Arsip

Kamu (Aku Rindu)

Entah bagaimana aku tiba-tiba merenung tentang kita. Jangankan embun yang menghilang, cahaya pagi saja belum ada. Pikiranku melayang jauh ke lima tahun lalu. Pertemuan yang singkat dan tak di sengaja. Aku berjalan cepat di koridor. Seseorang tengah menungguku, aku mempercepat langkahku mencari ruangan tempat seseorang itu. Bodohnya aku yang nekat bertemu padahal belum mengenalnya.

Ruangan terakhir di lantai tiga, aku menghentikan langkahku, pandanganku tertuju pada sosok yang berdiri di dekat jendela, dari depan pintu aku hanya terdiam mengamatinya.
“Mungkin dia orangnya.” gumamku pelan pada diri sendiri. Aku tertunduk merencanakan tindakan. Lalu suara mengagetkanku.
“Hei. Kamu sedang apa di sini?” suara itu begitu dekat. Dia sudah berdiri di depanku. Aku terdiam tak menjawab apapun. Otakku berpikir cepat untuk meyakinkan diri. Dia orangnya. Tapi tetap saja aku kalah cepat.

“Kau membuntutiku!”

“Tidak. Aku…. Kau Sandi kan? Kenalkan, Mia.” aku mengulurkan tangan dia hanya memincingkan alis heran.

“Bukan. Aku….” Ah, harusnya aku tau. Aku salah orang. Kalimatnya belum usai, aku sudah kabur. Aku malu.


Jika jodoh takkan kemana. “Sial.” humpatku pada diri setiap bertemu denganmu. Lebih sial saat aku harus rela kau berlahan mendekat ke duniaku.

Berlahan kau mengajarkanku hal berharga dalam hidup. Caramu sederhana, tidak maksa, tindakanmu tak terduga. Aku suka. Aku jatuh cinta pada pribadimu.


Meski waktu begitu cepat berlalu. Kau memaklumi keadaanku, aku jenuh. Aku mengabaikanmu. Kau tetap kekeh bertahan untukku. Dan kini kau masih setia padaku. Terima kasih. Terima kasih masih bersama.


Aku rindu. Keadaan maksamu jauh. Kini aku harus mengambil langkah yang berlawanan arah. Kita semakin jauh. Jika begini, masihkan boleh aku percaya takdir dan janji kita? Aku mulai ragu. Tolonglah, berikan aku nasehat kecil agar tetap bertahan hingga kelah mimpi -mimpi kita tercapai.

Aku rindu. Kamu juga mengatakan itu. Namun hanya sabar dan berdoa hal yang menguatkan diri bertahan dalam cobaan dan badai besar sekalipun.

“Aku rindu.” Aku tersenyum mengatakannya. Tersipu malu dan meyakinkan diri akan kebahagian yang menanti.

“Me too.” Jawabmu yakin.

–Biarkan, biarkan garis takdir yang akan menjawab harapan-harapan kita. Jika kelak tak sesuai, ikhlaskan. Begitu katamu. Aku setuju.

Smd. 22.08.14 –

Iklan