Arsip

Jangan tanyakan berkali-kali hal yang sama

15: 23

===

Aku kesal. Rasanya ingin membanting ponsel tapi tak boleh, bagaimanapun jika rusak itu akan membuatku semakin pusing.

“Kak Umi. kapan pulang?”

Pesan itu membuatku muyak seketika. Jika sekali saja menanyakan hal yag sama tidak masalah. Ini sudah kujelaskan berkali-kali. Aku sangat ingin Pulang cepat, namun urusan di kota ini belum juga usai. Menunggu hal yg tak pasti, hanya utuk hasil selembar kertas. Sial. Aku kesal.

“Belum tau. Ini juga mau pulang cepat tapi masih ada yang harus diurus.” jawabku tiga hari lalu, dan berlanjut hingga beberapa pesan.

“Iya. nanti juga pulang. Tapi belum bisa mastikan. Kenapa sih, nanya pulang terus. Bapak sakit kah? atau Azmi yang sakit? jawab dan tanyaku kemarin pagi.

“Hah. Nanya terus. Gak tau kah, kak pusing di sini.” Jawabku semalam. Aku tak bermaksud ketus atau marah, tapi adikku yang baru duduk di bangku kelas 6 SD itu membuatku jenuh. bingung. dilema.

Hari ini aku tes TOEFL, kamis jilidan skripsi baru usai. Dan aku belum bisa mengurus SKL (Surat Keterangan Lulus, untuk ambil ijasah dan starnskipn nanti setelah wisuda) jika belum ada penyerahan skripsi 7  rangkap itu ketempat yang berbeda + 2 cd berisi data skripsi. Jika ingin menyerahkan tentu harus mendapatkan tanda tangan dosen dan pejabat kampus yang itu aku harus nunggu paling cepat tanggal 10.

Lalu tanggal 9 atau 10 ada acara Lesehan Cendikia UNMUL, dan aku paniatian Cendikia Fair 2013. Acara itu pembubaran panitian lama dan acara lain. Mau ikut tapi lihat keadaan, aku tak fokus kesana.

Jalan lain. pulang lalu nanti kembali lagi mengurusi semuanya. Setelahnya balik lagi ke kampung, dan kembali lagi ke Samarinda untuk wisuda. Ah rempong.

Hello pulang kampung bukan biaya sedikit loh. Setidaknya 120 di kantong. lalu jika bolak balik. Ah, itu duit lumayan di simpan untuk daftar wisuda kan. Lagian sekarang lagi krisis, kost juga udah masuk bulan baru. And tadi ke bank, gak berhasil ngeberesin suatu hal, itu juga butuh duit cin dan nunggu semingguan. Ah pusing.

Aku tau sih kamu masih SD, belum peka. Anggap deh aku yang lagi sensitif. Soalnya lagi cape dan banyak pikiran, mood hancur makin hancur.

Yee, emang iya sih aku gak suka sesuatu hal yang di ulang terus menerus. Toh, aku ini peka, dan gak usah di ingetin terus-terus, peduliku itu cuma susah nunjukinya. Aku ini gak bertindak tanpa pertimbangan, tapi ya gitu, sayanya suka ngedumen sendiri kalau lagi jengkel.

Siapa sih yang gak mau pulang. Hah?

Siapa yang enggak mau menghabiskan waktu sama keluarga yang bertahun -tahun sudah jauh. Tapi ya ga usah gitu ade. Itu malah nambah beban pikiran buat aku. Aku ini suka mikirin hal-hal, semua hal, jelas enggak jelas nempel aja gitu di otakku.

Kan… aku jadi banyak ngoceh. Ini gak bagus ni, ngoceh kaya gini. Tapi, yaweslah.

….

Ku ingat aku belum sholat azhar dan ini sudah 16:35. Aku mengambil air wudhu, dan sholat. Setelahnya berasa tenang.

Ku raih ponselku. Lalu mengirim pesan ke beberapa orang termaksud adikku.

“Assalamualaikum kak… Bagaimana acara LC jadikah?” Balasanya akan dirapatkan ulang. Akhirnya aku izin tidak ikut serta.

“Assalamualaikum. Neng. Gimana, ada kabar kapan bapaknya pulang?” Tidak ada balasan.

“Assalamualaikum de. Tau bapak …. Kapan pulang dari Surabaya?” Dijawab belum pasti kapan.

“Assalamaulaikum, Neng. Nanti tolong lihatkan hasil tes TOEFLku tanggal … Bisa?” Alhamdulillah dijawab bisa.

“Assalamualaikum. Dek. Aku jadi deh, pulang kamis. Kamu bisa kan ambilkan skripsiku yang sudah di jilid. Nanti aku kasi deh, notanya.” Tentu percuma mengiriminya pesan. Ia sedang kerja. Nanti sajalah di bicarakan jika ia sudah di kost.

“Iya. Aku pulang kamis. Bilangin sama mama-bapak ya. Terus tanyain ada yang mau dititip kah?” Balasku ke adikku di rumah.

===

Samarinda : 04/02/2014

Iklan

03/02/2014 (Dihibur anak kecil)

390024_10150505817263600_1919040279_n

Kursi panjang di luar toko menjadi tempat untukku duduk sendiri memikirkan banyak hal, sesekali membalas senyum orang yang lewat. Hingga sosok anak kecil di kursi lain di ujung sana bersama ibunya menjadi fokusku. Aku tersenyum saat dia menatapku sambil malu-malu. Anak yang manis.

Aku tak lagi fokus padanya. Aku menatap deretan toko bertingkat dan menawarkan berbagai hal yang kau inginkan. Kecuali uang, justru kau harus punya uang. Hehe—

“Kak. Mau ini?” Anak yang kira-kira berumur empat tahun itu berdiri di sampingku menyodorkan tangannya yang memegang es krim rasa coklat. Aku tak langsung mengambilnya malah menoleh mencari jawaban dari sang ibu. Sang ibu tersenyum. Aku menangkap, ia berharap aku tak mengecewakan sang anak. Bagaimana ini aku sedang puasa.

“Kakak mau, tapi buat ade aja deh. Mama kan belinya untuk ade.” Jawabku lembut dan tersenyum.

“Aku punya dua. Tadi beli rasa vanila juga. Ini untuk kakak ” Celotehnya sangat lucu dengan gaya bicara khas anak kecil. Caranya mirip sekali dengan adikku di kampung. Si Syifa yang sering ku panggila Nana, nama belakanganya.

“Tapi, kakak lagi gak bisa makan es krim.”

“Kenapa? kakak gak suka? padahal enak.” Raut wajahnya penasaran.

“Enggak.  Kak suka. Suka banget. Tapi kakak lagi puasa.” akuku berharap dia menyerah

“Loh. Kok puasa? kan sekarang bukan bulan puasa. Kakak ngapain puasa.” Aku bingung baimana menjelaskan pada anak kecil begini. Jika kuberitahukan ini itu, apa pertanyaannya akan berhenti? Kurasa tidak.

Aku membujuk sang anak untuk duduk di sampingku. Saat ia mau aku mengangkatnya dan ia duduk tenang. Aku berpaling ke sang ibu. Ibu muda dengan jilbab hijau toska itu hanya memberi jawaban dengan senyum. Memang aku tak mengatakan apa-apa tapi sepertinya dia paham, aku memikirkan apa boleh aku berinteraksi dengan anaknya seperti ini.

“Kak, itu apa?” Tanyanya penasaran isi plastik berwarna putih terletak di sampingku.

“Hm… ini.” Aku meraih seluruhnya dan meletakkan ke pangkuanku. “Ini bahan untuk membuat kue.” Ucapku tersenyum berharap ia tak bertanya lagi. ” Sini kakak buka kan es krimnya nanti jadi cair, rasanya pasti gak enak.” Lanjutku cepat.

“Ini untuk kakak.” Aku meraihnya. Ia tersenyum. Aku membuka bungkus es krim lalu memberinya lagi.

“Ini untuk ade. Kak puasa.” Ucapku tersenyum. “Ayo makan, nanti cair loh. Kan sayang. Gak boleh buang makanan kan. Pasti mamanya pernah bilang begitu.” Bujukku. Aku mengelus kepalanya karena anak itu penurut.

“Kakak. Mau buat kue untuk buka puasa nanti ya.”

“iya.”

“Kue apa? Mama juga sering buat kue.”

“Hm…”

“Putri. Ayo sayang— ayah sudah datang.”  Panggil sang ibu.

“Kak. Nanti kalau ketemu lagi. Jangan puasa ya. kita makan es krim sama-sama.” Ucapnya cepat karena ibunya sudah menunggu. Aku tak mengiyakan, aku tersenyum sambil membalas lambaian tanganya. “Dadahhh kak.” Teriaknya memasuki mobil. Sang ibu tersenyum, dan mengucakan beberapa kata dan  terima kasih. Aku hanya berucap “Tidak apa, saya malah senang. Tidak terganggu sama sekali.” Jawabku membalas senyum.

Aku yang harusnya berterima kasih. Anak sekecil itu datang mengampiri tanpa mengenalku, lalu berhasil menghiburku. Setidaknya mengobati sedikit kerinduaku terhadap rumah dan adik-adikku.

Sepuluh menit yang berharga. Setelah setengah hari kuhabiskan waktu berlutik dengan leptop, printer, dan kertas lalu terburu-buru menuju bank. Ternyata tak berhasil menyelesaikan masalah hari ini. Dua tempat yang berbeda dan jarak yang jauh sama-sama menyuruhku kembali esok hari. Lelah, dan masih banyak hal lain yang membuatku ingin lari saja. lari yang jauh untuk sementara.

Aku tersenyum. Bersyukur anak itu hadir membuyarkan lamunanku,  aku yang resak mengingat -ingat ultimatum bapak kos semalam. Ah, bisakan aku menciptakan bayangan diri seperti naruto lalu bekerja sana sini untuk lebih banyak menabung.

Sebentar lagi azhar. Aku harus kembali ke kost. Aku mengendari motor hijau-putih milikku dengan pelan. Memarkir dengan santai, lalu berjalan lamban menuju pintu kos dan menaiki tangga dengan punyi besi-besi bergesekan dengan tasku membuat telingah sakit mendengarnya. Aku tak perduli.

“Assalamualaikum” Tak ada jawaban.

“Ah– cape pikiran.” Keluhku mengampas tas ke kasur. Buka jilbab menggantungnya rapi. Meraih kembali tas, mengeluarkan isinya dan menggantungnya juga.

Baru saja aku ingin melanjutkan bermain dengan tumpukan kertas, azan azhar terdengar. Aku bangkit dan berwudhu.

===

Samarinda- 03/02/2014

Dia Ada [Kadang-kadang]

Tak perduli anjing menggonggong. Aku tetap duduk di teras kost menatap langit. Tak sedetik saja berhenti menatap bintang terterang yang arah ke 3 jarung jam dariku.

Bintanya yang bercahaya terang, namun kesepian. Miris. Langit memang gelap. Angin berhembus membawa aroma hujan. Ku harap jika hujan turun, langit tak menggebu-gebu dan hanyut dalam tangisan hingga air matanya yang berlebihan melautkan segalanya.

Lima belas menit aku menikmati angin yang menembus jaket dan menusuk-nusuk tubuhku. Tak lagi mendengar suara nyanyian favoriteku lewat haedset yg melekat di sisi kiri telingahku.

Aku menekan-nekal layar ponselku. Tak bergerak. Angin berhembus lebih kencang. Akankah akan badai? pikirku terasa konyol.

Bosan bergelut dengan ponsel aku memasukkannya ke dalam katong jaket besarku. Aku memeluk lulut meredam dingin, kepalaku kuputar sembilan puluh derajat ke kiri lalu ke kanan. Ah, sial ini tidak menyenangkan. Aku menemukan sesuatu di sudut sana. Dengan pelan aku beralih menatap langit. Masih gelap. Aku semakin memeluk lututku, kali ini bukan karena dingin lebih ke menguatkan diri, menyuntikkan keberanian agar tak berteriak. Antara frustasi dan takut.

Aku tersentak saat suara burung tekukur atau entah burung apalah milik tetangga terdengar. Aku tak suka aura ini. Aku ingin berbalik, dengan cepat membuka pintu lalu berlari masuk kamar, menutup diri dengan selimut. Tapi, percuma! Aku yakin dia ada di samping pintu. Menjengkelkan keadaan ini!

Tolol! makiku pada diri sendiri. Aku yang telah memancing. Apa yang kulakukan diteras jam 1 lewat begini. Aku yang mengundangnya. Aku yang bersenandung tak tak jelas tadi, bernyanyi tanpa sadar karena mendengarkan musik. Ah, pergilah cepat. Maaf, aku tak bermaksud.

Lama aku berucap dalam hati. Lama aku menenangkan diri. Aku merasa dia sudah pergi. Kuberanikan diri untuk kembali memperhatikan sekitarku. Tak ada.

“Maaf ya.” Ucapku cepat beranjak dari sana.

Di kamar ini, kamar sederhanaku ini lah tempat aman bagiku dari seluruh bagian bangunan bertingkat ini. Dua minggu lalu aku terusik saat menuruni tangga menuju kamar mandi, sebulan lalu di dapur, dan tadi—Ah, aku dulu terbiasa dengan hal seperti itu. Tapi saat aku tersiksa, aku merasa tidak normal dengan keadaan ini.

Menolak kenyataan akan semakin menyiksa dan menyakitkan. Jadi ku coba lalui tanpa memperdulikannya. Lama berlalu aku tak mengerti mengapa, aku tak merasa bahkan melihat sosoknya. Aku senang, sangat.

Kini, beberapa bulan ini, aku kembali seperti tersedot kedunia itu, aku muyak, kesal, mau marah, tak tahan. Tapi, tak mengerti cara untuk bisa menghindar selamanya.

Ini menyiksa, bisa membuat gila, dan bisa mempertaruhkan segalanya. Aku takut, tapi aku coba bersikap biasa agar dia jerah dan pergi dengan sendirinya.

Huh, Fuhhh– hu

28/01/2014 [Thanks]

scooter_anime_girl-1600x900

Apa yang kutunggu? sejak pagi aku melakukan aktifitas rutin tanpa semangat. Lalu sekarang sudah pukul 9, matahari sudah bersinar dari tadi tanpa ragu. Pakaianku sudah rapi sejam sejak embun masih terlihat. Tapi, mengapa aku duduk terdiam merenung seperti menunggu sesuatu.

Ini hari yang harusnya menyenangkan. Semakin dekat hari pertempuran yang selalu ku nantikan, namun mengapa aku malah was-was dengan semua itu. Masih masalah yang sama dengan kemarin dan kemarin-kemarinnya. Masih terganggu dengan bukti pembayaran yang tak bisa kuperoleh pagi ini. Aku tak punya cukup lembaran untuk membayar. Ini payah. Benar-benar payah!

Ini resiko jika sudah tak memiliki tabungan lalu sudah tak bekerja lagi. Payah. Ini sangat payah!

Sudah satu jam aku duduk di depan meja mungil yang di atasnya ada sebuh leptop. Aku tidak senang mengotak atik isi benda biru itu. Aku hanya duduk memegang ponsel, tasku terpasang di kedua bahuku, berat tapi aku tak perduli. Aku resah, tiba-tiba rasanya ada cairan yang memaksa keluar dari mataku. Kutahan segala rasa menyedihkan yang mulai mempengaruhiku. Kulepas tasku. Kurapikan buku-buku di sekelilingku yang susungguhnya memang sudah rapi. Aduh, perasaan apa ini. Aku takut gagal lagi, aku tak mau semuanya tertunda lagi. Ya, Allah. Tolonglah. Batinku memohon.

Aku berharap ada hujan uang, setidakknya berikan aku beberapa yang berwarna merah. Nanti akan ku kembalikan jika memang harus ini terjadi.

“Sudahlah. Gak bisa diharap lagi. PHP! ingkar janji! Munyakkk!” Kesalku sudah jengkel kepada temanku yang janji mengirimkan uangku. Andai kami berada di kota yang sama, ku datangi dirinya. Huh, kecewa menjalar dalam diriku, aku lemas perutku mulai sakit. Aku belum memakan apapun, dan belum meminum setegukpun dari pagi. Payah.

Aku sedih, mengingat niat baikku menolong kawan saat ia mengalami masalah sepertiku meski aku juga membutuhkan lembaran-lembaran saat itu, tapi kurelakan untuknya. Lihatlah aku yang terbelenggu hal tak pasti begini, tak adakah niatmu kawan berbaik hati padaku.

“Maaf, Ma.” Ucapku pada diri sendiri, takut mengecewakan orang tuaku lagi. Bulan lalu aku pertama kalinya menangis di hadapan mereka karena merasa bersalah, ingkar janji untuk lulus kuliah secepatnya. Ah–aku tak seburuk ini dulu, aku tak sepesimis ini dulu.

Ya Allah, tolonglah. Sudah lebih 10x aku menekan tombol panggilan tapi tak ada jawabn dari kawanku. Ya Allah berikan alternatif jalan keluar. Hanya beberapa detik aku menangis, kuusap dengan cepat air bening yang mengalir di pipiku saat kusadari adikku datang dari kerja paginya di dekat kost.

“Gak jadi ke kampus?”

“Ah? iya ini mau jalan kok. Sudah makan?”

“Sudah tadi tempat ibu (tempat kerjanya)”

“Oh. Hari ini kerja jam berapa lagi?” aku melirik jam di ponselku

“Kena jadwal siang. Sudah makan?”

“Sudah tadi.” Aku berbohong.

===

Aku memilih pergi dari kostku.  “Oia, nanti kalau di antar kerja sms aja. Kali aja aku sempat gantar.” Ucapku berbalik dan benar-benar pergi setelah dia menjawab “Iya,”.

Aku pergi. Bingung mau kemana dan melakukan apa sebenarnya. Banyak yang harus diurus, tapi kuncinya bayar spp dulu. Aku duduk di kursi  di sekitar kolam di fakultasku.

Apa yang kutunggu? Menghayal hujan uang? Atau ada orang kaya yang bisa membaca pikiranku dan dengan baiknya memberikanku uang? Ah, kedua hal itu mustahil terjadi.

Aku sedikit menyesal menggunakan tabungan terakhirku untuk ke dokter. Harusnya aku beli saja beberapa obat di apotik, sakit seminggu belum tentu matikan. Ah, itu tak harusnya terpikirkan dan disesali. Itu sudah jalannya.

Aku bosan berada di sana, mendapat lirikan bahkan tatapan aneh dari beberapa orang yang lewat. Aku kembali ke kost. Tadi saat lewat depan bank di kampus, masih seperti hari-hari 3 minggu ini, antrian begitu banyak. Aku lagi-lagi tidak mood memikirkan masalah uang, tapi ini harus dipikirkan…. Dan kini sudah pukul 11.12 di Selasa super panas ini.

===

Aku bermalas-malasan, tidur di lantai masih dengan kostum formal yang ku pakai ke kampus. Tengkurap-terlenang-gerak sana-sini, menatap plafon. Pukul 12: 15, ponselku berdering, membuatku spontan merasa senang.

“Thanks ya–” Balasku kepada pengirim pesan.

Dengan cepat kuraih kunci motor yang tergantung di sisi kanan mading kamarku. ATM di depan pintu gerbang kampus sedang tak bisa digunakan, aku harus mencari ATM lain yang lumayan jauh dan antri. Sebelum kembali ke kost, aku membeli sebungkus makanan, maklum dengan keadaan mood hancur aku tidak memasak apa-apa hari ini. Berbarengan dengan langkahku menaiki tangga kost, azan zuhur tendengar. Aku mengisi perut dulu sebelum sholat.

Pukul 13:23.

Langkah cepatku (sedikit berlari), menghidupkan motor dan menuju kampus.

“Wah, antrian banyak banget…” Aku mengambil nomor antrian dan keluar ruangan memilih menunggu di luar, di dalam tak ada tempat duduk dan terlalu banyak orang.

“Di mana?” Pesan masuk.

“Di Bank. Lagi Antri.”

“Nomor antrian berapa? Masih lama kah? maaf ya tadinya enggak perna angkat telpon.”

“266. Masih sekitar 37 dari sekarang. Iya gk papa.”  Meskipun aku membalas begitu aku masih sedikit kesal. Sekitar 10 menit kemudian. Pesan dari gadis itu  ada lagi.

“Mi, sudah aku kirim. Semangat ya—” Ia menyisipkan emot senyum di sana.

“Okey. Thanks.” Balasku cepat lalu lebih memilih belajar lewat ponsel.

===

13:47

Masih sekitar 20 nomor antrian. Kurasa aku tidak akan sempat bertemu Pembantu Dekan II hari ini. Bosan menunggu di luar, aku masuk kedalam. Duduk sambil main game. Seorang gadis melangkah mendekat dan dengan wajah manisnya tersenyum padaku.

“Nur,” Sapanya berdiri di depanku.

“Loh. Yu, kamu belum lulus?”

“Sudah baru tanggal 16 kemarin. Kamu belum kah?”

“Ow. Terus ngapain di sini? Bayar spp lagi? Aku dua hari lagi baru pendadaran.”

“Ini nah aku lagi nemenin Novan. Ow–Semangat ya! Kamu terus ngapain? Bayar spp lagi?”

“Iya nah, padahalkan cuma dua hari lagi. Lumayan kan uangnya bisa di simpan untuk wisudaan.”

“Loh, aku enggak bayar loh.” Mendnegar itu langsung bad mood. Memang fakultas kami berbeda namun tetap saja satu universitas. Dan ruginya jika bernasip seperti aku ini.

“Iya, kemarin sudah minta ke dekanat tapi tetap gak bisa.”

“Wah, sabar ya Nur. Yang penting bareng nanti Maret wisudanya.” Aku hanya menggangguk, seorang pemuda dengan kemeja hitam menoleh ke arah kami. Itu Novan.

“Yu–Di tunggu tu.”

“Ah, Iya.”

Gadis yang ku kenal karena satu SMA serta selalu satu kelas dulu itu berjalan kembali ke tempat duduknya. Beberapa menit kemudia ia menoleh dan berbicara pake bahasa isyarat. Bertanya nomor antrian. Lalu kembali menghampiri.

“Nur. Titip boleh.”

“Iya.”

“Aku harus nemuiin dosen. Janji jam 2 tapi ini sudah lewat. Mau ngurus SKL.”

“Iya. Mana uangnya.” Ia memberikan uang lembar biru entah berapa jumlahnya. Nama legkap Novan, fakultas, dan NIM tertulis di belakang nomor antrianya dia. Pasti ia akan mengantri hingga jam 15 nanti jika mengikuti nomor itu. Nomor 287.

“Kami nunggu kamu aja deh, Nur. Nanti slipnya gimana?”

“Iya Terserah aja.” Ia kembali duduk di depanku. Aku duduk di barisan kedua dari belakang menekan-nekan layar ponselku menghabiskan daya bantrainya dengan main game.

“Yu,” Panggilku. Ia menoleh. “Ini, uangnya kamu aja yang pegang, bareng aja maunya.” Ucapku mengulurkan tangan.

===

A0266.

Aku maju, gadis dengan kostum hijau toska itu beridir di sampingku. Aku lah yang terlebih dulu, namun sedang gangguan jadi terasa begitu lama. Aku lebih dulu pergi dari sana. Ku harap aku masih sempat fotocopy dan menyerahkan semap berkas untuk verifikasi. Ternyat TIDAK.

Baiklah. Aku pulang ke kost. Setidakknya hari ini aku sedikit tenang. Lalu menyusun rencana untuk menyelesaikan seggalanya besok. Harus selesai besok, termaksud menyerahkan undangan kepada para dosen.

Thanks for—

Allah SWT…

Mama-Bapak yang ku tau selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya yang jauh darinya ini.

Kedua kakakku beserta istri dan keponakanku yang ganteng, yang cantik… Hehe

Adeku. Yang di kota ini dan di rumah. Love u de.

Semuanya deh. Thanks a lot. 😀 😀 😀

===

Samarinda – 28/01/14

27/01/2014 [Think]

DSC00493Hanya sebuah ungkapan tetang hari ini.  Menulisnya sebagai ganti bercerita. Yah, aku tak tau harus berkisah pada siapa selain kepada-Nya dan menuangkan dalam tulisan sebagai perasa legah. Berhentilah membaca, karena sesungguhnya ini tak penting sama sekali bagimu, kecuali kau ingin belajar sesuatu yang entah apa sebenarnya yang bisa dipelajari dari cerita (curcol) tak jelas ini. Hehe–

===

Gadis mungil itu bangkit sambil menguap. Itu aku. Rupanya semalam aku tertidur di lantai depan ranjang lagi. Sebentar aku melirik kejendela sebelum keluar kamar. Diluar msih gelap, bahkan mesjid belumb erbunyi. Aku nenuruni tangga dengan langkah pelan, kepalaku sedikit sakit, begitu pula dengan perut dan kerongkonganku. Dehidrasi dan kelaparan. Terakhir kali menyuap nasi kemarin pagi, lalu galon di kostan yang sudah kosong 3 hari membuatku harus menghemat air sebotol yang kubeli kemarin.

“Ahh–seger” Aku menyapu wajahnya dengan air.

Cukup lima menit aku berada dalam ruangan warna putih dan sempit itu. Aku kembali ke kamar. Kamar sederhana itu, kamar yang terdapat ranjang dan rak-rak buku, menjadi saksi tangisku dalam sujud. Lalu suara serak melantunkan ayat-ayat Allah yang tertulis sejalas dalam Alquran.

Allahuakbar aku menangis lagi. Hatiku gunda hingga membuatku merasa hina. Tak bisa bersabar, tidak ikhlas, dan lemah terhadap cobaan. Aku merasa tak beguna dan malu pada sang pencipta.

Aku sudah terbiasa, tak akan tidur kembali hingga pagi. Bahkan jika aku terbangun sebelum jam 4 subuh. Aku bersandar pada ranjang memangku sebuah buku tebal yang tercetak jelas tulisan ‘Fisika Universitas’ di halaman sampul buku. Aku menjejalkan rumus-rumus rumit ke otaknya sebari menunggu azhan subuh. Tepat saat bosan belajar menyerang, panggilan untuk sholat begitu merdu terdengar. Aku bangkit dan melaksanakan kewajiban sebagai hamba.

Seperti hari-hari yang sudah-sudah, aku sudah siap sebelum pukul 6 pagi. Pagi ini aku sengaja mengguyur kepalanya agar menghilangkan penat kepalanya jika memikirkan masalah-masalah yang datang bersamaan.

Matahari mulai bersinar, embun di atap rumah-rumah mulai hilang. Aku dengan baju hitam, rok dan jilbab biru langit tersenyum di depan kaca. Ada apa? Aku terlihat tidak tulus. Senyum yang dipaksakan. Aku menarik pipi dan mensugesti diri agar mempertahankan senyumku. Wajah mendungku harus disembunyikan.

Masih pukul 7 pagi. Aku sedang puasa hari ini jadi tak ada menu sarapan pagi di meja. Aku hanya memasak nasi untuk adikku lalu kembali ke kamar. Terserah ia ingin membuat menu apa anti, toh dia pandai memasak juga. Berkutik dengan benda biru yang aku beli 3 tahun lalu demi mata kuliah ‘Aplikai Komputer’ yang menuntut agar memilikinya. Aku membuka beberapa file skripsi, surat-surat persyaratan dan beberapa lampiran. Aku berbalik menekan tombol on pada printer dan mencetak beberapa lembar surat dan hasil revisi skripsi. Setelah semua siap didalam tas, lima menit kemudia aku menuruni tangga kost dengan cepat pada pukul 8 lewat 12 menit.

===

Dengan pelan dan hati-hati, aku memarkir motor hijauku di sela-sela motor lain. Aku tersenyum pada seseorang yang menyapa lalu berjalan menuju ruang Pembantu Dekan II. Menyebalkan, faktanya aku gagal Verifikasi berkas. Sesungguhnya aku sudah yakin harus membayar spp lagi meskipun sisa 3 hari lagi aku akan pendadaran. Aku juga sudah lama ingin membayar tapi aku tak punya cukup uang. Bahkan kostanku sudah memasuki bulan baru, lalu motorku harus sudah dibayar karena batas pembayaran 2 minggu lalu. Aku duduk sejenak di kursi pinggiran luar ruangan itu, menenangkan diri, memutar otak mencari solusi.

“Ah, nyebelin” Gerutuku kesal. Berkasku sudah kulengkapi dari tahun lalu, bulan Desemberlah rencananya aku akan wisuda. Namun apa daya bulan November tahun lalu gagal menjadi bulan kelulusanku. Kini 27 Januari, aku harus diusingkan dengan 1 lembar kertas bukti pembayaran yang bahkan aku tak akan mengikuti perkuliahan apa-apa lagi.

Lima menit sudah aku duduk di sana, namun tak ada solusi yang terlintas di benakku. Memintah pada orang tua tak mungkin, terakhir aku pulang dua minggu lalu karena adikku libur kerja, aku tau ibu hanya punya uang 400 ribu dan itu untuk  pupuk dan keperluan sawah lainnya, lagipula jika ibu punya uang siapa yang akan pergi ke bank lalu mengirimkannya padaku, rumah kami lumayan jauh. Tak ada senyum dalam wajahku. Aku membuka akun twitter dan facebooknya untuk menghilangkan bosan.

Teringat percakapan dengan teman tadi pagi. Dengan cepat ia load out, dan mencari daftar nama teman tersebut di kontak. Bersamaan itu, sosok itulah lebih cepat menelponku. Ponselku bergetar dalam genggamanku.

“Assalamualkum. Neng?”
“Wa’alaiksalam, Mi. Dimana?”
“Di kampus neng.”
“Gimana?”
“Nah. Bapaknya masih bisa pulang sepertinya.”
“Terus gimana?”
“Ini baru mau ditelpon untuk memastikan”
“Okey. Kabarin ya.”
“Iya…. Assalamualaikum.”

Yah, dosen pengujiku itu sudah dua minggu di Surabaya dan minggu lalu aku harus was-was membujuk ketua prodi menggantikannya pada ‘Pra Pendadaranku’ dan jumat kemarin aku gagal untuk maju ‘Pendadaran’. Aku mendaftar paket telpon, sekalian nanti mau nelpon orang tua nanti. ‘Dosen Pak …’ begitu nama kontak itu.

Tuttt… tut. Alhamdulillah di angkat.

===

Tak lama percakapanku dengan beliau. Kurang dari 3 menit. Intinya Beliau belum bisa kembali ke kota ini, ke kampus apalagi hadir di pendadaranku hari kamis 30 januari 2014. Aku terdiam setelah mengucap salam dan menutup sambungan terlpon.

“Bagaimana Mi? oia aku lagi di depan Lab.” Pesan dari temanku yang sudah menunggu dosen yang sama. ia butuh tanda tangan untuk skripsi yangg sudah di jilid. Dua minggu sudah ia bolak balik membawa 7 buah skripsi tebal. Beruntung ada kembarannya yang kuat, maklum cowok.

Aku tak membalas. Aku berdiri melangkah menuju motor, menggunakan kaos tangan dan helm lalu menghampirinya. Setelah berbicara sebentar aku pergi lebih dahulu menuju prodi dengan tujuan meminta keputusan sesuai perintah sang dosen.

Tak ada satupun dosen di sana. Hanya ada temanku yang kini menjadi staff. Ah, aku lupa kan dosen fisika libur sampai hari rabu. Bagaimana ini?

Aku pergi meninggalkan lantai dua gedung itu. Duduk sebentar di depan bangunan biru-putih itu, berpikir apa yang harus kulakukan. Lulu putuskan untuk pulang ke kost saja.

Tak ada satupun orang di kost. Kulirik kamar Hotaru terbuka lebar, kuintip tak ada orang. Adikku juga tak ada di kamarku maupun di kamar mandi. Pantas saja tak ada yg menjawab salamku. Ini sudah jam 11 lewat mungkin adikku sudah berangkat kerja.

===

Aku duduk di ranjang, meletakkan tasku yang super berat di sampingku. Aku menghebuskan napas keras. Mengelus dada menyabarkan diri. Aku mencari ponselku di bagian kantong tas. Kutekan tombol memanggil ke nomor ponsel adikku. Rupanya dia sedamg berada di kontakan temannya karena off kerja hari ini. Panggilan berikutnya ke ponsel adikku di kampung. Semalam ia mengirim pesan menyuruhku menelpon, namum pikiranku sedang kacau, salah satu penyebabnya masalah adikku yang kuceritakan (kutulis dua hari lalu). Aku juga ingin mendengar suara mama. Tiga panggilan tak terjawab moodku bertambah rusak.

Kutekan tombol panggilan pada seorang sahabat yang akan mengirimkan uangku dua hari lalu. Tak sekali saja dijawab atau membalas pesanku. Bagaimana ini aku membayar sppku? uang di domperku sisa 2 lembar, ATMku sudah kosong. Tabungan kecilku di kamar sudah kosong. AHHH, ini menyebalkan. Aku harus lulus Verifikasi, meminta tanda tangan Pembamtu Dekan III, lalu mengurus urus undangan yang ditandatangani bagian Kasubag Kemahasiswaan dan Dekan. Ah, besok itu semua harus usai dan undangan harus diserahkan di tangan para dosen. Ah, aku pusing memikirkan ini. Bagaimana memhibur diri selain mengucap istighfar dan Allahuakbar.

===

Kulirik jam dinding yang mati. Pukul 1 lewat. Aku beralih melihat jam pada ponselku. Baru akan pukul 1 siang 20 menit lagi. Kunekatkan diri untuk menekan panggilan yang ditujukan ke Ketua Prodi.

“Assalamualakum Bu.”

“Wa’alaiukumsalam. Nurmi. Iya ada apa?”

“Bla bla bla …”

“Hm…”

“Bla bla bla … “

“Hm…”

“Jadi bagaimana bu? Bla bla bla…”

“Iya. Bla bla bla …”

“Jadi bla bla bla ….”

“Iya. Bla …”

“Makasi Bu. Assalamualaikum.”

*Bla bla bla (Percakapan disamarkan. Hehe)

Keputusan dari percakapan itu, Alhamdulillah ujian Pendadaran saya tak perlu di tunda. Masalah belum selesai karena aku belum memiliki uang. Aku geram, ini pertama kalinya aku ingin meminjam sesuatu dari kakak laki-lakiku yang dulu sempat tidak merestuiku meneruskan pendidikan hingga sejauh ini. Hasilnya nihil, ia tak memiliki uang yang kubutahkan, aku butuh 1 juta agar uang spp lunas, uang komsumsi pendadaran aman, dan keperluan lain terkendali. Tapi, aku harus bersabar, karena kakak memang tak memiliki uang, anaknya baru saja sakit.

Aku melarang kakakku memberi tahu mama-bapak dirumah, tapi sepertinya harapanku tidak akan terwujud, cepat atau lambat mereka akan tau, tetap saja aku tak ingin mengharapkan penyelesaian itu dari mereka, yang selalu kuharap dari beliau hanya doa terbaik, doa tulus.

Panggilan sholat Zuhur terdengar jelas karena sunyi kost begitu terasa. Aku bangun dari ranjang dan menghadap sang Ilahi.

===

Aku menelpon dua orang teman untuk mengobrol, namun mereka tak ada yang menjawab. Aku beralih ke nomor ponsel rumahku. Sebelumnya menelpon adikku yang sedang bersama temannya untuk memastikan keputusannya berpisah denganku (tempat tinggal).

“Hallo de. Sudah bilang bapak-mama?”

“Soal apa?”

“Soal yang kemarin-kemarin?”

“Belum. Kamu habis nelpon mama?”

“Belum. Baru akan. Mau aku kasi taukan mama kah?”

“Gak usah. Kan katamu gak usah pindah. Tinggal sama kamu aja sampe kamu wisuda. Lagipula alasanmu kayanya bener.”

“Okey. Mau salam sama mama?”

“Iya.”

“Ya sudah. Assalamualaikum.”

Alhamdulillah, satu lagi masalah selesai. Terima kasih ya Allah.  Tapi lima panggilan tak terjawab lagi. Sepertinya orang tuaku sedang di tengah sawah, ini jam 2 siang. Biasanya aku menelpon sore atau pagi. Aku menyerah dan menyimpan ponselku di atas meja.

===

Kost ini begitu sunyi, hanya ada suara radio dari ponselku. Aku tak bisa fokus belajar, yang terngiang selalu uang di kepalaku. Dan, kesal pada diri yang sempat melintaskan pikiran “Uang segalanya”. Huh, Bagaimana tidak aku selalu memiliki masalah yang sama. Teringat saat aku menangis sepanjang malam karena takut tak bisa membayar spp, waktu itu esoknya adalah jadwal hari terakhir pembayaran namun tabunganku sudah habis, uang di tangan hanya 1/4 dari yang kubutuhkan, aku yakin ibu tak punya, lalu aku belum memperoleh gajiku. Polosnya aku yang takut dikeluarkan dari kampus. Memang jika dalam situasi kalut sulit berpikir positif. Allah menolongku dengan perpanjangan pembayaran.

Tapi kali ini aku harus menyelesaikannya dalam sehari. Ah, mana teman yang menjanjikan uangku? aku mulai munyak padanya yang selalu mem PHP dan mengingkari janji.

Dari pada aku menangis. Kuraih tasku, kukeluarkan skripsi dan surat-surat lain. Kusisakan pulpen, penggaris, dan buku kecil, dan kumasukkan sebuah buku pelajaran serta beberapa lembar kertas sebagai coretan. Aku meninggalkan kost menuju taman di samping perpustakaan kampus. Aku belajar di sana, hanya sekitar 40 menit. Kembali ke kost yang masih sepi, aku Sholat Ashar setelah itu kembali mengotak atik ponselku. Bosan. Aku mencuci 2 pasang pakaian yang ku sisakan tadi pagi. Lalu merebahkan diri, namun enggan terlelap karena 5 menit lagi pukul 5 sore.

===

Malam tiba. Aku mulai santai dan tenang. Kuserahkan segalanya pada Allah bagaimana esok. Bersamaan dengan aku usai sholat magrib. Kak Usna datang, untuk melakukan sesuatu (….)

Kamarku jadi ramai karena Hotaru juga ikut bergabung berguling-guling di kasur dengan boneka hijau besar milikku, sambil sesekali menyahut tentang pertanyaan kak Usna. Aku sibuk belajar (mencoret-coret kertas, menganalisis bagaimana rumus satu berhungungan dengan yang lain.)

Setelah Isyah, ade Ayu juga pulang dari acara ulang tahun temannya. Makin ramai, gadis yang lebih mudah dua tahun dariku itu memang suka sekali bercerita, suasana jadi penuh candaan. Aku menutup buku dan merapikan kertas-kertas yang berisi coretan abstrakku, toh aku sudah tidak bisa kosetrasi karena bully mereka.

Hangatnya kebersamaan malam ini, di temani cemilan pisang aroma yang super manis hingga membuat gigiku mengilu. Ah, ada yang kurang. Adikku, dia tak pulang lagi malam ini, ia mengnap di kontarakan temannya. 😥

“Ya Allah. Maaf karena hari-hari hamba tak pernah luput dari keluhan. Maaf karena hampa tidak mensyukuri karuniaMu dengan benar. Terima kasih atas segalanya. Semoga esok menjadi hari yang lebih baik dengan penuh rahmatMu, semoga semuanya membaik dan teruslah jadikan kami hamba yang  senantiasa bertakwa dan tiada hentinya rindu akan surgaMu. Aaamin.”

Samarinda 27/01/2014

With Ade Ayu

Pindahkan kesini catatan dari FB. Hehe FBnya mau di hapus. Buat kenang-kenangan save di sini 🙂

===

1u1

Foto Awal 2013

Diary…

PERASAAN itu  bisa berubah secepat kilat, juga bisa menjadi NANO_NANO seperti semalam dan hari ini. Sesungguh aku bingung bagaimana berceritanya denganmu. Tapi baik-lah akan kuceritakan, semoga kau tak bosan dengan ceritaku. Untuk ade Ayu.  Thanks  dah ngasih pengalaman yang lucu. Ehm “Luar Biasa” kata yang lebih tepat sepertinya.

Diary…. ini perasaan semalam~

Semalam kau “Bersedih”. Aku tau sepantasnya merasakan itu karena aku juga pernah merasakanya.  Siapa yang tak ingin bersama dengan keluarga. Apalagi saat salah satu di antara mereka sedang berulang tahun. Tentu tak puas jika hanya mengucapkan dengan kata dan terhalang jarak. Tapi percayalah meski kau tak bersamanya dia yakin kau menyayanginya. Serta harus terus percaya doa tulus itu lebih bermakna.

Hai, ade manis. Jangan bersedih ! Nanti aku akan ikutan galau. Itu yang harusnya aku katakan agar melihat wajah ceria yang kulihat siang dan malam. Tapi sayang aku hanya terdiam dan membiarkan kau menenangkan diri.

Aku pergi meninggalkan kamar itu, ehm maksudnya kos kita. Aku bingung harus kemana untuk mencari sesuatu yang special untuk dirimu. Eh, untuk “Kalian”. Ya, sepantasnya memang aku memberikan sesuatu yang special untukmu dan qoqo (Sahabat depan kamar). Aku melirik “Rumah Kue” begitu tertulis di plang. Aku perpikir untuk memelikan, tapi karena terlalu lama mengantri aku memiliki alternatif lain. Aku menuju sebuah toko yang lumayan JAUH. Aku membeli sebuah hadiah berwarna merah. Sebenarnya aku ingin membeli empat (Ayu, Qoqo, Icha, dan aku) karena tahun depan sepertinya kita sudah tak bisa melewati hari – hari bersama. Tapi sayang aku hanya mampu membeli dua. Tadi belum sembat gesek atm, aku sedang buruh – buruh.

Kecepatan 70km/jam di tengah kota. Membuatku hampir melupakan amanah. “Mba, tolong belikan……..” Pesan singkat Ayu. Memasuki 3 toko, ketemu juga. Belum sampai di kos. Perutku bernyanyi meminta jatah. Putar haluan. Beli makanan, mereka pasti belum makan pikirku. Ehm, lagi-lagi belum sampai kos harus memutar balik. Helemku tertinggal.

Sampai kos, KECEWA tingkat dewa. Aku sudah membeli dua kue dan makanan untuk dihabiskan bersama, membeli dua hadia untuk qoqo yang ulang tahun 12 Oktober dan Ayu beberapa hari lalu. Ayu sih langsung memeluk hadiahnya (warna kesukaannya). Tapi qoqo tidak ada. Lagi – lagi makanan itu tidak habis karena aku dan ayu jadi kehilangan selera makan. Kue dan boneka ku simpan di depan kamar Qoqo. Aku semalam bermain game menghilangkan rasa kesal. lagipula aku juga bosan belajar (tidak patut dicontoh)  . Tidak bertemu Icha sama sekali juga Huh….

 

Diary… perasaan hari ini~

“Mba, nurmi!” Suara imut menyebut namaku, terkesan manja tapi bersemangat itu selalu aku dengar setiap hari jika si anak maba pulang dari kampus.

“Ehm,” Cuma itu tanggapku.

“Mba, mau ikut! Ambil paket di terminal.” Ajaknya

“Boleh!” Jawabku karena sudah bosan bermain dengan kertas dan CD yang berserakan.

Kami meluncur. Tiba – tiba kepikiran es kelapa muda. Mampir sejenak menyegarkan tenggorokan. Eh, ada taman untuk numpang narsis. Sesampai terminal antar kota yang dicari sudah tak ada.

“Maaf, Mba. Saya sudah di Samarinda seberang!”

 

Kami menyusul melewati jembatan MAHAKAM yang super macet karena sudah jam4. Belok sana-sini, justru malah sampai ke terminal antar Provinsi. Dengan muka tembok bertanya pada petugas.

“Bus Cahaya Bumi, di depanya ada tulisan Cinta Allah, No KT….” cerewet kami bertanya. Semua tak tau. Rupanya Ayu salah, harusnya “Cahaya Bone”. Ucpakan “Thanks” dengan muka MALU.

Perjuangan itu berhasil setelah mencari kesana-sini, tanya sana-sini, dan mengerjar bus tapi SALAH. Pulang dengan senyuman.

Kebiasaanku saat digonjeng toleh kanan kiri. “Ih, senyumnya manis!” Celetukku saat melihat seseorang yang tersenyum dibalik helemnya. Karena penasaran dengan wajahnya, kami pelan – pelan.

“Pelan banget dia mba!” Gerutu ayu. Sampi lampu merah malah jadi ekornya nyelip-nyelip di antara mobil. Tapi tetep saja tak tau bagaimana rupanya. Aku malah berkomentar helm teman yang menggoncengnya. Hehhehehe…Helemnya unik dan antik. Btw…Kami hampir jatuh karena ada pengendara yang menghidari anak kecil di pinggir jalan. Kehilangan Jejak si“senyum manis deh.”. Lampu merah simpang empat berikutnya ada pak polisi berlari. Kami pikir bakalan nilang kami yang di klaksonin mobil karena hamir ketambrak. Eh, pas noleh kebelakang. Kami muka bengong dan beberapa detik kemudian tertawa. Si“senyum manis kena tilang gara – gara helem antik temannya”.

Kami makan dan minum jus. BETENYA saat mas  pnjul jusnya mengolokku karena menyum Alpukat dengan ALFUKAT (Nada baca Alquran). Duduk santai mau sms, Eh dicari Hpnya ILANG dan ternyata jatuh saat mondar-mandir di sebrang sana. PANIK pasti, ditelpon, diangkat, disuruh ngambil sekarang tapi begitu jauh jadi makan dulu sudah terlajur pesan.  TENANG sedikit. Setelah itu GALAU, nomor tak aktif.

“Coba aja dulu, mba, OPTIMIS

“Ok, kita ambil.” Padahal tak tau alamat dan tak punya nomor Hp yang mungut. Aku mengirim pesan ke nomorku. SYUKURLAH, dibalas dengan nomor lain. Disuruh menunggu didepan pengadilan setelah sholat magrib. Ok, kami juga mencari mushola, kebetulan aku ingat rumah seseorang yang kukenal di sekitar situ. ALHAMDULILLAH, KALAU REJEKI TAK KEMANA. Hpnya sudah ditangan dan lagi – lagi PULANG DENGAN TERSENYUM.

Samarinda, 13 Oktober 2012

Senin [15 Oktober 2012]

Pindahkan kesini catatan dari FB. Hehe FBnya mau di hapus. Buat kenang-kenangan save di sini 🙂

===

Mengapa harus seperti ini ?

Mengapa aku harus mengenalmu ?

Mengapa harus memiliki perasaan ini ?

Mengapa kita  harus bersama jika akhirnya harus terpisah ?

Pertayaan konyol yang selalu menghantuiku, aku tak tau harus menyalahkan keadaan atau diriku sendiri atas apa yang terjadi selama ini. Namun aku hanya bisa berusaha tegar meski dunia melihatku menangis. Aku hanya bisa berusaha tersenyum meski seluruh dunia melihatku bersedih.

Bukankah kau pernah berkata,  “Jangan pernah bersedih karenaku!” dan itu masih terus kulakukan, meski sejujurnya itu sangat sulit. Bukan karenamu aku begini tapi karena ketulusan ini. Jadi maaf jika aku tak sanggup menjadi yang kau inginkan.

Hari ini, seseorang mengingatkanku tentang dirimu. Maaf, bukan tak mau mengingat dirimu lagi tapi hati ini terlalu takut untuk menuntutmu kembali. Dia bertanya tantang dirimu, aku harus menjawab apa jika nyatanya aku memang tak tau apa-apa sekarang. Jangankan mendengar suaramu atau bertemu dengamumu. Hanya sekedar berkata “Hai” melalui pesan seluler saja sudah tak pernah. Bukan aku terlalu gengsi hanya aku tak ingin mengganggumu.

Aku harap kau baik-baik saja dan masih memiliki semangat yang luar biasa. Bukan kah kau ingin menggapai semua impianmu. Ya, kau pernah berkata padaku “Aku akan membuktikan pada semuanya bahwa aku mampu untuk menjadi apa yang mereka anggap mustahil.” Dan aku hanya menatapmu kagum, tersenyum dan mengaminkan agar itu terwujud. Meski kini kau tak bisa bercerita padaku lagi, tapi yakinlah bahwa doaku masih terus ada untukmu.

Oia, aku tadi siang mendapat panggilan kerja. Ya, lumayan mengisi waktuku di sela-sela kuliah. Harusnya aku mentraktirmu tanda bahagia sama seperti saat dulu aku menerima gaji pertamaku. Lain kali saja ya, saat ada takdir yang memungkinkan itu.

.

“Haiiii, Nurmie. Mengapa kau menangis! Harusnya kau tersenyum, harusnya kau bisa tenang belajar hari ini, ingat besok ada KUIS FISIKA INTI. Ayo, Semangat!” sepertinya boneka di kamar sedang mengomel mengalahkan teriakan hatiku yang galau. Aku menggaruk kepalaku kesal karena kalah main game. “Ah, Galauuu” teriakku kesal. Aku tak bisa menetralkan perasaan. Ditambah lagi ade di kos tiba-tiba memanggil dengan heboh. Aku kira ada apa, ternyata hanya ingin memberitahukan bahwa kau sedang online. Sungguh membuat sedih, karena aku tak bisa memperhatikanmu walau lewat dunia maya. Jahatnya dirimu memblokirku dulu. Sebegitu besarkah salahku padamu. Tolong beritahukan padaku karena aku tak pernah tau dimana, apa, kapan kesalahan itu terjadi. Ataukah semua hanya alasan saja.

MENYAKITKAN!!! Jika setiap orang-orang mengingatkan tentangmu. MENYEDIHKAN jika mengingat betapa besar usahaku bersikap biasa saja tapi dengan seketika kembali seperti ini.

“JADI APA YANG HARUS AKU LAKUKAN ? SIAPA YANG BERANI MENULARKAN GALAU INI PADAKU ? HUH.”

Tapi baiklah, semuanya pasti memiliki hikmah tersendiri. Tak ada yang sia – sia. Ini akan menguji kesabarku. Bukankan masalah akan mendewasakan seseorang. Yah, semoga saja begitupula denganku. Aku tau kita tak boleh terus terbayang-banyang masa lalu, namun kita juga tak bisa menghilangkannya karena masa kini tak kan ada jika tak ada masa lalu.  Aku berharap kelak ada hari yang lebih baik untuk memperoleh titik penjelasan kesalahanku, jika itu memang ada.

===

fitri