Arsip

30 Nov – HBD ade (Azmi)

Camera 360 Camera 360

HBD Fauziyyah Azmi. HBD adeku sayang…

Tepat dua tahun lalu kau terlahir, saat itu aku tak berada di sana. Setahun lalu aku juga tak berada di rumah. Dan, tahun ini juga tak di sana. Tapi, percayalah sayang aku selalu mendoakanmu setiap saat, kau selalu ada di benak dan hatiku sayang.

Pasti sekarang Ami sudah semakin laju ngoceh dan larinya… Ah, kalau kak Ijah pulang jangan lupa foto dan kirimkan kak Umi ya. Kakak kangen kalian semua. Ah, waktu memang terlalu cepat berlalu, baru kemarin rasanya aku menggendongmu yang menangis minta di foto. Lalu baru kemarin rasanya aku mencubiti pipimu. Dan menyisir rambut keritingmu. Hah, sekarang kau pasti semakin nakal dan hiperaktif, mengganggu Aini dan Lia yang belajar, lalu merebut mainan Nanna. Atau kamu lagi asik loncat-loncat, goyang ke kanan ke kiri, bertepuk tangan, mengoceh tak jelas saat yang lain bernyanyi.

Ah, aku benar-benar rindu. Meskipun aku tergolong kakak yang jarang di rumah dan bersama kalian. Tapi masa2 kebersamaan itu benar2 membuatku bahagia sayang. Sangat bahagia!

Kakak kangen banget ngeliat mulutmu yang penuh makanan yang kakak masak atau belikan.

Kangen, suara kelakson motor yang kamu pencet puluhan kali lalu ketawa.

Kangen kamu yang nangis minta diputarkan musik terus ngotot nempelkan hp dikuping, lalu minta kami goyang sana sini kaya kamu. Atau harus genggam hp yg lagu anak-anak sebelum kamu tidur.

Kangen Ami yang pintar ambil piring dan gelas sendiri. Kangen Amii yang kalau ngantuk, ke kasur dan bobo sendiri.

Biar seharian cuma sama kamu gak akan bosan de. Kamu gak pernah cerewet. Kamu ade yang paling sabar. Haha, meskipun kami sering bercanda kalau kamu benar2 berbeda secara fisik, putih banget, rambut keriting, lahir bulat kayak bola. Kami semua sangat sayang padamu.

Ah, kangen kamu de. Masih kecil aja sudah bikin bangga. Harapan kakak sudah kakak bisikan disetiap doa kakak de. Allah sayang kita de. Love you.

Camera 360 Camera 360

02/02/14 (Minggu Pagi)

Camera 360

Kesibukan di pagi hari sama ade. Berisik, gaje, cekcok (?) mulut, meskipun begitu hidup berdua di kota ini harus saling perduli satu sama lain. Hehe—^^ === Aku mengucek mataku yang terasa sedikit bengkak. Mungkin aku kebanyakan tidur! pasalnya aku semalam tak menangis dan terlelap sebelum pukul sebelas. Beruntung aku tak meninggalkan sholat subuh. Aku terbangun saat azan masjid berkumandang, lalu kembali terlelap setelah menghadapa sang pencipta. Aku meraba sekelilinngku mencari ponsel. Benda putih milikku itu mati. Semalam aku lupa mematikan radionya, terbukti aku memang ketiduran. Jika tidak mana mungkin aku terlelap sebelum jarum jam menunjukan pukul 1 malam. Beberapa kali aku menarik udara lebih banyak dan menghembuskannya berlahan agar perasaan mengantukku sirna. Hari ini sepertinya akan cerah, lihat saja diluar sudah terang padahal ini belum pukul tujuh. Aku berdehem, duduk di pinggir ranjang, menggetak-gerakkan kepala karena leherku sedikit sakit. Aku meletakkan ponsel putihku di atas meja di sisi ranjang dan mencolok kabel untuk menyisi dayanya, lalu berjalan keluar kamar menuruni tangga ke kamar mandi. Membasuh wajah, menggosok gigi. Karena ini hari minggu mandi biasanya setelah bersih-bersih setiap inci bagian kost. Memasak nasi dengan rice cooker, lalu mencuci beberapa pakaian. Menyapu bagian dalam hingga teras kost, itu melelahkan tapi aku suka mengerjakannya karena aku senang sesuatu yang rapi dan bersih. Meski sesekali mengeluh karena hanya akulah penghuni kost satu-satunya yang melakukan itu. “Bangun de!” Gurutku di depan pintu membangunkan adikku. Dia tak bergerak apa lagi berdiri lalu membereskan tempat tidurnya. “Kamu.gak kerja hari ini? kamu lagi off? sudah jam 9 noh!” panjang lebar aku bertanya dia hanya ber’hm’ dan masih belum ada niat menikmati hari. Aku ber’uh’ dan membiarkannya. Aku beralih ke meja dapur untuk memotong beberapa jenis sayuran. Dua puluh menit semua menu sudah siap disantap. “De.” “hm…” “Bangun.” “Entar.” “Bangun mandi lalu makan.” ucapku lembut sedikit membujuk. “Gak lapar. Masih ngantuk.” “Astaghfirullah de, ini sudah hampir jam 9.” “AHH—masa, aku bisa telat dong!” paniknya berteriak, sedikit berlari keluar mengambil handuk dan keranjang peralatan mandi. *** “Bentar banget mandinya? mandi bebek ya?” “Ah. kamu sih gak bangunin” rasanya mau kujitak adikku yang hanya berbeda dua tahun dariku itu, tidak sopan tapi itu yangg membuat kami akrab dengan ketidak formal itu. “Yee, ade yang tidur kaya kebo.” aku duduk di ranjang memperhatikan ia memakai seragam kerja dengan terburu-buru. “Dasiku. Dasiku mana?” “Loh kok tanya sama aku? mana kutau semalam ade taruh mana?” “Ah telat! diomelin bos.” “Lagian hari minggu tetap kerja.” “Namanya juga resiko kerja. Dari pada aku leha-leha gak jelas.” “Ah, iya sih.” Ucapku membenarkan. “Ini, aku menyodorkan sebuah kain panjang kecil berwarna biru tua.” Aku mencarinya di setiap sisi lemari dan menemukannya hanya tergeletak di bawah selimut di tempat tidur. “Lain kali dibagusin biar gak pusing. Sekalian itu alarm buang aja gak fungsi sih.” ocehku menyindir kebiasaannya. “Udah deh kak. Jangan ngocek. Susah rapi nih masangnya” Aku berdecak dan meraih kerah bajunya. “Begini aja gak bisa rapi” Omelku membentuk dasi itu seperti pita. “Thanks” ia tersenyum setelah berkaca. “Ayoo makan dulu sebelum pergi.” “Nanti lebih telat.” “Belum. masih 20 menit kan?” “Iya deh. Lapar juga. Sekalian dibuat bekal nanti sore.” “Ih cerewet. Makan! biar aku yang sediakan bekalnya.” Aku memberikan piring dan sendok lalu sibuk membungkus makanan. … “Ade cepetan. Nanti telat beneran loh!” Aku menghidupkan mesin motor, ia berlari menenteng helem. “Ah, iya sabar coba.” Sebenarnya yang mau kerja dan sudah telat itu siapa, kok terkesan aku yang salah. Ah, tau ah gelap.

Me and my sister [Bingung]

Camera 360Umur kami tak jauh berbeda. Aku lahir 2 tahun 1 bulan lebih awal darinya. Secara fisik tinggi sama, namun sekilas banyak orang akan mengira akulah yang adik. Yah, itu kumaklumi karena dia terlihat lebih besar. 🙂

=== Sudah beberapa bulan ia berada di kota ini. Di kota aku sudah tinggal 4 tahun menjalani pendidikanku yang belum juga usai. Yah, aku memiliki banyak kendala untuk memperoleh gelar ‘S. Pd’ku sesuai rencana. Abaikan! aku tak akan hentinya menyeluh jika menceritakan hari-hariku. Dan aku tak ingin mengeluh. Hehe Kembali mengenai adikku. Tahun lalu (2013) ia gagal masuk perguruan tinggi. Mungkin karena ia setengah hati menjalaninya. Maksudku tidak terlalu yakin, antara mau atau tidak menjadi seorang mahasiswa. Lalu ia meminta izin pada orang tua bekerja saja di kota ini. Aku meyakinkan orang tua kami agar dia mendapatkan izin. Yah, ia bekerja atas rekomendasi temanku. Berhenti dua bulan kemudian karena ia ingin pulang dan menghabiskan waktu 2 minggu di kampung. Kembali, ia bekerja menggantikanku di salah satu pekerjaanku. Saat itu saya mulai membatasi pekerjaanku, hanya menyisahkan mengajar private, niatnya sih mau fokus penelitian skripsi, eh nyatanya saya tetap sakit-sakitan dan skripsi saya tetap tertunda. Tetap bekerja di sana. Ia juga mulai bekerja di tempat lain dengan gaji yang lumayan. Di dua tempat itu jika di gabungkan ia bisa mendapatkan lebih 2… Saya tidak bermaksud merepotkan, namun ada keadaan membuatku membiarkannya menggunakan uangnya demi kepentingan kami berdua. Harusnya aku yang bertanggung jawab, tapi aku sudah tak punya tabungan lagi dan aku sudah tak bekerja lagi sekarang. Au berniat menggantinya nanti, tanpa mengungkit apa-apa. === Aku percaya padanya. Sangat. Tapi aku terkadang tak suka  dengan tindakan cerobohnya atau tindakannya yang tak berpikir panjang,tidak mempertimbangkan banyak hal. Aku senang ia memiliki banyak teman yang sangat dekat, jangan sepertiku yang asik dengan kehidupan sendiri, tapi aku tak suka dengan hobbynya yang bertindak semaunya. Aku tau aku tak boleh melarang terlalu keras, jadi kubiarkan, tapi aku geram, meski begitu masih kubiarkan selama sewajarnya. === Aku kasihan padanya. Aku tak ingin ia mengalami hal yang sama denganku. Bekerja terlalu keras, aku sangat ingin dia melanjutkan pendidikannya seperti semangatnya tahun lalu. Tapi kini ia terlalu asik dalam dunia kerjanya. Dan kini ia memutuskan untuk mengajukan kontrak kerja. Oh, Tuhan aku ikut senang namun aku juga hawatir, sama hawatirnya dengan ayah yang beberapa lalu menyuruhku memberitahukan padanya agar tidak usah menerima atau mengajukan kontark kerja. Ayah ingin dia tetap kuliah tahun ini. Ya–Tuhan. Aku terkejut tadi pagi ia mengatakan bahwa ia akan berpisah denganku. Ia akan mengontrak dekat dengan tempat kerjanya. Akan melepas satu kerja yang di dekat kosku. Lalu, aku hanya diam saja. Aku tak tau harus bagaimana, aku tak rela tapi dia menginginkan itu. Aku bingung, menghargai keputusannya atau tetap menahanya bersamaku. Jika jujur aku sangat ingin menahanya. Tak lama hanya untuk 2 bulan kedepan. Alasanku : 1. Aku ngekos dari smp, sangat jarang bersama keluarga. Dan saat ini aku memiliki saudara di kota yang sama jelas aku ingin selalu bersamanya. Tau keadaannya dan memastikan dia selalu baik-baik saja. 2. Mama-bapak memberi amanah padaku agar aku bisa menuntun ade menjadi sosok yang berpikir dewasa, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, tidak diharapkan, dan mengajarinya lebih mengetahui banyak hal tentang bersikap. #AMANAH …. Jika sudah begini aku harus bagaimana. Mau bilang orang tua tapi tak mau nanti mereka berprasangka buruk. Aku tak berani, aku sakitpun selama ini saya tidak mengatakan apa-apa, aku tak ingin mereka hawatir. Alasan lain ayah tak selalu hawatir berlebihan padanya. Sejak smp ayah sulit percaya padanya. 3. Hemat. Jika ia kos bersama saya. Aku hanya menambah 100rb, nah dia malah mau ngekos yang seharga kos kami. Sedangkan saya minggu depan akan ‘Pendadaran’ setelah itu pulang kampung sebari menunggu wisuda bulan 3 nanti. Siapa yang menempati kosku? ditempati atau tidak akan tetap harus dibayar. Lagipula kami sama-sama dalam masa krisis, dompet tipis, atm tak berisi. 4. Nanti jika saya wisuda. Maksudnya di kos saya sekarang lebih nyaman untuk mama-bapak-adik2 untuk menginap karena dekat sekali dari kampusku. Dan aku tak akan repot menjawab pertanyaan-pertanyaan ayah tentang masalah ini dan itu tentang hal ini, kenapa ade begini begitu. 5. Aku tak mau dia seperti sekarang. Lebih mementingkan teman. Buktinya sudah beberapa malam ini dia menginap di kontarakn temannya yang tak jauh dari kosku. Ah— ini berasa gimana gitu. Bukan kesepian karena saya sudah kebal dengan rasa itu. Hanya tak ingin dia sakit. Di sana tak ada tempat tidur, lingkunganya kurang sehat, dll.  Di kos yang baru nanti entah bagaimana keadaan lingkunganya. Aku juga belum pernah lihat. Aku tak tau teman-teman kerjanya seperti apa, dan ia memilih tinggal di sana dengan alasan di sana ada teman kerja juga. Ah–Aku masih memikirkan hal lain. Di sini, kami bisa masak dan makan bersama, air tidak pernah habis, jika PDAM mati bapak kos akan membelikan air. Di sini, ada dua tempat tidur. Di sini aku bisa mengingatkannya untuk ibadah [yang mulai tidak teratur sekarang ==’]. Dan banyak alasan lain yang membuatku melarangnya. Aku memang terlalu banyak berpikir. Berbeda dengannya yang santai menjalani hidup. Itulah yang membuatku sedikit tak nyaman jika melarangnya ini-itu. Lagipula aku selalu mengingat kata-katanya 4 tahun lalu. Waktu pertengkarang pertama dan terakhir kami. Saat itu ibu sampai menangis. “Dia. Dia. Dia aja terus. Pilih kasih. Semuanya dia. Dia! Dia pintar. Dia boleh ini, boleh itu, boleh! Dia rajin. Dia sabar. Dia … Semua dia. Kesayangan sekali!” Dia berteriak, membanting pintu dan pergi. Kami memang berbeda dari SD. Dari segi prestasi, cara berinteraksi, mungkin cara berpikir. Bahkan dia sering sekali membuat ayah geram saat SMP dan SMA. === #Aku sayang sama kamu de. Sayang banget. Tapi aku gak tau harus bagaimana. Aku takut menjadi kakak yang egois tapi aku hawatir padamu. Aku ingin berbicara banyak sama kamu, tapi aku tak tau caranya. Bagaimana ini de? Bagaimana? Kami sayang kamu! doa kami dan harapan kami selalu yang terbaik untukmu, hanya saja sulit menunjukannya dengan cara yang tepat (mungkin).  Kamu tau de. Kota ini bukan adem ayem seperti yang sekilas kau lihat. Bahaya tidak kita sadari berada dekat dengan kita. Kota ini termaksud kota kriminal de. Baru saja beberapa hari yang lalu aku mendengar berita radio sekarang kota ini semakin para pengedaran narkobanya, belum  lagi kriminal lain. Ah- saya semakin banyak pikiran kan. Mikir yang tidak-tidak lagi! === #Kamu ingat tahun baru kemarin de? Kamu begitu ingin melihat kembang api di kota ini (di sepanjang pinggiran sungai mahakam), yang bahkan aku tak pernah melihatnya dan tak berminat melihatnya selama 4 tahun aku di kota ini. Demi kamu de. Aku temani. Aku rela menemanimu menjadi salah satu di barisan kendaraan yang macet di mana-mana, padahal saat itu sedang gerimis. Aku rela menahan sesak nafas karena seluruh udara tersebar asap membahayakan. Lalu aku rela sakit beberapa hari karena semua itu. Itu demi kamu de. Karena aku tak akan membiarkanmu pergi sendiri, atau dengan teman-temanmu yang juga baru berada beberapa bulan di kota ini. #Kamu ingat waktu kamu smp dan SMA de? Kamu hampir berhenti sekolah karena ayah marah. Lalu kau bertahan dan lulus. Kau bersikeras de, pengenya sekolah di tempat … dan itu menentang ayah. Kamu kalah, dan tidak sekolah. Aku sedih ngelihat itu de. Aku bujuk ayah hingga kau bisa masuk SMA di tahun berikutnya. Aku rela ninggalin beberapa perkuliahan cuma buat ngurus berkasmu de. Dan kamu berhasil melalui segalanya dengan baik di tahun pertama.  Lalu kembali bermasalah. Kamu bohong de. Bohong yang bikin guru tempatmu tinggal sedih, mengadu padaku, lalu membuat ayah geram hingga hampir kau berhenti sekolah. Ya-Allah de, Allah sayang sama kamu, Ayah dan kami semua sayang sama kamu, kamu boleh sekolah dan ngekos sesuai keingananmu. Tapi yah, selama itu aku terus memantaumu diam-diam, aku sempat geram tapi tak mengatakannya pada orang tua kita ataupun kakak (keras kepala) kita. Cuma demi menyelesaikan sekolahmu de. Meski begitu aku senang kau mendapatkan prestasi yang wah dalam beberapa bidang. Dan kamu lulus de. Kamu bandel de, tapi itu selalu kumaklumi. Saat ini aku tak ingin kamu bandel lagi. Di kota ini kamu masih baru, kamu masih belum mengenal seluk beluknya, dan belum tau seluruh situasi kehidupannya. Aku takut de. Mungkin aku egois, sangat egois dengan pikiranku sendiri, tapi kamu yang membuatku begini de. Kamu tak menunjukan sesuatu yang  meredahkan rasa hawatir. Banyak hal yang membuatku semakin menghawatirkanmu. Ah–Siapa saja yang suka menelponmu hingga membuatmu sering sekali menjauh dariku, kau takut aku mendengar? Kau takut aku mengaduh pada Ayah? Ya ampun de. Aku tak akan melakukan itu karena aku tau kau akan di paksa pulang. Situasi sekarang membuatku bingung de. Bagaiamana ini de? Bagaimana aku ingin berbicara baik dan banyak jika kau hanya menumpang mandi di sini sekarang. Aku kesal de! kesal sekali denganmu, aku sayang. #Kamu ingat de, saat kau sakit? Aku hawatir bukan kepalang. Tiba-tiba kau menaiki tangga sambil menangis memegangi dada, mebuatku kaget, panik tidak karuan. Kupikir kau habis kecelakaan. Wajahmu merah dan … Lalu kau memburuk. Ya-Allah de. Kulakukan yang terbaik untuk menyelamatkanmu. Bahkan aku menangis tak karuan, dan takut bukan main. Orang tua kita jauh. De, aku takut kau mengalami hal yang sama, bagaimana jika tak ada siapa-siapa di sana. Maaf deh de, aku terlalu hawatir. 😥 === Samarinda-25/02/2014

13/10/13

Tiga bulan nggak pulang Azmi (adikku) sudah banyak perubahan. Dia sudah mulai berdiri, punya gigi 4, dan makin aktif.  ^^

100_8988-horz-vert

100_9054-vert-horz

100_9043-horz

100_8990

100_8970