Arsip

Maaf, aku tak bermaksud menyakiti

Banyak yang mulai mendekat, aku juga tak tertekan lagi. Mereka menawarkan begitu banyak kebahagiaan, tapi perasaan raguku masih sama seperti dulu. Tak seorangpun yang mampu membuatku yakin untuk memulai hari berjalan berdampingan dengannya dan tersenyum menatapnya lekat.


Aku tak pernah ingin benar-benar melupakanmu, tapi aku tak ingin hanyut dalam rasa diakhir persimpangan kita. Aku berhasil. Aku tak menatap kelam masa itu, aku juga tak mengharapkan ada sosokmu kembali meminta genggaman tanganku. Aku mulai biasa, perasaanku terhadapmu sudah binasa. Maaf, aku tak ingin berputus asa karena rasa yang hampir membuat gila. Aku benar-benar bisa kini. Air mata tak ada lagi untukmu, bukankah kau yang menginginkan tak boleh sebutirpun air bening itu di sudut mataku. Kau pergi untuk masa depan dan memintaku merelakan, saat itu aku hanya mengangguk padahal hatiku berada didua samudra, antara mengerti dan kecewa yang mendalam.

–Kita duduk bersebelahan menatap bintang malam yang terang, aku tau itu yang terakhir. Tanpa sadar aku mulai menangis sedih dan dengan cepat kau memelukku. Aku terisak, leherku terasa tercekik dan dadaku terasa sakit, sesak sekali. Kau semakin memelukku erat, aku menikmatinya sejenak lalu tersadar ini salah. Aku tak boleh menahanmu untukku, pergilah. Pergilah! Harusnya itu yang ku katakan, kita tak perna tau takdir dan tak boleh memaksakannya. Perlahan tanganku yang melingkar memelukmu melonggar, aku duduk tegak menatap ke atas, mengusap air mataku cepat, menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.

Tiga menit kita tanpa kata dan tanpa balasan tatapan dariku. Meski keluh mulutku mulai terbuka mengucapkan kata, sebuah ungkapan keikhlasan dan harapan untuk saling hidup bahagia apapun yang terjadi.


Hari dimana aku merasa terganggu, kau hadir kembali mengusik hari yang mulai terukir senyum tanpamu. Aku semakin kecewa atas kata-katamu yang seolah meminta luka lamaku tak berarti dan aku akan menerimamu lagi.  Aku ingin berteriak! Aku ingin mengusirmu jauh, sekuat apa kucoba lakukan itu tapi perasaanku tak ingin membalas kecewa dengan menyakiti. Aku ingin kau menarik diri karena mengerti, aku membiarkanmu mendekat tapi kuharap batasan yang kuciptakan tak pernah kau lewati.

Aku bersamamu. Sama seperti dulu, tersenyum dan tertawa tapi tidak untuk hatiku yang tercurah untukmu. Aku membiarkannya kosong tak ingin memiliki siapapun, kamu ataupun satu diantara mereka. Bolehkan? Aku butuh meyakinkan diri, aku menikmati kesendirianku, kuharap ini yang terbaik.


Hari terlalui, aku memberanikan diri memintamu memastikan perasaanmu. Aku ingin tau! Apa arti diriku kini? Kau bilang aku masih sama seperti lima tahun lalu bagimu. Aku tertawa, aku tak tau harus berbicara apa. Sia-sia usahaku membuatmu mengerti, aku kecewa lagi. Aku ingin menjauh, kataku padamu karena kau tak bisa melakukannnya.

Akhirnya aku membalas kecewaku dengan memberikan rasa sakit yang sama. Jika saat itu aku mengerti alasanmu, tidak dengan dirimu yang tak mengerti alasan sederhanaku pergi. Aku benci keadaan ini, memaksa diri untuk membuatmu mengerti, terlalu optimis untuk tak menyakiti, dan tetap terjadi.


Aku masih tersenyum padamu saat bertemu, aku masih tertawa saat ada lelucon yang terlontar dari, kini aku tak perduli perasaanmu, aku sudah mengungkapkan semuanya, aku sudah tak menginginkanmu dan tak pernah mengharapkanmu, lukakupun sudah sembuh. Aku jahat? Iya sangat! Aku sangat sadar akan hal itu.

Mereka, orang-orang mengetahui tentang kita sudah terbiasa dengan keadaan ini. Mereka mengerti tak harus masuk dalam problem kita. Kakakmu, ibumu, dan yang lain paham ketika mereka harus diam membiarkan kita untuk memilih jalan kita yang kini benar-benar berbeda. Maaf, aku ak bermaksud membalas lukaku padamu, hanya saja tak ada yang tersisa untukmu kini. Aku berharap kita benar-benar memiliki seseorang dikehidupan kita dan hidup bahagia. Amien.

Samarinda, Feb 2014

Terima Kasih Cinta

aaaa

Ah, banyak kata-kata yang terasa kurang pas. Tetep senang deh, bisa buat ini dalam 1 jam.


Harusnya aku mengenalnya sejak kami masih baru mulai belajar berlari. Namun kenyataanya dari seluruh anggota keluarganya, dia orang yang terlambat mengetahui keberadaanku di dunia ini. Aku resmi tersenyum padanya saat aku sudah mengenakan seragam putih-abu-abu. Saat itu hanya berpapasan ketika pulang sekolah. Sekolah kami berbeda jarak dan latar belakang, setidaknya kami memiliki tingkatan yang sama. Aku sedang berdiri di jembatan menunggu kakakku, menatap jauh mengikuti arah sungai. Sontak aku menoleh dan tersenyum saat suara kendaraannya melintas di belakangku. Aku tak percaya cinta pandangan pertama, saat itu aku hanya merasa senang karena ia membalas senyumku. Tiga minggu berikutnya, kembali bertemu dan duduk berdampingan di acara pernikahan sepupuku, aku mulai meliriknya diam. Ada rasa penasaran mulai menghantuiku. Sosok tak banyak bicara, melahap makanan dengan cara unik dan tidak banyak bergerak. Tidak mengacuhkanku saat bertanya, itu sudah cukup. Berbeda dengan pemuda di sebelahnya. Aku lebih mengenal kakaknya.

Seorang sahabat wanita mengirimiku  nomor ponsel seseorang. Tak kusangka itu miliknya. Aku hanya butuh teman diskusi tentang pelajaran dari sekolah lain. Aku sangat suka belajar hingga dikatai kutu buku oleh kakak kelasku. Awalnya aku ragu hingga kubiarkan nomor itu hanya menjadi penghuni kontakku. Di sore yang super sibuk ponselku bergetar dan berdering, dua panggilan tiga pesan membuat keningku mengkerut berpikir. Ia menghubingiku, aku senang karena aku tak harus penasaran lebih lama.

Semangatku bertambah satu lagi. Aku menyadari mulai menyukai dan membutuhkannya. Seperti suatu malam ketika aku mengurung diri di kamar merasa sedih kehilangan kakekku yang pergi kesurga. Aku terlelap setelah mendengar suaranya  dua jam menghiburku, menasehati dan bernyanyi untukku melalui ponsel. Semakin hari semakin banyak hal menyadarkanku, ia begitu berarti.

Tiga tahun berlalu saat aku pertama kali tersenyum padanya. Hari ini kami akan menuju kota saksi perjalan hidup kami empat tahun kedepan. Tempat diujinya ke mampuan kami bertahan dan menjadikan hidup ini lebih berarti demi masa depan yang cerah dan berukir senyum. Perjalanan yang ramai, antri, letih  dan kehausan menjadi hal biasa setelah musim liburan berakhir. Ia selalu baik. Hari ini aku semakin berdebar. Bahkan ketulusannya membuatku tak ragu sedikitpun. Pagi tadi aku menangis sedih, siang ini menunggunya sejam, menunggu angkutan umum bersamanya dua jam dan menunggu untuk menjadi penumpang bus hingga azan magrib terdengar. Lelah membuatku terlelap.

Aku terbangun dari tidurku. Kepalaku tersandar pada bahunya, tubuhku hangat tertutup jaket besar miliknya, tanganku terperangkap dalam genggamannya. Aku terkesiap. Lalu tersenyum antara malu dan senang. Kurasa pipiku mulai panas. Astaga! Ini terasa konyol. Embusan udara keluar dari mulutku. Segera kutahan serangkaian tuntutan perasaanku padanya. Kita saling terdiam. Bus yang kita tumpangi melewati jembatan sepanjang tiga km. Sungai ini, kota ini, dan cahaya lampu-lampu itu, menjadi saksi. Aku merasa bahwa dia mulai menyukaiku. Sama seperti aku yang terus mencintainya. Oh, Tidak aku terperangkap. Apapun yang terjadi, aku tak ingin kehilangannya.

Sesederhana pemikiran kita yang selalu memberi tanpa letih. Perhatian, motifasi, pikiran, dan perasaan sayang. Kau mengajarikan cara bersabar, dan kau usap air mata ini saat aku menangis, meskipun aku tak perna sengaja menangis di hadapanmu kau selalu mengerti perasaanku. Kau akan selalu ada untuk menghibur dan melakukan apa saja untuk menciptakan senyumku. Terima kasih cintaku.”

-2007->2010-

Galau Ingat Kamu

Senin, 15 Oktober 2012

Mengapa harus seperti ini ?
Mengapa aku harus mengenalmu ?
Mengapa harus memiliki perasaan ini ?
Mengapa kita harus bersama jika akhirnya harus terpisah ?
Pertayaan konyol yang selalu mengantuiku, aku tak tau harus menyalahkan keadaan atau diriku sendiri atas apa yang terjadi selama ini. Namun aku hanya bisa berusaha tegar meski dunia melihatku menangis. Aku hanya bisa berusaha tersenyum meski seluruh dunia melihatku bersedih.
Bukankah kau pernah berkata, “Jangan pernah bersedih karenaku!” dan itu masih terus kulakukan, meski sejujurnya itu sangat sulit. Bukan karenamu aku begini tapi karena ketulusan ini. Jadi maaf jika aku tak sanggup menjadi yang kau inginkan.
Hari ini, seseorang mengingatkanku tentang dirimu. Maaf, bukan tak mau mengingat dirimu lagi tapi hati ini terlalu takut untuk menuntutmu kembali. Dia bertanya tantang dirimu, aku harus menjawab apa jika nyatanya aku memang tak tau apa-apa sekarang. Jangankan mendengar suaramu atau bertemu dengamumu. Hanya sekedar berkata “Hai” melalui pesan seluler saja sudah tak pernah. Bukan aku terlalu gengsi hanya aku tak ingin mengganggumu.
Aku harap kau baik-baik saja dan masih memiliki semangat yang luar biasa. Bukan kah kau ingin menggapai semua impianmu. Ya, kau pernah berkata padaku “Aku akan membuktikan pada semuanya bahwa aku mampu untuk menjadi apa yang mereka anggap mustahil.” Dan aku hanya menatapmu kagum, tersenyum dan mengaminkan agar itu terwujud. Meski kini kau tak bisa bercerita padaku lagi, tapi yakinlah bahwa doaku masih terus ada untukmu.
Oia, aku tadi siang mendapat panggilan kerja. Ya, lumayan mengisi waktuku di sela-sela kuliah. Harusnya aku mentraktirmu tanda bahagia sama seperti saat dulu aku menerima gaji pertamaku. Lain kali saja ya, saat ada takdir yang memungkinkan itu.
.
“Haiiii, Nurmie. Mengapa kau menangis! Harusnya kau tersenyum, harusnya kau bisa tenang belajar hari ini, ingat besok ada KUIS FISIKA INTI. Ayo, Semangat!” sepertinya boneka di kamar sedang mengomel mengalahkan teriakan hatiku yang galau. Aku menggaruk kepalaku kesal karena kalah main games. “Ah, Galauuuuuuuuuuu” teriakku kesal. Sial memang tak bisa menetralkan perasaan. Ditambah lagi ade di kos tiba-tiba memanggil dengan heboh. Aku kira ada apa, ternyata hanya ingin memberitahukan bahwa kau sedang online. Sungguh membuat sedih, karena aku tak bisa memperhatikanmu walau lewat dunia maya. Jahatnya dirimu memblokirku dulu. Sebegitu besarkah salahku padamu. Tolong beritahukan padaku karena aku tak pernah tau dimana, apa, kapan kesalahan itu terjadi. Ataukah semua hanya alasan saja.

MENYAKITKAN,, jika setiap orang-orang mengingatkan tentangmu. MENYEDIHKAN jika mengingat betapa besar usahaku bersikap bisa saja tapi dengan seketika kembali seperti ini.

“JADI APA YANG HARUS AKU LAKUKAN ? SIAPA YANG BERANI MENULARKAN GALAU INI PADAKU ? HUH.”

Tapi baiklah, semuanya pasti memiliki hikmah tersendiri. Tak ada yang sia – sia. Ini akan menguji kesabarku. Bukankan masalah akan mendewasakan seseorang. Ya, semoga saja begitupula denganku. Aku tau kita tak boleh terus terbayang-banyang masa lalu, namun kita juga tak bisa menghilangkannya karena masa kini tak kan ada jika tak ada masa lalu. Aku berharap kelak ada hari yang lebih baik untuk memperoleh titik penjelasan kesalahanku, jika itu memang ada.

Aku sayang “dia”

Kalau boleh jujur aku sangat menyayanginya. Tapi aku tak tau harus bagaimana cara mengungkapkannya, agar dia tau, agar dia mengerti…bahwa dia berarti bagiku….

Aku ingin dia menjadi miliku…. meski kini telah tak mungkin lagi tapi aku tetap saja berharap dia mengerti perasaanku saat ini. Agar dia merasakan betapa perihnya menahan rindu dihati ini yang bukannya semakin lama semakin menghilang tapi justru semakin tak bisa terpendam lagi…

Aku sayang dia…

Aku ingin mengucpkan “Aku sangat menyayangiMu…” untuknya…

Sayang aku tak punya keberanian untuk membuka mulut,

Aku yang terus membisu saat berada didekatnya, hingga kini dia telah pergi dan tak pernah mendekat…

Aku merasa sangat kehilangan dia..

1 hal yang aku inginkan kini yaitu aku bisa jujur padanya atas semua yang aku rasakan bertahun-tahun..

apa yang inginkan dan apa yang aku harapkan dari dirinya..

Aku harus berubah untuk lebih terbuka…jika kesempatan itu ada untukku…karena aku letih terus seperti ini…..

“Aku sayang Kamu”….Kupastikan aKan aku ucapkan jika bertemu Lagi dengannya…
Janjiku pada hati dan diriku sendri… Akan aku tanyakan apa rasa yang dia rasakan dulu belum berubah..???..
Akan ku perjelas semua kesalah pahaman nie… Biar semua berakhir dengan tampa penyesaL..seperti sekarang ini..
Berubah atau tidaK itu resiko..
Aku berharap agar semua teap seprti dulu.. ”SemoGa”

So Sweet ^_^