Arsip

27022015 (Catatan Perasaan)

nurmi

27/02/15

Problem? Yah. Aku sudah merasakannya dari awal tapi terlalui dengan baik. Aku pikir aku sudah siap untuk segalanya, ternyata tidak.

Aku masih terpengaruh dengan rintangan beberapa hari ini. Sebenarnya bukan masalah besar untuk sebagian banyak orang. Bagiku? Ini seperti pukulan keras dan sangat mengangguku terutama pikiran dan beberapa hal lainya. Hahaha.

Aku bukan orang yang betah mempertahankan ‘rasa seperti ini’ nanti juga semangat lagi dan menganggap ini hanya angin lalu untuk pelajaran agar lebih sabar.

“Ulang dari awal dan jangan risaukan!!!” aku kan mengatakan itu pada diriku dan tersenyum lagi.
Satu persatu akan selesai. Okey. Abaikan pikiran buruk karena sesungguhnya banyak jalan keluar dan bukan diriku sendiri yang mengalaminya.

Haha. Sesungguhnya aku butuh teman yang pandai menasehati dengan bijak dan membuatku bercerita padanya dengan kepercayaan penuh. Tapi sayang hari ini aku kehilangan kesempatan itu.

Bagaimana aku bisa bercerita jika itu akan menambah beban otaknya. Ckckc

Hai, kau nan jauh di sana. Kuharap kau baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja.

“Benar. Terkadang kita perlu memikirkannya sendiri. Jadi maaf.”

Itu jawabmu dan aku mengerti.

Iklan

Ternyata waktu berlalu dengan cepat

Ya… lama tak  mencurahkan isi kepala dan hati melalui tulisan jadi berasa kaku. Terkadang aku ingin waktu cepat berlalu namun ada saat-saat tertentu aku tak merelakan waktu berlalu begitu saja, tanpa ada yang sempat terekam dalam album kehidupanku.

Menjawab pertanyaan ( Ade @putrii_mufidah) tentang SM3T

Sebelumnya mau minta maaf karena gak bisa sering-sering buka twitter dan jawab bertanyaan ade, terus penjelasan saya berikan mungkin kurang jelas membuat ade masing banyak pertanyaan. Silahkan tanya, tapi sabar ya jika saya telat nanggapinnya.


Salam kenal ade putri. Tentu saja boleh bertanya. Silahkan!

SM3T itu apa?

SM3T itu Sarjana Mendidik di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) ini perupakan program yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional dalam mempercepat pembangunan pendidikan di daerah 3T.

Jika ingin tau tentang, syarat dan sistem pendaftarannya silahkan ade baca di sini

http://seleksi.dikti.go.id/sm3t/

Baca juga tentang SM3T di sini :

http://majubersama.dikti.go.id/

Setelah dua tahun kontrak habis (pengabdian dan PPG) ada jaminan tersendiri gak dari pemerintah? langsung diangkat PNS gitu?

Hm… Jaminan PNS ya? sebenarnya gak ada jaminan 100% tentang hal itu (menurutku), namun dari berbagai informasi yang saya peroleh secara langsung (kakak-kakak tingkat) atau membaca berita. Ada hal-hal yang membuat guru-guru SM3T setidaknya lebih mudah PNS dan lebih.

Berikut link yang bisa ade baca sebagai informasi :

http://news.liputan6.com/read/2109668/kemendikbud-bangga-atas-dedikasi-guru-sm3t-mendidik-anak-negeri

https://www.facebook.com/groups/sarjana.penggiatpendidikan/864986093521627/

Contoh cerita menginspirasi :

http://majubersama.dikti.go.id/?diary=sarjana-mendidik-di-daerah-3t-sm3t-awal-karir


Malas (12/12/14)

Kabut pagi ini begitu tebal, bahkan lebih dari kemarin dan kemarinnya. Aku menyipitkan mataku yang silau terkena cahaya dari gorden jendela yang dilipat sedikit oleh temanku sebelum ia pergi. Aku menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Temanku sudah pergi mengambil air bersih untuk mandi.

“Aw…” Teriakku menahan sakit kepala yang tak juga hilang dari semalam. Suaraku sedikit tertahan saat menyadari masih ada seseorang yang berbaring di sisi kiriku, dia sedang sakit perut dari semalam. Belum lagi, seluruh badanku yang terasa remuk dan kaki tangan yang begitu dingin. Aku benar-benar malas bangkit dan menyambut mentari.

Bagaimana tidak sakit kalau seminggu ini benar-benar menguras tenaga. Ke sana sini, ini itu melakukan tugas. Ah, abaikan pikiran yang mendorong untuk menyesal, nikmati saja sakitnya dan syukuri kesenangan saat berhasil melaksanakan tugas dengan hasil yang memuaskan.

Aku menarik selimutku menutupi seluruh kepalaku meskipun ku tau saat ini sudah 5:15 dan aku kemarin telah merencanakan untuk pergi mencuci. Ponselku berdering, kuraba sekitarku mencari.

“Hallo,” Suaraku yang berat membuat orang yang di seberang sana langsung mengetahui.

“Wa’alaikumsalam… Ade sakit?”

“Enggak kok. . . Hanya lagi malas bergerak.”

“Tumben kan. Memangnya sudah selesai acara-acaranya?”

“Selesai yang sudah selesai kak. Masih banyak yang menanti. Tapi, hari ini bisa istirahat.”

“Mmm… Matahari hari ini gimana?”

“Lagi sedih, terhalang kabut.”

“Bentar lagi juga kabutnya ilang terus mataharinya senyum lagi. Iya kan de?”

“Hehe. Iya, iya kak. Tar lagi ya. Ade masih pusing.”

“Oke, Ade. Aku yakin ade kuat dan selalu semangat seperti biasanya kok.Hehe,”

Dia selalu begitu, khawatir tapi aku selalu suka pikiran positifnya. Dia seperti mentari yang sinarnya menyadarkanku untuk terus melangkah maju meski langkahku pelan tapi pastikan aku tersenyum menjalaninya.

NASEHAT SEORANG PENULIS

NASEHAT SEORANG PENULIS

Salah satu kesalahan fatal penulis pemula adalah menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah pekerjaan yang iseng, tidak serius, dan hanya untuk mengisi kekosongan saja. Mereka akan menulis ketika ada waktu luang, lalu berhenti menulis ketika kesibukan mendera hari-hari mereka.

Penulis pemula sering kali beranggapan bahwa aktivitas menulis adalah aktivitas iseng-iseng berhadiah. Tidak dijalani serius, setengah-setengah saja. Maka, lihatlah, banyak sekali orang-orang yang awalnya berkeinginan kuat menjadi penulis, lalu berguguran di tengah jalan karena merasa menemukan jalan buntu.

Selain Telling not Showing, menjadikan aktivitas menulis sebagai kegiatan iseng juga sebuah kesalahan fatal.

Ingatlah satu prinsip, sesepele apapun aktivitas yang anda lakukan, jika dilakukan dengan konsisten dan fokus, maka akan menghasilkan buah yang manis dan menggembirakan. Orang yang hobi memasak, cobalah tekuni hobinya. Beberapa tahun lagi, tidak menutup kemungkinan ia akan menjadi koki handal. Orang yang hobi menggambar, cobalah fokus dan tekuni, nanti, boleh jadi ia akan menjadi pelukis ternama Indonesia.

Begitu juga dengan menulis. Anda ingin menjadi novelis? Ingin menjadi penulis yang karya-karyanya disukai dan dinanti oleh khalayak ramai? Maka fokuslah menulis. Fokus itu tidak menjadikan menulis sebagai pekerjaan iseng-iseng berhadiah. Ada target dan jadwal yang tersusun rapi. Ada indikator-indikator keberhasilan dan evaluasi.

Jadi, jika sudah bekerja dan ingin menjadi penulis, kita harus resign ya?

Tidak harus. Saya hanya menganjurkan untuk fokus dan konsisten. Jangan iseng-iseng. Jika anda sudah bekerja dan mempunyai keinginan kuat menjadi penulis, maka cukup mencari waktu-waktu yang menurut anda luang dan bisa dimanfaatkan. Pakai waktu ini untuk menulis setiap hari. Tidak perlu lama-lama, satu jam saja setiap hari dan konsisten.

Saya benar-benar tidak punya waktu luang untuk menulis dan ingin menjadi penulis, bagaimana dong?

Ya sudah, jika anda percaya pada mimpi anda, punya keinginan kuat mewujudkannya, maka resign menjadi pilihan terbaik. Tapi, ingat, menjadi penulis tetap butuh waktu, tidak ada yang sim salabim.

Jadi, keputusan tetap di tangan anda. Ingin menjadi penulis, sediakan waktu minimal satu jam saja setiap hari untuk fokus menulis. Satu jam itu sudah sangat minimal. Jika menyediakan waktu satu jam saja tidak bisa, maka mungkin lebih baik berhenti bermimpi menjadi penulis handal.


Kata Om Koko : https://www.facebook.com/koko.a.saputro?fref=nf

–yang diposting di KMB : https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/

Nasehat ini seperti menampar kesadaranku. Selama ini aku banyak menulis hanya sebagai ekspresi dan hobi saja, mirip yang dikatakan di atas “telling not showing”, Sejak remaja aku memang suka menulis apa saja yang berkecamuk dalam pikiran maupun perasaan. Bahkan pada jaman itu belum ada alat alat secanggih jaman sekarang, sehingga aku banyak menulis di buku buku tulis. Entah sudah berapa puluh buku, sebagian ada yang hilang bercampur buku pelajaran yang diloakkan.

Sampai saat ini akupun hanya menulis di notes sosial media, dan baru baru ini kadang menulis di Grup KBM yang luar biasa ini. Belum jelas keputusan diriku apakah aku akan menjadi seorang penulis, sehingga menjadi rancu apakah aku pantas disebut penulis pemula.

Ada sebagian orang yang memutuskan diri seutuhnya menjadi seorang penulis. Banyak pula yang masih mempunyai karir dan pekerjaan di luar penulisan tetapi mampu menghasilkan buku. Dalam dunia nyata aku mempunyai beberapa orang teman yang karirnya di luar penulisan tapi berhasil menulis beberapa buku. Salah satu temanku dokter umum di Jakarta, sampai saat ini telah menghasilkan lima buku, dua buku di antaranya bahkan tak berhubungan dengan dunia kesehatan. Satu lagi temanku mengaji waktu SMA sekarang menjadi seorang dokter spesialis bedah, di antara kesibukannya melayani pasien ternyata masih mampu menghasilkan sebuah novel islami.

Aku hanya ingat sebuah ungkapan yang hebat
JIKA ENGKAU INGIN MENGENAL DUNIA BANYAKLAH MEMBACA BUKU
JIKA ENGKAU INGIN DUNIA MENGENALMU BANYAKLAH MENULIS BUKU

Bagaimana dengan anda?

===

Dan, kata saya :

Aduh, ngerasa banget saya. Baru beberapa hari ini mempertanyakan kediri sendiri tentang keinginan menjadi penulis atau hanya pelampiasan kebosanan sehingga jadi hobby iseng-iseng (menulis).

Aku selalu suka menulis, tapi tidak PD dan sering kali menjadikan kesibukan sebagai alasan.

Baca ini menyadarkanku, benar-benar menampar kata-katanya.

Sederhana, apa adanya tapi penuh kasih sayang. Kebersamaan yang tak tergantikan. #Keluarga

#Lagi ngoceh gaje…

Mau kemana, bagaimana keadaanmu-nya, sosok-sosok itulah yang selalu setia mengakuimu. Sosok yang dulu kuat terkena hujan dan terik panas demi anak-anak tercinta. Kini mungkin mereka telah renta, kulitnya mulai berkeriput, mulai jalan berbungkuk atau bahkan tak mampu berjalan sama sekali. Sadarkah kamu bahwa mereka hal yang harusnya tiada hentinya kau syukuri. Merekalah tempat kasih sayang yang tak bisa kau cari dengan harta berlimpah, jabatan, atau hal lain.

Mereka sosok tulus yang merawatmu dengan cinta berlimpah. Iya, memang. Terkadang,kau mendengarnya mengoceh, bahkan mendektemu melakukan ini itu, tapi semua demi kebaikanmu, telusurilah maksud tujuan mereka, tidakkah kau sadari. Mereka sayang padamu.

Ibu yang mempertaruhkan nyawa untukmu. bla bla bla yang tak bisa dibuat daftar kebaikan belau. Lalu kau pikir kau bisa membalasnya? Tidak. Meski kau menangis darah. Tapi ibu tak mengharapkan apa-apa selain kebahagianmu.

Ayah. Ayah rela menerjang badai sekalipun demi menghidupimu. Lalu, apa kau pikir berbuat baik saja padanya sudah cukup? Tidak.  Ayah menginginkanmu tumbuh menjadi insan yang kuat, bermanfaat, berahlak mulia.

Mungkin ayah-ibumu pemarah (Bagimu), atau justru pendiam tak pernah mendektemu. Tapi coba pikirkan baik-baik. Jangan berharap orang tua yang selalu mengerti kita. Kitalah yang seharusnya lebih paham. Mereka menyekolahkanmu agar kelak kau belajar banyak hal dan memenuhi cita-citamu dan juga cita-citanya.

—Dan,

Ada saat keadaan membuatmu jauh dari mereka. Kau rindu? Syukur jika iya, karena sewajarnya. Jika tidak, itu keterlaluan. Sadarlah, bahkan mereka selalu mendoakan yang terbaik untukmu di setiap sujud beliau tanpa kau minta.

Jika kau sudah berkeluarga, memiliki rumah sendiri, anak. Tengoklah mereka sesering mungkin. Jika kau sedang bekerja, tolong jangan beralasan sibuk untuk mengabaikan mereka. Dan ketika kau sedang menuntut ilmu di luar kota, jangan sekali-kali membuat alasan-alasan terhadap diri sendiri untuk tak pulang. Kebersamaan itu tak tergantikan dengan apapun. Melihatmu baik-baik saja, tertawa dan berada bersamanya adalah harapan mereka. Mereka mungkin tak mengatakan, tapi apa kau tak menyadarinya?

—Mereka masih ada. Jangan tunggu nanti dan nanti. Kalau bukan kini lalu kapan? Saat nanti kau akhirnya menyesal? Semoga tidak.

Mereka sosok sederhana yang mendambakan kebahagianmu. Sosok apa adanya, yang rela memberimu makan dan menahan perut keroncongnya. Sosok  ayah yang tetap mencangkul sawah meski mengigil. Sosok Ibu yang rela semalaman tak tidur karena tangismu. Da hal-hal lain yang tak habisnya tercurahkan dari mereka.

—Kamu merasa sudah hebat? ketika ini itu yang kau inginkan sudah terpenuhi. Sadarlah. itu bukan apa-apa jika kau mengabaikan mereka. Mengapa? belajarlah! belajarlah lagi tentang  semua ini. Belajarlah lagi tentang kehidupan.

Belajarlah dari mereka, dari alam, dari segala hal yang menuntunmu dalam kebaikan.