Arsip

BBM naik? Perduli?

10171712_869067006466610_1812379382445735079_n

#CurCol
#SM3T
#Papua

Yang lain pada sibuk mikirin BBM. Tapi saya masih setia mikirin kemajuan anak didik saya. Buka gak perduli hal lain sih, tapi lebih fokus sama tugas negara yang saya embang. Ha ha ha

Mau BBM naik atau gak, di sini emang apa-apa sudah mahal, sudah susah. Ya, kalau BBM naik jelas berdampak di sini juga. Pusing-pusing mikirin percuma, gak ngerti seluk beluk keputusan pemerintahan, gak ngerti politik, gak ngerti sistem ekonomi dengan baik, mau ngoceh ini itu takutnya salah mending diam dan nikmati, setidaknya hati berdoa dan bersabar.

Yang saya mengerti saat ini. Menebar senyum, menularkan semangat, berbagi suka cita dan pengetahuan. Belajar dan mengajar. Belajar banyak hal dan mengajarkan banyak hal sederhana yang lebih bermakna serta berguna.

Bukan gak perduli atau tak satu rasa dengan orang-orang yang eksis dengan perkembangan ini itu. Saya orang yang kadang merasa cukup tau, toh saya tau mana yang bisa saya rubah dan tidak. Hahaha, saya PD atau pesimis sebenarnya, saya gak tau.

Miris? Iya tapi gak terlalu kok. Saya lebih miris kalau anak-anak negeriku ini tak pandai dan banyak yang putus sekolah, terabaikan, merasa disia-siakan.

Sedih? Iya pastinya, keluargaku juga bukan orang mampu kok, petani, bukan orka.Tapi, positif thinking boleh.

Kesal? Ah, biasa aja. Sepertinya saya lebih kesal kalau anak-anak negeri ini suka berbicara seenaknya tanpa tau pasti, tidak sopan apalagi mencaci—sok tau.

Jadi maunya apa? Gak tau maunya apa. Mau saya banyak, banyak banget. Sama dengan mau kalian, susah menjelaskannya. Ah, lupakan, saya tidak mau berbicara banyak tentang itu.

Sekilas info tentang foto ini:

Anak-anak ini sedang menggambar sesuatu dan mewarnainya, setelah pulang sekolah. Yang punya pewarna, anak berpakaian pramuka–siswi kelas 3. Sepatunya pemberian, hari itu sebenarnya hari kamis, tapi anak itu tidak memiliki seragam selain pramuka. Jadi itulah yg ia kenakan, kadang ia hanya memakai roknya, seperti anak berpakaian biasa di sebelahnya. Anak itu siswi kelas satu yang selalu masuk sekolah meskipun tidak memiliki baju putih dan baju olahraga. Dia selalu semangat.

Perhatikan anak yang memakai pando. Namanya Maria, anak yang bisu, tapi tak sekalipun ia tidak masuk sekolah selama saya di sini. Hari itu kebetulan ia meminjam pakaian kakaknya, padahal hari biasanya ia tak memakai seragam sama sekali. Saya tau karena setiap pagi ia berbari paling depan. Di kelas ia tak bisa bernyanyi, bersorak, membaca dan mengungkapkan apa yang ia rasakan. Meski begitu ia selalu menjadi anak yang ceria, tersenyum padaku bahkan tertawa saat aku berusaha berinteraksi dengannya. Ah, dia selalu setia menulis tanpa disuruh, setia mendengarkanku menjelaskan, ikut bertepuk tangan saat kami semua bernyanyi. Saya selalu ingin tau apa yang ia rasakan, tapi bagaimana caranya. Ah, saya tak tau. Selama ini dia hanya menjawabku dengan senyum dan tatapan yang samar-samar kumengerti. Aku tidak tau, apakah dia mengerti atau tidak pelajaran yang kusampaikan. Tapi, kakaknya sangat pandai—diantara yg lain.

*

“Hallo,” Sapaku disaat melangkah menuju rumah dan mendapati mereka sedang duduk direrumpitan samping kamar mandi. Jika anak kelas lima akan menjawab ‘Hai’. Anak-anak ini akan menjawab kata yang sama yang saya ucapkan ‘Hallo’.
“Kalian sedang apa?” Tanyaku penasaran sambil mendekat dan duduk diantara mereka. Anak-anak itu tersenyum malu-malu menutupi gambar mereka.
“Kalian menggambar? Ibu guru boleh lihat tidak?” Godaku sambil mengganggu.
“Ah, tidak baik ibu guru.”

“Tidak. Ibu tidak akan bilang begitu. Ibu guru boleh lihat toh? Boleh? Sedikit saja” Mungkin kali ini saya terkesan memaksa dengan senyum mengembang tapi nyatanya anak-anak ini malah memasukkan buku mereka ke tas rajutan tali mereka.
“Ah, tidak papa. Besok-besok ibu guru boleh lihat toh?” Kecewaku memaklumi.

“Boleh. Tapi ibu guru ajar kami dulu, baik.”

“Bisa. Kalian tidak lapar? Tidak pulang?” Aku mengalihkan setelah mengiyakan. Anak-anakku banyak yang rumahnya jauh bahkan hingga 4 km, termaksud anak-anak ini. Terik matahari sudah tepat di atas kepala, aku yakin perut mereka mulai sakit. Bahkan saya perna mendapati salah seorang muridku berbaring dirumput belakang sekolah, ternyata ia sedang kesakitan karena lapar. Oh Tuhan, mereka jarang sekali sarapan, sarapanpun mungkin hanya dengan ubi rebus atau bakar. Sedihnya lagi si Desi, yang sering tak makan seharian karena orang tua yang tak bertanggung jawab. Kasihan. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa selain berbagi senyum, sesuatu semampu dan semauku.

Kelima anak itu tak menjawab. Malah bertanya hal lain.
“Ibu guru? Mengajar kami banyak boleh? Bapak guru tidak baik.” Aku terdiam memikirkan jawaban yang tepat dan dapat dimengerti oleh mereka.
“Ibu guru tidak mau kah?” Lanjutnya menanti jawabku
“Ah, tidak toh. Ibu guru mau sekali mengajar kalian semua setiap hari. Mau sekali. Tapi, bapak kepala sekolah kasi ibu guru tugas kelas lima toh. Lalu jika ada bapak guru, tidak mungkin ibu masuk kelas kalian begitu, nanti bapak guru marah kan.” aku terkesan serius. Harusnya kujawab dengan jawaban lain, tapi aku tak bisa berbohong terutama pada diriku sendiri.
“Bapak guru masuk sebentar saja.”
“Tapi ada toh? Biasa kalau trada, ibu guru masuk kan. Makanya, kalau ibu masuk belajar baik boleh. Mau jadi pintar kah tidak?”

“Mau.” Aku merangkul anak di sampingku dan menyuruh yang lain lebih mendekat.
“Bagus. Ini janji kalian sama ibu guru kan, jadi tidak boleh malas ke sekolah.” Kami duduk berderet, mata-mata itu menatapku serius menanti kalimatku berikutnya tapi aku terdiam menatap balik ke kiri lalu ke kananku.
“Ah, kalau mau pintar senyum dulu. Ayo dekat-dekat sini. Di belakang ibu guru boleh.”

Aku mengeluarkan ponsel dari sakuku, memilih ‘camera’ dan mengarahkannya ke kami. Mereka mulai tertawa-tawa melihat wajah mereka dilayar.

“Ayo siap. Senyummm… Tidak baik banyak gerak. 1 2 3” Hahah. Anak-anak, diberitahupun pasti tak sepenuhnya mengerti. Mereka goyang sana-sini, dari sekian banyak foto, hanya ada 4 yang bagus.
“Ah… Bagus toh? Setelah ini pulang boleh. Belajar di rumah baik. Nanti mama cari.” Aku menunjukan semua foto-foto kami, mereka tertawa melihatnya.


Murid-muridku sayang. Jangan pernah merasa aku membeda-bedakan kalian. Justru aku ingin kalian mengerti bahwa, kalian memiliki hak dan kesempatan yang sama, sama dengan mereka di sana—yang katanya lebih baik.

Aku ingin kalian paham. Setiap orang di dunia ini, setiap anak Indonesia berhak untuk hidup yang lebih baik.

Anak-anak harapan bangsaku. Abaikan kata dan pandangan mereka tentangmu—yang mereka tak tau kenyataannya. Tak perduli jalanmu berkelok berkerikil bahkan berduri sekalipun. Kau harus terjatuh dan bakit berkali-kali demi harapan dan cita-citamu, tersenyum dan semangatlah sayang! Aku akan selalu mendoakanmu dan mengharapkan hari-hari cerahmu.

Sisilia

Sisilia. Murid kelas 5 SD Inpres Isaima. Lahir 1997

Sisilia. Murid kelas 5 SD Inpres Isaima. Lahir 1997

#SM3T¬†– Nurmiati, S. Pd #SD¬†Inpres Isaima “Sisilia sering bantu mama?” Aku tersentak. Pertanyaan ibu guru tentang kehidupan sehari-hari kami memang sering terlontar begitu saja. Tapi, aku tak tau harus menjawab apa. Aku takut ibu guru marah nanti. “Sisilia melamun?” Suara ibu guru terdengar lagi, suara tak marah itu membuatku bersalah. Ibu guru tak menatapku, ibu guru sibuk memeriksa tugas kami. Teman-teman menatapku lalu sibuk membaca buku masing-masing lagi. Aku masih diam. “Kalian boleh bantu mama tidak?” “Boleh kata ibu guru, tapi harus izin dulu.” Jawab murid lain. “Iya. Tapi sisilia punya Alpa sudah 7. Bagaimana ini?” “Ibu guru saya berapa?” Tanya Tresia, aku masih diam memikirkan pertanyaan ibu guru. “Nanti saya bacakan hasil absen bulan lalu. Sekarang, ibu mau tanya Sisilia dulu.” ibu guru belum mengangkat kepala, belum memalingkan tatapannya dari tumpukan buku kami. “Sisilia, boleh duduk samping ibu guru? Yang lain lanjutkan membaca. Baca keras tidak papa, melatih mengucapkan dengan benar toh. Saling belajar teman sebangku tidak apa. Bergantian, saling mengoreksi yang lancar dan tidak.” Teman-temanku sibuk lagi, aku melangkah mendekat, ibu guru geser sedikit. Kali ini ibu guru menatapku tersenyum. Aku semakin gugup tapi sekejap aku mudah menjawab semua pertanyaannya. Seperti biasanya, ibu guru hanya mampu menasehati kami, ibu guru bilang ia tidak memaksa kami untuk harus dan harus bersekolah, katanya masa depan kami hanya kami yang menentukan bukan ibu guru atau orang lain yang menyuruh ini dan itu. Hanya saja, saat menatapnya aku sadar ibu guru berharap padaku. Ibu guru tak pernah mengatakan kami bodoh atau tak pintar. Ibu guru hanya bilang, semua anak di dunia ini pintar hanya yang membedakan seberapa dia punya kesempatan dan seberapa kuat usaha mereka untuk pintar. Tapi, aku? Di kelas akulah yang paling besar tapi membaca saja aku belum lancar. Sebenarnya aku malu dan selalu ingin sekolah. Keadaan memaksaku absen. Ku harap ibu guru memaklumi, aku janji untuk lebih rajin lagi. Aku sudah ketinggalan banyak pelajaran. *** Hari ini, ibu guru memujiku. Dia senang karena aku sudah bisa membaca, meskipun sesekali salah menyebut huruf j dengan y. Ah, ini kebiasaan kami anak-anak papua membuat sulit berubah. Bangganya aku punya ibu guru yang berbeda dari guru-guru di sini, ibu tak habis akal melatih kami menyebutka huruf dengan benar. Aku dan teman-teman sekarang semakin rajin ke sekolah. Jika dulu kami akan masuk kelas tak tentu, kadang pukul 9 atau lewat, bahkan tak belajar sama sekali, selama lebih sebulan ini kami teratur masuk pukul 8. Bahkan teman-teman ada yang datang pukul 7. Datang lebih pagi, menyapu dan merapikan kelas, berbaris sesuai kelas, dan saling mengingatkan dengan teman tentang kerapian pakaian dan kebersihan kuku menjadi hal biasa. Kata ibu guru, dia senang. Aku tau itu, ibu guru memang sering senyum dan sekarang semakin sering. *** Dari jauh ku perhatikan ibu guru yang duduk di ruang tamu di dekat jendela, di rumah tinggalnya dekat sekolah. Apa ibu guru melamun? Tak seperti biasanya, tersenyum menatap ke arah sekolah. Hari ini, ibu guru sepertinya sedih. Kami berlari memasuki ruangan, ibu guru datang dengan langkah lemasnya. “Tidak ada bel dari tadi?” Tanya ibu guru melewati pintu. Memang tak ada. Kami berdoa dan memberi salam pada ibu guru. Tapi suara ibu guru pelan, tak seperti biasanya. Hari ini kelas damai tentram. Tak ada nyanyian, permainan, dan suara lantang ibu guru. “Ibu guru, sakit?” Tanya temanku, Kelena. “Tidak. Ibu hanya belum sarapan. Jadinya lemas. Seperti belajaran IPA kita kemarin kan? Kalau tidak makan tidak akan punya tenaga.” Kami tau ibu guru berbohong, ibu guru ingin terus mengawasi kami belajar dan memastikan kami tak berlari-lari mainan di luar kelas. Ibu guru menyuruh kami membaca apa saja semaunya, di halaman mana saja di buku bahasa, lalu bergantian menceritakan apa yang kami baca. Mekipun ada yang hanya membaca dua kalimat saja selama setengah jam, ibu guru tak protes apa lagi marah. Setelah pelajaran bahasa, kami belajar Matematika. “Sudah selesai?” “Sudah.” “Belum.” “Yang sudah kumpulkan!” Aku dan beberapa teman mengumpulkan buku. Yang lain menyusul setelah selesai. “Ada yang mau maju duluan? Ibu tidak mau tunjuk-tunjuk.” Aku mau maju tapi tak berani. Teman-temanku juga tak ada yang mau bergerak. “Tidak ada yang mau? Ya sudah ambil kembali bukunya lalu kalian tak punya nilai. Mau?” “Saya saja ibu guru.” Irwan mengangkat tangan, setelahnya kami semua bergantian. Payah. Aku tak hapal perkalian 7. Mengapa ibu guru malah senyum padaku? Aku jadi merasa bersalah. *** “Selamat… Siang… Ibu… Guru… Nurmi.” “Siang. Selamat pulang dan hati-hati.” “Ibu guru hari ini tidak usah les ya?” Kata Paska. Kami sudah menyepati saat ibu guru tadi keluar kelas sebentar. “Kenapa?” “Ibu guru sakit. Jadi, boleh istirahat biar besok bisa mengajar kami lagi.” Jawabku jujur. “Tapi, ibu guru tidak papa. Masih kuat, ini masih bisa berdiri dan jalan.” “Ah, ibu guru. Tidak boleh, ibu guru sakit.” Aku sedikit memaksa agar ibu guru setuju. Semenjak ibu guru datang, baru kali ini aku melihat wajahnya pucat, lemas tak bersemangat. Kata teman-teman kasihan, dan kami sedih. Kami memaksa sepulang sekolah membantu menimbah air bersih untuk ibu guru. Aku juga berkata pada ibu guru, aku tidak akan malas (bolos) ke sekolah lagi. Teman-teman juga. — Ungkapan : Aduh, murid-muridku perhatian sekali. . . Gak nyangka sebenarnya kalau perkembangan sikap mereka cepat berubah. Tapi, aku suka mereka yang sekarang. Rajin, lebih sopan, rapi dan ingin belajar banyak hal, tidak pemalu lagi, tentunya memiliki kesadaran yang tinggi. He he he

Semangat sayang, bisu bukan berarti berbeda.

Anak ini bisu…

Meskipun dia tak bisa berbicara padaku, tadi selalu senyum setiap bertemu pandang atau berpapasan denganku.

Aku baru tau kalau dia bisu pas genap sebulan di sini. Pantas saja, saat aku mengajar di kelasnya dia tidak ikut bernyanyi atau menyebut huruf-huruf. Hanya rajin mencatat dan setia mendengarkan.

Dia tidak memiliki seragam sekolah. Selama lebih 2 bulan di sini, tak sekali saja aku melihatnya menggunakan baju putih, baju pramuka. Hanya pernah melihatnya menggunakan rok merah, itupun bekas siapa gitu menurutku. Roknya bergetah, resliting yang rusak dan longgar dipinggangnya sehingga menggunakan peniti.

Kakinya sama halnya dengan anak yang lain. Hitam sekali karena tidak menggunakan sepatu ataupun sandal. Wajah dan bagian tubuhnya yang lain lebih bersih dari anak lain, dia juga tak ingusan seperti kebanyakan anak di sini. Tapi sayang dia belum memotong kuku tangannya sama seperti anak lain, padahal aku sudah setiap hari mengingatkan mereka ketika berbaris rapi di halaman.

Sabtu kemarin, tumben sekali dia bermain di sekolah. Nah, saat aku di ruang kelas 5 (sore) mencari suasana sunyi mengerjakan laporan pengabdian. Dia datang mendekat. Saat kulihatkan foto2 selama kegiatanku disekolah ini. Dia terlihat begitu senang, sesekali tertawa dan tersipu malu mendapati ada foto dirinya di antara siswa lain.

Bicara tentang seragam dan perlengkapan sekolah lainya. Banyak sekali kekurangannya. Bahkan pertama kali mengajar di sini, aku sering mendapat keluhan mereka yang tak punya pulpen. Buku hanya punya 1 dan buku itu lusuh. Sekarang sedikit membaik terutama kelas 5. Tapi, tetap saja mereka masih butuh perhatian.

Yah. Meskipun aku berprinsip kalau mereka boleh belajar bagaimanapun keadaanya. Setidaknya saat ini yang kutanamkan dalam hati dan benak mereka, bahwa mereka punya hak yang sama untuk belajar dan punya masa depan yang cerah. Punya kehidupan yang lebih baik.

Murid-muridku, anak-anak harapan bangsaku. Terima kasih karena sudah semakin rajin ke sekolah. Terima kasih karena ingin terus belajar dan belajar. Tak perduli apa kata mereka tentang dirimu dan kehidupanmu. Majulah sayang, jangan berhenti karena keadaan. Melangkahlah sayang, jalanmu masih panjang, tak perduli berkelok kerikil atau duri, lewati saja dengan tekat dan senyum.

Murid-muridku, anak-anak kebanggaanku. Terima kasih karena selalu menginginkanku mengjawab keingin tahuanmu. Kelak kau akan mengerti, aku hanya bagian yang tiada apa-apanya di dunia ini. Belajarlah sayang, belajarlah terus dan kau akan tau. Tau betapa istimewanya pengetahuan.

SM3T

Anak ini bisu. Murid kelas 1 SD Inpres Isaima, Jayawijaya – Papua