Tag Archive | CurCol

28/01/2014 [Thanks]

scooter_anime_girl-1600x900

Apa yang kutunggu? sejak pagi aku melakukan aktifitas rutin tanpa semangat. Lalu sekarang sudah pukul 9, matahari sudah bersinar dari tadi tanpa ragu. Pakaianku sudah rapi sejam sejak embun masih terlihat. Tapi, mengapa aku duduk terdiam merenung seperti menunggu sesuatu.

Ini hari yang harusnya menyenangkan. Semakin dekat hari pertempuran yang selalu ku nantikan, namun mengapa aku malah was-was dengan semua itu. Masih masalah yang sama dengan kemarin dan kemarin-kemarinnya. Masih terganggu dengan bukti pembayaran yang tak bisa kuperoleh pagi ini. Aku tak punya cukup lembaran untuk membayar. Ini payah. Benar-benar payah!

Ini resiko jika sudah tak memiliki tabungan lalu sudah tak bekerja lagi. Payah. Ini sangat payah!

Sudah satu jam aku duduk di depan meja mungil yang di atasnya ada sebuh leptop. Aku tidak senang mengotak atik isi benda biru itu. Aku hanya duduk memegang ponsel, tasku terpasang di kedua bahuku, berat tapi aku tak perduli. Aku resah, tiba-tiba rasanya ada cairan yang memaksa keluar dari mataku. Kutahan segala rasa menyedihkan yang mulai mempengaruhiku. Kulepas tasku. Kurapikan buku-buku di sekelilingku yang susungguhnya memang sudah rapi. Aduh, perasaan apa ini. Aku takut gagal lagi, aku tak mau semuanya tertunda lagi. Ya, Allah. Tolonglah. Batinku memohon.

Aku berharap ada hujan uang, setidakknya berikan aku beberapa yang berwarna merah. Nanti akan ku kembalikan jika memang harus ini terjadi.

“Sudahlah. Gak bisa diharap lagi. PHP! ingkar janji! Munyakkk!” Kesalku sudah jengkel kepada temanku yang janji mengirimkan uangku. Andai kami berada di kota yang sama, ku datangi dirinya. Huh, kecewa menjalar dalam diriku, aku lemas perutku mulai sakit. Aku belum memakan apapun, dan belum meminum setegukpun dari pagi. Payah.

Aku sedih, mengingat niat baikku menolong kawan saat ia mengalami masalah sepertiku meski aku juga membutuhkan lembaran-lembaran saat itu, tapi kurelakan untuknya. Lihatlah aku yang terbelenggu hal tak pasti begini, tak adakah niatmu kawan berbaik hati padaku.

“Maaf, Ma.” Ucapku pada diri sendiri, takut mengecewakan orang tuaku lagi. Bulan lalu aku pertama kalinya menangis di hadapan mereka karena merasa bersalah, ingkar janji untuk lulus kuliah secepatnya. Ah–aku tak seburuk ini dulu, aku tak sepesimis ini dulu.

Ya Allah, tolonglah. Sudah lebih 10x aku menekan tombol panggilan tapi tak ada jawabn dari kawanku. Ya Allah berikan alternatif jalan keluar. Hanya beberapa detik aku menangis, kuusap dengan cepat air bening yang mengalir di pipiku saat kusadari adikku datang dari kerja paginya di dekat kost.

“Gak jadi ke kampus?”

“Ah? iya ini mau jalan kok. Sudah makan?”

“Sudah tadi tempat ibu (tempat kerjanya)”

“Oh. Hari ini kerja jam berapa lagi?” aku melirik jam di ponselku

“Kena jadwal siang. Sudah makan?”

“Sudah tadi.” Aku berbohong.

===

Aku memilih pergi dari kostku.  “Oia, nanti kalau di antar kerja sms aja. Kali aja aku sempat gantar.” Ucapku berbalik dan benar-benar pergi setelah dia menjawab “Iya,”.

Aku pergi. Bingung mau kemana dan melakukan apa sebenarnya. Banyak yang harus diurus, tapi kuncinya bayar spp dulu. Aku duduk di kursi  di sekitar kolam di fakultasku.

Apa yang kutunggu? Menghayal hujan uang? Atau ada orang kaya yang bisa membaca pikiranku dan dengan baiknya memberikanku uang? Ah, kedua hal itu mustahil terjadi.

Aku sedikit menyesal menggunakan tabungan terakhirku untuk ke dokter. Harusnya aku beli saja beberapa obat di apotik, sakit seminggu belum tentu matikan. Ah, itu tak harusnya terpikirkan dan disesali. Itu sudah jalannya.

Aku bosan berada di sana, mendapat lirikan bahkan tatapan aneh dari beberapa orang yang lewat. Aku kembali ke kost. Tadi saat lewat depan bank di kampus, masih seperti hari-hari 3 minggu ini, antrian begitu banyak. Aku lagi-lagi tidak mood memikirkan masalah uang, tapi ini harus dipikirkan…. Dan kini sudah pukul 11.12 di Selasa super panas ini.

===

Aku bermalas-malasan, tidur di lantai masih dengan kostum formal yang ku pakai ke kampus. Tengkurap-terlenang-gerak sana-sini, menatap plafon. Pukul 12: 15, ponselku berdering, membuatku spontan merasa senang.

“Thanks ya–” Balasku kepada pengirim pesan.

Dengan cepat kuraih kunci motor yang tergantung di sisi kanan mading kamarku. ATM di depan pintu gerbang kampus sedang tak bisa digunakan, aku harus mencari ATM lain yang lumayan jauh dan antri. Sebelum kembali ke kost, aku membeli sebungkus makanan, maklum dengan keadaan mood hancur aku tidak memasak apa-apa hari ini. Berbarengan dengan langkahku menaiki tangga kost, azan zuhur tendengar. Aku mengisi perut dulu sebelum sholat.

Pukul 13:23.

Langkah cepatku (sedikit berlari), menghidupkan motor dan menuju kampus.

“Wah, antrian banyak banget…” Aku mengambil nomor antrian dan keluar ruangan memilih menunggu di luar, di dalam tak ada tempat duduk dan terlalu banyak orang.

“Di mana?” Pesan masuk.

“Di Bank. Lagi Antri.”

“Nomor antrian berapa? Masih lama kah? maaf ya tadinya enggak perna angkat telpon.”

“266. Masih sekitar 37 dari sekarang. Iya gk papa.”  Meskipun aku membalas begitu aku masih sedikit kesal. Sekitar 10 menit kemudian. Pesan dari gadis itu  ada lagi.

“Mi, sudah aku kirim. Semangat ya—” Ia menyisipkan emot senyum di sana.

“Okey. Thanks.” Balasku cepat lalu lebih memilih belajar lewat ponsel.

===

13:47

Masih sekitar 20 nomor antrian. Kurasa aku tidak akan sempat bertemu Pembantu Dekan II hari ini. Bosan menunggu di luar, aku masuk kedalam. Duduk sambil main game. Seorang gadis melangkah mendekat dan dengan wajah manisnya tersenyum padaku.

“Nur,” Sapanya berdiri di depanku.

“Loh. Yu, kamu belum lulus?”

“Sudah baru tanggal 16 kemarin. Kamu belum kah?”

“Ow. Terus ngapain di sini? Bayar spp lagi? Aku dua hari lagi baru pendadaran.”

“Ini nah aku lagi nemenin Novan. Ow–Semangat ya! Kamu terus ngapain? Bayar spp lagi?”

“Iya nah, padahalkan cuma dua hari lagi. Lumayan kan uangnya bisa di simpan untuk wisudaan.”

“Loh, aku enggak bayar loh.” Mendnegar itu langsung bad mood. Memang fakultas kami berbeda namun tetap saja satu universitas. Dan ruginya jika bernasip seperti aku ini.

“Iya, kemarin sudah minta ke dekanat tapi tetap gak bisa.”

“Wah, sabar ya Nur. Yang penting bareng nanti Maret wisudanya.” Aku hanya menggangguk, seorang pemuda dengan kemeja hitam menoleh ke arah kami. Itu Novan.

“Yu–Di tunggu tu.”

“Ah, Iya.”

Gadis yang ku kenal karena satu SMA serta selalu satu kelas dulu itu berjalan kembali ke tempat duduknya. Beberapa menit kemudia ia menoleh dan berbicara pake bahasa isyarat. Bertanya nomor antrian. Lalu kembali menghampiri.

“Nur. Titip boleh.”

“Iya.”

“Aku harus nemuiin dosen. Janji jam 2 tapi ini sudah lewat. Mau ngurus SKL.”

“Iya. Mana uangnya.” Ia memberikan uang lembar biru entah berapa jumlahnya. Nama legkap Novan, fakultas, dan NIM tertulis di belakang nomor antrianya dia. Pasti ia akan mengantri hingga jam 15 nanti jika mengikuti nomor itu. Nomor 287.

“Kami nunggu kamu aja deh, Nur. Nanti slipnya gimana?”

“Iya Terserah aja.” Ia kembali duduk di depanku. Aku duduk di barisan kedua dari belakang menekan-nekan layar ponselku menghabiskan daya bantrainya dengan main game.

“Yu,” Panggilku. Ia menoleh. “Ini, uangnya kamu aja yang pegang, bareng aja maunya.” Ucapku mengulurkan tangan.

===

A0266.

Aku maju, gadis dengan kostum hijau toska itu beridir di sampingku. Aku lah yang terlebih dulu, namun sedang gangguan jadi terasa begitu lama. Aku lebih dulu pergi dari sana. Ku harap aku masih sempat fotocopy dan menyerahkan semap berkas untuk verifikasi. Ternyat TIDAK.

Baiklah. Aku pulang ke kost. Setidakknya hari ini aku sedikit tenang. Lalu menyusun rencana untuk menyelesaikan seggalanya besok. Harus selesai besok, termaksud menyerahkan undangan kepada para dosen.

Thanks for—

Allah SWT…

Mama-Bapak yang ku tau selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya yang jauh darinya ini.

Kedua kakakku beserta istri dan keponakanku yang ganteng, yang cantik… Hehe

Adeku. Yang di kota ini dan di rumah. Love u de.

Semuanya deh. Thanks a lot. 😀 😀 😀

===

Samarinda – 28/01/14

Iklan

Dia

011213-356s

Dia seperti cahaya di ujung perjalanku dalam lorong gelap. Meski sekali-kali ia redup juga, aku tetap percaya dia tangguh. Aku merasakan kehangatannya, semakin dekat semakin terasa hangat. Dia membuatku nyaman. Aku suka. Aku sesekali menginginkanya selamanya— Tuhan, Kau tau itu.

SMD -23/01/14

Dia kembali… kembali hadir. Sosok yang dulu aku sayangi dengan tulus. Tuhan aku sudah tak sepenuhnya memiliki rasa itu lagi. Dan kini ia seolah ingin memperbaiki segalanya. Yah, aku sadar dia satu-satunya yang pernah mengisi hati ini. Namun Tuhan kali ini perasaanku telah berpaling pada sosok lain.

Dia yang jauh di sana. Dia yang entah memiliki rasa dan harapan sama denganku. Bukan dia yang di sini kini. Bukan dia yang dulu masa laluku. Aku ingin dia yang membuatku nyaman akan hadirnya. Meski aku tak tau sesungguhnya bagaimana hadirku baginya. Tapi kini aku sadar dia yang jauh di sana, dialah yang kuharapakan menjadi masa depanku. setidaknya itu jujur dari hatiku kini. Entah nanti jika, Engkau menghadirkan sosok lain yang akan menjadi pasangan hidupku. Tuhan… Kau tau segala apa yang kurasakan, bahkan Kau lebih paham apa yang sesungguhnya terjadi, kuserahkan segalanya padaMu, aku percaya yang terbaik adalah pilihanMu.

Aku juga tak bisa selalu mengharapkan hal yang jauh dari nyata. Aku tau, tapi biarkan aku merasakan perasaan bahagia ini mensyukuri hadirnya di dunia. Aku ikhlas jika kelak aku memiliki orang lain, begitu pula jika akhirnya ia lebih dulu memiliki sosok yang luar biasa di sisinya. Aku sangat rela.

Tuhan… Kau mampu membolak-balikkan perasaan. Kaulah yang akan menentukan segalanya. Jadi sah saja jika aku meminta padaMu saat ini, agar harapanku menjadi nyata. Aku tak memaksa, tapi aku tak bisa berdusta aku menginginkanya. Entah mengapa aku begitu yakin dialah sosok yang akan menuntunku menuju surgaMu.

Tuhan… Dekatkkan dia, berikan perasaan yang sama jika dia yang terbaik untukku. Rasa nyaman dan sayangku mulai tumbuh. Dan nanti jika aku harus menebas tunas itu bahkan saat belum berdaun. Ikhlaskan aku sesuai janjiku.

🙂

Berbaur-Ceramah/menasehati /curhat

https://www.facebook.com/putri.amelia.7/posts/482420791877300?comment_id=2716996&offset=0&total_comments=25&ref=notif&notif_t=feed_comment_reply

Ah, lama saya tidak mengoceh. Saya senang deh ngomel(?) kaya gini. Tau deh ini menasehati, atau menggurui, atau malah curhat. Peduli amat deh mau disebut apa toh memang suka menuangkan isi kepala saya begitu saja. Apalagi di sambut begini. Dan ini herannya kalau sudah ngomongin tentang sekolah, guru, pelajaran, pengetahuan, suka-tidak suka, atau sejenisnya saya cepet banget deh nimbrung dan mudah ngocek ini itu. Lah seperti itu, di komen status Haru-haru-chan. Hehehe.

Terus yang ini malah ketawa ngakak. Gara-gara si Qoqoi sam si Bee.

https://www.facebook.com/nurmie.virgirls.cynk.m/posts/676892982350681?comment_id=6903360&offset=0&total_comments=9&ref=notif&notif_t=feed_comment

https://www.facebook.com/nurmie.virgirls.cynk.m/posts/676895115683801?comment_id=6903363&offset=0&total_comments=22&ref=notif&notif_t=feed_comment

Coretan malam [Aku salah-Aku tau]

Ah, aku tak seharusnya begini. Andai aku masih setegar dan setegas dulu. Nyatanya memang kini aku mahluk dilema. Ku akui itu.

Sulit memilih, sulit memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan panjang. Jadi ingat siang tadi aku tertawa sambil menangis. Aku berbicara tak beraturan mengenang kekonyolan dulu bersama adikku. Ku kira tadi itu adikku akan tertawa. Tapi, nyatanya yang ia katakan membuatku menyadari dulu itu bukan dia yang harus iri padaku. Tapi aku yang harus iri padanya.

.

Tadi siang–

“Awas jika nanti malam nangis lagi!”

“Gak akan de, aku gak akan nangis lagi. Hahaha, lucu kan. Ingat kan saat terakhir kita bertengkar di hari ke berapa lebaran itu?”

“Yang mama sampe nangis itu?” bertanya dengan ekspresi datar.

“Iya, kamu sih, banting pintu. Gara-gara jaket juga. Kan kan itu jaket harapan satu-satunya biar aku gak sakit perjalanan jauh. Kamunya kagak rela aku pake. Waktu itu aku juga nangis loh, pas kamu pergi bawa motor dan akhirnya aku harus tertunda beberapa jam ke Samarinda. Hahaha–, Sebenarnya bukan itu yang bikin nangis, tapi mama yang diam di tempat terisak itu, bikin aku sakit sampe ke hati. Sedihnya luar biasa ya, apalagi saat aku nyium tanganya pamitan itu, belau ngusap kepalau terus bilang ‘jangan hiraukan kata-kata ademu, belajar yang bener, sudah jangan nangis lagi’. Hah, waktu itu pertama kali aku nangis depan mama loh. Hahaha”

“Apa sih, gak ada yang lucu ketawa terus. Nanti malam nangis loh.”

“Gak akan de. Aku sudah kuat kok. Oia, waktu itu kamu belum pulang kan aku pergi, nah itu aku nangisnya sampe berjam-jam loh sepanjang jalan. Aneh ya, padahal emang aku sudah lama memang merasa kalau yang kamu bilang waktu itu bener. 100% bener.”

“Sudah gak usah dibahas. Lagi mikir apa sih. Sampe ngenang kaya gitu, ketawa gitu lagi, itu rotinya habiskan aja. Itu susunya dari rotimu tumpah tu.”

“Gak apa-apa. Cuma kangen dulu aja. Sekarang rasanya lebih bahagia tapi begitu datar. Hahaha, aku bodokkan?”

“Sudah. nanti keselek loh. Jangan ketawa lagi. Awas kalau nanti malam aku pura-pura tidur tapi nyatanya gak bisa tidur karena dengerin  orang nangis.”

“Gak akan. Aku gak akan nangis nanti malam. Hehehe…”

“Tapi kamu nangisnya sekarang!”

.

—Lah iya, aku mengunyah roti itu dengan air mata di sudut mataku, terdiam tak bergerak, tak bersuara lagi, tak berucap apa-apa lagi, tak bisa berpikir lagi. Aku menangis diam. Tak berani menoleh pada adikku yang kutau menatapku. Ia baru tinggal dua bulan denganku, sekamar denganku. Tapi aku merasa malu padanya, seolah dia tau seluruh isi hatiku, lebih mengerti diriku, lebih bisa tegar dariku.  Aku tak bercerita apa-apa yang ku alami 10 tahun aku jauh dari rumah, tapi kurasa dia mampu membaca setiap hal yang hadir dalam benakku dalam tingkahku, segitu cepatkan dia menganalisa semuanya. Atau, aku yang begitu mudah terbaca.

–Dulu, ia selalu merasa iri denganku. Dan pertengkaran terakhir itu. ‘Mama, pilih kasih. Selalu begitu. Dia saja. Dia terus. Dia boleh ini itu. Dia. Dia. Dia’ itu yang ia ucapkan dan menatapku dengan kebencian. Sekarang aku malu padanya, sangat malu. Aku yang sampai saat ini memiliki banyak beban dalam hati ini. Aku yang terperangkap perasaan-perasaan tak penting. Perasaan terbebani, peasaan bersalah pada mereka, perasaan tak berguna, perasaan putus asa, perasaan dilema yang berlebihan.

–Aku yang sering di bilang ini -itu (positif), tapi nyatanya aku tak merasa begitu. Lalu, aku yang bodoh atau tak bersyukur. Entahlah.

–Benar. Benar kata kak Dedy dan kak Safar (penyiar favorite saya) malam ini. Tak penting memenuhi diri dengan perasaan masa lalu. Karena kenangan yang mampu bertahan lama itu karena hal yang mendalam. Biasanya kesedihan, rasa bersalah lah yang menggoreskan penyesalan hingga membuat seseorang terperangkap dengan rasa-rasa yang akan merugikan dirinya.

–Aku membuang banyak kesempatan. Aku merugi. Aku tau itu, aku tak mau itu, tapi aku membiarkan itu. Bodoh sekali!

–Aku tak suka dengan kata bodoh. Tapi aku memaki diriku dengan hal itu.

.

“Aku salah…”

–Lihatlah aku yang tak bisa menjaga kesehatan ini. Tak bisa berbicara pada siapa-siapa apa yang ku alami. Tak bisa bercerita pada siapa-siapa apa yang kurasakan. Termaksud keluargaku sendiri. Kurasa aku terlalu sombong, sok kuat, dan sok tak ingin menghawatirkan  tapi yatanya aku bersembunyi di balik ketakutanku sendiri. Itulah aku kini,  sangat rapuh tapi berpura-pura tangguh.

–Lihat aku yang berhenti pada pekerjaanku hanya karena kurang merasa nyaman. Berkerja itu, itu, itu, lalu itu. Ah, akhirnya saat mendapatkan pekerjaan yang nyaman dan sayang pada orang-orangnya. Berhenti lagi. Sekarang kesulitan keuangan karena tabungan mulai habis. Tak akan  bilang sama ortu. Itu salah satu ego besarku.

–Berhenti kerja, salah satu alasanya karena sering sakit dan pengen fokus sama skripsi. Lah, aku tetap sakit. Berarti bukan letih alasannya sakit. Lah, aku juga belum wisuda hingga kini. Dan bodohnya itu sepenuhnya bukan karena sakitku. Bukan karena hal lain yang begitu sulit jika dijalankan sepenuh hati. Sudahlah! jangan bahas skripsi saya jadi sensitif.

–Katanya pengen pola hidup sehat lagi, tapi makan ta teratur, olaraga gak perna lagi, parahnya lagi insomnia menjadi-jadi. Jadilah makluk kurus yang selalu ditegur orang-orang yang jarang bertemu. ‘Aku memang tak pernah gemuk,’ Itu alasanku.

–Lebih parahnya, sudah sendiri. Malah membiarkan diri sendiri terus-terusan. Terpuruh, meratapi diri yang tak memiliki sahabat lagi. Harusnya acuhkan saja mereka yang sudah pergi tak perduli itu, masih banyak yang lain yang perduli denganmu, asalkan kau tak acuh seperti saat ini. Tapi itu hanya sugesti, aku tetap saja sendiri. Jadi ingat kata Hairullah kemarin.

”  —- Sama mereka (nama tema-teman saya yang selalu sama-sama pas kuliah, saya temenin ke mana-mana dan bantu ini itu),”

“Mana mereka sekarang? kamu ditinggal sudah. Sibuk sudah. Lulus sudah.”

“Iya eh Rul. Itulah hidup. Masih ada kamu kok, nanti bareng kita. Hehehe–”

Saya cuma bisa jawab gitu sambil nyengir sok biasa aja. Padahal itu nusuk. Terus, teman saya yang dari kelas 1 smp, dan kelas 1 sma yang sudah saya anggap kakak. Sejak setahun ini sudah tidak perna komunikasi lagi. Bukan saya tak menghubungi dalam bentuk media apa saja, tapi aku sudah jerah. Mereka seperti menghindar. Baiklah. Aku tak apa-apa.

Teman ini sudah begini, teman itu sudah begitu. Dan saya tetap begini-begini saja.

–Yah, sudahlah semuanya itu sudah terjadi. Seperti biasa, harapan saya simpel tapi mewujudkanya yang butuh perjuangan keras.

Gak muluk-muluk, sama seperti dulu–malam hari ini–malam ini–esok–dan esoknya–

“Allah memberikan kesehatan, rasa syukur, dan kebahagiaan kepada keluarga tercinta saya. Hari-hari yang semakin BAIK. Amiiin ya Allah—.”

Melupakan tak semudah yang kamu bayangkan

jika kamu berpikir, kamu dapat melupakan seseorang yang ada di hatimu dengan kamu tidak peduli dengannya.

Jangan berharap kamu dapat melakukannya, karena jika kamu menyukai, menyayanginya, mencintainya, bahkan merindukannya setiap waktu tampa kau sadari. kamu tak akan melupakan atau menghapusnya dari ingatanmu selamanya. karena dia akan tinggal di hatimu, menjadi kenangan di hidupmu selamanya….

Menurut kamu gimana ?