Arsip

Kamu yang dulu sering menemaniku

nurmiatiAku duduk di kursi menghadap jendela, diam tapi tidak sedang menghayal. Aku berpikir tentang sebuah peristiwa yang telah berlalu, ini hanya masa lalu dan kenangan namun mengangguku. Sebuah hal yang tidak bisa dikatakan menyenangkan, namun terkadang mengingatnya membahagiakanku lalau tersenyum sendiri lalu berharap sesuatu.

Seseorang hadir dalam hari-hariku dan menjadi seseorang yang masuk dalam daftar berjasa bagiku, sosok anak manusia yang keseharianya kaku dan membosankan bahkan terkesan sangat teliti dalam mertindak ataupun berkata. Bagiku itu salah meskipun awalnya aku mengakui penilain mereka (orang-orang yang juga mengenalnya).

Kedekatan yang salah, semua mengiraku memiliki hubungan special dengannya, aku marah karena itu tak benar. Marah yang tak terungkap. Aku tak tau tentangnya, bahkan sekedar tau warna kesukaannya pun tidak, bagaimana bisa dikatakan dekat.

Mungkin mereka yang melihat dan semaunya menilai mengira begitu, dekat. Bukan kemauan yang kuat untuk berinteraksi denganya, terkadang aku bertanya pada tembok mengapa orang itu memilihku sebagai rekan kerja. Bodohnya aku yang selalu bekerja keras untuknya padahal sesekali rasa tak suka meprofokasi untuk menghidar saja, aku tak menyukai sosok kaku yang formal, aku membenci situasi itu. Makan hati, dan membuatku geram.


Mengapa orang-orang itu mengidolakannya? Kurasa tidak ada yang istimewa darinya. Yang kurasa selama menjadi asistennya dia membosankan, sangat membosankan, dan aku sangat muak.

Hello, mengapa mereka malah membuatku semakin tak nyaman dengan prasangka mereka. Memangnya aku yang salah jika pada akhirnya aku yang terkesan dekat (padahal tidak). Mereka cemburu? Mungkin saja, kurasa iya. Aku merasa diteror dengan tindakan mereka, aku jengkel. Kubiarkan mereka melakukan, membicarakan apa yang mereka inginkan, aku pura-pura tak mengerti dan kuabaikan. Polos sekali diriku, huh, aku kesal tingkat dewa sebenarnya. Apa istimewanya sosok itu? Aku kesal tapi tak bisa mengungkapkanya.


Aku lagi. Aku lagi. Aku sudah jenuh, tapi mengesalkan sekali jika rasa penasaran dan keinginan menghindar itu seimbang. Aku letih namun tetap ingin mengenalnya. Hah? Aku mulai terbiasa dengan sikap kakunya, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit tentang dirinya (sangat sedikit), aku ingin bertahan. Ya, itulah diriku yang mudah untuk penasaran lalu akan mengabaikan hal lain.

Aku bersikap biasa saja, meskipun aku mulai mencari dia yang semakin sering menghilang. Bahkan aku mencoba berani menyapanya dengan cara berbeda. Menulis penilaian tentang dirinya dan diam-diam membiarkan ia mengetahuinya. Tapi, itu murni untuk memulai sebuah pertemenan (kurasa dia bisa menjadi teman yang bijak dan baik).


Hah? Aku kecewa? Seseorang hadir dalam hari-harinya, semua mengetahuinya dan menyetujuinya. Aku berteriak keras pada tembok itu bukan masalah, tapi aku mulai memikirkanya sesekali, lalu kuabaikan pikiranku yang berbagai versi itu. Setidaknya aku bisa bersyukur mereka sudah melupakan hal-hal yang membuatku merasa terteror. Terutama anak manis itu, yang selalu mendekatiku karena merasa aku terlalu dekat dengan sosok jenius nan kaku itu, huh.


Tahun sudah berlalu dari pertama kali aku menjadi bagian merka, kini aku tak segila dulu untuk selalu melampiaskan segala isi pikiran di sana. Aku fokus untuk masa depanku, meskipun kuakui  tak mungkin meninggalkan semuanya begitu saja, aku tak bisa, di sana duniaku yang kumau dulu dan kini suka duka yang tercipta kurasa perlu ku jadikan kenangan saja.

Begitu lama kah aku menghilang, ku abaikan segala yang ada di sana, pekerjaanku dan segala hal yang dulu sering kulakukan. Aku benar butuh waktu untuk memilih jalan yang harus kugambarkan dalam buku harapanku.

Ingin menghilang, namun nyatanya aku kembali lagi. Aku benar-benar suka mereka. Terutama dia, sosok itu. Aku tak punya alasan lain menyapanya jika tak mengerjakan tugasku dan melaporkanya. Huh, ini menjengkelkan, karena itulah alasan utamaku selain aku memang membutuhkan tempat itu sebagai dunia lainku.


Aku terjebak dalam situasi ini. Mengapa aku harus marah karena penjanjianya dengan seseorang yang hadir dalam hari-harinya. Mengapa harus aku? Mengapa aku terlalu ngengsi mengaku kecewa? Mengapa juga ia harus menjelaskanya? Harusnya ia biarkan saja aku kecewa. Aku sangat kesal. Kesal dan memaki tembok kamarku yang tak bersalah.

Aku mengaku salah, aku kalah, perasaan kecewa yang entah dari mana asalnya membuatku terlihat seperti orang bodoh.

Aku dendam? Tidak terlalu tapi iya. Aku sangat kesal pada diriku yang membenci keadaan yang kulalui selama ini dengannya. Hah? Iya aku kekanak-kanakkan.


Okey. Karena aku kecewa, aku harus mencari sesuatu yang dapat menghiburku. Aku berjanji pada diri untuk menganggumu sebulan ini, aku akan menjadi dia yang menghilang sementara itu.

Begitulah janjiku malam itu. Setiap pagi, siang, malam aku menyapamu. Awalnya aku malah cemberut setiap kau membalas, tiada kesenangan sama sekali yang kurasakan tapi namun tetap kulakukan.

Kepo. Aku mungkin terkesan ingin tau dan menyebalkan, tapi ini janjiku dan aku selalu konsisten dalam segala hal.

Aku mulai mengenalmu sedikit (lebih banyak dari yang dulu), aku mulai menerka-nerka tentang dirimu. Aku mulai merasakan seuatu, pelajaran hidup yang tak kau sadari. Aku senang.

Mungkin kamu memang kelelawar, selalu muncul saat malam hari, kebetulan aku memang anak manusia yang selalu menderita terjangkit insomnia dan tersisa dengan rasa bosan yang berlebihan. Membaca buku bukan hal yang menyenangkan lagi, mendengarkan radio atau belajar bukan hal yang bisa dikerjakan hingga jam 2 pagi.

Saat semua tak bisa kulakukan dan mulai membuatku kesal, berbicara dengamu dalam bahasa tulisan adalah hal yang menyenangkan. Aku tak tau dari mana menyenangkannya berbicara dengan orang yang begitu hemat kata dan sangat hati-hati dalam berkata. Tapi, sesekali kau menghadirkan tawaku, dan sesekali aku berpikir kamu orang ang menyenangkan.

“Boleh aku memanggilmu kakak?”

Kau tau aku menghabiskan 10 bungkus coklat dalam 1 menit karena begitu senang saat kau jawab ‘Boleh’. Pertanyaan yang ingin kutanyakan dari dua tahun lalu.

Aku tau tentu saja sangat besar kemungkinan aku salah menilaimu, tapi aku yakin Tuhan tau kalau aku membutuhkanmu sehingga iya menghadirkan suasana ini  untuk ku yang memang sedang membutuhkan teman. Setidaknya teman bercerita. Yah, meskipun aku selalu ingin menceritakan liku-liku kehidupanku namun selalu kutahan diri ini. Persepsi diriku yang tertutup ternyata memang benar, tak salah temanku sering marah karena terlambat tau tentang segudang beban dan perasaan yang kutanggung sendiri.


Sebentar saja aku menghilang untuk hal yang lebih penting (dunia nyataku—masa depanku), aku kehilangan sosokmu. Aku mencarimu, dan kau tak ada.

Sedih. Yah, aku sedih saat kau bilang kau telah berhenti.

Tak lama kau hadir kembali dengan nuansa baru, aku berteriak happy pada tembok yang kesal melihatku senyum-senyum padahal hari diluar sedang mendung.

Tapi kenapa hanya sebentar?

Aku kembali kecewa, sedihku kini berlipat ganda. Aku benci keadaan ini, lebih benci dari saat kau menjawabku dengan satu kata atau senyum datar.


Hai, mengapa menghilang? Aku kehilangan. Aku tak memiliki seseorang yang kupanggil kakak lagi, semuanya benar-benar menghilang. Mengapa? Kau benar-benar hilang sekarang, jahat sekali. Ternyata memang Tuhan hanya menghadirkanmu untuk menghiburku yang sedang terpuruk saat itu.

Oia, kuberitahu rahasia. Jangan pikir aku gadis gila yang sedang menyukaimu dan berpikir hal yang macam-macam. Aku pernah cemburu pada beberapa orang yang—kurasa lebih bisa dekat denganmu daripada aku.


Taukah kamu, tepat 8 bulan kau menghilang. Di tanggal yang sama kau hadir, dan menjawab curhatan panjangku dengan beberapa kata. Berlanjur percakapan yang sebenarnya tidak lucu namun berhasil membuatku tersenyum. Baiklah itu rahasiaku, seperti rahasiamu yang tak ingin kau beberkan pada orang lain. ‘Kau masih hidup’.

Tapi mengapa? Kau berkeliaran dengan mereka, sosok yang kadang membuatku merasa iri. Huh, aku tak bisa seperti mereka (itu pikirku—hingga aku tak perna berani). Kubiarkan keingin tauanku membusuk. Andai saja aku berani bertanya kegiatanmu, kabarmu, perasaanmu, dan apa saja tentangmu tanpa merasa tak berarti.

Aku terabaikan lagi. Semua orang benar-benar menghindariku. Mereka pergi tanpa alasan. Ini sangat menyebalkan.

Aku menyukaimu? Dulu aku selalu mengabaikan pertanyaan itu. Kinipun aku mengabaikannya, tapi aku takut benar-benar menjadi gelembung dimatamu.


Cukup kita. Cukup kita yang tau.

Cukup kita yang tau bahwa aku pernah menganggumu, menjadi pengacau malam-malam sibukmu, gadis gila yang menyapa setiap waktu, gadis tak tau malu yang kekanak-kanakan dan menjadi kepo hanya karena butuh teman mengobrol. Gadis yang mencari pelapiasan berkeluh kesal hal tak jelas karena gelombang hidupnya terlalu tinggi namun tak tau harus berpegangan dengan tangan siapa, gadis itupun telah kehilangan orang-orang yang ia percaya.

Yah, itulah aku yang pernah menjadi bagian kecil hari-hari sibukmu, aku yang menganggu hidupmu. Terima kasih, karena kamu telah menghadirkan suasana baru dalam hariku, aku telah belajar banyak dan mulai memandang sesuatu dengan cara berbeda. Meskipun aku tak tau apa mungkin aku akan menatapmu langsung nanti, tapi inilah kejujuranku yang senang pernah mengenalmu dan benar-benar berterima kasih.

“Terima kasih kapten.“

Wamena, 7 Januari 2015

Iklan