Arsip

2015 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 13.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 5 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Penjelasan

Aku tersenyum senang, ternyata ketakutanku akan kehilangan hanya sebuah alasan yang sia-sia agar menunda kejelasan. kamu masih di sini, masih ada untukku tanpa perduli sakitnya dirimu. Maaf, gumamku setiap saat kamu ada lagi dan lagi memberi tawa.

Sepertiya kamu masih berharap pada takdir untuk mempertemukan kita, menginginkan ‘batas waktu sendiri’ itu terwujud. Aku tak berhak melarangmu, sama halnya kau tak berhak memaksaku.

“Biarkan waktu yang menjawab. Semua yang terjadi atas kuasa Tuhan.”

Kecewa

Stop. Segalanya terhenti ketika kata-kata santai dari mulutmub tertangkap telingahku. aku ikut tertawa saat kau tertawa begitu bahagia, pafahal aku tak bahagia sama sekali, aku ingin mennagis, taukah tawa ini untuk diriku sendiri yang terlalu kasihan. Ah, aku memang bodoh. Aku percaya begitu saja. Rasanya aku ingin pergi, kemana saja yang membuatku melupakan perih ini. Kalian seolah mempermainkanmu. Aku merasa terjebak berada di sini. Di salah satu garis hitam dikertas.

Kamu atau dia (?)

Kau tau? Aku benci berada di sini, di antara kalian terutama dalam keadaan yang serba salah dan terburuk dalam kebingungan. Yah. Kamu. Kalian berdua penyebabnya. Boleh aku pergi saja? Aku menginginkannya kini.

Seseorang yang membuatku merasa tak kesepian, seseorang yang menarikku mendekat lalu berlahan mengusap air mataku. seseorang yang menenangkanku saat ingin mengamuk dengan segala yang ada dalam hari-hariku yang terasa sulit. Seseorang itu dia. Tak ada yang begitu special¬†hanya sebuah memiliki dan sayang yang standar. Aku memanggilnya ‘kakak’ meski kami terpaut beberapa bulan.

Lalu kamu. Kamu bukan orang asing. Aku jauh lebih dulu tau tentangmu, hanya sekedar tau. Mungkin begitu juga denganmu. Hingga kini kita berada ditempat yang sama. Aku tak mengerti seperti apa kamu menganggapku. Yang jelas dalam kepalaku, sugesti diriku, aku menganggapmu lebih dewasa, setidaknya begitu yang kuharapkan tentangmu, karena nyatanya memang kita terpaut usia beberapa tahun.


Aku jenuh berada di sini. Posisi dimana aku harus menjadi teman berbicaramu, terpaksa memasang kupingku dengan segala ceritamu, menahan rasa pusingku dengan segala hal yang ingin kau bagikan agar kuketahui, aku bosan mendengarkan segalanya. Ini itu, tentang dia, tentang si itu dan si ini.  Aku ingin memberontak tapi aku sadar itu bukan diriku, terlebih kata sahabatku aku butuh menjadi pendengar yang baik.

Okey. Aku bertahan untukmu sebagai adik yang sebenarnya aku tak ingin dianggap begitu. Kamu hanya bagian dalam perjalananku, dan mungkin hanya saat ini, saat kita berada di tempat yang sama dengan status yang sama, demi tugas yang sama. Tapi? di sini lain aku menghargaimu sebagai sosok yang harus kuhormati terlebih memang kamu sosok yanglebih unggul di beberapa hal dari diriku.


Dia tak pernah mengakui hal yang kamu katakan tentangnya padaku. Aku harus percaya siapa? Kamu? atau dia?

Lalu, apa salahku jika aku ingin menjauh dari kalian saja?
Satu hal yang tertanam dibenakku aku tak pernah menginginkan berad diposisi ini.
Aku ingin memilihmu tapi aku tak perna menyukai apa yang ada padamu terkhusus sikap dan caramu. Jika aku memilih dia, aku takut aku salah pilih.
16 maret 2015 (in Wamena)

22022015 (catatan Perasaan)

nurmieSudah beberapa hari aku tak mendengar suara mereka. Aku sudah terbiasa menahan rindu sejak 11 tahun lalu. Inilah tadirku yang harus jauh dari rumah demi pendidikan. SMP, SMA dan Kuliah kulalui dengar perjalanan yang tak mudah. Semua mengajarkanku untuk terus kuat dan bersabar, kokoh dan terus maju.

Toga sudah kupakai dengan senyum setahun lalu. Aku pernah bermimpi akan selalu dekat dengan mereka setelah itu. Tapi, memang mimpiku juga yang mendorongku tetap jauh.

Mungkin mamang belum saatnya, aku pergi lagi.

Langkah kaki yang lebih banyak berkerikil dan duri membuatku merasa bersyukur karena mengajarkanku untuk terus berjuang untuk orang-orang kusayangi. Menyadarkanku berartinya sebuah keluarga.

Menangis, dan berteriak sesekali pada diri sendiri adalah bumbu untuk meresapi perjalanan. Aku terjatuh dan mengabaikannya, aku masih punya senyum, aku melangkah lagi.

Hari ini, meskipun pagiku begitu menyenangkan dengan teman-teman. Ternyata memasak, membuat media pembelajaran bahkan menari bersama tak mampu membuatku tak memikirkan mereka yang tersayang jauh di sana.

***
Kuraih ponsel, dan mulailah aku hanyut kembali dengan perasaanku. Mengapa suara mereka begitu merdu? Mengapa aku tak bisa memgungkapkan perasaanku, mulutku keluh tak bisa bercerita banyak.

Aku selalu bertanya agar tak ditanya. Aku bahagia, hanya itu yang ingin kubagi. Dan, aku ingin mempercayai kebahagiaan itu.

Aku bersyukur memiliki orang-orang yang hangat di sini. Meskipun aku merindukan kehangatan yang tiada duanya, kebersamaan sebuah keluarga.

Bodohnya aku yang sesekali memikirkan akan kehilangan dan ketakutan akan hal itu, kelak mungkin aku akan menyesal. Kuharap itu hanya pikiran negatif yang tak pernah terjadi.

“Kita baik-baik saja. Amien.”

Nurmie in Wamena…

5K yang tidak sesuai

10371642_929011340472176_2903335933151650360_n

*Tanggapan pribadi

Dari 5K ini harusnya akan menjadikan anak-anak didik kita bisa belajar dengan baik dan tentu merasa nyaman.

Bagaimana di sekolah tempatku mengajar? Bagaimana keadaan sebagian besar sekolah yang tertinggal di sini?

  1. KEAMANAN

Sebenarnya dalam lingkup sekolah aman. Tapi secara kesuluruhan daerah Jayawijaya dan sekitarnya bagi saya tak aman. Kenapa? Jika saya jabarkan terlalu panjang. Intinya, karena disini tingkat kriminal tinggi dan sering adanya perang suku maka sekolah sering diliburkan serta aktivitas lumpuh.

  1. KETERTIBAN

Bagaimana mau tertib. Jika jam masuk sekolah dan jam pulang di sebagian besar sekolah di distrik tidak jelas. Bahkan jumlah pegawai dan guru yang terdaftar dan yang mengajar sangat tidak wajar, masih syukur jika mereka hadir di sekolah. Kasih anak-anak ini.

  1. KEKELUARGAAN

Rasa kekeluargaan mereka tinggi, tapi dalam hal tertentu. Karena keadaan keluarga, lingkungan, serta sekolah yang tidak teratur jadilah anak-anak ini sulit untuk saling menghargai. Mereka masih sering salinh memaki dalam bahasa daerah, dan memukul teman ketika kesal.

  1. KEBERSIHAN

Nah. Ini yang sangat jauh dari apa yang diharapkan. Kuperkirakan 80% lebih masyarakat di sini tidak menggunakan alas kaki. Bagaimana dengan anak sekolah? Jangan harap seragam dan keadaan mereka sama dengan murid di sekolah elit.
Masih bersyukur jika anak itu menggunakan seragam meski mulai berbeda warna dan sobek dibagian bahunya.
Murid di sini: tas mereka berupa noken (tas ayaman tali khas papua), tidak menggunakan alas kaki, tidak semua memiliki seragam, ke sekolah masih banyak yang tidak membawa buku dan pulpen, dan yang akan semakin membuatmu miris—angka sebelas yang menganggu pemandangan. Kuku mereka panjang dan kotor. Baju yang tidak dicuci berhari-hari. Lalu sering kali tak mandi pagi. Jika keramas menggunakan deterjen. Dan hal aneh bagiku tapi biasa bagi mereka.

  1. KEINDAHAN

Pertama hadir di sini, melewati jalan-jalan berbunga membuatku tersenyum senang. Ketika tiba di depan pagar sekolah.

Ini kah? Hanya sebuah deretan ruangan dengan halamam luas berumput dan tiang bendera yang harus dipasang serta diturunkan berserta tiang besinya. Lalu ternyata ruang kantor yang sempit dan tak teratur membuayku mengelus dada. Ruang belajar dengan lantai rusak dan debu berhambur saat disapu, bagian depan semua kayu tapi lihatlah bagian belakang yang hanya kawat-kawat tanpa korden. Selain itu fasilitas apa yang ada di kelas? Peta yang sobek, penghapus yang berhambur dan mulai rusak. Tak ada lemari buku dan meja guru khusus–bertaplak,dll.

Belum lagi ruang kelas yang hanya berjumlah 5, laba-laba di setiap sudut, bangku dan meja penuh coretan.

Dan hal-hal lain yang menurutku membutujkan perubahan yang bertahapa.

Akulah yang harus bertindak! Tekatku dalam diri. Setidaknya untuk sekolah kumengabdi setahun. SD Inpres Isaima, mari kita berubah.

-*
Kalian ingin tau perubahan apa selama 6 bulan ini aku di sini. Tunggu postingan berikutnya smile emotikon
-*

Ditunggu komen dan sarannya teman-teman