Arsip

Sosok Itu

Bukan hal baru jika di rumah bersama kami tiba-tiba mati lampu. Rumah besar dengan banyak kamar ini menjadi hak 66 orang. Tapi karena masa liburan sekolah berakhrir sebagian telah kembali ke distrik tempat tugas pengabdian. Bayangkan jika mesin air, semua lampu kamar, TV menyala dan belum lagi leptop serta HP yang butuh dicolok.

“Ahhh, mati lampu. Tolong lampu dong.” Teriak gadis yang sering kupanggil kakak dan sekamar denganku.

Gadis itu berada di ruang dapur, aku mendengarnya menjerit lagi. Kalimatnya kini ketakutan, detik kemudian pintu kamarku terbuka dan ia meraba-raba  dindng untuk berjalan mencariku atau Dewi yang sedang menelpon.

“Aku liat. Tambah jelas pas mati lampu.” Katanya dengan cepat sambil menyuruh menghidupkan lampu.

“Tenang kak, ini cuma bentar.” Kata Dewi menenangkan.

“Liat di mana?” Tanyaku santai menyalakan senter HP mungilku, sebari tangan kananku masih fokus membalas chat sahabat.

“Di dekat pintu kamar jemuran.”¬†Jawabnya masih syok.

“Gak usah dihiraukan kak.” Tanggap dewi setelah menutup percakapannya ditelpon

“Pura-pura gak tau aja kak. Gak ganggu kok.” Tambahku.

Lampu hidup, gadis itu keluar lagi. Kali ini ia sudah normal kembali. Gadis itu tidak panik atau ketakutan, biasa saja.

Aku masih duduk seperti semula, duduk di kursi ujung ruangan dengan kaki naik kekursi badan bersandar ketembok, aku sibuk dengan ponselku yang lagi bersahabat menangkap sinyal.

“Kak, aku naik ya.” Dewi naik keranjang bagian atas. Ranjang dikamar kami bertingkat dengan bagian bawah yang besar bagian atas khusus satu orang.

Lima menit kemudian aku keluar kamar. Karena aku tak menyukai kamar mandi yang ada dalam rumah, aku membuka pintu belakang dan menuju kamar mandi di samping rumah. OMG, kamar mandi sebelah kiri ada sosok itu tapi kuanggap tak ada. Aku memilih kamar mandi kanan, syukurlah kosong. Bermodal senter HP sebagai penerang aku bail-baik saja. Saat keluar aku berjalan cepat dan kembali ke dalam rumah. Oh No, kenapa ada sosok lain lagi.

Beberapa langkah dari pintu kamar mandi dan di sebelahkan kamar jemuran, kamar mandi yang luas disulap jadi kamar tidur tapi karena dirumah ini banyak kamar lain dan juga teman-teman tak ada yang mau di situ jadi mereka mengambil kasurnya lalu menjadikan kamar itu sebagai tempat jemuran pakaian yang tak kering sempurna.

Aku menelan ludah lalu mengabaikan sosok itu, beralih kelemari peralatan mengambil gelas, berjalan melewati meja makan dan menuju galon.

“1 2 3” Hitungku dan menoleh kembali ke arah sosok itu, sudah tak ada. Aku mengelus dada tenang.

Mati mati lampu lagi, sial. Sosok itu masih ada, menyebalkan sekali keadaan ini.

Syukurnya para teman yang tadi asik bermain gitar di ruang tamu cepat memghidupkan lampu dan mereka duduk di ruang tengah sedang menonton.

Cepat aku masuk kembali ke kamar dan melanjutkan kegiatan menatap layar leptop.

“Kak gak tidur?” Dewi ternyata belum terlelap.

“Belum de. Tidurlah duluan.”

Aku melirik jam tanganku, ternyata memang sudah pukul 00:10. Aku turun dari ranjang mencabut carger HP dan matikam lampu.

Sambil terus mengerjakan laporan, aku terus berharap sosok itu tak muncul lagi terutama saat nanti semua orang sudah terlelap dan aku kebelet ke kamar mandi. Dan juga aku berharap anjing-anjing yang kemarin malam menggonggong lalu terdengar seperti menangis tak bersuara lagi malam ini, cukup kemarin malam saja aku tak tidur hingga pukul 3 pagi karena suara itu.

Wamena : 9/1/2015