Arsip

Kembali ke Sekolah (Liburan telah Usai)

Liburan telah usai, kebersamaan ini melelahkan namun menyenangkan. Berbagai hal hadir diantara kita semua, canda dan tawa, keseriusan rapat dan agenda penting. Hehe, katanya liburan tapi kok malah sibuknya over ya?

Bagaimanapun aku bersyukur atas segala yang telah terlalui. Akhir tahun yang super sibuk. Dimulai dari ulangan semester di sekolah pengabdian masing-masing. Perayaan ulang tahun kota Wamena, sesi diskusi dengan bapak Bupati, peresmian Sekretariat SM3T, Open House bapak Bupati dan kerumah-rumah para pejabat pemerintahan (sebagai silaturahmi), menjadi panitian Open House bapak Wakil Bupati, agenda rapat untuk kelompok LPTK, agenda rapat untuk gabungan LPTK (UNMUL dan UR–SM3T penempatan Jayawijaya) untuk program kerja yang skalanya besar (tunggu nanti kegiatan kami yang melibatkan hingga lebih seribu anak Jayawijaya). Oia, ada acara tukaran kado akhir tahun juga dan acara syukuran sekretariat.

Oia, sekretariat kami berada di jalan Patimura, masih di sekitar kota, sekitar 10 menit jalan kaki. Rumah kami ini, terdiri dari 8 kamar tidur dan akan menjadi hak untuk 66 guru SM3T, termaksut saya. Fasilitas yang diberikan bagi saya pribadi cukup baik. Tempat tidur, TV, dan beberapa kursi dan meja. Dari sekian banyak kamar ini, aku memilih kamar paling belakang, sebenarnya tidak harus di kamar yang tetap, hanya saja penghuni kamar ini sudah merasa nyaman berada di dalamnya, saya bersama 7 lainnya merasa ini seperti kamar kos. Ha ha ha

Oia, banyak canda dan kebersamaan terlalui selama berada dalam rumah kami ini, dua LPTK menyatu. Bahkan, kami welcome terhadap guru SM3T lain, misalnya senior SM3T LPTK UR yang masih bertugas perpanjangan di Lany Jaya datang ke Wamena selama liburan menghabiskan hari-hari bersama kami. Dan juga, saat syukuran rumah kami ini, teman-teman dari SM3T Unesa (penempatan Membramo Tengah) hadir. Terkadang para bapak guru SM3T antar LPTK (UNMUL, UR, UNESA, UNIMED) bermain futsal bersama.

Di rumah kami ini, selalu saja ada kehangatan yang tercipta, saling bercanda–bahkan hingga keterlaluan menurutku, tapi dari hal yang jarang ditemukan dalam keseharian masing-masinglah yang membuat kami mengerti satu sama lain, memehami bukan dari cara pandang sendiri tapi dari kebersamaan yang terlalui.

Hei, janga sangka di sini yang masak cuma cewek dan cewek, begitu juga dengan tugas cuci piring atau hal lain. Kebersamaan bro, kebersamaan itu berarti semua harus bersama. Saling membantu, dan kesadaran diri bahwa kita sama-sama perantauan, sama-sama memiliki hak dan tanggungjawab yang sama. Asikkk, ckckkc

Dan, selalu ada seniman di rumah kami. Suara Piano, gitar, atau sekedar suara nyanyian di dalam kamar, atau saat mencuci pakaian. Ha ha ha, meskipun ribut tapi tau waktu loh, nggak sampe tengah malam banget kok karena sadar banyak tentangga, mungkin memilih untuk menonton TV atau melakukan hal lain, ada yang berkubu ada juga yang sibuk masing-masing dengan leptop. Seperti kamar kami yang sering jadi bahan candaan (kamar pembantu karena letaknya paling belakang dan pintunya dekat dari meja makan), penghuninya adalah orang-orang paling kaya (begitu kami membela diri) karena jika sudah tengah malam atau malas keluar kamar, semua sibuk dengan leptop masing-masing, ada yang menonton dan ada yang mengerjakan laporan atau bahkan ada yang cuma sibuk menggoyang-goyangkan krusor. Lalu kamar kami jadi tempat favorite berkumpul di rumah bersama ini, para cewek memang sukanya yang rame-rame, hahah. Kamar kami penghuni tetapnya 8 orang namun terkadang lebih dari itu, dan perlengkapan didalamnya lebih lengkap dibandingkan yang lain. Paling banyak cemilan dan paling komplite watak orang-orangnya. Ckckc. Kamar kami juga bisa di bilang musholah dalam rumah, banyak yang numpang tempat sholat.

Masak apa? makan apa selama di rumah bersama (Sekretariat)?

Banyak. Macem-macem, berbagai hal dengan koki yang bergantian. Berkreasi dengan bahan yang ada, jika habis tentu harus iuran bersama untuk kepentingan bersama. BTW, aku sering terganggu loh dengan mereka yang kelaparan tengah malam, para pak guru yang masak tengah malam atau sekedar membuat kopi lalu mengobrol. Namanya cowok, kalau mengunakan peralatan dapur pasti bersuara (gaduh) belum lagi suara tawa mereka yang besar.

Paparan saya yang diatas hanya sekian dari banyak hal yang terlalui, bagaimana pun syukur ini selalu terucap. Memiliki banyak teman dan melalui hari bersama itu sebuah rasa bahagia yang sederhana namun sulit menceritakannya dengan baik, satu kata yang selalu terucap ‘Senang’. Terima kasih atas kebersamaan ini, terima kasih semuanya.

Pemerintahan yang mendukung, murid-murid yang selalu mengharapkan kami, masyarakat yang menyambut kami dengan baik, para sesama pendatang yang turut membantu dan menganggap kami keluarga, terima kasih teman-teman guru SM3T. Special Thanks, Allah yang selalu melindungi kami, yang memberikan kesehatan dan semoga selalu memberikan kemudahan kepada kami dalam pengabdian ini dan segala agenda kami berjalan dengan lancar. Amien,


Hari ini, rumah bersama akan sepi lagi, kita harus kembali ke sekolah masing-masing, melakukan aktivitas di desa pengabdian masing-masing. Terus semangat kawan, jangan lupa agenda besar kita, prosesnya dimulai dari sekarang.

Dan, kita semua akan sering bertemu pastinya karena banyak hal yang akan kita lakukan bersama hingga masa pengabdian kita di Jayawijaya ini usai.


Oia, tanggal 3 Januari 2015 kami berlibur ke danau Habema bersama bapak Bupati. Sesuatu yang W O W. Satu kata lagi ‘Senang’ meskipun tantangan yang dilalui tidak mudah, ceritanya di lain kesempatan ya, saat ini saatnya sarapan.

Wamena, 5 Januari 2015 (Nurmi)

kamar Kita

Di rumah bersama terdapat banyak kamar. Tapi paling special kamar terakhir, bukan hanya berada di bagian paling belakang tapi memang mendapat sebutan khusus sesuai lokasinya yang berpintu di dekat ruang makan. Huh, tebaklah apa sebutannya.

Di balik segala hal yang terabaikan oleh kebanyakan orang. Delapan anak manusia dengan senang hati menjadi pemilik tetap kamar tersebut. Mereka membagi posisi dalam lemari untuk menempatkan barang-barang.

Kebersamaan penghuni kamar sangatlah kompak, bahkan ada dana iuran untuk kaca dan kabel. Belum lagi hal lain yang membuat kamar ini terasa istimewa dan sangat berbeda dengan kamar lainnya.

Jika dua malam lalu aku tidur sendirian, dan semalam aku hanya berdua dengan seseorang yang nyasar ke kamar ini karena tak punya teman di tempat lain. Malam ini ramai lagi, horaiii.

Seharusnya Muti sudah terlelap karena sakit kepala yang mendera dari siang tadi, tapi kenapa malah kuat berceloteh dan sesekali mengeluh tak bisa tidur. Tami, sungguh sudah kealam mimpi, setelah sholat isyah, ia mengambil posisi enak di ranjang bagian atas.

Kami berempat (Aku, Wulan, Rina, dan Muti) terjangkit Insomnia. Jika aku sudah terbiasa, tapi ketiga gadis yang sering manggilku kakak ini menjadi tanda tanya. Lebih tanda tanya ketika canda tawa terus terlontar dari mereka.


Setelah magrib. Suasana menyantap buah anggur menjadi pemandangan di kamar akhir. Banyak tambahan mahluk nyasar menjadi bagian pemandangan ini.

Setelah mereka keluar, dan memastikan tak seorangpun yang mengetuk pintu untuk menumpang sholat atau sekedar keperluan lain.

Klik. Suara pintu terkunci, lampu di matikan setelah aku dan Rina tertawa karena saling mengharapkan. Akhirnya aku juga yang bangkit dan mematikan.

Cerita kami berempat di mulai, segala hal jadi topik, dari hal yang membuat tertawa sampai yang membuat serius atau bahkan merasa horor.

Selain itu ada aktifitas yang menjadi menyenangkan. Masing-masing menatap HP dan membaca cerita, jika ada yang lucu dan menarik maka harus di bacakan.

Karena Muti terlelap juga, syukurlah karena ia mang butuh istirahat. 20 menit kemudian di susul Wulan. Tersisa aku dan Rina yang entah siapa nanti yang kealam mimpi duluan.

Sementara malam semakin dingin, jam sudah menunjukan pukul 23:45 di ruang makan depan kamar kami suara berisik penghuni rumah bersama yang kelaparan terdengar begitu jelas.

Aku menarik napas pelan, lalu mengabaikan suara mereka. Aku sudah terbiasa karena kamar kami memang begini letaknya, ini resikonya, dan hampir setiap malam aku mengalaminya. Terlepas dari semua itu, aku tetap suka kamar ini, merasa cocok dengan para penghuninya. Hehe,

Wamena, 9/1/2015