. Aku tersenyum dari jauh. Kegiatan rutin itu sudah menjadi yang ke empat tapi masih saja kurang. Berkali-kali kata siap dan luruskan diucap masih saja belum rapi.

“Ulangi. Ibu guru sudah bilang toh? Kalau temannya memimpin dengarkan baik-baik. Yang memimpin bagaimana sikap?”

Ku dengar dari kejauhan, volume suara kawanku lebih dari biasanya.

“Pemimpin itu jadi contoh. Jadi suara harus keras toh? Harus lihat teman yang lain. Jika belum lurus jangan siapkan. Kalau masih ada yang berbicara tegur, sebut nama. Bisa toh?” Ia mulai berbicara banyak, murid-murid belum disiapkan.

“Ayo dicek temannya. Kalau ditegur berkali-kali tidak berubah. Datangi.”

Langkah kaki hitam berlumpur tanpa sepatu itu menuju barisan dan mengatur satu persatu anak kelas 1 dan 2. Aku mendekati kawanku, berjalan pelan tak bersuara apa lagi berani berpendapat.
“Iya begitu. Yang lain bisa toh atur diri sendiri?” sambungnya.


Barisan sudah disiapkan lalu diistirahatkan.

“Cape?” Tanyaku.
“Iyo ibu.”
“Kalau cape harus baris bagus toh biar ibu guru tidak lama suruh berdiri. Paham?”
“Paham ibu.”
“Setuju?”
“Iyo. Setuju.”
“Semangat!”
“SEMANGAT” jawab mereka serentak dan mengepalkan tangan kanan ke atas.

Aku memberi kode pada kawanku yang baru kembali dari ruangan kantor untuk meneruskan.


Aku merekam dari belakang kegiatan itu. Kawanku sepertinya lebih lembut sekarang. Ku dengar ia memberikan nasehat-nasehat penting, sesekali bernyanyi untuk menyindir mereka yang malu-malu.
“Pemberani tidak boleh menunduk…
Pemberani tidak malu-malu. Pemberani…”

Aku keluar pagar sekolah, melihat ke arah jalan dari kota, tak ada murid yang datang. Kemudian arah lain, ku lihat 2 bapak guru yang berjalan tak jauh dari sekolah. Jauh di belakangnya banyak murid-murid berlarian agar lebih cepat sampai. Senyumku mengembang. Setidaknya mereka masih ingin bersekolah.

“Ayo cepat. Sudah lewat jam delapan.” Teriakku lalu masuk untuk menanti mereka.


“Eh, yang terlambat barisnya di sana.” ucap temanku menunjuk sisi lapangan di depanku. Yang terlambat kembali berhambur dari barisan dan menujuku. Aku tersenyum seolah memberi isyarat bahwa aku tidak akan menghukum mereka, jadi mereka tak perlu takut.
“Baris seperti biasa yo” Beberapa detik setelah perintahku, 2 anak kelas satu langsung mengambil posisi. Yang lain sedikit lambat.
“Bagus.” Ucapku menunjukan jempol pada dua murid mungil itu.
“Ayo yang lain masa kalah sama adiknya. Malu toh?”
“Frans. Boleh pimpin? Murid kelas limaku itu langsung maju. Ia melakukan tugas dengan baik.
“Tidak usah menoleh, lihat kedepan. Sikap siap toh? Lihat Frans. Bukan temannya yang berbaris di sana.”
Mereka mengikuti perintah.
“Jauh rumah kan? Atau bantu mama dulu? Jadi hari ini masih terlambat?”
“Jauh ibu.”
“Ibu tidak marah kalian terlambat, tapi tidak senang juga kalian terlambat. Boleh besok- besok tidak terlambat?”
“Iyo.”
Jawaban mereka membuatku terdiam. Menunggu kawan yang masih menanti kesempurnaan barisan di hadapannya.
“Ibu tidak akan suruh turunkan tangan kalau masih ada suara apa lagi garuk kepala.”


Setelah barisan digabungkan dan dalam posisi istirahat. Aku membuka dengan semangat.
“Selamat pagi…”
“Pagi ibu guuru”
“Kurang keras. Selamat pagi semua…”
“PAGI IBU GURUU.”
“Bagus. Pagi-pagi harus semangat toh? Tepuk tangan dulu untuk kalian. Ibu guru tidak marah toh? Ibu guru hanya ingin kalian disiplin, perduli dengan teman. Jangan kira ibu marah ya!”
“Iyo.”
“Bagus toh kalau rapi? Terus, teman sudah bagus baris tapi yang lain masih ribut dan goyang sana-goyang sini. Kasihan toh temannya? Satu salah semua kena. Besok-besok baris bagus yo.” Mereka mengiyakan.

“Ibu Wira mau tambahkan?”
“Apa kabar?” Teriak kawanku semangat.
“Luar biasa.” Teriak semangat murid membalas dan mengacungkan kedua jempolnya.

Kawanku mulai berbicara ini dan itu membuat murid-murid itu lebih ceria lagi. Yel2 dan lagu serta gerakannya kami lakukan bersama-sama.

Doa bersama sebelum kegiatan bersih-bersih dimulai. Aku mendapat tanggung jawab mengawasi, memandu siswa kelas 3 dan 4 membersihkan ruangan. Luar biasa mereka siswa yang aktif dan menyenangkan.

Seluruh sisi disapu termaksud pelapon dan dinding yang mulai banyak sarang laba-laba. Bangku disusun ulang dan foto presiden serta wakilnya dilap bersih. Burung garuda bahkan dibersihkan dengan air. Begitu juga dengan papan tulis yang menggunakann kapur, harus menggunkan kain basah.

Tidak hanya dalam ruangan, sampah-sampah di sekitar sekolah dipunguti dan dikumpulkan menjadi satu dan akan dibakar saat pulang sekolah.


Paling menggemaskan saat membantu siswa kelas satu membersihkan kelas. Bayangan mereka yang mengambil rumput di sekitar sekolah untuk menyapu kelas. Aku tersenyum kaget melihat itu.

“Halo.”
“Ibu guru.” ucapnya lalu berlari masuk kelas.
“Sudah bersih?” ucapku pura-pura bertanya karena kelas malah penuh rumput.
“Bapak guru mana?”
“Di sebelah.” rupanya beliau mengawasi kelas 2 lebih dulu. Aku meminta izin mengambil alih kelas 1.
“Tidak ada sapu?” bukannya menjawab mereka malah berlari keluar dan membuang sapu rumput mereka lalu kembali masuk.
“Ibu guru boleh ambil sapu dulu?”
“Iyo.”

Kembali dengan 3 sapu di tangan. Mereka berlomba ingin menggunakan. Mereka berdiri mengelilingiku dan mendongak dengan harap diberi. Ku berikan yang ku anggap mampu, ternyata mereka bertengkar.

“Hallo.” ucapku di tengah-tengah ruangan sambil tepuk tangan agar dapat perhatian.
“Yang pegang sapu menyapu. Yang lain bantu ibu angkat meja kursi. Bisa?”

Mereka langsung bergerak kecap. Aku yakin mampu mengangakat hanya berdua. Tapi ingin hal lain.

“Berhenti.” mereka menatapku heran. Aku tersenyum.
“Angkatnya berempat biar lebih ringan dan harus kompak jalannya. Boleh?” mereka hanya tersenyum malu-malu. Rasanya ingin tertawa puas saat melihat kelas rapi dari biasanya.

“Ayo. Duduk dulu.” Mereka mulai mengambil posisi.
“Ini kenapa duduk bertiga?” Tidak ada jawaban hanya ada cengir-cengir dan mata-mata coklat menatapku.
“Boleh pindah satu?” Mereka saling tatap.
“Masih ada toh kursi kosong. Masih ada juga teman duduk sendiri. Boleh pindah?” yang lain menjawab iya namun ketiga snak itu tidak. Bagusnya meski tak menjawab, satu orang berdiri dan pindah ke sebelah.
“Nah. Pintar. Ayo tepuk tangan untuk temannya.”
“Ada yang masih ingat lagu kemarin?” Semua bungkam.

Aku menaikkan 3 jariku kedepan.

“3” sebut mereka serentak. Ku lanjutkan untuk mempermainkan jari-jari menguji kemampuan menghitung mereka. Luar bisa menghitung sampai 10. Semua benar meskipun ku acak angkanya. Selanjutnya aku ingin mereka bernyanyi.

“Satu satu saya sayang Mama… Dst” Aku mulai bernyanyi diikuti mereka. Yang membuat gemas lagi mereka mengikuti gerakkan yang ku ajarkan.
“Sekali lagi. Setelah itu foto bersama dan kita kumpul di lapangan sama kakak-kakak yang lain.”

Suara mereka makin keras dan saat berfoto mereka senyum manis. Bulu mata lentik itu menggodaku. Aku suka sekali. Hahaha.


Mereka semua duduk melingkar, sesekali berdiri. Kami melakukan beberapa permainan. Menyanyikan beberapa lagu agar lebih semangat. Dan sebelum pulang aku bergantian dengan teman.

Kawanku memandu mereka menyanyikan lagu-lagu keagamaan mereka. Aku menjauh sedikit, ku lihat bapak Wiliem duduk di kursi depan kantor ikut bertepuk-tepuk tangan sama dengan murid-murid. Aku tersenyum menyaksikan itu.

Sebelum pulang mereka berdoa. Aku masih berdiri 5 meter dari mereka berdoa dengan caraku sendiri.

“Amiin.” semua Siswa berdiri. Kawanku mengarahkannya keluar pagar dengan berbaris rapi.


Pelajaran kecil yang begitu berarti. Kami ingin mereka menjadi generasi penerus bangsa yang kuat, gigih, disiplin, serta berwawasan luas tanpa merasa berbeda.

Pelajaran kecil untuk perubahan besar.

“…. Tunggulah wahai negeriku. Baktiku padaku.” Begitu lirik lagu yang sering kami nyanyikan dan siap membagun tembok janji dalam hati kami. Pendidik generasi bangsa, duta pendidikan nasional.